
Sepanjang perjalanan, mereka sama-sama terdiam. Menatap jalanan yang mulai sepi.
"Emm... Bisakah lain hari kita dinner lagi?" Ilham membuka suara
Pusp tampak berfikir.
"Aku belum bisa memastikannya sekarang, Ilham. Kita lihat saja nanti ya?" Puspa tersenyum. Ilham sedikit kecewa.
"Oke, tidak masalah. Hehehe"
Sesampainya di rumah Puspa, Ilham dan Puspa di buat heran dengan motor yang terparkir manis di halam rumah Puspa.
"Siapa itu ya?" Gumam Puspa. Puspa dan Ilham turun dari mobil.
Puspa juga heran lampu di depan rumah mati, padahal seingatnya tadi sudah ia nyalakan sebelum pergi.
Seperti ada sosok seseorang yang tengah duduk di depan rumah Puspa, namun tidak jelas karena gelap.
"Siapa kau?" Puspa melangkah maju perlahan di ikuti Ilham.
Sosok tadi berdiri dan juga melangkah maju dan makin jelas terlihat siapa dia karena terkena sinar lampu halaman rumah.
Puspa dan Ilham terkejut.
"Tuan???" Puspa bingung tapi juga senang.
"Hmmm" Arga memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
Ilham mengeratkan kepalan tangannya. Tatapannya tajam.
"Mau apa kau kesini? mau mencuri?" Ilham cemburu
"Ilham! Jangan sembarangan" Puspa sontak menutup mulutnya
__ADS_1
Ilham yang mendengar bentakan Puspa langsung melonggarkan kepalan tangannya, kecewa yang ia rasakan.
"Oke, baiklah. Aku pamit dulu" Ilham langsung masuk mobil dan melajukan mobilnya pulang.
"Emm Ilham... " Puspa berjalan cepat hendak mengejar mobil itu, tapi tidak berhasil karena tangan Puspa di tahan oleh Arga.
Puspa membalikkan badannya, dan mendapati Arga dengan rambut yang acak-acakan.
"Tuan... Tuan Muda kenapa?" Puspa merasakan jantungnya seperti akan keluar dari tempatnya, di sisi lain ia merasa bersalah telah membentak Ilham.
Tanpa berkata-kata ataupun menjawab Puspa, Arga langsung memeluk Puspa.
"Aku lelah" Arga menjatuhkan kepalanya di pundak Puspa. Ia memejamkan matanya, mengenyampingkan egonya.
Puspa melihat sekitar,
"Huuffttt untung tetangga sudah mematikan lampu semua." Gumam Puspa.
"Ayo masuk dulu, Tuan sepertinya kelelahan"
Puspa terkekeh... Mereka masuk ke dalam rumah. Puspa membantu Arga duduk di kursi.
"Tuan, saya buatkan teh hangat dulu" Puspa meletakkan tas nya dan menuju dapur.
Arga membuka matanya, entah apa yang mendorong tangannya untuk membuka tas Puspa. Ia seperti mencari sesuatu.
"Mana Hp-nya?" Arga mengusap kasar wajahnya.
Puspa yang melihat itu terdiam terpaku.
"Tuan? sedang apa?" Puspa melotot. Arga langsung menarik tangannya dan memejamkan matanya lagi.
"Tidak sopan ya, jangan di ulangi" Puspa meletakkan teh dan duduk di samping Arga.
__ADS_1
"Hmmm itu terserah dan sesukaku mau apa" Arga malah menarik Puspa untuk lebih dekat dengannya.
"Eh," Puspa terkejut
Di luar dugaan, Arga menyenderkan kepalanya di bahu Puspa. Ia merasakan tubuh Puspa bergetar, Arga membuka sedikit matanya dan mendapati tangan Puspa berkeringat. Arga menyentuh telapak tangan Puspa,
"Kau gugup? Tanganmu dingin sekali" Puspa tidak menjawab sepatah kata apapun. Suaranya tercekat.
Arga meraih tangan Puspa dan mencium tangan Puspa.
Puspa melongo, dia makin tidak bisa berkata apapun. Merasakan tubuh Puspa makin bergetar, Arga menarik kepalanya dan memandangi Puspa yang sedang melongo.
"Jangan lebar-lebar, nanti lalat masuk" Arga membisikkan itu di telinga Puspa. Rasanya waktu berjalan dengan sangat lambat.
Puspa sampai menahan nafasnya dan berharap ini hanya halusinasi saja.
Arga terkekeh... Ia mencubit pipi Puspa.
"Aww... Sakit" Rintih Puspa.
Puspa tidak berani menatap Arga, ia membuang muka.
"Hei, tidak sopan membuang muka seperti itu" Arga menarik wajah Puspa.
Arga terkekeh saat melihat kondisi wajah Puspa yang sudah memerah semua dan dirasakannya wajah cantik itu mulai memanas.
"Kau gila" Puspa menarik wajahnya dari tangan Arga.
"Berani menarik wajahmu, malam ini ku habisi kau"
Puspa sedikit memicingkan mata, tapi wajahnya masih merah dan panas.
"Dasar psikopat" Puspa memanyunkan bibirnya, Arga malah mencium ujung hidung Puspa
__ADS_1
Puspa diam tanpa berkedip.
Merasa lucu atas reaksi Puspa, Arga jadi gemas. Ia langsung memeluk Puspa dengan sangat erat hingga Puspa susah bernafas.