Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Perasaan Kacau


__ADS_3

"Waaahh hampir selesai" sambil memandangi dekorasi ruangan yang hampir selesai


"Hm"


"Kalau begini tidak ada yang bisa aku bantu" sambil mengikuti langkah Arga yang menuju ke ruang kerjanya


Arga tidak menghiraukannya


"Kenapa tidak kau bawa sendiri barang-barangnya? Aku sungkan ikut denganmu kemari"


"Kau juga tidak lama lagi akan tinggal disini" ucap Arga sambil membuka pintu


Puspa menghentikan langkahnya, ia tidak ikut masuk ke ruang kerja Arga


Arga mengernyitkan dahi


"Kita tinggal disini?" tanya Puspa


"Hm, aku pasti bisa membeli rumah sendiri nantinya. Setelah menikah, kita akan tinggal disini sementara"


"Eeeee tapi..."


"Mama tidak akan keberatan" Arga tau Puspa masih takut pada Mamanya


"Tinggal dirumahku saja bagaimana?" tawar Puspa


"Tidak"


"Masuklah"


Puspa menggeleng kepala menolak masuk, ia menyodorkan barang belanjaannya termasuk cincinya


"Aku tidak melakukan sesuatu terhadapmu"


"Tetap saja aku sungkan. Tidak baik begini"


"Kita sudah biasa serumah, bukan?"


'DEG'


"Maaf" ucap Puspa, ia merasa sedih akan perkataan Arga yang memang faktanya begitu


Puspa meletakkan barang belanjaannya dan turun dari lantai 2, ia berniat pulang


"Aku masih ada urusan, sampai jumpa" ucapnya


Arga hanya diam kebingungan melihat tingkah Puspa yang tadinya ceria sekarang tiba-tiba murung, ia mengambil barang belanjaannya


Suasana hati Puspa tiba-tiba kacau, saat menuruni anak tangga ia tidak sengaja menyenggol lengan Mama Arga, hampir saja Mama Arga terjatuh dari tangga


"Maaf Maaf" Puspa tidak berani mengangkat kepalanya


Tanpa berkata sepatah kata Mama Arga meninggalkan Puspa di tangga, ia tidak menjawab permintaan maaf dari Puspa


"Duh!"

__ADS_1


Menyadari Mama Arga tidak mengatakan apapun, Puspa mengangkat kepala, ia memandangi punggung Mama Arga yang sudah berada di lantai 2


Perasaannya semakin kacau,


"Apa aku tidak di terima olehnya?" gumamnya


Puspa melanjutkan langkahnya, tanpa ia sadari Mama Arga melihat ke arah Puspa yang menuruni anak tangga


"Mau kemana, Nyonya Muda?" tanya satpam


"Jangan panggil saya begitu, Pak. Panggil saja Puspa"


"Tapi Anda akan segera menjadi menantu keluarga ini, jadi sudah sewajarnya begitu"


Puspa malah merasa geli saat di panggil seperti itu


"Ahaha, yaaa iya sih. Tapi panggil saja saya Puspa, Pak. Saya lebih nyaman seperti itu" Puspa kikuk


"Baik. Ini mau kemana? Bukankah Anda dan Tuan Muda baru kembali?"


"Ada urusan, Pak. Tapi kok tumben sekali bertanya hal seperti ini, Pak?"


"Tuan Muda menelfon saya barusan. Anda tidak diperbolehkan pulang"


Puspa melongo


"Hmmmmm! Bilang saja Bapak tidak lihat saya sewaktu keluar" ucapnya dengan sedikit kesal


"Maaf, tapi ini sudah tugas saya" Pak Satpam langsung menutup gerbang


"Saya bener-bener harus pergi, Pak. Kali ini saja, ya"


"Sekali lagi maaf"


"Hmm begini saja, Hp saya ketinggalan di meja ruang tamu, Pak. Saya malas bertemu dengan Arga. Jadi bisa saya minta bantuan Bapak untuk memgambilkan Hp saya?"


"Saya akan menghubungi Bi Ina dulu"


"Jangan, jangan! Bi Ina lagi sibuk-sibuknya itu di dapur"


"Tidak apa-apa, masih ada pekerja lainnya"


"Nanti Arga bisa tau saya tidak di dalam. Jadi saya minta tolong Bapak saya ya ambilkan Hp saya"


Pak Satpam kebingungan.


"Saya mohon, Pak. Saya disini kok"


"Baik, Nyonya Muda. Saya ambilkan dulu" Pak Satpam langsung berlari ke dalam rumah


Puspa melihat pintu gerbang tidak di kunci, ia langsung membuka pintu gerbang dan keluar


"Pak Satpam, mohon maafkan aku, ya!" ucapnya dan langsung ia menutup kembali gerbang.


Saat masuk ke dalam ia teringat bahwa ruang tamu di gunakan untuk acara pertunangan Arga dan Puspa, ia celingak celinguk dan tidak mendapati meja disana, yang ada hanya orang-orang yang sedang mendekorasi ruangan.

__ADS_1


Ia langsung kembali dan mendapati pintu gerbang yang terbuka, dilihat keluar sudah tidak ada Puspa.


"Waduh waduh!" Pak Satpam langsung menghubungi Arga


Puspa mempercepat langkahnya, ia mulai berlari. Puspa berhenti berlari lalu menggelung rambutnya dan menonaktifkan Hp miliknya, setelah selesai ia melanjutkan larinya.


"Hahhh Haahh pasti lemakku terbakar ini" ucapnya sambil berlari.


Puspa berhenti di salah satu toko di dekat rumah Arga. Puspa masuk ke dalam untuk membeli minum karena haus usai berlari


Saat membayar, Puspa tidak sengaja melihat mobil Arga yang lewat, hanya saja ia tidak menyadari keberadaan Puspa. Melihat hal tersebut Puspa lega.


"Terima kasih" ucap Puspa sambil menerima kembalian.


Ia keluar dan melihat mobil Arga sudah tidak terlihat. Ia berjalan santai di trotoar jalan sambil bersenandung untuk mengalihkan rasa kacau yang berkecamuk di hatinya


Perkataan Arga masih terus melintas di fikirannya, ia merasa Arga secara tidak langsung telah merendahkannya. Namun Puspa tidak menyalahkan Arga, karena dia juga yang mengizinkan Arga menginap dirumahnya.


1 jam berlalu, Puspa telah berjalan jauh dan mulai kelelahan namun ia juga tidak mau pulang karena Arga pasti sudah di rumahnya.


Ia terkejut saat melihat di kejauhan sama terlihat mobil Arga yang sedang melaju ke arahnya, Puspa langsung bergabung dengan kerumunan orang di trotoar. Ia lega saat Arga lagi-lagi tak menyadarinya


"Mau kemana, ya?"


***


Hari sudah sore, matahari perlahan bersembunyi di gelapnya malam. Puspa tidak melihat tanda-tanda adanya orang di rumahnya, lampunya pun masih belum di nyalakan


"Aman" gumam Puspa


Saat akan membuka pintu ia terkejut karena pintunya tidak terkunci. Ia merogoh tas nya dan tidak ada kunci di dalamnya


"Jangan-jangan dari pagi tadi tidak aku kunci" panik


Ia langsung masuk dan menyalakan lampu rumahnya. Ia melihat sekelilingnya dan barang-barangnya masih aman semua


"Huuftttt" Puspa duduk di kursi.


Dirasa lelahnya sudah berkurang, ia berjalan ke kamarnya dan bersiap mandi karena sudah masuk waktu ibadah Shalat


'Ceklek'


Puspa membuka pintu dan berjalan ke arah sakelar lampu. Saat lampu di nyalakan langsung ada yang menarik dirinya dan lampu kembali di matikan


Tidak sempat berteriak, mulut Puspa telah di bekap tangan besar dan berada dalam dekapan tubuh tinggi kekar, Puspa tidak bisa melihat orangnya karena ia membelakangi orang tersebut


Puspa berontak


"Mmmmmmm!" Suaranya tertahan tangan besar itu


Puspa seketika terdiam saat mengenali aroma parfum orang itu,


"Kenapa kau melakukan itu?" bisiknya di telinga Puspa


Bulu halus di sekujur tubuh Puspa berdiri saat orang itu berbisik di telinga Puspa

__ADS_1


__ADS_2