Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Sensi


__ADS_3

🍀🍀🍀


17:00


Arga menghentikan mobil di pinggir jalan depan rumah Puspa.


"Mampir dulu?" Tawar Puspa


"Boleh" Arga ikut melangkah di belakang Puspa.


Tidak tega melihat Puspa menenteng banyak bawaan, Arga mengambil alih semuanya.


"Bapak?" Bapak Puspa mendongakkan kepalanya


"Dari pagi, sampai sekarang belum pulang" Imbuh Arga


"Hah? dari pagi?" Bapak Puspa mengangguk.


"Aku sarankan Bapak cepat pulang. Aku tidak ingin melihat istri sialanmu itu marah-marah tidak jelas lagi. " Omel Puspa. Ia membuka pintu rumahnya.


"Bapak rindu kamu" Ucap Bapak Puspa lirih. Puspa terdiam


"Apapun keputusan yang Bapak ambil pasti ada resikonya. Bapak memilih selingkuh pun qda resikonya." Puspa tersenyum getir.


"Bapak tau.. Bapak minta maaf.." Bapak Puspa menitikkan air mata


"Wkwk. Pulanglah Pak. Istrimu sedang hamil. Sedikit demi sedikit Puspa akan mengikhlaskan ini semua."


"Apa maksudmu tidak mau menganggap Bapak lagi?" Bapak Puspa menangkup wajah Puspa


"Bukan begitu." Puspa menurunkan tangan Bapaknya.


"Bapak harus lebih fokus pada keluarga baru Bapak. Setelah ini Bapak akan punya anak kecil lagi. Istri yang sedang hamil butuh perhatian lebih" Puspa menunduk


"Puspa bisa sendiri."


"Puspa.. Jangan mengatakan itu. Itu membuat Bapak sakit"


"Lalu bagaimana dengan apa yang telah Bapak lakukan selama ini? Bapak fikir itu tidak sakit? Bapak tidak sadarkah bahwa secara tidak langsung Bapak telah menghabisi Ibu?"


"Itu kecelakaan, Puspa"


"Ibu melamun gara-gara Bapak!. Cukup jangan mengelak!"


Arga hanya berdiri menonton. Malas ikut campur yang ujung-ujungnya amarahnya tidak terkontrol lagi.

__ADS_1


"Puspa.. Bapak.."


"Bapak pulanglah. Mereka berdua lebih butuh Bapak"


Bapak Puspa tersentak.


"Maaaaassssss!!!" Suara cempreng datang


Mereka bertiga menoleh pada asal suara


"Rina.." Lirih Bapak Puspa


"Bagus ya seharian tidak pulang!" Rina berjalan tergopoh-gopoh sambil mengeluarkan amarahnya.


"Rupanya ada di rumah sialan ini!"


"Tutup mulutmu atau kematian yang akan menutup mulutmu"


Rina menghentikan langkahnya. Saat ia datang tadi pandangannya hanya tertuju pada suaminya.


"Kau.. Kau.." Rina menelah ludahnya. Ia mengingat bagaimana Arga menghancurkan resepsi malam itu bahkan membuat Ayahnya di pecat. Beruntung malam itu preman tidak melukainya.


"Masih ingat kan?" Rina tersadar dari lamunannya.


"Nah. Istrimu sudah datang. Pergilah" Arga mendorong pelan Puspa untuk masuk ke dalam rumah dan menutup pintu


"Enak ya.. Uang hari ini belum ku dapat darimu!. Enak saja" Rina mengibaskan rambutnya.


"Tapi-"


"Tapi tapi.. Kamu itu punya istri dan calon anak kita mas. Tanggung jawab dong"


"Ibunya Puspa bahkan tidak pernah membentakku ketika aku jatuh miskin dulu. Tapi kamu-"


"Jangan ribut disini. Mengganggu!!" Ucap Arga dari balik jendela.


>Emang kalau udah nggak ada baru kerasa ya😂<


🍀🍀🍀


20:00


Puspa selesai menyiapkan makan malam. Aktivitasnya agak terganggu karena sakit di perutnya.


"Tuan Muda.. Makanan sudah siap" Arga yang sedang memainkan Hp di ruang tamu langsung menuju dapur.

__ADS_1


Seperti keterangan di bab sebelumnya, Rumah Puspa yang tidak semegah para tetangga lainnya, Dapur dan ruang makan menjadi satu.


"Hmm menunya lumayan" Arga duduk sambil menatap satu persatu menu yang disiapkan Puspa.


"Jika berani komplain, awas" Puspa ikut mendudukkan dirinya


"Hmm. Sensi" Arga mengambil sendok.


Puspa langsung mengambilkan nasi untuk Arga.


"Kurang. Kau tau kan karena akibat ulahmu ingin lihat laki-laki kurang ajar itu lah, ini lah kita sampai tidak makan" Arga memicingkan matanya


Puspa menambahkan nasinya lagi. 2 centong nasi Puspa rasa cukup untuk Arga yang sepertinya suka olahraga dan menjaga tubuhnya.


"Jangan lupa, itu juga akibat ulahmu." Puspa mengambil nasi untuk dirinya sendiri


"Jangan terlalu banyak makan malam. Cepat gemuk. Nanti kau tidak laku" Sindir Arga. Puspa melotot.


"Seramnya wajahmu" Puspa melengos.


Arga malah terkekeh.


Mereka berdua menikmati makan malam. Sepertinya Arga sangat kelaparan hingga ia makan lebih banyak.


***


🍀🍀🍀


Di sisi lain di Rumah Sakit


Ilham yang terbaring dengan perban yang menyelimuti wajahnya.


"Puspa.." Ilham mengigau. Saat membuka mata, Ibunya yang sangat cemas terus memegang tangan Putranya yang sedari tadi pingaan.


"Ibu..." Lirih


"Ilham.. Kamu sudah siuman.. Ibu panggil dokter dulu" Ilham mengangguk. Saat membuka pintu, Pertanyaan Ilham menghentikan langkah Ibunya.


"Ibu.. Puspa mana?"


"Dia sudah pulang.. " Jawab Ibunya membalikkan badan dan tersenyum


"Meninggalkanku?"


"Ilham.. Ibu akan panggil dokter dulu"

__ADS_1


"Tapi.. Ibu."


Ibu Ilham langsung menutup pintu.


__ADS_2