Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Jauhi Elisa


__ADS_3

🍀🍀🍀


Setelah selesai makan, Arga kembali ke kantor Papanya untuk mengurus pekerjaan yang akan ia lakukan


Puspa bernafas lega setelah Arga pulang. Ia bersiap pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan


"Aku juga harus ke tempat kerjaku, aku tidak masuk tanpa izin" gumam Puspa


"Tunggu! Dompetku tidak ada, aku juga tidak ada uang!" Puspa baru ingat dompetnya tidak ada di kamarnya


"Dasar kau! Mau tidak mau aku harus kerumah itu lagi!" Puspa terduduk di lantai


****


Malam telah tiba. Puspa duduk di samping jendela dan memandangi langit gelap yang berawan


"Aku merasa sedikit kesepian" ucap Puspa lirih


Sebuah cahaya kilat melintas, Puspa terkejut


"Mau hujan?" Puspa membuka jendela kamarnya, membiarkan angin malam menyapu wajahnya


"Keluarga yang ku punya saat ini hanyalah Bapak, tapi dia sudah punya keluarga baru. Dan aku tinggal sendirian disini" gumam Puspa


"Yaahhh aku masih beruntung bisa bernafas sampai saat ini"


"Baiklah, susun rencana untuk bertemu Tuan Muda. Apakah tidak ada pilihan lain selain ke rumahnya?" Puspa memejamkan matanya


"Aku tidak siap menerima perlakuan Nyonya Besar lagi untuk saat ini"


"Elisa? Apa aku akan meminta bantuannya? Hmmm sepertinya bisa ku coba"


Puspa merasakan setetes air menyentuh wajahnya. Puspa langsung menutup jendela dan merebahkan diri di ranjangnya. Matanya masih memandang ke arah luar melalui jendela


Hujan pun mulai deras, membuat suasana berbeda


"Tidur saat hujan memang berbeda" gumam Puspa, ia memejamkan matanya dan mulai terlelap.


Disisi lain, Arga baru keluar dari kantor Papanya. Arga memutuskan untuk bekerja di kantor Papanya sebagai Manager Keuangan. Menurut Arga, menjadi Manager adalah awal dari kariernya, dan di perusahaan Papa Arga posisi Manager Keuangan dan Manager Marketing sedang kosong.


Papa Arga berharap banyak pada Arga supaya kelak ia mampu mengambil alih perusahaan miliknya ini dan diharapkan lebih sukses lagi.


Arga masuk ke dalam mobil, ia teringat Puspa.


"Dia pasti bosan sendirian" gumam Arga. Arga melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 21:30


Arga melihat kantong Plastik hitam di kursi belakang, itu pasti milik Puspa. Arga sama sekali tidak berinisiatif melihat isinya.


Arga langsung menuju rumah Puspa untuk memberikan sejumlah uang karena dompet Puspa ada di rumahnya dan juga memberi kantong plastik itu

__ADS_1


****


Sepulang sekolah aku berjalan kaki, sambil sesekali ku bersenandung ria. Langit mulai mendung, setetes dua tetes air mulai turun. Aku mendongakkan kepala dan benar saja air hujan ini akan semakin banyak, akupun mempercepat langkahku


Aku bergegas menuju halte untuk berteduh karena aku tidak membawa payung ataupun jas hujan. Hujan pun mulai deras. Ku lihat ke arah kananku dan ada mobil yang behenti di tepi jalan, ya mungkin mobilnya macet


Kulihat seorang pria menendang ban mobilnya, aku ingin memanggilnya untuk ikut berteduh di halte, tapi aku ragu untuk memanggilnya ataupun menyusulnya kesana


Saat aku ragu, Pria itu menuju ke halte ini. Aku tidak tau kenapa jantungnya berdegup kencang. Saat ia sampai di halte, ternyata dia adalah orang yang tidak sengaja terkena lemaparan batuku di taman


Aku berharap ia tidak mengenaliku, aku terkejut saat ia tiba-tiba mencekal pergelangan tanganku


"Ah! Apa ini! Kenapa dia menarik tanganku, aku mau di bawa kemana! Kenapa suaraku tidak keluar! Seseorang tolong akuu!!!"


Dia terus menarikku, aku berusaha melepaskan diri. Apa ini? sebuah rumah? rumah siapa?


"Kenapa dia membawaku kesini? Seseorang tolong aku, aaargghhhh suaraku kenapa tidak mau keluaaar!"


Pria ini membuka pintu, terpancar cahaya dari dalam yang menyilaukan mataku. Pria ini, dia tersenyum padaku???


Dia membawaku masuk ke dalam, apa yang ia inginkan?


"Tollooongggg!!"


. . . .


Puspa langsung membuka matanya lebar-lebar. Ia melihat sekelilingnya


"Huuffttt hanya mimpi, aku masih dirumah. Mimpi aneh" Puspa mengatur nafasnya.


"Puspa!" panggil Arga lagi


Puspa menaikkan satu alisnya


"Itu suara Tuan Muda. Ini sudah malam, ada apa dia kesini lagi?" Puspa turun dari ranjangnya dan berjalan untuk membukakan pintu


Puspa mengintip dari jendela, takut itu bukan Arga dan hanya menyerupai suaranya saja


"Ternyata benar dia"


"Iya sebentar" Puspa membuka kunci dan membuka pintu


"Tuan? Sudah malam. Ada perlu?" tanya Puspa


Arga langsung masuk ke dalam, Puspa menyalakan lampu.


"Tuan?" Puspa agak merinding karena Arga tidak menjawabnya


"Lama sekali" protes Arga

__ADS_1


Puspa lega karena Arga bersuara


"Aku tidur. Kau mengejutkanku"


"Mau minum? Tapi adanya hanya air putih" tawar Puspa


Arga mengangguk, ia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 22:00


Puspa datang dan membawa segelas air putih, ia ikut duduk di kursi


"Tuan, apa ada masalah? Kenapa datang jam segini?"


"Tidak. Aku hanya menghawatirkanmu" jawab Arga tanpa menoleh ke arah Puspa


"Khawatir? Kenapa?"


"Ya, barangkali kau bosan"


"Ah iya, tentu aku bosan. Aku tidak jadi ke pasar, Hp dan dompetku masih di rumahmu. Aku berniat besok akan minta bantuan Elisa untuk menemuimu di rumah, Tuan"


"Kau menghindari Mama?" tanya Arga, Puspa mengangguk


"Aku tidak mau membuat kegaduhan dengan kehadiranku disana. Jadi aku mau minta tolong pada Elisa"


"Dengar, aku tidak suka pada temanmu itu" Arga menatap intens Puspa


"Kenapa? Dia sahabatku. Dia selalu membantuku" Puspa kebingungan


"Aku tidak tau, kalau bisa kau tidak perlu berhubungan dengan temanmu itu"


"Tuan! Apa hak mu melarangku seperti itu?! Kau kira kau bisa mengendalikanku seperti ini, hah?" Puspa tidak terima


"Berani kau bicara padaku dengan suara keras?" Arga menahan emosinya


"Memangnya kenapa? Kau dengan seenaknya sendiri menyuruhku untuk menjauh dari orang yang telah seperti saudaraku? Aku tau, aku banyak berhutang jasa padamu, Tuan. Tapi kau tidak seharusnya sampai sejauh ini. Aku bukan siapa-siapamu, jadi mau berteman dengan siapapun itu hak ku"


Arga hanya diam saja mendengarkan Puspa


"Kenapa kau sangat menyebalkan! Kau berencana membuatku semakin kesepian?! Elisa tidak punya salah apapun padamu. Dia sahabatku, kenapa kau menyuruhku melakukan hal konyol itu"


Puspa merasakan sesak di dadanya


"Kau menjengkelkan" ucap Puspa dengan suara yang bergetar


"Jika kau kesini hanya untuk menyampaikan hal itu, lebih baik kau pulang"


"Aku tidak tau apakah aku ada salah padamu atau tidak, kenapa kau berencana membuatku semakin kesepian" Puspa menitikkan air mata


Arga menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak tau yang di ucapkannya tadi akan membuat Puspa marah dan menangis seperti ini

__ADS_1


__ADS_2