
🍀🍀🍀
Sementara itu Puspa duduk di kamarnya dengan rasa tidak percayanya atas apa yang terjadi hari ini.
"Apa aku bermimpi?" gumamnya
Ia memandangi kedua tangannya, merasakan detak jantungnya yang seakan-akan berhenti.
"Seseorang, tolong sadarkan aku"
****
Puspa membuka pintu sambil mengikat rambutnya,
"Sebentar,"
'Ceklek'
Puspa membuka pintu dan terkejut melihat siapa yang datang malam-malam begini
"Eeh, silahkan masuk, Pak" Pak RT beserta Istrinya masuk dan duduk, Puspa bergegas menyeduh teh untuk mereka berdua
Jantung Puspa berdebar, ia sedikit ketakutan
"Kenapa?" gumam Puspa, ia menghempas perasaan buruknya itu
Pak RT menatap tajam Puspa yang meletakkan teh di meja, Istrinya hanya menunduk sambil meremas jari-jarinya
"Tuh kan, pasti ada yang tidak beres" batin Puspa
"Anu... Silahkan diminum, Pak, Bu" kikuk
"Apa kamu tidak mengerti teguran saya yang lalu?" dengan nada emosi
"Pak, jangan terlalu keras" tegur Istrinya
"Maaf, Pak. Bisa Bapak katakan apa kesalahan saya kali ini?" tanya Puspa, tangannya sudah berkeringat
Puspa kesusahan menelan ludah
"Jangan mencoreng nama baik Desa ini, Puspa"
"Mencoreng?" Puspa gemetaran dan kebingungan
Pak RT kesal saat Puspa seperti mengelak,
"Jangan berzina!"
"Pak!" Istri Pak RT mencengkram lengan suaminya itu
__ADS_1
Puspa ternganga,
"Zina?"
"Maaf, Nak. Bapak sedang lelah, dia baru pulang rapat dan mendapat kabar begini, jadi emosinya tidak terkontrol" Istri Pak RT ikut panik, takut terjadi keributan
Seketika kepala Puspa tertunduk, suaranya tertahan, matanya mulai memanas. Ia meremas ujung pakaiannya
Pak RT mengatur nafasnya,
"Kami sudah menegurmu dengan cara baik-baik, kenapa kau malah melunjak!?"
"Pak!"
"Ini tidak bisa di biarkan, Bu! Kalau sampai hamil duluan, apa kata orang!"
"Saya..."
"Kamu tinggal sendirian dirumahmu sendiri bukan berarti kamu bebas membawa laki-laki dan berhubungan seperti ini, Puspa"
"Jika kalian serius, menikahlah. Jangan pacaran berduaan dirumah terus"
"Maaf, Nak. Bapak hanya tidak ingin kamu-"
"Saya mengerti, Bu RT" Puspa mengangkat kepalanya
Senyum lebar dengan bibir yang gemetar dan mata yang tertutup ia berikan pada Pasutri di depannya ini
"Jangan hanya omongan saja, buktikan" ucap Pak RT, ia berdiri tanpa menyentuh teh yang telah disuguhkan Puspa
"Desa kita, khususnya di RT sini selama ini dikagumi oleh RT lain baik dari warga maupun lingkungannya, aku berharap kau tidak merusak pencapaian yang memakan proses lama ini" setelah mengucapkan itu, Pak RT langsung melangkah keluar dari rumah Puspa.
Istrinya menatap kasihan pada Puspa, bahkan Puspa tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskannya
Pak RT menghentikan langkahnya saat di teras
"Bapak tidak ingin ada nama pelaku atau korban yang hamil diluar nikah terdapat di daftar warga sini"
Puspa mengepalkan tangannya dengan kepala tertunduk
"Kalian tidak mengerti tentang diriku karena aku bukan anak kalian dan kalian tidak punya anak. Keluarga kalian utuh, Orang tua kalian masing-masing masih hidup, kalian saling mencintai"
Puspa mengangkat kepala, air mata sudah membasahi wajahnya, ia tersenyum pada pasutri itu
"Kalian saling mencintai, tidak ada kasus perselingkuhan di antara kalian, kalian hidup serba berkecukupan, kalian tidak sendirian hihi. Kenapa kalian tadi tidak berusaha memahamiku? Alasanku sampai berani membawa laki-laki ke rumah ini? Alasan kenapa kami sering bersama? Alasan kenapa aku tidak mengusir laki-laki itu hihi, kalian tidak mau bertanya atau malas bertanya hihi"
Pak RT menghentikan langkahnya dan masih memunggungi Puspa
"Ah! Kurasa aku telah menceritakan siapa laki-laki itu pada kalian. Kalian tidak menyukaiku karena aku yang paling miskin disini? Kebaikan dan kehangatan yang kalian berikan padaku saat itu hanya sandiwara atau pencitraan saja?"
__ADS_1
"Pak RT, jawablah aku hihi" Puspa terkekeh sambil menyeka air matanya
"Kau sangat tidak sopan mengatakan itu semua, Puspa" bentak Istri Pak RT
Ia berjalan mendekati Puspa dengan emosi
"Kenapa kau mengatakan tentang anak? Itu sangat menyakitiku!"
Istri Pak RT meremas tangan Puspa, Puspa tidak bereaksi kesakitan atau apapun, ia hanya terkekeh melihatnya emosi dan mau manangis
"Iya, iya. Aku yang salah, hahah. Maafkan aku. Semoga kalian di karunia anak, tapi jangan sampai mengalami apa yang ku alami, takutnya kalian tidak memahaminya juga" Puspa tersenyum tetapi lebih terlihat mengejek
'PLAK'
Tamparan keras mendarat di pipi halus Puspa hingga ia terduduk ke lantai, Puspa hanya tersenyum sambil menyentuh bekas tamparan tersebut
"Maafkan aku" lirih
"Mulutmu jahat sekali, Puspa! Ibumu di akhirat sana menangis melihat kelakuanmu ini! Huh" Pak RT beserta Istrinya pergi dari kediaman Puspa
Beberapa menit berlalu...
Angin malam menyapu wajahnya, hembusan angin ini seakan mengompres bekas tamparan yang panas dengan air Es, rasanya dingin....
Puspa tersenyum, ia melihat ke arah luar. Malam ini langit di penuhi bintang dan sinar yang terang, bulan turut bersinar malam ini
"Ini semua memang salah, aku dengan Arga seharusnya tidak boleh terus bersama tanpa status pernikahan"
"Dan mulut jahatku,"
"Harusnya tidak mengatakan itu semua tadi" Puspa merasakan dadanya sesak dan sakit,
"Ibu, maafkan Puspa"
"Mulutmu jahat sekali, Puspa! Ibumu di akhirat sana menangis melihat kelakuanmu ini! Huh"
Kalimat itu terus terngiang di telinga Puspa,
"Puspa!" Puspa mendongakkan kepala, ia melihat Bapaknya berlari ke arahnya
Bapak Puspa langsung memeluk Putrinya yang gemetar dan kedinginan
"Puspa, apa yang terjadi"
Puspa tidak menjawabnya, bahkan ia tidak membalas pelukan Bapaknya itu
Bapak Puspa menutup pintu rumah, ia menggendong Putrinya ke kamarnya. Puspa duduk sambil menatap ke arah luar jendela
"Nak, berbaringlah. Bapak buatkan minuman hangat dulu"
__ADS_1
Puspa hanya terdiam dengan tatapan kosong
"Aku... Merasa sedikit lelah"