
🍀🍀🍀
Puspa memoles wajahnya dengan sedikit pelembab dan bedak padat. Ia mengikat rambutnya. Setelah siap ia mengambil tas jalannya dan melangkah keluar rumah..
Hari ini Puspa akan menjenguk Ilham dengan membawa beberapa buah-buahan. Semalaman ia khawatir padanya karena saat Puspa pulang Ilham belum siuman.
Puspa terkejut saat menutup pintu ternyata mobil Arga sudah ada di depan rumah. Puspa merogoh Hp dan melihat jam.
"Jam 8, mau apa dia disini." Gumam Puspa. Ia mendekat..
"Pagi. Hm.."Arga membuka pintu mobil saat Puspa sudah berdiri di dekat badan mobil
"Em.. Pagi juga. Sedang apa disini?" Puspa menggaruk hidungnya pelan.
"Suka-suka Gue" Jawab Arga.
Arga menutup kembali pintu mobil dan membuka kaca jendelanya.
"Masuk. Kau membuang-buang waktuku" Arga menutup kembali jendela mobilnya.
"Seenak jidat memerintahku. Sialan" Umpat Puspa. Sambil ngedumel ia masuk ke mobil di kursi belakang.
"Bodoh. Di depan!"
"Iya.. Biasa saja!" Bentak balik Puspa. Ia duduk dengan kasar dan membanting pintu mobil saat membantingnya
"Kalau rusak, ganti ruginya mahal."
Puspa melotot.
Tidak bisakah ia lembut sedikit pada gadis yang sedang menstruasi? Lupakan. Dia tidak akan pernah berubah. Sampai kapanpun. Kecuali sedang sakit. Puspa memutar matanya, bosan.
***
"Bu, ada kabar tentang Puspa tidak?" Tanya Ilham. Ibunya baru masuk ke dalam ruang rawat Ilham
"Sudah Ibu katakan. Puspa sudah bersuami. Lupakan dia. " Ibu Ilham duduk di sofa di sudut ruangan.
__ADS_1
"Ibu. Dia berbohong."
"Apa kau punya bukti?"
Ilham terdiam.
"Tidak nungkin.." Lirih Ilham.
"Jika dia sudah menikah tidak mungkin dia masih memanggilku 'Cinta' kemarin" Gumamnya.
****
"Mau kemana?" Tanya Arga. Puspa terlihat masih kesal
"Jenguk Ilham."
'CKKITTT ' Arga mengerem mobil secara mendadak.
Puspa menyentuh dadanya yang dagdigdug.
"Tuan... Ku harap kau memiliki SIM itu tidak palsu atau melalui sogokan"
'Tin tin'
'Tin tin'
Arga melirik ke arah samping saat banyak mobil dan motor yang menyalipnya. Ia lupa sedang berada di jalan raya.
"Memangnya kenapa? Itu hak ku bukan? untuk menjenguk siapapun." Puspa melengos.
"Hm" Arga melajukan mobilnya. Awalnya dengan kecepatan rendah.. Namun tidak lama ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Puspa melongo.
"Tuan tolong jangan terlalu mengebut. Kalau kecelakaan bagaimana?" Puspa menahan nafasnya karena tegang
"Ya mati berdua." Jawab Arga enteng. Puspa tidak habis fikir kenapa dengan mudah Arga berkata seperti itu.
Puspa mencubit paha Arga dengan kencang.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja. Kalau mati jangan ajak aku"
Arga sedikit meringis. Tapi itu tidak membuatnya untuk mengurangi kecepatan.
"Pelan-pelan atau aku loncat" Ancam Puspa kesal dan panik.
"Loncat sana loncat. Jangan berani mengancamku" Arga menoleh Puspa sekilas.
Puspa terkejut.
"Oke.. Oke aku akan loncat. Senang bisa nertemu dengan mahluk gila sepertimu! Entah apa dosaku sehingga aku di pertemukan dengan laki-laki sepertimu." Puspa membuka sabuk pengaman dan mau membuka pintu.
Arga yang melihat itu dengan ujung matanya langsung memelankan laju mobilnya. Ia mencengkram lengan Puspa.
"Tetap diam di tempatmu"
"Apa?! Kenapa?! Kau menyuruhku untuk meloncat dari dalam sini kan?! Jadi biarkan saja!" Puspa berusaha berontak
"Jangan bodoh! Diam!" Arga makin mengeratkan cengkramannya.
"Aww iya.. Aawwss" Puspa mulai melunak. Arga melonggarkan cengkramannya.
"Pakai lagi sabuk pengamannya" Ucap Arga ketus. Ia fokus pada jalan di depanya.
Puspa menurut. Ia mengatur nafasnya. Ingin sekali ia berteriak di depan wajah Arga
Arga juga sedikit emosi. Mereka sama-sama terdiam.
Puspa meniup-niup lengannya yang kemerahan akibat ulah Arga.
"Aku tidak mengerti kenapa dirimu bisa seperti itu. Aku tidak tau dimana salahku." Lirih Puspa.
Hati Arga berdesir.
"Hm"
"Stres!" Umpat Puspa dengan suara pelan
__ADS_1
Arga sedikit melirik Puspa yang meniup lengannya. Dalam sekejap ia lupa diri. Ingin meminta maaf tapi rasanya berat. Gengsinya terlalu besar.