
🍀🍀🍀
Bapak Puspa mondar mandir didepan pintu rumah lamanya, ia ingin mendobrak pintunya, tapi nanti rusak
'Drrrtt' Hp Bapak Puspa berdering, ia meraihnya di saku celananya dan melihat istrinya yang menelfon
"Iya Rin, kenapa?"
"Nanti pulangnya belikan Ice Cream, tapi yang ada emas yang bisa dimakan itu"
Bapak Puspa menelan ludah
"Tapi, Rina. Itu mahal, lagipula di kota sini apakah sudah ada yang menjualnya?"
"Ya aku tidak mau tau. Harus dapat. Kalau tidak, jangan pulang"
"Astaga, Rina minta yang lain saja, Rinn"
'Tut tut tut'
Bapak Puspa berkacak pinggang.
"Aaarrrgghhhh! Harusnya aku tidak di posisi ini!" Bapak Puspa menendang tembok rumah lamanya
"Bu, maafkan Bapak" Bapak Puspa terduduk dan memegangi kepalanya yang pusing
***
Disisi lain di rumah sakit
"Aku berterima kasih atas maaf yang kamu berikan, tapi bisakah kita mulai dari awal lagi?" Ilham memasang wajah melas
"Apa yang harus dimulai dari awal? Lupakan saja dan kita tidak usah saling menghubungi lagi, Ilham"
"Puspa, aku ingin berbicara empat mata saja" pinta Ilham.
Arga yang mendengar itu langsung meraih kerah Ilham, Ilham diam tidak bergeming
"Siapa kau?! Berani-beraninya"
"Tuaaaann, lepaskan dia. Nanti kena masalah" Puspa menarik lengan kiri Arga
Arga perlahan melepas tangannya dari kerah Ilham,
"Aku mohon, Puspa. Aku ingin berbicara berdua saja" ucap Ilham lagi. Arga sudah bersiap untuk membogem Ilham, tapi di halangi Puspa
"Ilham, maaf. Jangan membuat keributan disini" ucap Puspa sambil menahan tangan Arga sekuat tenaganya
"Puspa kumohon" Ilham menyentuh kaki Puspa yang tertutup selimut itu, nafas Arga menggebu, ia mengibas tangan Puspa dan memberikan pukulan keras diwajah Ilham hingga ia tersungkur
__ADS_1
"Aawwwss" Puspa merasakan sakit di pergelangan tangannya akibat tangannya yang dihempaskan oleh Arga
Terlihat darah merembes dipergelangan tangannya yang sudah di perban.
Arga terkejut, tubuhnya bergetar
"Puspa, maafkan aku. Aku akan memanggil dokter" Arga panik,
Puspa menahan perih lukanya yang terbuka kembali, ia melihat darah yang merembes dibalik perban dan mulai menetes di selimutnya
Ilham terkejut, ia bangkit dan berusaha menenangkan Puspa yang kesakitan
"Jangan sentuh aku" ucap Puspa saat Ilham mendekatinya. Hati Ilham bagai tertusuk pisau
"Puspa aku hanya ingin menenangkanmu"
"Tidaak!" tolak Puspa
Dokter datang di ikuti 2 Suster, mereka menyuruh Arga dan Ilham keluar ruangan dulu.
Arga langsung menarik Ilham menuju ke luar Rumah sakit, Ilham memberontak, namun Arga tidak kalah kuat.
Ia memukul perut Ilham hingga ia merasa tidak bisa berdiri, Arga langsung membawa Ilham keluar
"Mengganggu lagi, nyawamu akan hilang" ancam Arga, ia meninggalkan Ilham di parkiran.
Ilham mengelap darah segar yang keluar di sudut bibirnya akibat pukulan Arga di dalam ruang rawat Puspa tadi
🍀🍀🍀
Arga dikejutkan oleh Papanya yang menepuk bahunya
"Papa?" Arga memutar matanya
"Kenapa diluar?" tanya Papanya
"Puspa masih di tangani"
"Apa dia koma atau apa? Apa karena ulah Mama mu?
"Bukan, Pa. Ini salah Arga. Lukanya terbuka lagi" Arga menunduk
"Memang apa yang terjadi?"
"Puspa mau bunuh diri dirumahnya saat itu. Lalu tadi Ilham datang kesini, Arga tidak sengaja menghempas tangan Puspa dengan kerasnya"
"Dia mencoba bunuh diri?" tanya Papa Arga lagi untuk memastikan apa yang ia dengar tadi
Arga mengangguk. Papa Arga berfikir apakah itu ulah Istrinya lagi
__ADS_1
"Mama terlibat lagi?" tanya Papa Arga
"Aku tidak tau" Arga menunduk, menghawatirkan Puspa
Selang beberapa menit, Dokter pun keluar dari ruang rawat Puspa
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Arga dengan nada panik
"Iya, dia baik-baik saja. Jangan mengganggunya dulu, biarkan dia beristirahat" Dokter meninggalkan Arga dan Papanya
"Maaf" gumam Arga
Setidaknya Arga bisa bernafas lega mendengar Puspa baik-baik saja, sedangkan Papa Arga sibuk merenungi apakah yang terjadi pada Puspa ada kaitannya lagi dengan Istrinya
"Pa" panggilan Arga mengejutkan Papanya
"Ah iya iya, Papa sampai lupa. Papa kesini mau membicarakan sesuatu denganmu, karena kau juga tidak pulang-pulang. Walaupun pulang, kau hanya mandi saja" Papa Arga duduk kembali
"Bisa telfon" ucap Arga
"Beda rasanya" bantah Papa Arga
Arga melirik Papa nya itu
"Papa akan merekrutmu ke perusahaan Papa"
"Hm?"
"Iya, Papa akan merekrutmu diperusahaan Papa. Kamu tinggal pilih jabatannya saja" Papa Arga memperjelas
"Tunggu aku selesai wisuda, Pa"
"Papa tau kau tidak ingin kerja terikat, tapi kamu satu-satunya pewaris Papa. Toh nanti kalau Papa sudah pensiun, perusahaan Papa akan jadi milikmu, beserta semua aset kekayaan"
Arga hanya terdiam
"S2 nya?"
"Papa dan Mama tidak akan memaksamu lagi untuk lanjut study ataukah tidak. Papa percaya kamu bisa mengambil keputusan sendiri. Kan sudah besar" Papa Arga tersenyum, Arga lega mendengar hal itu
"Jangan lupa, secepatnya kasih cucu, ya. Papa pergi dulu" Papa Arga menepuk bahu Arga
"Papa, mulai lagi" Arga tersipu malu, Papanya terkekeh.
"Papa hanya ingin kau mendapat gadis yang tidak akan menghianatimu dan mau menerimamu apa adanya. Apalagi dengan sikap dinginmu" Papa Arga berjalan menjahui Arga
"Apakah aku dingin selama ini?" gumam Arga
Arga sudah tidak seperti dulu lagi yang ketika berbicara masalah pasangan hidup ia akan marah, kali ini ia sudah menemukan siapa yang pantas ia perjuangkan. Arga berdiri di depan ruang rawat Puspa. Ia membuka pintu perlahan dan berjalan mendekati Puspa yang terlelap
__ADS_1
Arga tersenyum dan mengelus pipi Puspa.
"Kuharap kau tidak menolakku" ucap Arga