
🍀🍀🍀
"Maaf ya merepotkanmu" Puspa tersenyum sambil menatap Ilham yang menenteng banyak kantong plastik berisi belanjaan.
"Siapa yang merasa di repotkan?" Ilham balik senyum.
"Hehehe jadi sungkan" Puspa kikuk.
"Kau kan calon istriku. Kalau aku hanya membawa ini merasa keberatan bagaimana jika menanggung hidupmu?" Puspa tertegun.
"Eemmm Mungkin" Puspa berjalan mendahului Ilham dan menyembunyikan raut wajah ragu nya.
"Kok mungkin?" Ilham bergumam
"Huufftt uang 4 juta sekarang sisa 2 juta. Apa cukup untuk kehidupanku sehari-harinya? aku harus mencari pekerjaan lagi" Gumam Puspa.
"Ilham... Belanjaannya biarkan aku yang membawanya... Kamu lanjutkan pekerjaanmu" Puspa mencoba meraih kantong plastik di tangan Ilham.
Tapi Ilham menarik tangannya.
"Aku akan mengantarmu pulang." Ilham tersenyum.
"Jangan membuatku semakin sungkan, Ilham. Sini. Jangan membantah" Puspa berhasil meraih kantong plastiknya.
"Hmmm kamu sekarang keras kepala ya.." Ilham memicingkan matanya saat melihat Puspa hanya terkekeh.
"Kalau aku penurut seperti saat masih kecil, dengan mudah pasti aku akan di perdaya orang"
"Kau ragu padaku?" Ilham menautkan alisnya.
"Hanya bercanda. Kau ini sangat sensitif." Puspa menyamankan posisi menenteng barangnya.
"Puspa.. Tidak bisakah kita mengobrol lebih lama lagi? aku merindukanmu"
"Aku juga merindukanmu, tapi aku ada urusan" Tolak Puspa. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa harus jaga jarak dengannya.
"Hiiissshh kau ini... Kau selalu ada cara untuk membuatku gelisah dan membuat mood jelek" Ilham menjawil hidung Puspa. Puspa tertawa saat melihat eskpresi Ilham yang sepertinya ngambek.
Bersamaan dengan itu, Arga yang melintas melihat Puspa dan seorang laki-laki yang tidak ia kenali sedang bercengkrama di luar area pasar kota.
"Puspa?" Arga tersenyum saat menemukan yang ia cari. Tapi hatinya sakit saat melihat Puspa tertawa lepas bersama pria itu.
Arga tidak tau kenapa hatinya begitu, ia juga tidak menganggap ini Cinta. Yang ia tau adalah Arga tidak suka melihat Puspa dekat dengan laki-laki lain.
Ia melajukan mobilnya tepat di hadapan dua orang itu. Puspa dan Ilham menoleh pada mobil yang mendekat ke arah mereka.
Mata Puspa membulat.
"Tuan Muda.." Lirih Puspa.
'Ckiitttt' Arga berhenti pas di depan Ilham dan Puspa. Ia keluar dari mobil. Arga memasukkan tanganya ke saku celananya. Itu membuatnya terlihat cool.
"Ada apa? dan siapa kau" Tanya Ilham heran.
"Aku tidak ada urusan denganmu."Arga datar.
__ADS_1
"Emmm Tuan Muda.." Ilham mengernyitkan dahinya. Kenapa Puspa memanggilnya Tuan?.
"Eh itu-"
"Apa itu masalah buatmu?" Potong Arga
"Masukkan barangmu ke mobil" Titah Arga pada Puspa dengan tegas.
"Tapi.. Aku"
"Kau tuli? Masukkan barang-barangmu ke mobil. Sekarang!" Arga mengatur nafasnya.
"Ee Iya iya.. Tidak usah marah. Jelek mukamu" Ledek Puspa. Ia langsung memasukkan belanjaanya ke dalam mobil Arga.
Ilham melongo. Sekali di perintah laki-laki asing di depannya, Puspa langsung menurut? Sedangkan saat dirinya menawarkan diri untuk mengantar pulang, Puspa malah menolaknya terus.
"Walau aku sudah tidak bekerja dengannya, kenapa jiwa babuku masih hidup" Puspa memutar matanya
Puspa selesai memasukkan belanjaannya di kursi belakang. Saat Puspa menutup Pintu, lagi-lagi Puspa di buat jengkel.
"Yang menyuruhmu keluar siapa?" Arga melotot.
"Eehh bukannya aku hanya disuruh memasukkan belanjaanku?" Puspa bingung.
"Masuk!"
"Aku?" Puspa mencoba meyakinkan.
"Iya! Siapa lagi! Masuk ke dalam sekarang!"
"Di depan!" Puspa terkejut. Ia menyipitkan matanya.
"Aneh!" Umpat Puspa. Ia masuk dan duduk di kursi depan.
"Kau.. Siapa berani membawa gadisku?" Ilham emosi bercampur cemburu
"Siapa gadismu? Dia?" Arga menunjuk menggunakan ujung matanya
"Tentu saja. Lagipula siapa kau ini.? Datang-datang membawanya pergi." Ilham melangkah hendak membawa Puspa keluar mobil.
"Dia milikku. Jangan macam-macam" Ilham menghentikan langkahnya.
Ia membalikkan badan menghadap Arga
"Siapa kau? Berani mengklaim dia milikmu? Dia milikku!" Ilham tidak terima.
Puspa yang melihat keributan di antar kedua laki-laki itu panik. Ia turun dari mobil dan memegang lengan Ilham.
Arga melotot tidak suka melihat Puspa menyentuh Ilham.
"Ilham. Pergilah.." Ilham seketika tenang saat Puspa menyentuhnya.
"Aku khawatir padamu. Bagaimana jika kamu di sakiti" Ilham sedih.
"Tidak apa-apa.. Dia tidak akan menyakitiku." Puspa tersenyum
__ADS_1
"Tapi aku cemburu" Ilham memasang wajah sedihnya
"Eemmm itu.. Dengarkan aku. Sekarang kembalilah bekerja. Oke? kita akan bertemu lagi di lain hari" Puspa mengalihkan pembicaraan.
"Tidak. Aku akan pergi tapi harus membawamu"
"Ilham dengarkan aku. Ini demi kebaikanmu" Puspa takut Arga menghancurkan hidup Ilham
"Tapi.."
"Aku tidak apa-apa.. Kumohon.." Ilham tersenyum
"Baiklah... Aku menurutimu. Jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa telfon aku setelah kartumu di aktifkan ya." Ilham mencium kening Puspa.
Puspa diam terpaku. Berasa getaran-getaran aneh di tubuhnya saat bibir basah itu menyentuh keningnya.
Arga mengepalkan tangannya tidak terima. Ia mendorong Ilham supaya mundur dan meraih kepala Puspa. Ilham tidak suka melihat apa yang di lakukan Arga.
Arga mengusap kening bekas ciuman Ilham menggunakan jas yang ia kenakan. Puspa kebingungan.
"Tuan.. Apa yang kamu lakukan?" Ilham mengepalkan tangannya saat bekas ciumannya di lap oleh Arga.
"Diam!" Puspa seketika tidak berani bersuara
Kening Puspa sampai kemerahan karena Arga terlalu keras menggesekkan jas nya.
"Awwwhh Perrih tau" Mata Puspa berkaca-kaca.
Setelah di rasa bekas ciuman Ilham hilang, Arga langsung mencium kening Puspa. Puspa terbelalak
Kakinya bergetar seolah tidak mampu menopang tubuhnya.
"Heh apa yang kau lakukan!!" Ilham mendorong Arga. Tapi Arga langsung memukul wajah Ilham hingga Ilham jatuh tersungkur.
Puspa tersadar dari lamunannya.
"Hentikan! Hei hentikan! Tuan Muda.. Cukup" Puspa memegangi lengan Arga yang siap memukul wajah Ilham lagi. Tapi kekuatan Puspa tidak sekuat Arga
Para pengunjung pasar yang dominan terdiri dari perempuan terkejut melihat pertengkaran itu, Mereka ingin melerai tapi ada sedikit ketakutan saat melihat mata keduanya memerah.
"Dia milikku! Kau dengar itu! Payah !!" Arga berteriak pada Ilham.
"Berani menyentuhnya akan ku bunuh kau!" Puspa seketika memeluk Arga. Arga menatap gadis yang sedang memeluknya itu. Dengan pelukan itu, Arga mulai melunak.
"Hentikan.. Ku mohon..."
'Buughhh' Ilham memukul wajah Arga saat ia sedang fokus menatap Puspa.
Ilham marah saat Gadisnya memeluk Arga.
"Ilham Cukup!!" Ilham terdiam. Hatinya berdesir saat Puspa membentaknya.
"Hei hei hei.. Apa yang kalian lakukan? kalau mau tinju jangan disini. Hentikan ini. Atau aku panggil polisi" Tukang parkir bertubuh tegap datang melerai.
Arga tersenyum penuh kemenangan saat Puspa memeluknya di hadapan Ilham.
__ADS_1
🙂Maaf banyak typo.