Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Tamparan


__ADS_3

Mereka saling menatap satu sama lain, Arga memberikan senyum hangat untuk Puspa.


Puspa tersenyum kecil.


Hening...


"Aku merindukanmu" ucap Arga secara tiba-tiba.


Puspa mengerjapkan matanya, takut ini hanyalah halusinasinya.


Melihat Puspa yang terkejut, Arga mengulanginya kembali


"Aku merindukanmu" ucap lagi Arga seraya menggenggam tangan Puspa


'Deg deg deg'


Puspa serasa berhenti bernafas.


"Apa ini??? Halusinasimu sangat berlebihan, Puspa" bathin Puspa


Arga langsung meletakkan kepalanya di dada Puspa, tangannya memeluk Puspa yang masih terbaring lemah. Dapat Puspa rasakan hangatnya suhu tubuh Arga dan detak jantung Arga.


Puspa terdiam kaku, ia terkejut.


"Ini nyata?" bathin Puspa.


Tubuh Puspa terasa panas dingin akibat ulah Arga.


"Oh tidak, dia menindih payudaraku, mesuumm!!"


Arga mendongakkan kepalanya dan mendapati Puspa yang terdiam dan menatap langit-langit, wajahnya memerah, Arga menyentuh wajah halus itu.

__ADS_1


Puspa makin terkejut saat telapak tangan hangat Arga menyentuh pipinya, bukannya membaik pipi Puspa semakin panas dan memerah lagi


"Wajahmu panas dan merah, kau sakit lagi?" tanya Arga saat merasakan pipi Puspa memanas


"Orang sepertimu ku sebut bodoh atau bagaimana" bathin Puspa


"Menjauhlah dari tubuhku atau aku akan pingsan, Tuan. Ingin ku mendorongmu" imbuhnya


Puspa melototi Arga karena ia tidak peka dan berharap Arga bangun dari posisinya ini.


Tangan Arga beralih menuju perut Puspa dibalik selimut, Arga mengelus lembut dan sesekali menepuknya pelan


"Nanti disini akan lahir jagoanku" ucap Arga. Hal tersebut membuat Puspa semakin salah tingkah


"Kyaaaaaaaa!!!" Puspa ingin pingsan rasanya,


"Braaakk!"


Arga dan Puspa terkejut, sontak Arga menarik dirinya dari Puspa. Mereka terdiam saat Mama Arga masuk dengan dipenuhi amarah


"PLAK! "


Tamparan yang lumayan keras mendarat di pipi Puspa, Puspa menganga. Ia terkejut dengan tamparan yang sangat tiba-tiba ini


Arga membulatkan matanya, ia menatap tajam ke arah Mamanya


"Mama!"


"Berani kau berteriak kepada Mama kamu sendiri Arga!!"


Arga dan Mamanya saling menatap dan sama -sama di kuasai amarah, nafas Mama nya menggebu

__ADS_1


Puspa merasa sedih dan bingung. Ia merasakan pipinya perih. Puspa menitikkan air matanya.


Arga yang melihat itu langsung menghapus air mata Puspa


"Jangan menangis, ya. Sakit, ya?" ucap Arga penuh kekhawatiran. Arga mengelus dan meniupi pipi Puspa yang ditampar Mamanya


Tangis Puspa menjadi saat mendapat pelakuan itu dari Arga. Hatinya tersentuh. Bukan sakit yang membuat ia menangis,


"Tuan..."


Arga memperlakukan Puspa layaknya anak kecil.


Mama Arga yang melihat itu semakin emosi, ia mengeluarkan gunting dan langsung memotong selang infus Puspa. Cairannya langsung menetes dilantai.


Puspa dan Arga terkejut akan hal tersebut.


"Mama! Apa yang Mama lakukan!" Arga langsung membawa Mamanya keluar ruangan, dan bersamaan dengan itu Papa Arga juga berjalan ke arah mereka berdua


"Pa, jaga Mama. Jangan biarkan Mama masuk ke dalam kamar Puspa" Arga menarik tangan Papanya dan mengarahkan untuk mencekal pergelangan tangan Mama nya


Papa Arga kebingungan


"Kau mau kemana, Arga?" tanya Papa Arga sambil mencekal tangan Istrinya yang berontak


"Memanggil Dokter. Jangan biarkan Mama masuk" Arga panik, ia berlari ke ruangan Dokter.


"Lepasin Mama, Pa! Biar Mama habisi perempuan sialan itu!!" berontak Mama Arga berusaha melepaskan tangannya dan berusaha mendorong pintu


Papa Arga membuka sedikit pintu kamar rawat yang ternyata di dalamnya adalah Puspa dengan kondisi selang infusnya terputus. Papa Arga yang mulai mengerti langsung menggendong Istrinya dan membawanya pulang.


"Pa!! Lepaskan Mama! Akan kuhabisi dia! Lepassss!!!"

__ADS_1


"Mama bilang lepaskan, Pa!!!"


Orang tua Arga menjadi pusat perhatian pengujung rumah sakit yang lain dan sebagian mengira Mama Arga ada gangguan jiwa


__ADS_2