
***
Setelah di tangani Dokter, Puspa masih belum sadarkan diri. Arga melihat dari luar ruang kamar rawat Puspa. Arga membuang nafas kasar.
"Aku tidak tau apa yang membebani fikiranmu hingga otakmu tidak berfungsi dan melakukan hal gila itu"
'Ddrrrtttt '
Arga merogoh Hp nya dan melihat siapa yang menelfonnya,
"Halo, Ma"
"Hm" Arga langsung mengakhiri panggilannya dan menuju ke kamar rawat Jesi
Mata Jesi berbinar saat mendapati Arga masuk ke kamarnya. Arga memasang wajah datar.
"Lalu aku harus bagaimana" Arga buka suara
"Abang" panggil Jesi lirih, air matanya membendung di kelopak matanya, tapi sayangnya hal itu tidak membuat Arga peduli.
"Sayang, temani Jesi dulu ya, Mama mau keluar sebentar" Mama Arga meraih tas nya
"Tidak"
Arga membalikkan badan memunggungi Jesi dan Mama nya
"Lebih baik aku menemani Puspa" Arga melangkah, saat akan membuka pintu suara Jesi menghentikan langkahnya.
"Abang, sebentar lagi aku akan pulang. Tidakkah Abang kasihan kepadaku walau sedikit saja?"
"Tidak" jawaban Arga mengiris hati Jesi
__ADS_1
"Tante, aku mau bicara berdua dengan Bang Arga" Mama Arga mengiyakan dan meninggalkan mereka berdua
"Bang, kurangku apa untukmu?"
Arga masih diam dan menatap Jesi datar
"Aku berusaha menjadi lebih baik untukmu"
"Dengan mabuk?" timpal Arga
Jesi menggigit bibir bawahnya.
"Aku... Aku melakukan itu karena kamu juga, Bang" Jesi membela diri
"Apa hubungannya denganku?" Arga menatap sinis Jesi yang melibatkan dirinya dalam kesalahan yang ia perbuat
"Karena Abang tidak peka dengan perasaanku, Abang mengabaikan aku, itu membuat aku frustasi"
"Harusnya kau pun sadar akan hal itu dan berhenti berharap"
"Abang, aku mencintamu" Jesi memelas
"Tetapi aku tidak"
"Abang, tidak maukah engkau membuka sedikit saja hatimu untukku?" Jesi meneteskan air mata
"Tidak. Hatiku sudah jadi milik orang lain" Arga memasukkan tangannya ke dalam saku celananya
Jesi membulatkan matanya, karena selama ini dia mengharapkan orang yang sudah terikat dengan orang lain
"Ap-Apa dia yang kau sebut Puspa tadi, Bang?"
__ADS_1
"Kenapa kau ingin tau urusan orang"
"Bang, ku dengar dari Tante bahwa Puspa itu hanyalah bekas pembantu, tapi-"
"Sekali lagi kau ucapkan itu, ku habisi kau saat ini juga" Arga menatap Jesi dengan tatapan membunuh disertai amarah
"Abang, kumohon jangan biarkan aku tersiksa dengan perasaanku yang tidak terbalas Bang. Kumohon, hiks"
"Hentikan tangisanmu, itu tidak mempan bagiku"
"Jangan salahkan aku jika terjadi apa-apa pada perempuan sialan itu!" ancam Jesi yang tidak terima atas penolakan Arga
"Dan jangan salahkan aku jika hari ini adalah hari terakhir kau bernafas. Jangan berlagak jago jika kemampuanmu dibawah musuhmu, kau bisa mati dalam satu petikan jari"
Jesi meremas dadanya yang terasa begitu nyeri akan jawaban Arga.
Arga keluar dari ruangan itu, dan Jesi berteriak
"Aaarggghhhh kurang ajaaarrr!!! Aku tidak akan tinggal diam!" Jesi mencabut infus di tangannya dengan kasar, ia berdiri dan berniat akan menghabisi Puspa
Namun sangat di sayangkan, saat kakinya menyentuh lantai ia tidak dapat menopang tubuhnya dan terjatuh. Ia berusaha berdiri namun tetap tidak berdaya.
"Aaaaargghhhhh!!!! Fu*ck lo Puspa!!! Sialan!!!" Jesi memukuli lantai hingga tangannya bergetar
🍀🍀🍀
Arga duduk di samping Puspa yang masih belum sadarkan diri. Perasaan sedih menyelimuti hatinya, kali ini ia tidak dapat memungkirinya lagi bahwa ia memiliki rasa untuk gadis yang tengah terbaring lemah di hadapannya ini.
"Maafkan aku, harusnya aku tidak meninggalkanmu tadi. Maaf" Arga menggenggam tangan Puspa berharap genggaman itu memberikan kehangatan dan bisa menyadarkan Puspa.
Tangan Puspa terasa agak dingin, Arga panik. Ia menggosok-gosok tangan Puspa. Tapi ternyata itu hanya perasaan Arga saja. Arga refleks mencium tangan Puspa.
__ADS_1
Arga teringat saat Puspa meninggalkan dirinya sewaktu bekerja di rumahnya dan Arga membiarkannya pergi, kali ini ia tidak ingin itu terjadi lagi.
"Jangan tinggalkan aku lagi" Kecupan hangat dan penuh sayang mendarat di kening Puspa.