Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Jangan Berubah


__ADS_3

***


Dokter yang mendengar hal itu terjadi pada Puspa langsung menuju ruang rawat Puspa di ikuti 2 suster


"Bagaimana selangnya bisa putus?" tanya Dokter.


Arga tidak menjawabnya, jika ia menjawab yang sebenarnya terjadi maka nama baik keluarganya juga akan terkena dampaknya.


"Aku tidak tau" jawab Arga


🍀🍀🍀


"Mama! Apa yang kamu lakukan?" Mama Arga di dudukkan di kamarnya


Mama Arga hanya menunduk dan menangis


"Mama, jawab Papa! Apa Mama berusaha membunuh orang?" Mama Arga semakin sedih


"Papa sekarang juga sama seperti Arga! Papa membela perempuan itu daripada Mama!" bentak Mama Arga


"Sebelum kau berfikir kesana, kau juga harus berfikir kenapa aku seperti ini, Ma! Jangan sampai Mama melakukan hal menjijikkan seperti itu, karena Papa tidak mau punya Istri pembunuh"


Mama Arga tersentak, ia merasa hatinya hancur.


"Papa kenapa jadi membela perempuan itu sih!Aku Istrimu, Pa!"


Papa Arga mengambil nafas dalam-dalam.


"Karena kamu adalah Istriku, itu sebabnya aku menegurmu" Papa Arga duduk disamping Istrinya dan melembutkan suaranya


Mereka terdiam...


"Aku tidak mau kamu menjadi monster dari hari ke hari. Apa Mama lupa apa saja yang Mama lakukan terhadap Puspa?" Papa Arga merangkul Istrinya


"Tapi Papa bentak-bentak Mama, hiks"


"Papa minta maaf yaaa. Mama juga tidak boleh seperti itu" Papa Arga menarik Istrinya dalam dekapannya

__ADS_1


"Mama melakukan ini karena perempuan itu sudah merebut Arga dari Mama, Pa. Hikss" Mama Arga menangis dalam pelukan suaminya


"Arga sudah mulai dewasa, Ma. Biarkan dia memilih perempuan mana yang ia inginkan"


"Kan Mama dari awal mau jodohin Arga sama Puspa anak sahabat kita, Pa. Bukan Puspa pembantu"


"Papa belum menemukannya sampai hari ini, mereka mungkin telah mengganti identitasnya"


"Mama tidak mau Arga sampai dekat-dekat dengan perempuan itu"


Papa Arga menarik wajah Istrinya dan menatapnya dalam


"Ma, jangan egois. Kalau sampai Mama melakukan hal seperti tadi, Papa tidak akan bersikap lembut lagi"


"Tapi, Pa-"


Belum sempat Mama Arga membantah, bi*bir Papa Arga telah mendarat di bi*bir Istrinya itu.


Mama Arga berusaha berontak, padahal ia ingin membantah semua ucapan Suaminya, semakin ia berontak, semakin erat pula pelukan Papa Arga.


Papa Arga melepas ciumannya, dan menatap penuh cinta pada wanita spesial di hadapannya


Hati Mama Arga terenyuh, ia semakin menangis


"Tapi, Pa. Mama tidak mau kalau perempuan itu hadir dalam kehidupan Arga, hiks. Mama tidak suka. Jika sampai Arga bersama perempuan itu, bagaimana dengan Puspa anak sahabat kita, Pa"


"Mama jangan terlalu berambisi seperti ini, yaaa. Mama bisa merusak Arga dan bisa membuat Arga pergi dari kita, perjuangan kita menanti kehadiran Arga tidak sebentar, Ma. Papa mohon, mengertilah"


"Mama perempuan yang hebat dan kuat, tapi dalam waktu sekejap Mama mulai berubah. Papa takut Mama akan melakukan hal yang lebih jahat daripada ini, Papa tidak mau kehilangan wanita spesial dihadapan Papa" imbuhnya. Papa Arga langsung mencium kening istrinya dengan lembut dan hangat.


Air mata Papa Arga mengalir dan jatuh di pipi Mama Arga,


Tangan Mama Arga bergetar, ia menggigit bibirnya untuk menahan tangisnya.


"Apa yang ku lakukan? Aku membuat Suamiku menangis" Mama Arga langsung memeluk suaminya erat


Mereka berpelukan dan meluapkan kesedihan dan kerinduan terhadap satu sama lain. Walaupun mereka serumah bahkan sekamar, sikap dan ambisi Mama Arga membuat suaminya agak menjauh karena ia tidak ingin meluapkan amarahnya kepada Istrinya dan memilih memendam keinginannya untuk menasihatinya.

__ADS_1


"Maaf, ya. Papa sudah membentak Mama. kalau Papa tidak melakukan itu, Mama tidak akan mendengarkan Papa" Papa Arga mengeratkan pelukannya


Mama Arga mengangguk. Mereka melepas pelukannya. Papa Arga menghapus air mata di pipi istrinya dengan kedua tangannya


"Ckck, Make-up Mama jadi ikut dijari Papa nih, luntur deh" ledek Papa Arga


Mama Arga melotot


"Aduh Papaaaa. Kenapa tidak mengingatkan aku sih kalau aku pakai make-up. Rusak sudah riasan cantiknya" Mama Arga menggembungkan pipinya dan berlari ke meja riasnya.


"Udah mulai pikun, ya" ledek Papa Arga lagi


"Eits, jangan lupa. Papa lebih tua dari Mama. Jadi Papa lebih pikun"


Papa Arga tersenyum melihatnya,


"Seperti masa muda" gumamnya. Momen seperti ini sudah sangat lama ia alami, terakhir ia meraskaannya bertahun-tahun lalu.


🍀🍀🍀


Setelah Dokter manangani Puspa, Arga duduk disamping Puspa dan menggenggam tangannya.


"Aku lega kau tidak kenapa-napa" ucap Arga


"Kau terlalu lebay, Tuan" balas Puspa.


Puspa terkejut bercampur senang, suaranya sudah keluar. Arga yang bisa mendengar suara Puspa lagi langsung memeluk Puspa


"Tuan Muda, kau gila ya!"


"Hm?" Arga tetap memeluk Puspa


"Kau menindih dadaku, Tuan. Dasar Mesum"


Arga langsung menarik kepalanya dan baru menyadari itu


"Pantas saja empuk,"

__ADS_1


Puspa melotot dan menahan malu.


__ADS_2