
Puspa berontak, melihat Puspa yang terus berusaha lepas dari pelukannya, Arga makin mengeratkan pelukannya itu.
Wajah Puspa memerah, matanya melotot dan makin susah bernafas.
"Dasar bodoh!" Umpat Puspa dalam hatinya
Arga melepas pelukannya, akhirnya Puspa bisa menghirup oksigen dengan lancar. Ia memicingkan matanya. Sedangkan Arga malah menyeruput teh hangatnya.
"Kau gila?!" Teriak Puspa sambil memukul lengan Arga. Tidak lama Puspa langsung menutup mulutnya dengan jari-jemarinya, sadar apa yang ia lakukan barusan bisa menyebabkan para tetangga heboh.
Arga hanya tersenyum menatap Puspa. Puspa makin di buat bingung dengan sikap Arga kali ini.
"Haiiihhh... Lama-lama aku bisa gila. Pulanglah jika tidak ada urusan lagi." Puspa merapihkan rambutnya
"Berani mengusirku?" Tanya Arga dengan nada dingin
"Oke, apa yang membuatmu kesini? masih mau membahas hal itu lagi?" Puspa mengepalkan tangannya, kesal.
"Tidak." Arga menyeruput teh nya lagi.
"Lalu? dengar Tuan, ini sudah malam."
"Aku tidak bodoh hingga aku tidak bisa membedakan antara siang dan malam" Arga memainkan alisnya.
Puspa semakin bingung.
"Puspa tidak mengertikah kau atas sikapku sedari tadi?" Arga heran
"Hah? apa yang harus ku mengerti,Tuan. Yang ada malah aku kebingungan."
"Hmm... Aku rindu." Ucap Arga lirih
Puspa membulatkan matanya.
"Eh? apa? rindu? rindu pada siapa?"
"Sudahlah. Setelah ini aku pulang." Arga menghela nafas berat.
Mereka terdiam...
"Tadi dinner, ya?" Tanya Arga
"Emmm... Itu..."
__ADS_1
"Jawab saja, Puspa"
"Iya, Tuan... Ilham mengajakku untuk ma-"
"Hmm baiklah. Aku pulang dulu" Arga bahkan tidak menghabiskan teh dalam gelasnya.
"Tuan,"
"Apa?! Tadi menyuruhku pulang kan?" Arga berdiri membelakangi Puspa.
"Tapi kena-"
"Dasar." Arga melangkahkan kakinya bahkan tidak membiarkan Puspa untuk menjelaskan apapun.
Arga membuka pintu, sedangkan Puspa diam terpaku di tempatnya tadi.
Saat kakinya akan melangkah, Arga membalikkan badan dan mendapati Puspa sedang menunduk dan memainkan ujung bajunya.
Arga menghirup nafas dalam-dalam.
"Tadi dinner kemana?" Pertanyaan yang ingin ia tanyakan tapi terhalang ego.
"Cafe." Puspa menjawab dengan posisi masih menundukkan kepala.
"Apa?" Tanya Puspa.
"Maafkan aku" Arga langsung memeluk Puspa dengan lembut. Puspa hanya diam dan tidak ada respon apapun.
"Lain kali jangan mau ya." Ucap Arga lembut
"Kenapa?" Puspa mendongakkan kepalanya.
Arga mengelus rambut Puspa,
"Pokoknya tidak boleh" Tangan Arga mendorong lembut kepala Puspa agar menempel lagi di dadanya.
"Tuan," Panggil lirih
"Iya?"
"Pintunya masih terbuka" Arga melotot. Ia langsung melepas pelukannya dan menutup pintu rumah Puspa.
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Dasar bodoh"
__ADS_1
"Nah kan, kau malah memakiku😑" Puspa menyipitkan matanya.
"Itu hak ku" Arga duduk lagi.
"Kau sakit, Tuan. Sebaiknya kau pulang." Ledek Puspa
"Tidak mau. Aku tidur disini saja" Tolak Arga mentah-mentah
"Heii! Jangan sembarangan... Ini rumahku."
"Jangan macam-macam atau akan ku beli rumah ini dan kau ku telantarkan"
"Ooohhh sekarang sudah jadi bos ya" Ledek Puspa lagi
"Jangan lupa, kau pernah bekerja pada siapa"
"Pada Tuan Besar dan Nyonya" Arga terdiam.
"Jangan meremehkan aku. Aku bisa membeli rumah gubukmu ini, Puspa. Aku akan meneruskan usaha bisnis Papa."
"Rumah gubuk katamu? jangan meledekku ya T-u-a-n. Apa yang kau banggakan? kau hanya meneruskan saja, tidak memulainya dari 0." Ledek balik Puspa.
"Apa urusanmu?"
"Itu tidak independent namanya" Puspa menyilangkan lengan tangannya di dadanya.
"Aku tanya memangnya apa urusanmu dengan hal itu? bahkan kau bukan calon Isteriku."
Puspa terdiam. Benar juga yang di katakan Arga.
"Memangnya itu kriteria untuk calon suamimu?" Tanya Arga
"Ya tidak juga sih." Puspa menggaruk kepala belakangnya.
"Apa kriteria pria idamanmu?" Arga menarik Puspa. Dengan satu kali tarikan Puspa langsung duduk.
"Aw... Kasar tau."
"Hm. Jawab pertanyaanku" Desak Arga
"Kriteria ya? Entah." Arga menaikkan satu alisnya, ia tidak mengerti dengan ucapan Puspa.
"Dengar Tuan tampan, kaya, baik hati, pulanglah. Aku tidak mau orang tuamu menuduhku yang macam-macam."
__ADS_1
Arga menatap dingin Puspa. Seakan-akan ia tidak percaya akan jawaban Puspa tadi.