
"Kenapa kau?" Tanya Arga panik melihat Puspa memegangi perutnya.
"Emmm sepertinya.. Entahlah" Puspa tersipu
Arga menautkan alisnya, bingung
"Sepertinya apa? jangan biasa menggantung kalimat" Arga memicingkan matanya
"Bisakah kita pulang sekarang?" Arga membelalakkan matanya
"Jangan bertele-tele" Arga bersidekap
"Aku rasa tamuku akan datang." Puspa malu mengatakan itu , Sesekali ia mengedarkan pandangan takut pengunjung lainnya mendengar itu
"Tamu? Laki-laki atau perempuan?" Terlihat aura membunuh dari wajah Arga
Puspa berdecak kesal. Haruskah ia memperjelas maksudnya? Sedangkan Pria di depannya ini tidak kunjung mengerti.
"Laki-laki memang jarang ada yang peka" Gumam Puspa
"Woy!"
Puspa terkejut. Sontak ia menginjak sepatu Arga
"Sembarangan. Harganya sangat mahal tau" Arga mendengus sebal
"Aku mau pulang" Puspa berdiri dari duduknya dan berlari-laei kecil keluar dari Mall
Arga pun mengejarnya. Saat membuka pintu mobil,
"Sial, Di kunci" Umpat Puspa kesal.
Ia merasa sudah ada sedikit yang mengalir area kewanitaannya.
"Puspa! Hentikan!" Arga mencekal lengan Puspa
"Apa yang kau lakukan? kita belum belanja." Arga kesal
"Tuan.. Ku mohon... Aku takut bocor" Puspa malu mengatakan itu. Tapi dari tadi Puspa memberi kode, Arga tidak faham juga.
"Hmm aku datang bulan"
Arga menepuk jidatnya.
"Lalu?"
Puspa melongo Arga malah bertanya 'Lalu'
Tidak ada perhatian dan pengertian sedikitpun darinya.
"Isshh. Pulang" Gerutu Puspa.
__ADS_1
"Baiklah. Kau duduk di mobil. Aku segera kembali"
Arga langsung berjalan masuk ke mall dengan langkah yang lebar.
"Tapi pintunya masih di kunci" Puspa memicingkan matanya.
🍀🍀🍀
"Hmm.. Konyol." Arga berjalan santai sambil melihat-lihat pembalut yang pas untuk Puspa.
Para mata gadis menatapnya kagum akan ketampanan Arga.
"Apa ini pembalut semua? Mana yang biasa di pakai Puspa? Hnmm harusnya merk pembalut itu satu saja. Kalau banyak seperti ini malah membuatku bingung dan hanya mondar mandir"
"Ribet. Terserah lah" Arga langsung mengambil pembalut ukuran panjang dan berisi 20 pcs. Tidak peduli merk, yang penting pembalut.
🍀🍀🍀
"Tuan Muda kemana sih. Tidak mengertikah kondisiku saat ini?" Puspa bersandar di badan mobil
Ilham yang melintas di depan mall tidak sengaja melihat Puspa sendirian di tempat parkir. Ia lantas masuk ke sana.
"Ehem" Puspa menoleh pada asal suara
"Eh.. Ilham. Sedang apa kamu disini?" Puspa mengedarkan pandangan memastikan Arga tidak melihatnya. Puspa menarik Ilham dan dirinya ke sisi lain mobil.
"Aku melihatmu sendirian disini. Kau baik-baik saja?" Ilham nampak cemas. Ia tidak peduli lebam di wajahnya, melihat Puspa sudah menjadi obat baginya.
"Aku baik-baik saja. Dengarkan aku, Sekarang kamu pergi dari sini. Kan aku sudah bilang kita akan bertemu di-"
"Ilham.. Bukan begitu. Aku melakukan ini demi kebaikanmu. Menurutlah."
"Puspa... Aku merindukanmu. Jangan menyiksaku seperti ini. Tadi saat di pasar kamu begitu sangat penurut pada laki-laki itu. Sedangkan padaku?" Ilham mengatur nafasnya.
"Ilham... Kamu tidak tau yang sebenarnya"
"Apa yang sebenarnya? Kau jatuh cinta padanya? Ingin menikah dengannya? Mangkanya kau sangat menuruti keinginannya?" Mata Ilham memerah. Hatinya di penuhi amarah dan cemburu.
"Ilham.. Jangan-"
"Kau tau... Selama ini aku merindukanmu. Semenjak kita berpisah, aku selalu teringat padamu. Dan pada hari ini aku bisa bertemu denganmu adalah sesuatu yang berarti. Aku belum bisa ke rumahmu karena ekonomi keluargaku. Panggilan ~Cinta~ kita dari kecil selalu ku ingat."
Puspa sedikit meringis saat darah haid nya keluar. Ia merapatkan kakinya.
Ilham cemas saat melihat perubahan mimik wajah Puspa.
"Puspa.. Kamu kenapa?" Ilham memegang bahu Puspa. Puspa menggeleng.
Di hari pertama sampa ke-4 haid, Puspa biasa merasakan kram perut yang lebih sakit di banding hari ke-5.
"Ilham.. Ku mohon." Puspa menatap Ilham dengan mata memelas
__ADS_1
"Untuk pergi dari sini?. Hufftt baiklah kali ini aku menurut. Lain kali tidak. Aku akan pergi setelah mendapat sesuatu darimu"
Ilham tersenyum
"Sesuatu apa? Oh ayolah Ilham.. Aku bukan orang kaya." Puspa memutar bola matanya.
"Meminta sesuatu yang lebih besar dari itu."
Puspa menautkan alisnya.
"1 kali saja.. Pleaseee.." Ucap Ilham lembut sembari melangkah mendekatkan dirinya pada Puspa. Ilham merapihkan rambut Puspa yang berterbangan di wajahnya akibat di tiup angin.
Ilham mengelus pipi mulus Puspa. Dapat di rasakan pipi Puspa yang halus. Ilham menarik tangannya dan melihat telapak tangannya.
"Kamu tetap cantik walau make up mu tipis." Ilham tersenyum. Ia mengelus pipi Puspa lagi. Puspa grogi.
Jantung Puspa berdetak 2 kali lipat. Entah apa yang akan di lakukan oleh Ilham.
"Ilham.. Jaga jarak. Ini tempat Umum" Puspa sedikit mundur.
"Baiklah kita pindah tempat." Ilham memegang pergelangan tangan Puspa.
"Tidak bisa. Aku takut bocor" Puspa masih merapatkan kakinya.
Ilham menautkan alisnya.
"Bocor? Lagi halangan?"
Puspa mengangguk. Ya berbicara pada Ilham masalah haid tidak serumit berbicara pada Arga
"Sudah pakai pembalut kan? Kau bisa melangkah"
"Tidak. Aku tidak memakai itu. Datangnya baru saja. Tuan juga masih ada di dalam"
"Oh shit. Aku akan membelikanmu pembalut dulu. Kau tunggulah disini."
Di sisi lain hati Puspa berbunga, tapi di sisi lain ia merasa sungkan.
"Tidak perlu. Takut saat kamu pergi membelinya, Tuan sudah datang dan aku pergi. Itu akan membuatmu buang-buang tenaga" Tolak Puspa
"Lagi-lagi dia" Ilham tidak suka Puspa memanggil pria itu dengan panggilan 'Tuan'
"Hmm baiklah..." Ilham merogoh saku celananya dan mengambil dompet.
"Untuk apa?" Tanya Puspa saat Ilham mau mengambil uang 100 ribu
"Untuk kamu membeli pembalut" Jawab Ilham dengan entengnya
"Tidak. Uangku masih ada. Jangan menambah bebanku.." Puspa menggigit bibi bawahnya atas apa yang di ucapkan barusan
"Bebanmu? Apa dengan kehadiranku itu menjadi beban? lalu dengan memberi uang ini juga menambah bebanmu? Begitukah?"
__ADS_1
Lain kali bicaralah yang jelas Puspa, atau iritlah dalam berbicara seperti kau berbicara pada Arga.
🍀Happy reading... Maaf banyak typo. Author jarang up karena saat ini Author yang ecek-ecek ini sedang dalam kondisi sakit.🙂🍀