Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Hari H


__ADS_3

🍀🍀🍀


Puspa memandangi pantulan dirinya di cermin. Ia menarik nafas dalam-dalam.


"Ibu, besok aku akan menjadi milik orang lain."


'Drrttt Drttt'


Puspa langsung menoleh dan mengangkat telfon dari Arga.


"Kenapa masih belum tidur?" tanya Arga di seberang telfon.


"Aku tidak bisa tidur. Aku tidak mengantuk,"


"Tidurlah."


"Arga, apa kau tidak gugup? Kenapa bisa sesantai ini?"


"Y-Ya untuk apa gugup. Intinya tidurlah sekarang."


"Hmmmm aku tidak bisa tidur," Puspa menutup jendela kamar dan duduk di ranjang sambil memeluk bantal.


"Kau akan kelelahan besok, jadi tidurlah lebih awal malam ini."


"Oke okee... Kau juga tidur kan?"


"Hm."


Setelah beberapa menit mengobrol akhirnya Puspa sedikit merasakan rasa kantuk mendatanginya, Puspa menatap bantal gulingnya.


"Di rumah ini banyak kenangan indah bersama keluarga kecilku, tetapi di rumah ini juga ada beberapa kenangan buruk."


Perlahan Puspa memejamkan mata dan tidak lama ia terlelap, sinar cahaya bulan masuk ke kamar Puspa melalui celah-celah gorden jendelanya. Puspa merasakan ada sesuatu di kepalanya, ia menyentuhnya dan sedikit terkejut karena merasakan ada tangan hangat yang mengelus kepalanya. Puspa menoleh dengan kondisi setengah sadar ia melihat Ibunya yang sedang mengelus kepalanya dan tersenyum padanya.


"Bu..."


"Kamu tumbuh semakin cantik,"


Mata Puspa berkaca-kaca mendengar suara Ibunya, ia langsung memeluknya erat hingga keesokan paginya saat membuka mata Puspa ternyata memeluk bantal lainnya.


Puspa menghela nafas, ia merasa tidak nyaman dan perutnya sedikit kram. Puspa bangun dan tekejut ada bekas darah di kasurnya, Puspa menyentuh celana belakangnya dan mendapati darah juga.


"Datang bulan?" Puspa langsung bergegas ke kamar mandi.

__ADS_1


Meski ia datang bulan di saat hari H namun dengan begitu ia juga lega karena tidak terjadi apa-apa setelah di perko*sa Ilham.


Tepat setelah Puspa mandi sekitar jam 5 pagi, Elisa datang bersamaan dengan MUA.


"Lah sudah mandi? Ku kira kau belum bangun," Elisa terkekeh.


"Dasar..."


Elisa dan MUA masuk ke kamar Puspa dan bersiap-siap untuk merias Puspa karena akadnya akan di laksanakan jam 9 pagi.


"Pus, kau datang bulan?" tanya Elisa saat melihat ada bekas darah di kasur Puspa.


"Aduh, aku lupa!" Puspa langsung mengganti Seprainya dibantu Elisa.


Sedangkan MUA dan asistennya hanya senyum-senyum melihat mereka berdua.


'Ddrrrrrttt'


Puspa mengangkat telfon Arga lagi.


"Ku kira kau belum bangun,"


"Arga, kau pasti sebenarnya gugup juga. Kau terlalu cepat menelfonku, loh. Aku sudah bangun dan periasnya sudah datang."


"Hm, baiklah."


"Terima kasih, El. Kau selalu membantuku," ucap Puspa.


Elisa tersenyum. Setelah rambutnya kering, Puspa disuruh sarapan terlebih dahulu, takut ia tumbang nantinya.


08:00, Tamu Puspa yang tak lain tetangga-tetangganya mulai berdatangan, Elisa menyambut mereka dan menyiapkan minum serta cemilan. Pak Penghulu juga datang lebih awal sesuai permintaan Arga, Puspa yang sedang di Make-Up merasa lelah karena Make-Up memakan waktu banyak untuk hasil yang memuaskan.


'Tok tok tok'


"Pengantinnya masih belum selesai."


"Ini Bi Ina."


Puspa merasa senang.


"Masuk saja, Bi."


'Ceklek'

__ADS_1


Bi Ina tercengang melihat riasan wajah Puspa yang belum selesai.


"Cantiknyaaa," Bi Ina terpukau.


Puspa sedikit malu di puji Bi Ina.


"Benarkah? Atau jangan-jangan menor?"


"Tidak... Kamu sangat cantik."


Entah itu mitos atau fakta, 'Katanya' Calon pengantin yang sudah tidak lagi gadis biasanya saat di Make-Up akan terlihat biasa saja bahkan cenderung tidak punya aura pengantin yang di pancarkan. Namun melihat Puspa yang seperti ini di hadapannya membuat Bi Ina meragukan hal tersebut. Puspa semakin cantik dengan Make-Upnya, bahkan Bi Ina tidak percaya kalau ini adalah Puspa


"Ini salah satu Make-Up tersimple kami karena mempelai wanita memintanya supaya menghemat waktu, kami juga tidak menyangka akan secantik ini untuk mempelai wanita."


"Kalian terlalu berlebihan." Puspa tersipu


Bi Ina tersenyum, ia lalu duduk di samping Puspa dan sesekali membantu Puspa mengenakan pakaian untuk akad pernikahannya. Waktu terus berjalan.. Puspa yang selesai di Make-Up duduk di kamar bersama Bi Ina. Arga sudah datang, mereka bersiap melaksanakan akad.


Bapak Puspa meneteskan air mata karena terharu, sedangkan Rina dengan wajah tidak senangnya tetap ikut hadir selaku Ibu Sambung. Tibalah saatnya Bapak Puspa melepas Puspa ke tangan Arga. Para hadirin terkejut mendengar nominal mahar yang tidak sedikit, Puspa meminta mahar uang yang ringan saja. Arga menurutinya dengan mahar 300 juta serta seperangkat alat Shalat.


Arga mengucapkan Kabul dalam satu tarikan nafas saja.


"Saya terima nikahnya Intan Dwi Puspa binti Dion dengan mas kawin yang disebutkan di bayar tunai."


Elisa memejamkan mata saat Ijab Qabul sah dan kini Puspa resmi menjadi Istri Arga. Puspa menitikkan air mata mendengar dirinya telah resmi menjadi suami-istri dengan Arga.


Puspa refleks memeluk Bi Ina dan mau menangis.


"Selamat ya, Nak. Kamu telah resmi menjadi Istri Tuan Muda," Bi Ina mengelus punggung Puspa.


Setelah akad selesai, Puspa di persilahkan keluar dari kamarnya, Bi Ina menggenggam tangan Puspa dan keluar bersama, mereka berjalan perlahan. Arga tidak berhenti berkedip melihat Puspa, begitupun yang lainnya. Mereka bersbisik-bisik memuji Puspa. Elisa tersenyum dan merasa iri akan kecantikan Puspa.


Bi Ina menuntun Puspa duduk bersanding dengan Arga. Puspa mencium punggung tangan Arga dan Arga meletakkan tangannya di kepala Puspa sambil membaca do'a lalu ia mencium kening Puspa.


"Apakah aku cantik?" tanya Puspa dengan suara pelan setelah Arga mencium keningnya.


"Hm."


Di luar dugaan, Arga mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya. Ia menyematkan cincin di jari manis Puspa yang kanan. Elisa yang semakin panas menuju ke dapur, ia meluapkan kekesalannya dengan meminum air banyak. Air matanya terus mengalir sampai ia tidak sengaja menjatuhkan gelas. Elisa memungutnya dengan tangan gemetaran dan langsung merapikan penampilannya lagi.


1 jam berlalu, para tamu sudah pergi. Bapak Puspa memeluk Puspa dengan erat dan bercucuran air mata. Orang tua Arga tersenyum bahagia, dan Arga jadi bingung harus apa.


"Selamat, Puspa. Kau cantik sekali," puji Elisa.

__ADS_1


"Kau bisa saja. Terima kasih ya telah banyak membantuku." Puspa memeluk Elisa.


Singkat cerita kini mereka sudah berpindah tempat di kediaman keluarga Arga, sudah banyak tamu yang hadir. Puspa di bawa ke kamar khusus untuk di Make-Up ulang, begitupun dengan Arga. Bapak Puspa juga di kenalkan pada kolega Papa Arga dan mereka mengobrol, Rina tidak bisa berhenti memandangi rumah besar ini, ia juga meminta ART disana untuk membawanya berkeliling karena ia adalah Ibu Sambung dari Puspa.


__ADS_2