
"Ini memang salahku, mereka tidak salah" Puspa mengelus wajah Arga
"Kenapa selalu sok kuat di depanku, hem? Kau tidak pernah menangis" Puspa tersenyum
Mata mereka bertemu dengan jarak yang sangat dekat
"Matamu memerah, tuh" ledek Puspa dengan suara pelan, Arga tidak menjawab.
Arga mengecup pipi Puspa, ia mengusap air mata Puspa menggunakan hidungnya
Puspa yang mendapat perlakuan itu hanya bisa diam mematung, ia tidak pernah di sentuh laki-laki sampai seperti ini
Puspa menarik kepala Arga dan menangkup wajahnya
"Kita kurangi bertemunya ya" pinta Puspa
Dengan cepat Arga menggeleng kepala, lalu memeluk Puspa lagi
"Aku tidak mau kesepian lagi"
Puspa membulatkan mata mendengar pengakuan Arga, ia membalas pelukan Arga. Ia tidak tau harus berkata apa lagi, rasa nyaman ini tak kunjung menghilang
"Aku akan mengantarmu pulang" Arga melepas pelukannya
"Tidak, aku takut"
"Bapakmu pasti akan khawatir"
"Tidak, aku sudah menyalakan lampu kamarku. Aku akan pulang besok pagi"
Mereka diam sejenak
"Kita akan ke hotel, kau istirahat disana. Matamu sudah lelah terjaga sampai selarut ini"
"Ho-Hotel?!!! Tidak!!! Aku tidak mau" Puspa memeluk dirinya sendiri, wajahnya memerah.
Arga mendengus sebal melihat reaksi Puspa yang seakan-akan menganggap dirinya akan melakukan sesuatu terhadap dirinya
Melihat hal tersebut terlintas ide untuk menjahili Puspa. Arga mendekatkan dirinya dan memegang kedua tangan Puspa
Puspa menggeleng kepalanya karena mengira Arga akan melakukan sesuatu,
"Tidak!!!"
"Jangaaaaannn!"
Arga semakin semangat menjahili Puspa
"Tidaaaakkk! Mesuuumm!"
Kaki Arga menahan kaki Puspa, Puspa semakin aktif berontaknya hingga membuat mobilnya bergoyang
Aktivitas mereka terhenti saat seseorang mengetuk kaca pintu mobil, Puspa mengatur nafasnya.
Arga membuka kacanya dan melihat orang yang tidak asing baginya
"Dokter Andre" Puspa terkejut begitupun Andrw terkejut ternyata di dalam mobil tersebut ada Puspa
"Pu-Puspa, kalian?"
"Ah tidak-tidak, jangan salah faham" Puspa panik
"Jangan mengganggu kami" Arga memasang tatapan tajam
"Ah maaf, maaf. Tapi jangan di jalan begini, dong" Andre menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengalihkan pandangannya
"Dokter, jangan salah faham. Kami tidak melakukan hal aneh" Puspa berusaha membuka pintu namun sudah di kunci oleh Arga
__ADS_1
"Aih kau ini" Puspa memolototi Arga, sedangkan Arga buang muka
"Emmm, ya sudah aku duluan ya. Senang melihatmu sudah pulih total"
"Aku kan memang sudah sembuh" Puspa ikut bingung
"Ah i-iya. Aku lupa. Baiklah aku duluan, sampai jumpa" Andre masuk ke mobilnya lagi
"Jangan salah sangka, Dokter!" teriak Puspa
Andre hanya mengacungkan jempol saja tanpa mengeluarkan suara, ia menahan sakit di hatinya melihat Arga dan Puspa tadi
"Mereka benar-benar pasangan kah? Benar, pria itu yang menemani Puspa sewaktu di Rumah Sakit"
🍀🍀🍀
Pada akhirnya mereka tetap kembali ke rumah Puspa. Puspa membuka pintu dan melihat Bapaknya tidur di kursi.
Arga tidak langsung pulang, ia ikut masuk ke dalam. Puspa menghidupkan lampu ruangan itu dan cahaya lampu membangunkan Bapak Puspa
Bapak Puspa terkejut saat melihat siapa yang sedang berdiri di hadapannya
"Puspa?! Kamu?" Bapak Puspa merasa tidak asing terhadap Arga
Arga menundukkan kepala, dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Bapak Puspa. Puspa ikut duduk dan jantungnya berdegup kencang
"Nak?" Bapak Puspa kebingungan,
"Maafkan Puspa, Puspa habis kabur, Pak" Puspa menunduk,
"Kabur?!" Bapak Puspa mengepalkan tangan
"Jangan bicara dengan nada keras padanya" timpal Arga
"Siapa kamu?! Jangan ikut campur"
"Maaf, Pak. Dia memang begitu, jangan di ambil hati" Puspa menyentuh tangan Bapaknya
"Anu, Maaf" ucap Arga
***
"Eeeeeehh?" Bapak Puspa terkejut,
"Besok Papa akan ikut menemui anda dan Puspa, karena peran orang tua dalam hal ini juga penting"
Suasananya terasa menegangkan bagi mereka bertiga
"Puspa?" Bapaknya melirik Puspa
Puspa mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Arga tentang lamaran terhadap dirinya
"Tapi aku belum berani menyerahkan Putriku pada laki-laki yang belum lama di kenalnya" Bapak Puspa memandangi Putrinya
Puspa mengeratkan tangannya, ia takut Bapaknya menolak
"Biarpun baru kenal, tapi aku tidak akan mengabaikannya apalagi meninggalkannya sendirian"
'DEG' hati Bapak Puspa tersentil akan ucapan Arga
"Tuan," dengan suara pelan,
"Apa kau bisa berjanji akan menjaganya?" tanya Bapak Puspa dengan nada sedih
Arga mengangguk
"Aku tidak main-main dengan keseriusanku. Aku juga tidak mau sampai keduluan laki-laki lain"
__ADS_1
"Aku akan memikirkannya dulu, besok datanglah lagi bersama orang tuamu" Bapak Puspa pergi dari ruang tamu
Puspa mengejar Bapaknya yang berjalan ke dapur itu. Arga membuang nafas lega, ia sampai harus menahan nafas dan berusaha tenang saat berbicara dengan Bapak Puspa
"Bapaaaakk" Puspa meraih tangan Bapaknya
"Bapaak tidak bisa percaya sepenuhnya, Puspa. Dia berani tidur di rumah ini padahal kalian tidak ada hubungan apapun, mana bisa Bapak menyerahkanmu begitu saja" Bapak Puspa mengusap kasar wajahnya
"Puspa mohon" dengan nada memelas
Bapak Puspa memalingkan wajahnya, ia tidak mau melihat Putrinya yang memohon seperti ini
Lama mereka terdiam, dan Puspa masih menggenggam tangan Bapaknya
"Pak~"
"Puspa, kamu masih terlalu muda" ucap Bapaknya yang masih memalingkan wajahnya dari Puspa
Puspa melepas genggaman tangannya, ia menarik nafas. Ia tau maksud dari perkataan itu, itu menolak secara tidak langsung
"Baiklah, kalau itu mau Bapak" Puspa sedih lagi
Ia hanya ingin bahagia, namun ia tidak bisa menentang Bapaknya.
"Ini akan berjalan lancar jika Puspa masih membenci Bapak"
"Bapak harusnya tidak usah menyuruhnya datang kembali jika pada akhirnya Bapak menolaknya" ucap Puspa lalu meninggalkan Bapaknya yang masih di dapur
"Aaarrrrghhh" Bapak Puspa memukul tembok,
Ia marah, kecewa dan sedih. Ia tidak bisa memaafkan Arga yang seenak jidat menginap dan berkunjung bebas di rumah ini.
"Tuan, besok tidak perlu kesini" ucap Puspa yang berdiri di samping Arga sambil menundukkan kepala
Arga berdiri dan mengangkat kepala Puspa agar menatap wajahnya
"Kenapa?" tanya Arga dengan nada kecewa
"Bapak menolak. Kita cukup sampai disini. Kuharap kau menemukan perempuan yang lebih layak" dengan wajah datar dan tenang mengucapkan itu.
Arga mengepalkan tangan
"Harusnya aku tidak perlu mengantarmu pulang" ucap Arga yang menahan emosinya
"Pergilah" Puspa melepaskan wajahnya dari tangan Arga
"Puspaa" lirih
"Pergi!!" Puspa mendorong Arga sampai keluar rumah, Puspa lalu menutup pintu dan menguncinya
'Dak Dak Dak' Arga menggedor pintu
"Puspa!"
"Puspaaaa!" panggil Arga
"Diaaaaaam! Pergi sana!" Puspa memukul keras pintu dan membuat Arga terkejut.
Bapak Puspa berdiri menyaksikannya, ia tidak bicara sedikitpun dan hanya diam. Tapi hatinya ikut sakit melihat sikap Putrinya yang baru ini sampai memukul pintu dengan keras, karena sepengetahuannya Putrinya itu bukanlah gadis yang kasar
Puspa sama sekali tidak menatap Bapaknya saat melewatinya, ia langsung masuk ke kamar dan menguncinya
Mata Arga membulat, ia berlari ke jendela kamar Puspa, ia mengetuk jendelanya
"Puspa! Jangan macam-macam lagi!" teriak Arga. Lampu kamar Puspa langsung dimatikan
"Tidak-tidak-tidaaaakkk! Jangan macam-macam, Puspaaa!!" ia takut Puspa akan nekat mencelakai dirinya lagi. Kali ini imagenya sudah tidak ia pertahankan, ia tidak bisa berpura-pura dingin lagi
__ADS_1
Bapak Puspa tersadar dari lamunannya saat mendengar teriakan Arga, ia segera berlari ke kamar Puspa
Puspa menyentuh kaca jendela kamarnya, ia menahan tangis saat Arga memukul-mukul jendelanya itu