Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Ketahuan


__ADS_3

Folder itu berisi banyak video.


Arga menelan ludahnya.. Perlahan jarinya menekan tombol 'Play' dan mengecilkan volume.


Arga mematung setelah memutar salah satu video itu. Video yang berisikan adegan-adegan dewasa dan berhubungan intim. Pemain di videonya sangat menguasai peran hingga adegan panas itu membuat Arga panas dingin.


"Berapa tahun lamanya aku menghentikan kebiasaan jelek ini, dan sekarang aku mengulanginya. Tidak ku sangka Kasek disini suka memelihara video biru" Arga mengusap wajahnya.


Seketika Arga sadar bahwa di ruangan ini ada CCTV nya. Arga menoleh ke arah sudut atas ruangan.


Tanda tanya besar muncul di kepalanya.


'Dimana Cctv nya? Kapan di lepas?' Arga bediri dan berjalan mendekati letak dimana Cctv itu.


"Tidak mungkin Papa tidak memasang Cctv di ruangan penting seperti ini kan? Hmmm" Arga memicingkan matanya.


Arga beralih pada komputer dan melihat rincian video-video itu. Mencoba mengabaikan adegan dan suara-suara desahan yang memancing syahwat manusia normal sepertinya.


'Baru di download 1 bulan lalu. Berarti Cctv sudah tidak terpasang 1 bulan lamanya. Dan selama aku kesini Kasek tidak memberikan info apapun padaku. Hmmmm" Arga mengusap-usap dagunya sambil berfikir.


"Ehhh.. Tuan Muda.."


Arga membalikkan badan dan mendapati Kasek memegang buku Lks pegangan guru.


Arga menatap tajam Kasek. Kasek yang merasa di tatap sedikit ketakutan.


"Kenapa kau hanya berdiri di situ?" Arga berjalan dan duduk di meja kerja Kasek.


"Itu meja kerjakuπŸ˜‘" Bathin Kasek


Kasek berjalan mendekati meja kerjanya. Ia terpaku saat mendapati anak majikannya sudah memutar film koleksinya.


Kasek gugup.


"Kau kurang pandai menyembunyikan sesuatu." Arga memainkan jarinya. Ia memutar kursinya dan menghadap Kasek.


"Aku tidak tau apakah dirimu hanya sekedar mengoleksi atau sampai mempraktekkan dengan orang dalam sekolah ini" Arga tersenyum remeh.


Kasek menelan ludahnya, bak maling yang ketahuan mencuri.


"Tidak ada pembelaan?" Arga menautkan alisnya.


Kasek hanya menggeleng pelan.

__ADS_1


"Jawab!!"


'Brak!' Arga menggebrak meja hingga komputernya ikut bergetar.


"Kau ini kepala sekolah harus memberikan teladan pada yang lain. Kau ini bodoh apa bagaimana hah!. Menyimpan video semacam ini di komputer milik sekolah!"


"Merusak reputasi!"


"Hapus semua itu!" Arga memundurkan kursinya, memberikan ruang pada Kasek untuk berada di depan komputer.


Kasek langsung mengangguk dan secepat kilat ia menghapusi video koleksinya. Jarinya gemetar karena buru-buru.


"Mesum" Gerutu Arga.


πŸ€πŸ€πŸ€


Usai sarapan Puspa bersiap-siap. Ia memoles wajah cantik alaminya menggunakan pelembab dan bedak padat, dan terakhir bibirnya di polesi lipbalm tipis.


"Cantik" Puji Puspa sendiri saat melihat pantulan dirinya di cermin.


Puspa mengambil tas jalan dan memakai sandal sederhana dengan hak yang tidak terlalu tinggi.


Ia mengunci pintu dan menghirup udara segar pagi ini.


Ia berdiri di pinggir jalan depan rumahnya sambil menunggu angkot atau transportasi umum lainnya melintasi jalan ini.


10 menit..


Puspa berkacak pinggang mulai merasa sedikit pegal di betisnya. Ya berdiri tanpa melakukan aktivitas itu memang lebih melelahkan daripada berdiri sambil mengerjakan aktivitas.


15 menit..


"Huuffttt 1 tahun kemudian.. Lebih baik aku jalan kaki saja" Puspa kesal sendiri. Sama sekali tidak ada kendaraan nganggur yang lewat.


Sambil bersenandung ria, ia menendang-nendang santai kerikil kecil di jalan. Mencoba melupakan semua yang terjadi padanya. Dan membuka lembaran hidup yang baru, dan juga membangun Puspa yang baru.


Pagi yang cerah setelah hujan semalaman, Cahaya mentari pagi yang hangat menyentuh kulit Puspa.


Sesekali Puspa terkekeh ketika ia lupa lirik dari lagu yang ia senandungkan.


Sampailah di Puspa di jalan raya yang begitu ramai kendaraan berlalu lalang. Puspa melihat sebuah taxi yang akan menuju ke arah dia berdiri. Ia melambaikan tangannya.


Taxi itu berhenti dan Puspa masuk ke dalamnya.

__ADS_1


"Kemana Mbk?" Tanya sopirnya. Tanpa melihat wajah penumpangnya ini. Begitupun Puspa yang langsung duduk dan melihat ke arah luar jendela


"Ke Counter sampingnya pasar kota, Mas"


"Oohhh mau beli Hp ya?" Sopir menginjak pedal gas santai..


"Iya, Mas. Tidak mungkin saya kesana beli nasi pecel" Puspa terkekeh begitupun sopir taxi.


'Drrrttttttt ddrrrtttt'


Sopir itu nampak bingung mau mengangkatnya tapi ia dalam kondisi menyetir.


"Tidak di angkat?" Tanya Puspa saat mengetahui Hp sopir taxi terus berdering.


"Kan sedang mengemudi Mbk, takut terjadi hal yang tidak di inginkan" Jawab Sopirnya


"Berhenti dulu, dan angkatlah telfonnya.. Siapa tau penting" Puspa mengalah


"Baik Mbk. Ini Bapak saya yang telfon" Sopir taxi itu menghentikan mobilnya di tepi jalan.


'Kenapa harus bilang kalau yang telfon itu Bapaknya? mau Bapaknya, ibunya istrinya kan terserah dia . Kwkwk tidak perlu melapor' Puspa tertawa pelan


Sopir itu keluar dari mobil dan mengangkat telfonnya. Posisinya berdiri membelakangi Puspa.


"Sepertinya aku kenal dengan suara supir itu. Tapi siapa?" Puspa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lama - lama ia penasaran pada wajah si supir taxi ini.


Kalau di lihat dari belakang sih supir taxi ini keliahatannya masih muda. Puspa menghendikkan bahunya dan merapihkan rambutnya.


2 menit lamanya..


Puspa menyandarkan kepalanya. Ia memejamkan matanya sebentar. Sampai sebuah guncangan kecil di mobil yang ia kendarai membangunkannya. Puspa membuka matanya dan mendapati supir taxi telah masuk dan sedang memasang sabuk pengaman.


"Ku kira gempa. Hihihi" Ucap pelan Puspa.


"Saya bisa mendengar itu" Ucap supir taxi.


"Ups.. Maaf. Saya hanya bercanda." Puspa malu.


"Tidak apa-apa. Baru kali ini saya mendapat penumpang seperti anda yang banyak bicara."


Puspa membelalakkan matanya.


"Apa aku cerewet? apa aku bawel? apa aku aneh?" Puspa bertanya -tanya.

__ADS_1


__ADS_2