
Preman itu mundur beberapa langkah membiarkan Arga mendekati Ayah Rina
"Bagaimana? Kurang?"
"Uhukk.."
"Hm.."
"Tuan, apakah wanita tadi juga harus kami bereskan?"
"Tidak."
Arga melangkah keluar rumah itu di ikuti para preman itu. Arga memberikan cek bernilai 100 juta untuk para preman itu
"Terima kasih Tuan."
"Hm oke"
Para tamu mulai bubar dan ada beberapa orang yang membopong Bapak Puspa ke dalam rumah.
🍀🍀🍀
Saat di mobil, Puspa masih menangis terisak.
Arga menyodorkan sapu tangan kecil.
"Eh ini kan?"
"Ya, itu punyamu yang pernah kau berikan padaku saat kau menimpukku"
"Hikss terima kasih"
Arga menghidupkan musik melow yang semakin membuat Puspa menangis.
"Majikan gila. Huhu Aku sedih malah semakin di dukung dengan lagu ini."
"Katakan apa yang ingin kau katakan. Aku tidak suka hanya ada tangis-tangis seperti itu"
Puspa mengerjapkan matanya.
"Hm" Arga menyetir dengan fokus.
"Pelakor..."
Arga menoleh Puspa sekilas kemudian fokus kembali ke depan
__ADS_1
"Pelakor... Saya sering menonton Tv, membaca artikel dan buku-buku yang di ambil dari kisah nyata tentang pelakor.. Tidak di sangka, hal ini menimpa saya. Saat membaca di artikel, hati ini sakit.. Dan ternyata lebih sakit saat hal ini menimpa saya. Hiks.."
Arga sebenarnya kepo.. Menimpa siapa sebenarnya.
"Apa dia merebut suamimu?"
Puspa melotot.
"Tidak.. Dia .. Dia hamil dengan Bapak saya... Dan Ibu saya... Meninggal.. " Puspa kembali mengingat masa itu.
Arga terkejut.
"Haha... Perselingkuhan, Persahabatan.. Kisah cinta.. Saya membayangkan itu terjadi pada rumah tangga saya.. Mungkin saya akan merasa mati seketika."
"Hikss pelakor... Hatiku sakit mengingat itu. Hiks.. kenapa harus terjadi padaku😭. Kenapa... "
Arga mengambil sebotol air dari belakang kursinya dan menyodorkan pada Puspa. Puspa pun tak sungkan menerima air itu dan meneguknya sampai habis setengah.
"Sekarang... Aku.. Maksudnya saya-"
"Tidak perlu formal"
"Aku.. Sekarang seperti sendiri... Tuan Muda, aku sangat berterima kasih karena kebaikanmu aku bisa menghidupi diriku sendiri.. Aku tidak tau harus membalas dengan apa. Aku tidak tau sampai kapan aku akan terus bekerja di sana,"
"Karena tatapan Nyonya Besar berbeda padaku dari pembantu yang lain.. Sepertinya ia tidak mwnyukaiku"
"Tidak apa-apa." Puspa menyeka air matanya
"Aku tidak tau harus apa." Puspa menatap pemandangan jalan raya yang agak sepi
"Bukankah kau sudah mau ujian?"
Puspa hanya mengangguk
"Fokuslah belajar jika kau tidak tau harus apa."
"Setelah itu aku akan lulus, di wisuda tanpa kehadiran Bapak.. Itu sangat luar biasa"
"Dan mungkin aku akan pergi dan berhenti bekerja di rumahmu"
"Luar biasa?" Arga tidak mengerti
"Ya, Luar biasa menyakitkan." Puspa tersenyum getir.
"Wanita yang menjadi duri dalam hubungan seseorang, bisa-bisanya masih tertawa."
__ADS_1
"Mungkin dia merebut Bapakmu karena suaty hal"
"Haha. Rendah sekali wanita seperti itu."
"Bagaimana kalau itu cinta?"
"Mencintai pasangan orang lain? bahkan merusak hubungan itu sendiri? layak kah di sebut cinta?"
"Hm???"
"Sampai hamil, merusak kebahagiaan rumah tangga orang lain, Hiks. Membuatku kehilangan sosok Ibu.." Puspa menangis lagi.
"Terkadang kita juga harus melihat orang dari sudut pandang yang lain." Arga tidak berniat membela Rina, Hanya saja ia membuat Puspa agar tidak tumbuh kebencian yang akan merusak dirinya sendiri.
"Haha Laki-laki ya."
"Tuan Muda, jika saya menjadi pelakor, sudikah anda memandang wajah saya?"
Arga terdiam.
"Memangnya kau mau jadi pelakor?"
"Tentu tidak."
"Jika dalam sebuah insiden dan tanpa di sadari, kamudian kau hamil? Bagaimana?"
"Akan ku besarkan anak itu tanpa masuk dalam hubungan mereka"
"Jika kau jatuh cinta padanya?"
"Saya tidak pernah mau jadi duri dalam sebuah hubungan apapun alasannya Tuan."
"Jika hatimu berkata lain dengan pendirianmu?"
"Saya akan tetap berada dalam pendirian saya. Jika hati yang harus terluka akibat itu tidak mengapa asal saya tidak menjadi duri dalam sebuah hubungan. Itu akan lebih sakit dari pada saya kehilangan orang yang saya cinta."
"Yakin?"
Puspa mengangguk.
Mereka berdua hanyut dalam fikiran masing-masing..
"Entahlah kenapa aku banyak bicara kali ini" Arga menghendikkan bahunya.
"Wanita terhormat tidak akan pernah mau jadi orang ketiga apapun alasannya." Puspa menyeka air matanya
__ADS_1