Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Tidak Asing


__ADS_3

"Aaaargghhh!!! Kenapaaaaa??!" Puspa melempar pisau yang ia pegang


Puspa terduduk dilantai, ia menekan-nekan kepalanya yang terasa sakit


"Kenapa?! Kalau begini sama saja aku tidak punya Bapak! Aaarrrghhhh!!" Puspa memukul-mukul kepalanya


"Kena..pa?" lirih


"Ibu... Kenapa?!" Puspa memukul lantai, ia ingin berteriak lebih keras lagi


"Kenapa kenapa kenapa!"


***


Disisi lain, kamar Arga


Arga mengurung diri sejak kepulangannya dari rumah Puspa. Orang tuanya pun sudah membujuknya bahkan Mama nya pun mengancam akan mogok makan. Namun hal tersebut tidak berpengaruh pada Arga.


Arga duduk balkon kamarnya sambil memandangi langit yang biru ini, ia mengabaikan pekerjannya dan belum makan sama sekali. Ia hanya meminum air putih yang selalu ada di kamarnya


"Aku telah mengesampingkan egoku untuknya, dan yang kudapat hanyalah ini"


Wajah Arga mulai pucat, perutnya pun terasa melilit. Ia masih menyalahkan dirinya sendiri akibat lepas kendali hingga melakukan itu semua, ia pun gagal mendapatkan Puspa


"Patah hati itu begini, ya?" batin Arga


Ia menyentuh bagian dadanya yang terasa sakit, ia memang tidak menangis. Justru itulah yang membuatnya semakin sesak.


Ia merindukan gadis itu, tapi ia juga merasakan sakit bila mengingatnya.


Puspa dan Arga sama-sama tersiksa akan keadaan ini, mereka rindu satu sama lain.


Papa Arga ikut merasa sedih, baru ini Arga mengurung diri. Ia merasa hal ini ada hubungannya dengan Puspa.


"Pa, bagaimana ini, Pa?" Mama Arga menarik-narik lengan suaminya


"Mama takut dia melakukan hal buruk di dalam. Pa, dobrak saja pintunya, Pa" Mama Arga sampai menitikkan air mata


Papa Arga menepuk pelan lengan Istrinya dan memintanya agar tenang.


"Papa akan cari cara, Mama jangan sampai ikutan tidak makan. Nanti Papa makin sedih"


Mama Arga mengangguk


"Dimana rumah gadis itu?" gumam Papa Arga


"Gadis? Puspa?" Mama Arga mendengarnya


"Ooohhhh jangan-jangan Arga begini itu gara-gara perempuan itu, ya! Awas saja"


"Bisa juga gara-gara Mama tuh" Papa Arga berjalan meninggalkan Istrinya


"Ha?? Kok gara-gara Mama? Dari mananya?"


🍀🍀🍀


"Bi Ina" panggil Papa Arga, ia menemui Bi Ina diam-diam saat Istrinya istirahat di kamar


"Saya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


***


Papa Arga dan Bi Ina keluar dari mobil, ia mengetuk rumah Puspa


'Tok tok tok'


"Ini rumahnya, Bi? Sepi"


Bi Ina mengangguk.


'Tok tok tok'


"Assalamu'alaikum, ada orang?"


Masih tidak ada sahutan. Bi Ina merasa ada yang aneh. Ia mencoba membuka pintu dan ternyata tidak dikunci


"Tuan, pintunya tidak di kunci"


"Kita masuk saja, Bi"


Bi Ina mengangguk, ia masuk dan di ikuti Papa Arga.


Bi Ina menuju kamar Puspa, ia terkejut saat melihat kaca jendelanya pecah, mereka tidak menyadarinya saat di luar tadi


Bi Ina panik,


"Puspa!!" panggil Bi Ina, Papa Arga kebingungan melihat raut wajah Bi Ina yang terlihat cemas,


"Kenapa?" tanya Papa Arga


"Kaca jendela di kamar pecah, Tuan. Ada darah di sekitarnya" tubuh Bi Ina bergetar, Papa Arga juga terkejut


Bi Ina seketika mengingat luka di tangan Arga malam itu, matanya membulat.


"Puspa!!" Bi Ina mencari ke kamar sebelah namun tidak ada.


Papa Arga berjalan menuju dapur, ia di kejutkan oleh Puspa yang duduk dan sambil memeluk lutut.


"Puspa?" Papa Arga menyentuh bahu Puspa, saat mendapat sentuhan itu Puspa langsung menangis dengan keras


Bi Ina yang mendengar tangisan itu langsung lari sampai menabrak kaki kursi


"Aawwhh. Puspa"


"Huwaaaaaaa!"


Papa Arga langsung menarik Puspa ke dalam pelukannya, ia mengelus kepala Puspa dan sesekali menepuk punggung Puspa


Tubuhnya bergetar, Papa Arga merasa ada keanehan saat memeluk Puspa, ia merasa tidak asing.


Bi Ina melihat majikannya tengah memeluk dan menenangkan Puspa, ia menitikkan air mata karena terharu.


Puspa merasa nyaman, ia pun tidak sungkan menangis dalam dekapan Papa Arga.


"Maaf~ Hiksss maafkan aku" ucap Puspa di sela isak tangisnya


"Tidak apa-apa" Papa Arga ikut merasa sedih.


Perhatian Bi Ina teralihkan pada pisau yang ada di lantai dan irisan terong yang belum selesai

__ADS_1


"Puspa..." lirih, Bi Ina memungut pisau dan meletaknnya di talenan disamping terong


"Apa yang terjadi" Bi Ina menyentuh tangan Puspa yang melingkar di pinggang Papa Arga, tangannya begitu dingin dan bergetar


Puspa menarik wajahnya dan melihat ingusnya menempel di kemeja Papa Arga, ia mendongakkan kepala dan melihat Papa Arga tersenyum padanya.


"Tidak apa-apa" ucap Papa Arga sambil menepuk pelan kepalanya


"*Tuan Besar? Dia disini?" batin Puspa


"Pelukannya nyaman dan membuatku tenang*"


Puspa memeluk kembali Papa Arga, Puspa menangis lagi karena pelukan hangatnya ini sama persis dengan pelukan yang diberikan Arga


"Ha-Harusnya aku ti-tidak melakukan itu padanya, hikss. Maafkan aku"


Bi Ina juga ikut menangis, ia bahkan tidak menemani Puspa di masa-masa yang sulit


***


Papa Arga duduk di sebelah Puspa, Bi Ina membawakan 2 gelas minum dan meletakkanya di meja


Puspa terus menunduk, ia merasa tidak enak atas apa yang terjadi tadi, lagi-lagi ingusnya mampir di pakaian orang.


"Maafkan saya, Tuan Besar"


Papa Arga terkekeh, ia mengacak-acak rambut Puspa. Sekali lagi ia terkejut karena merasa mengingat sesuatu.


"Tidak masalah, pasti ini ulah Putraku, kan?" Papa Arga tiba-tiba menjadi orang yang hangat.


"Maaf tidak berada disampingmu di saat kamu terkena masalah" Bi Ina menggenggam tangan Puspa,


Puspa yang masih menunduk menggelengkan kepala


"Ini salah Puspa sendiri, kok. Kedatangan kalian disini sangat berarti"


"Setelah tenang, tolong ceritakan apa yang terjadi, ya" pinta Papa Arga


Puspa mengangguk


🍀🍀🍀


Di sisi lain, Bapak Puspa dan Rina masih cekcok


"Anakmu itu sangat mengerikan, Mas! Dia hampir membunuh akan kita dan kau masih bisa bicara untuk menjaga perasaannya? Gila kali!"


"Aku sudah gagal untuk kesekian kalinya" lirih


"Tidak, sekarang itu waktunya kamu mengurus anak kita, kamu akan gagal bila tidak bisa mengurus anak kita ini, Mas" Rina menyilangkan tangannya di dada


Bapak Puspa membawa bayinya ke kamar, ia menidurkannya dan teringat masa kecil Puspa. Hatinya dipenuhi rasa bersalah


"Di setiap mereka bertemu aku tidak bisa membela Putriku, Bapak macam apa aku ini?" Bapak Puspa menitikkan air mata


"Aku ingin Rina dan Puspa akur dan kita bisa menjalin hubungan kekeluargaan dan akhirnya kita bisa menjadi keluarga yang utuh" lirih


Ia merasa bersalah pada Arga,


"Harusnya aku tidak bersikap seperti itu"

__ADS_1


"Apa yang ku fikirkan saat itu, sial!"


Rina yang mendengar itu ingin rasanya menghilangkan Puspa dari muka bumi ini, namun anak itu tidak bisa di tebak. Ia sekilas terlihat penyabar namun hari ini hampir saja ia melukai dirinya dan anaknya yang masih bayi itu.


__ADS_2