
20:00
Waktu berjalan dengan cepat, Arga dan Papanya pun sudah tiba di rumah Puspa, sisa menunggu kedatangan Bapak Puspa
"Kenapa kita tidak ke rumah Bapak saja?" Tanya Puspa pada Arga
"Papa tidak ingin bertemu dengan Ibu Tirimu" jawab Arga sambil memainkan Hp nya
Puspa hanya ber-oh-ria. Selang beberapa menit kemudian Bapak Puspa datang
"Maaf telah membuat kalian menunggu" Bapak Puspa duduk disamping Puspa
"Tidak masalah" Papa Arga
"Istrimu tidak ikut?" Tanya Bapak Puspa
"Tidak, ia kurang enak badan"
"Nyonya sakit?" Tanya Puspa
"Sedikit"
"Apa tidak apa-apa meninggalkannya sendirian?"
"Sudah ada Bi Ina dan lainnya" jawab Arga
"Benarkah? Aku sungkan"
"Tidak usah khawatir" imbuh Papa Arga
"Baik, kita akan langsung ke intinya" ucap Papa Arga
"Kita buat kesepakatan lagi kapan pertunangan akan dilaksanakan?"
"Secepatnya" jawab Arga
"Kurasa aku sependapat dengan Puteramu. Demi menghindari omongan tetangga yang tidak-tidak, dan juga untuk memastikan mereka memiliki hubungan yang serius"
Puspa hanya mendengarkan saja
"Bagaimana menurutmu, Puspa?"
"Aku ikut keputusan Bapak, Tuan"
"Oke, waktu secepatnya itu kapan?" tanya Papa Arga
"Minggu depan, kalau bisa 3 hari lagi"
Puspa membulatkan matanya
"Secepat itu?" gumam Puspa
"Pekerjaanmu? Kau tau kan tanggung jawabmu akan pekerjaan, ini salahmu juga pada saat itu mengurung diri"
"Anu-"
"Kenapa, Puspa?"
"Kalau pertunangannya diadakan dengan sederhana saja, mungkin bisa dilaksanakan 3 hari lagi"
"Tidak, minggu depan saja" sela Arga
"Lah!"
Papa Arga memicingkan mata
"Jangan becanda, ya"
"Minggu depan saja, kita adakan acara pertuangannya dengan meriah"
"Katanya mau nabung?" tanya Puspa
"Itu urusanku"
"Berarti nanti nikahnya tanpa resepsi ya?" tanya Puspa lagi
"Pakai juga" jawab Arga dengan cepat
__ADS_1
"Kau menghambur-hamburkan uang" batin Puspa
"Eee kami dari keluarga yang tidak berada, apa tidak berlebihan?"
"Kalau Arga maunya begitu ya kita ikut saja sebagai orang tua, Dion"
Arga mengangguk menyetujui apa yang Papa Arga ucapkan
"Tapi-"
"Jangan hiraukan tetangga-tetanggamu itu, hubungan ini Arga dan Puspa yang menjalaninya, bukan tetanggamu"
Puspa hanya diam saja sambil menahan rasa gugupnya, ia merasa ini adalah mimpi semata
"Baiklah, kita sepakati minggu depan mereka akan bertunangan, kami akan menyiapkan segala keperluannya"
"Anu, tempatnya dimana?" tanya Puspa
"Disini juga bisa, sayangnya ada masalah terkait luasnya untuk para tamu"
"Eh? Kita mengundang banyak orang kah?" Puspa terkejut
"Tentu, aku akan mengundang para kolegaku juga" jawab Papa Arga
"Bagaimana kalau di rumah kami?" usul Papa Arga
"Menyewa gedung?" usul Arga
"Kau tidak akan bisa menabung kalau begitu"
Arga nampak berfikir keras
"Baiklah di rumah kami saja"
"Tapi Nyonya?" Puspa masih takut
"Mama tidak akan komplain"
"Mengenai biaya, pihak kami akan membantu" ucap Bapak Puspa
"Tidak perlu, Arga yang akan menanggungnya. Iya kan?"
Arga mengangguk
"Tidak masalah" Arga sambil tersenyum tipis
"Sejak kapan kau suka senyum?" goda Papa Arga
"Paaa"
"Baik, hasilnya minggu depan pertunangannya akan dilaksanakan di rumahku, dekorasi dan lainnya kita serahkan saja pada yang akan bertunangan"
"Tapi apa itu tidak berat sebelah?" tanya Bapak Puspa
"Tidak"
"Tenang saja, Dion" Papa Arga tersenyum
"Anggap saja itu ganti rugi atas babak belurnya wajahmu" imbuhnya dengan wajah tanpa dosa
Krik Krik Krik
Mereka menatap satu sama lain, Puspa langsung menggaruk pelipisnya dan agak menunduk
"Apa aku mematikan suasana?" tanya Papa Arga. Arga hanya menghela nafas
***
Puspa dan Arga sedang duduk di teras rumah, sedangkan kedua Ayah mereka tengah mengobrol di dalam
Semilir angin menyapu wajah keduanya sambil memandangi langit yang dipenuhi bintang. Mereka duduk dengan berjarak, tapi pelan namun pasti Arga menyentuh tangan Puspa dan saling menggenggam tanpa menoleh
"Kau tidak kedinginan?" tanya Puspa
"Tidak"
"Benarkah?"
__ADS_1
"Hm"
Mereka terdiam sejenak
"Hei, rasanya aku sedang bermimpi, loh" ucap Puspa
Arga melirik ke Puspa
"Mimpi?"
"Iya, mimpi. Aku tidak menyangka saja kita bisa sampai sejauh ini. Aku sama sekali tidak pernah membayangkannya"
"Em"
"Apa jika aku melempar batu dan mengenai orang lain maka endingnya akan seperti ini juga?"
Genggaman Arga mengerat dan menimbulkan rasa sakit
"Aaawwwww" Puspa berusaha melepaskan tangannya
Puspa menoleh, ia mendapati Arga seperti sedang marah namun tetap mendongakkan kepalanya menghadap ke langit
"Kau marah?"
"Hm"
"Hihi, maaf. Apa kita harus mencari batu keberuntungan itu?"
"Cari saja sendiri" cetus
Puspa memanyunkan bibirnya
"Kau benar-benar marah, ya?"
"Hm"
"Maaf" ucap Puspa sedih, ia merusak suasana romantis mereka
Arga tidak menyahut
"Aku benar-benar minta maaf"
Tanpa menjawabnya, Arga menoleh ke arah Puspa lalu beberapa detik kemudian ia menarik wajah Puspa dan mendekatkan ke wajahnya. Jarak wajah mereka berdua hanya beberapa cm saja, Puspa merasakan jantungnya akan lepas
Dengan tatapan tajam Arga menyatukan dahi mereka berdua
"Kau milikku" dengan suara pelan
Puspa dapat meraskan hembusan nafas Arga, Arga memejamkan matanya, sedangkan Puspa diam membisu, ia tidak tau harus merespon apa
Arga mengeratkan genggaman tangan mereka
"Aku tidak suka kau berkata seperti tadi" imbuhnya
Puspa mengangguk dengan perlahan. Arga membuka matanya perlahan, bola mata mereka saling berhadapan, Arga memajukan bibirnya, difikiran Puspa sudah dipenuhi bayangan akan dicium Arga
'Cup'
Puspa mengedipkan matanya saat ia salah sangka, Arga mengecup pipi Puspa dengan lembut
"Jangan memikirkan hal mesum" Arga mengusap wajah Puspa dengan lima jarinya dan membuyarkan lamunan Puspa
"Kyaaa kau merusak make-up ku" Puspa mengembungkan pipinya
"Aaaaa ini akunya yang GR atau bagaimana? Bisa-bisanya disetiap aku fikir dia akan menciumku tapi malah pipiku yang dicium" batin Puspa
"Akan ku berikan saat kita sudah menikah" ucap Arga sambil memandangi langit
"Apa sih!" Puspa memalingkan wajahnya, ia malu dan pipinya terasa panas
Arga mengelus kepala Puspa
"Jangan mengacak rambutku"
Arga tersenyum tipis.
"Aku juga tidak menyangka kita ada di titik ini" batin Arga
__ADS_1
Author : Mari kita kawal sampai mereka SAH!!