Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Kunjungan Elisa


__ADS_3

🍀🍀🍀


Usai menikmati udara segar, Arga membawa Puspa kembali ke kamar rawatnya


"Tuan" panggil Puspa


"Hm" Arga yang masih mendorong kursi roda melewati koridor hanya menjawab singkat


"Tidak ada"


"Kau membuang tenagaku" ucap Arga


Puspa meremas ujung pakaiannya


"Selama ini aku telah banyak menyusahkannya, sampai kapan?" bathin Puspa


Akhirnya mereka sampai di depan ruang rawat Puspa. Arga membuka pintu, ia menyipitkan matanya melihat siapa yang tengah duduk di kursi disamping ranjang


"Ada apa, Tuan?" Puspa heran Arga tak kunjung membawa dirinya masuk ke dalam


"Ada temanmu" Arga membawa Puspa masuk.


Seorang gadis yang sedang menunggunya sedari tadi, ia langsung bangkit dari duduknya


"Pusspaaaaa"


"Elisa? Kau disini?" mata Puspa membulat saat melihat sahabatnya itu


Elisa langsung berlari ke arah Puspa, ia memeluk Puspa yang masih duduk di kursi roda


"Awwwsss pelukanmu terlalu erat"


"Eh eh maaf. Hehehe. Aku sangat merindukanmu" Elisa melepas pelukannya dan menatap Arga sekilas


"Terima kasih telah menjaga sahabatku" Elisa tersenyum pada Arga


Arga hanya diam saja, seperti biasanya ia bersikap dingin


Elisa yang menyadari Arga tidak menghiraukan ucapannya merasa agak canggung


"Eeeee itu, bantu aku ke ranjang ya" pinta Puspa pada Elisa.


Elisa mengangguk, ia menutup pintu terlebih dahulu.


"Eh, Tuan" pekik Puspa


Elisa yang mendengar itu langsung membalikkan badan setelah menutup pintu, ia melihat Arga menggendong Puspa dan membantunya duduk di ranjangnya kembali


Elisa hanya terdiam melihat itu


"Maaf, El. Tadi aku minta bantuanmu, tapi Tuan Muda malah langsung mengangkatku" Puspa merasa sungkan


"Haha, untuk apa minta maaf sih" Elisa berjalan ke arah Puspa.


Elisa menarik kursi dan duduk di sebelah Puspa, sedangkan Arga memilih berdiri di samping Puspa


"El, wajahmu memerah" Puspa langsung menyentuh dahi Elisa

__ADS_1


"Panas juga. Kau demam?" tanya Puspa


Elisa menarik wajahnya dari tangan Puspa


"Tidak, tidak. Aku hanya gugup" jawab Elisa.


Elisa mengangkat kepalanya dan refleks ia menatap Arga sekilas. Elisa langsung menundukkan kepalanya saat mata Arga juga memandanginya


"Cih, apa yang di inginkan perempuan ini" bathin Arga


Arga menarik satu kursi lagi dan duduk di samping Puspa di sisi lainnya


"Elisa?"


"Eh iya, kenapa" Elisa tersentak. Ia terkejut saat Puspa tiba-tiba memanggilnya


"Kau benar-benar sehat, kan? Kurasa kau demam" Puspa mengkhawatirkan sahabatnya itu


"Aku baik-baik saja, Puspa. Bagaimana keadaanmu sekarang?" Elisa berusaha menenangkan dirinya


"Tahan, Elisa" bathin Elisa


"Awas ya kalau pingsan, hihi" Puspa menggoda Elisa


"Bagaimana sekolahmu, El? Dan apakah prestasimu masih bisa kau pertahankan?"


"Beeehhhh jangan tanyakan itu, Pus. Aku jadi teladan 1, loh. Sayangnya kau tidak hadir"


"Waaahhh hebat. Tapi, apa sudah waktunya kelulusan?" Puspa agak ragu, karena ia pernah berkata pada Arga bahwa wisuda sekolahnya dulu pasti di lakukan tidak jauh dari saat ini


"Hehehe maaf, ya. Aku lupa"


"Pantas saja kau tidak hadir walau ke rumahku. Ternyata kau lupa" Elisa menyilangkan tangan di depan dadanya


"Maaf, ya. Aku turut berbahagia" Puspa tersenyum manis


"Aku akan menghukummu karena telah melupakan hal sepenting itu, huh" Elisa memanyunkan bibirnya


"Oh ya? Hukuman? Baiklah aku siap"


"Hukuman dalam bentuk apa saja?"


"Iya, El. Aku siap, hehe" Puspa tersenyum manis


"Berhubung kita bertemu sedang bersama saat ini, aku ganti nomor. Yaaahh Hp ku hilang beberapa waktu lalu" Elisa mengeluarkan secarik kertas dan pulpen. Ia menulis nomor Hp-nya yang juga terhubung ke WhatsApp


"Baiklah, setelah aku pulang akan aku hubungi" Elisa menyerahkan kertas itu, Puspa menerimanya dan meletakannya di bawah bantalnya.


Arga merasa dirinya hanyalah pajangan saat Puspa dan Elisa asyik mengobrol. Puspa dan Elisa melepas rindu.


***


"Baiklah, aku ada urusan lainnya. Aku pamit ya, Pus" Elisa berdiri dan memeluk Puspa


"Bisakah kau tidaak memanggilku, Pus? Aku bukan kucing" Puspa memanyunkan bibirnya


"Maaf, ya. Aku sudah terlalu nyaman dengan panggilan itu. Hihi. Aku pamit. Cepat sembuh dan nanti aku akan mengajakmu makan-makan"

__ADS_1


Puspa terkekeh


"Baiklah, sampai jumpa"


Puspa mengangguk


"Sampai jumpa, El. Hati-hati ya"


"Pastii" Elisa tersenyum


"Sampai jumpa, Tuan" Elisa sedikit menundukkan kepala kepada Arga.


Arga tidak merespon sama sekali. Arga malah memandangi Puspa sedari tadi


Sedikit kecewa, namun Elisa tetap tersenyum lebar. Ia pun keluar dari ruang rawat Puspa


"Tuan, kau tidak harus sedingin itu kepada sahabatku" Puspa sedikit sungkan atas sikap Arga pada Elisa


"Itu hak ku" Arga meraih Hp nya


"Aku tidak menyukai keberadaan perempuan itu di dekat Puspa" bathin Arga


"Tapi dia sahabatku" bela Puspa


"Dia bukan siapa-siapaku"


Puspa memanyunkan bibirnya karena yang di katakan Arga ada benarnya.


"Kembali ke pertanyaan awal. Bagaimana dengan tawaran kuliah?" tanya Arga


"Anu, itu. Sebenarnya aku mau, Tuan. Tapi-"


"Oke, kau tinggal ikut kejar paket. Setelah itu tentukan Universitas beserta jurusannya. Aku membatasinya, Universitas yang kau pilih hanya Universitas yang ada di kota ini. Aku yang akan mengurus biayanya"


Puspa tercengang


"Semudah itukah? Ia mengucapkan hal itu tanpa terlihat ada beban" bathin Puspa


"Dan ya, kau akan selalu dalam pengawasanku"


"Ckck, kenapa aku di awasi?" Puspa agak risih karena merasa tidak bebas


"Karena aku yang akan menanggung biaya dan keperluan lainnya. Jadi kau akan tetap dalam pengawasanku. Dan sesuai kesepakatan, kau tidak boleh menolak"


Puspa memukul dahinya


"Kenapa aku bisa melakukan hal ini?" bathin Puspa


Arga langsung mendekatkan wajahnya di hadapan Puspa. Jantung Puspa seakan-akan mau copot


Arga langsung mengecup dahi Puspa yang sudah ia pukul tadi. Mata Puspa membulat saat merasakan bibir lembab Arga di dahinya itu.


"Sekarang kau terikat lagi denganku. Tidak, kau memang sudah terikat denganku, dan ikatan itu kini semakin erat ketika kau menerima tawaranku. Ingat itu" ucap Arga yang masih mengecup dahi Puspa


"Ini? Ini mimpi?" bathin Puspa


"Dia kesurupan?" imbuhnya

__ADS_1


__ADS_2