
****
Arga memijat pelipisnya. Ia gelisah.
"Jika bukan Puspa, siapa wanita itu. Astaga bagaimana jika hamil" Arga ngeri membayangkan masa depannya
"Aku harus mencari wanita itu, dan jika hamil ia harus menggugurkannya" Arga menarik nafas dalam dalam.
"Hiisss jahat sekali. Jika perempuan itu hamil, maka kau harus tanggung jawab, Tuan. Masa di gugurin? apa salah bayi itu padamu?" Puspa tiba-tiba datang dan mendengar ucapan Arga
"Aku tidak sudi menikah dengan perempuan yang latar belakangnya pelac*ur" Arga menatap tajam puspa.
"Kalau begitu, berarti Tuan banci, bukan lelaki. Tidak bertanggung jawab sama sekali"
"Kau tidak mengerti posisiku, Puspa" gumam Arga yang tidak di dengar oleh Puspa
Disisi lain Ilham sedang memandangi cincin untuk Puspa. Ia berencana akan mengajak Puspa makan malam besok di rumahnya sekaligus akan melamarkannya
"Cincin ini pasti akan terlihat sangat cantik jika disematkan di jarimu, Puspa" Ilham tersenyum. Hatinya berbunga-bunga membayangan Puspa menerimanya.
Ilham meraih Hp nya dan menelfon Puspa.
Jantungnya berdegup dengan kencang, panas dingin yang ia rasakan.
"Halo, Puspa"
"Eh iya, waalaikum salam"
"Ah maaf, Assalamualaikum, Puspa"
Ilham mengusap wajahnya dan tersenyum malu.
"Waalaikum salam, Ilham. Ada apa?"
"Ini, ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu besok"
"Lalu?"
"Begini, kamu besok ikut makan malam di rumahku, ya. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Please, jangan menolak ya"
"Oohhh makan malam, bisa sih bisa"
Ilham mengernyitkan dahinya saat mendengar seperti ada suara bisikan laki-laki di seberang telfon.
"Puspa, kau bersama orang lain saat ini? Dimana?" Ilham merasa Puspa sedang bersama orang lain saat ini.
__ADS_1
"Tidak boleh. Dia tidak akan hadir"
"Heh! Siapa disana!" Ilham terkejut saat suara lelaki itu
"Tuan, apa yang kau lakukan? jauhkan wajahmu dari wajahku. Tuaaannnn" suara Puspa membuat Ilham naik pitam
tut tut tut
Panggilannya terputus. Ilham mengatur nafasnya, mencoba mencerna semua ini.
"Tuan? laki-laki itu. Kurang ajar, malam - malam begini? Sial, apa yang mereka lakukan?" Ilham mengatur nafasnya yang sangat sesak.
Tiba-tiba ada voice note dari Puspa.
"Jangan harap dia akan datang ke tempatmu. Jangan ganggu dia lagi. Dia milikku, malam ini dan selamanya. Awas saja kau berani menghubunginya lagi"
Ilham menjatuhkan Hp nya. Fikiran negatif memenuhi kepalanya.
"Dia milikku, malam ini dan selamanya" Kalimat itu terngiang-ngiang di telinganya.
"Dia menyentuh milikku, sedangkan aku tidak pernah menyentuhnya!!" Ilham berteriak menahan sakit di dadanya.
Ibu Ilham yang mendengar teriakan Putranya langsung menuju kamar Ilham.
"Puspa tidak datang besok malam" Ilham menjawab dengan penuh tekanan.
"Kenapa?"
"Ibu keluarlah dulu. Biarkan Ilham sendirian" Ilham memunggungi Ibunya, Ibu Ilham mengelus dadanya dan keluar kamar.
Ilham memandangi cincin di kotaknya, ia langsung melemparnya ke dinding hingga cincinnya terlempar entah kemana.
Sebenarnya apa yang terjadi?
"Kau tidak mengerti posisiku, Puspa" gumam Arga yang tidak di dengar oleh Puspa.
"Tuan, maafkan aku. Tapi menurutku Tuan memang harus bertanggung jawab" Puspa meletakkan gelas berisikan kopi yang diminta Arga.
"Siapa dirimu berani memerintahku? Itu haku ku. Lagipula bukan kau yang ku tiduri" Arga memicingkan matanya
"Haiihhhh jelek matamu kalau begitu. Menakutkan hihihi" Puspa terkekeh mencoba menghibur Arga yang nampaknya sedang frustasi.
Tiba-tiba ada panggilan masuk dari Ilham.
"Siapa?" tanya Arga sedikit melirik ke layar Hp Puspa
__ADS_1
"Ilham, Tuan. Jangan bersuara dulu ya"
Arga hanya memutar matanya. Puspa pun mengangkatnya.
"Halo, Puspa"
"Eh iya, waalaikum salam"
"Ah maaf, Assalamualaikum, Puspa"
"Waalaikum salam, Ilham. Ada apa?"
"Ini, ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu besok"
"Lalu?"
"Begini, kamu besok ikut makan malam di rumahku, ya. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Please, jangan menolak ya"
"Oohhh makan malam, bisa sih bisa"
Arga yang mendengar itu melirik Puspa. Puspa mengisyaratkan Arga supaya tetap diam. Puspa pun berjalan menjauhi Arga.
"Awas kalau hadir" ancam Arga,
Karena jarak yang agak jauh, suara Arga terdengar seperti bisikan di Hp Ilham. Ilham mengernyitkan dahinya saat mendengar seperti ada suara bisikan laki-laki di seberang telfon.
Puspa melotot ke arah Arga karena ia berani mengangkat suara padahal sudah di larang. Puspa memunggungi Arga. Tanpa di sadari, Arga mendekati Puspa dan sudah berdiri di belakangnya.
"Puspa, kau bersama orang lain saat ini? Dimana?"
Saat akan membuka mulutnya untuk menjawab Ilham, Hp Puspa tiba-tiba di tarik oleh Arga.
"Tidak boleh. Dia tidak akan hadir" ucap Arga dengan suara santai
"Heh! Siapa disana!" Terdengar Ilham yang terkejut
Arga mengabaikannya dan menyentuh wajah Puspa agar mendekat dengan wajahnya.
"Berani hadir, tamat riwayatmu" Arga berbicara dengan pelan dan Puspa dapat merasakan nafas Arga di wajahnya.
"Tuan, apa yang kau lakukan? jauhkan wajahmu dari wajahku. Tuaaannnn"
Flash Back Off
🍀🍀🍀
__ADS_1