
Perlahan-lahan Arga membuka mulutnya dengan posisi bi*bir mereka masih menempel.
"Kyaaaaaaaa!"
Puspa mengeratkan genggaman tangan mereka karena gerogi. Arga mengeluarkan sedikit lidahnya dan membuka bi*bir Puspa yang masih terkunci.
"Ini aneh." batin Puspa
Lidah Arga berhasil membuka bib*ir Puspa lalu memaksa masuk di sela-sela gigi Puspa. Puspa membuka mulutnya sedikit dan Arga berhasil masuk.
"Rasanya aneh," batin Arga
Mata Puspa membulat saat merasakan benda kenyal, hangat dan hambar tapi aneh menempel di lidahnya. Spontan Puspa mendorong Arga karena terkejut. Puspa lalu duduk di ranjang sambil memainkan jarinya.
"A-Anu, maaf."
"Eee.." Arga bingung juga.
"Ah iya, aku harus ganti pembalut. Sudah hampir 4 jam penggunaannya tadi." Puspa beranjak dari ranjang lalu mengambil pembalutnya.
Setelah Puspa masuk ke kamar mandi, Arga bisa bernafas lega. Ia mengambil bantal dan menutupi wajahnya. Arga berteriak pelan dengan posisi menekan wajahnya di bantal untuk meredam suaranya. Puspa yang di kamar mandi terus menyentuh bib*irnya dengan rasa tidak percayanya.
"Ini ciuman?" batin Puspa.
'Ceklek' Puspa keluar dari kamar mandi. Arga langsung meletakkan kembali bantalnya, ia juga langsung berbaring dan menarik selimut. Puspa naik ke ranjang namun Arga langsung memiringkan tubuh membelakangi Puspa.
"Ada apa?" tanya Puspa
"Duh, jangan-jangan dia marah gara-gara aku melepas ciumannya tadi," batin Puspa
"Tidak ada." Arga mengambil guling lalu memeluknya.
"Eee aku... Aku minta maaf. Tadi aku terkejut jadi... Jadi aku mendorongmu." dengan suara pelan dan sesekali menoleh ke arah Arga.
"Tidak masalah." dengan enteng dan seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Puspa masih merasa bersalah, dengan gemetaran ia menyentuh lengan Arga. Arga yang disentuh langsung mematung, Puspa menarik nafas lalu meyakinkan dirinya.
"Ayo kita ulangi!" dengan suara lantang
"Aaaaa! Suaraku tidak terkontrol." batin Puspa
Wajah Arga memerah, sekujur tubuhnya mulai panas.
__ADS_1
"Kyaaa!"
Arga dan Puspa dikejutkan oleh suara di luar kamar mereka, mereka saling menatap.
"Ada apa sih, Ma? Kenapa disini?" tanya Papa Arga dengan santainya.
Mama Arga yang tidak sengaja lewat mendengar Puspa yang mengajak untuk di ulangi, lalu ia menetap sambil menempelkan telinganya di pintu kamar Arga namun ia dikejutkan oleh Suaminya yang tiba-tiba menyentuh pundaknya.
"Pa... Aduh, ayo jangan disini!" Mama Arga langsung menarik Papa Arga dari kamar Arga.
Arga beranjak dari ranjang dan membuka pintu, namun saat di buka ia tidak mendapati siapapun di luar kamarnya.
"Ada orang?" tanya Puspa sambil ikut turun dari ranjang.
"Tidak." Arga menutup kembali pintu kamarnya.
"Jangan-jangan ada hantu, padahal tadi ada suara tapi kenapa tidak ada orang."
Arga mengernyitkan dahi karena Istrinya menyimpulkan hal semacam itu. Ia lalu menyentil pelan dahi Puspa.
"Awww sakit, kau ini kebiasan ya." sambil mengelus dahinya.
"Agar otakmu normal, jadi tidak mudah berasumsi bahwa itu hantu,"
Arga menghendikkan bahu lalu kembali ke ranjangnya.
🍀🍀🍀
Disisi lain di rumah lama Puspa.
Bapak Puspa bersiap tidur, ia mematikan semua lampu rumah dan berjalan menuju kamar. Saat masuk ke kamarnya, ia terkejut merasakan udara di kamar tersebut hangat padahal tadi dingin dan suram. Bapak Puspa mengabaikannya lalu menutup jendela kamar dan menutup tirai jendelanya.
Saat membaringkan tubuhnya, ia tiba-tiba teringat masa-masa indahnya bersama mending Istrinya.
"Kurasa... Aku merindukanmu." sambil menarik selimut.
Tidak lama kemudian Bapak Puspa sudah hampir terlelap, lagi-lagi ia merasa ada yang memperhatikannya, Bapak Puspa membuka mata dan memandang menyisiri seluruh ruangan tersebut.
"Hmmm... Mungkin hanya perasaanku." Bapak Puspa kembali memejamkan mata hingga ia benar-benar terlelap.
Samar-samar terlihat tangan putih bersih sedang mengelus rambut Bapak Puspa dan tangan satunya menepuk-nepuk pelan lengan Bapak Puspa.
🍀🍀🍀
__ADS_1
Di rumah Rina~
"Bisa-bisanya!" Rina berkacak pinggang
"Apa sih yang membuatnya seperti ini? Ini pasti ulah Puspa si*alan itu. Dia pasti menghasut Mas Dion agar berpaling dariku. Dasar licik!"
"Aku harus memikirkan cara agar Mas Dion kembali luluh,"
"Oeeeekkk oeeekk"
Rina menghela nafas lalu melangkah untuk mengambil bayinya.
"Kenapa sayang? Lapar ya?"
Rina mengulurkan tangannya untuk mengangkat bayinya, di saat yang bersamaan samar-samar muncul tangan putih pucat yang mengelus kepala bayinya dan menghilang dengan cepat. Rina terkejut, ia langsung mengurungkan niatnya. Rina mulai merasa aneh, ia mengulurkan tangannya lagi namun wajah bayinya berubah putih pucat dengan bola mata yang warnanya memudar.
"Aaaaargh!" Rina mundur beberapa langkah.
"Ooeeekkk oeeekk," bayinya terus menangis.
Rina mencoba lagi dan sudah tidak ada hal aneh lagi. Rina bernafas lega, ia lalu menyusui bayinya, ia merasa bayinya seperti memiliki gigi menyedotnya terlalu keras dan terasa sakit.
"Jangan keras-keras, Nak."
Kaki Rina terasa dingin, ia lalu duduk bersilah di ranjang. Saat akan bersandar, Rina merasa ada yang aneh. Seperti bersandar pada orang. Rina menoleh ke belakang dan tidak ada apa-apa. Perlahan-lahan jantungnya berdegup kencang, Rina merasa seperti di awasi. Ia beranjak dari kasur dan akan pergi keluar kamar saja.
Karena merinding, ia berjalan tergesa-gesa bahkan kesulitan membuka pintu kamar. Setelah berhasil dibuka, Rina merasa ia dibuntuti. Rina mempercepat langkah untuk keluar rumah, ia selalu menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada apa-apa. Namun karena hal tersebut, tidak sengaja kaki kiri Rina menabrak kaki kanannya.
'Brrukk!'
Rina terjatuh dan bayinya lepas dari gendongannya.
"Ooeeeekkkk Oeeeeeekkk" bayi Rina menangis dengan kencang setelah ia terjatuh ke lantai dengan keras.
Rina membulatkan mata.
"Kyaaaaaaa!" Rina bangkit lalu segera mengambil bayinya di lantai. Sekali lagi, muncul samar-samar tangan putih pucat yang mengelus bagian bawah kepala bayi Rina. Rina tidak bisa mengeluarkan kata-kata saat ia melihat sosok tersebut tak lain adalah Ibu Puspa.
Sosok tersebut tersenyum lebar pada Rina dan berkata, "Hati-hati, ya."
Bersamaan dengan hilangnya Ibu Puspa tangisan bayi Rina juga mulai mengecil. Rina panik, ia mengelus kepala bayinya.
"Sakit ya, Nak. Maaf, ya." Rina mengeluarkan Payu*daranya dan menyodorkannya pada bayinya, namun Bayinya tidak merespon. Perlahan-lahan bayinya memejamkan mata seperti tertidur, Rina tersenyum aneh.
__ADS_1
"Yah, malah tidur." Rina membawa kembali bayinya ke kamar.