
"E-Eee aku, aku si-siap untuk di... di..."
"Astaga! Kenapa aku jadi lupa teks"
Puspa melepas tangannya dan berbalik badan.
"Aku akan menunggu sampai kau benar-benar siap," ucap Arga
Puspa kebingungan harus berkata apa, akhirnya ia masuk ke dalam selimut sambil memeluk guling, perasaannya sedikit kecewa. Arga yang melihat itu langsung menyusul dan memeluk Puspa dari belakang.
"Aku begitu mencintaimu." batin Arga
"Ma-Maaf." ucap Puspa pelan. Arga semakin mengeratkan pelukannya dan menciumi tengkuk Puspa.
***
Puspa menarik nafas dan membuangnya perlahan, jantungnya berdegup kencang, Arga yang berada di atasnya juga mengatur nafas karena gugup. Keduanya sudah tak lagi dibaluti sehelai benang pun.
Arga perlahan menyatukan bi*bir keduanya, bersamaan dengan Arga juga memasukkan senjata berharganya perlaha. Puspa merasakan sedikit merasa sakit, sejenak ia kebingungan mengapa ia kembali merasakan sakit, bukankah sudah di jebol Ilham?
***
Usai melaksanakan kegiatan olahraga malam Puspa dan Arga saling berpelukan.
"Terima kasih," Arga mengecup kening Puspa.
"Aku juga," Puspa menyamankan posisinya di ketiak Arga.
"Mandimu kurang bersih, kecut." canda Puspa.
"Asal kau tau, kau penyebabnya."
"Kenapa aku?"
"Kau yang minta."
Puspa menutup wajahnya malu.
'Drrrrttt Drrttt'
Puspa dengan mata yang mulai berat meraih Hp nya.
"Halo, Pus."
"El? Ada apa?"
"Maaf, apa aku mengganggumu?"
"Tidak. Tumben menelfon jam segini, ada masalah?" Puspa duduk, Arga langsung meletakkan kepalanya di paha Puspa sambil mengelus perut Puspa
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa. Aku akan pergi ke luar kota besok."
"Liburan lagi?"
"Tidak, aku ingin mencari suasana baru. Aku akan tinggal di luar kota untuk sementara waktu."
"El, kalau ada masalah katakan saja. Kita bisa usahakan menyelesaikannya bersama-sama."
"Biarkan saja dia pergi," ucap Arga pelan namun masih bisa di dengar oleh Elisa.
Elisa yang mendengar itu langsung merasakan hatinya dicubit.
"Tidak ada masalah apapun, aku hanya bosan jadi ingin cari suasana baru. Besok pagi aku akan ke bandara agar tidak ketinggalan pesawat."
"Baiklah, aku akan menemanimu."
"Tidak perlu repot-repot, kau pasti sibuk kan?"
"Izinkan aku mengantar Elisa besok, ya."
"Ya."
"El, Suamiku mengizinkanku untuk mengantarmu ke Bandara besok. Jadi tidak perlu khawatir."
"Oooh, kalau begitu baiklah."
"Aawww!"
"Kenapa, Pus?"
"E-Ee tidak ada. Baiklah, kita sambung besok ya. Selamat malam."
"Oke, malam juga."
Elisa langsung mengakhiri panggilan, hatinya kembali memanas setelah mendengar suara Puspa. Elisa langsung melempar Hp miliknya ke ranjang dan mengatur nafasnya.
๐๐๐
Di Bandara~
Puspa dan Arga yang baru datang langsung menemui Elisa.
"Eeemmmm kau kenapa sih tiba-tiba ingin pergi lagi," Puspa memeluk Elisa.
"Aku hanya ingin mencari suasana baru, aku pasti akan kembali kok."
"Jangan lupa untuk mengabari aku kalau sudah sampai disana."
"Iya, tentu."
__ADS_1
Elisa gagal fokus saat melihat leher Puspa yang agak kemerahan.
"Pus, kau kurang tebal menutupi itu," tunjuk Elisa menggunakan mata.
Puspa terkejut, ia langsung menutupi leher kirinya menggunakan tangannya.
"Hehe, iya ini tadi sudah tebal kok. Aku juga tidak tau kenapa bisa begini."
"Hmmm, lain kali hati-hati."
Puspa mengangguk. Tidak lama kemudian tiba waktunya Elisa dan Puspa berpisah.
"Aku berangkat." Elisa dan Puspa berpelukan.
Setelah melepas pelukannya dengan Puspa, Elisa menjulurkan tangannya pada Arga dan ingin bersalaman, Arga hanya menatap datar dan tidak menanggapinya. Puspa yang tidak enak langsung menyambut tangan Elisa sambil tersenyum lebar.
"Hati-hati, ya." ucap Puspa, mereka melepas jabat tangannya dan Elisa melangkah pergi , ia melambaikan tangan begitupun dengan Puspa. Setelah itu mereka memutuskan akan pulang.
"Mampir ke rumah Bapak sebentar, ya. Aku ingin tau keadaannya."
"Hm,"
Mereka menuju rumah Bapak Puspa, sesampainya disana ia dikejutkan oleh beberapa petugas yang berpakaian seperti petugas di Rumah Sakit yang sedang membawa Rina. Rina tertawa senang saat dibawa masuk ke dalam mobil.
Puspa dan Arga mencium punggung tangan Bapaknya dan terus memandangi Rina sampai mobil yang membawanya itu pergi dari sana.
"Pak?"
"Rina Bapak serahkan kepada pihak RSJ, karena ia semakin hari semakin tidak waras, Bapak khawatir jika tetap di rumah ia akan kenapa-napa."
Puspa merasa kasihan.
"Begitu, ya? Orang ketiga dalam keluargaku berakhir di rumah sakit jiwa? Kuharap kisah sedihku berakhir sudah disini."
Arga menggenggam tangan Puspa, Puspa menoleh disertai senyum merekah.
"Kuharap kisah bahagiaku akan tetap berlanjut,"
Samar-samar sosok Ibu Puspa ikut berkumpul, ia meletakkan tangan kanannya di atas kepala Puspa lalu mengusapnya pelan, ia juga menggandeng tangan Bapak Puspa.
๐๐๐๐
Okeee semuanya, terimakasih buat yang udah ikutin kisah mereka sampai titik ini. Mungkin diantara kalian ada yang bertanya kenapa Bapaknya Puspa kok masih hidup sampai sekarang? Karena kesalahan yang ia perbuat bukanlah murni kesalahannya sendiri, ia pun sudah merasakan beberapa kesakitan diantaranya adalah Puspa yang kehilร ngan kegadisan tepat ketika Hari Pernikahannya sudah di depan mata dan juga kehilangan anak untuk kedua kalinya.
Aku ucapin banyak-banyak terimakasih atas dukungan kalian semua selama ini, lope-lope๐. Kalau rame aku bikin season 2 yaaa๐
Oh iya, kalian juga bisa mendukungku dalam bentuk kritik dan saran, jadi tidak perlu sungkan untuk memberi saran maupun kritikan yang mempunyai tujuan memperbaiki.
Sampai jumpa di karya selanjutnya, papayyyyy...
__ADS_1