Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Telinga Dijewer


__ADS_3

🍀🍀🍀


Setelah membayar tagihan taxi, Jesi keluar dari taxi.


"Mbak!" panggil Ilham setelah Jesi baru keluar dari mobilnya. Ilham juga keluar dari mobil.


"Emmmm? Kenapa?"


"Kalau boleh tau, Puspa kenapa ya?" Jesi mengernyitkan dahinya dan curiga Ilham mengenalnya.


"Kenapa dia menanyakan Puspa? Apa dia mengenalnya? Gila! Dia bisa membocorkan omonganku tadi"


"Itu, Mbak. Nama Puspa itu seperti nama adik saya, jadi saya agak khawatir setiap mendengar nama yang sama" Ilham berbohong saat mengetahui Jesi menaruh curiga padanya.


"Ooh. Adikmu kenapa, Mas?"


"Adik saya meninggal saat masih bayi, Mbak"


Jesi ber-oh-ria.


"Itu si Puspa sialan, saat ini sedang dirawat di rumah sakit tadi. Ah sudah, aku buru-buru" Jesi teringat jadwal terbangnya.


"Terima kasih, Mbak. Maaf mengganggu" Ilham tersenyum dan sedikit membungkuk.


Jesi mengabaikannya dan masuk ke dalam bandara. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia memandangi bandara yang dipenuhi orang lalu lalang


"Aku tidak akan behenti disini" gumamnya.

__ADS_1


***


"Puspa kenapa ya?" Ilham memangku wajahnya


"Apa perkataanku sangatlah kasar saat itu? Kuharap ia tidak terluka karenaku. Bodoh!" Ilham mengatur nafasnya. Ia merasa bersalah telah mengatakan hal buruk pada Puspa.


Ilham memutuskan akan mampir untuk menjenguk Puspa,


"Tapi Pria sialan itu juga pasti ada disana" Ilham bingung, antara menjenguk Puspa dengan resiko membuat keributan, ataukah tidak menjenguknya dengan hati yang gelisah.


"Persetan dengan dia!" Ilham memutuskan akan tetap menjenguk Puspa.


***


Arga tersenyum setelah Dokter mengatakan kondisi Puspa sudah membaik dan akan diperbolehkan pulang beberapa hari lagi. Arga tersenyum hangat pada Dokter tersebut, ia mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya pada Dokter


"Ambillah, terima kasih telah menyelamatkannya"


"Itu bukan karena saya, Pak. Tapi Tuhanlah yang memiliki peran penting, saya hanya perantara"


"Ambil saja, sebelum aku berubah fikiran" Arga memasukkan uang itu ke saku jas Dokter


Dokter itu tetap bersikeras menolaknya, Arga memasang wajah dingin dan aura tidak enak memancar dari dirinya


"Kau menolak kebaikanku?"


"Ah tidak-tidak. Saya akan menerima setengahnya saja, Pak"

__ADS_1


"Kau mau mati tapi yang mati hanya setengah badan?"


"Eh? Baiklah, Pak. Saya terima uangnya. Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih" Dokter itu sedikit membungkuk. Arga menepuk bahu Dokter dan tersenyum lagi.


Setelah Dokter keluar dari ruangan, Arga duduk di samping Puspa dan mengelus tangan Puspa.


"Akhirnya kau membaik, kalau kau berani mati, akan kubuat kau makin tersiksa disana" Puspa melotot mendengar perkataan Arga


"Bisa-bisanya dia mengancam orang yang sedang lemah" bathin Puspa


Arga terkekeh, ia merindukan Puspa yang selalu memasang wajah galak dan berdebat saat Arga meledeknya.


"Apa kau merindukanku?" tanya Arga


Puspa menggeleng, hal itu membuat Arga sedikit sedih. Puspa menggerakkan tangannya walau tenaganya masih lemah, tangannya menyentuh pipi Arga.


Arga langsung Blushing, Arga mengangkat tangannya hendak menyentuh tangan Puspa yang ada di pipi kirinya. Tapi sayangnya sebelum tangan Arga sampai, tangan Puspa sudah bergerak ke arah telinga Arga dan menarik telinga Arga


Sebenarnya itu tidak sakit sama sekali karena tenaga Puspa yang lemah, namun Arga berpura-pura kesakitan


"Awwwss sakit. Ampun ampun" Arga berpura-pura kesakitan. Puspa terkekeh. Setelah menjewernya, Puspa mengelus telinga Arga yang memerah dan panas.


Telinganya memerah bukan karena sakit, tapi karena mendapat sentuhan Puspa. Puspa membuka mulutnya, ia ingin berbicara tapi suaranya masih tercekat.


"Jangan banyak bicara dulu, aku malas mendengar ocehanmu" Arga memangku wajahnya dan mamandangi Puspa terus


Puspa jadi teripu malu dan gugup diperlakukan seperti itu oleh Arga

__ADS_1


"Astaga, Tuan. Kau membuatku salah tingkah. Ingin sekali ku pukul wajahmu yang sok imut itu" bathin Puspa


__ADS_2