
"Kau!" Raina mengeratkan giginya, merasa kesal akan ucapan Bara.
"Di sini yang akan merawatmu adalah tunanganmu sendiri. Aku dan Fira akan pulang," ucap Bara, hendak berdiri.
"Bara kau!"
"Apa? Kau mau protes lagi? Aku sudah bilang, aku di sini menjagamu, dan aku tidak pernah menjanjikan akan menjagamu seharian penuh. Yang penting aku sudah menjagamu dari pagi. Dan sekarang aku akan pergi," ujar Bara, menarik lengan Fira.
"Bara kau serius akan pergi?" tanya Dion.
"Apa aku terlihat bercanda?" Bara menarik lengan Fira, dan mengajaknya agar segera pergi.
"Tapi Bara, nenekku tahunya kau yang menjagaku," ucap Raina, yang masih berharap agar Bara tak pergi meninggalkannya.
Bara mendengus kecil, "Lalu apa susahnya, tinggal beritahu nenekmu, kalau aku pergi, dan Reza yang akan menjaga sekaligus merawatmu."
"Tapi Bara...." rengek Raina.
Bara melepaskan lengan Fira, kemudian berjalan mendekati Reza. Raina sudah tersenyum senang, saat mengetahui Bara menghampirinya.
"Sudahlah, ... kalian itu perlu waktu berdua agar saling mengenal."
"Ingat perkataanku tadi," ucap Bara, menepuk pundak Reza. Reza hanya mengangguk, tersenyum miring ke arah Bara.
Kemudian Bara segera berlalu bersama Fira, meninggalkan ruangan itu. Dan tak sengaja saat di pintu keluar, mereka berpapasan dengan Adit dan Messy.
"Fira, kau mau ke mana?" tanya Adit.
Bara sejenak menghentikan langkahnya. "Fira mau pergi ke mana pun, itu bukan urusanmu!" ketus Bara. Sambil menarik pinggang Fira, dan kembali berjalan meninggalkan mereka.
"Syukurlah si Upik Abu itu pergi," imbuh Messy, dengan mata yang mendelik tak suka, sambil masuk ke dalam ruangan. Dan kembali menghampiri Raina, yang sedang duduk dengan memasang wajah kesal.
"Kak Raina, kau kenapa terlihat kesal seperti itu?" tanya Messy.
Raina hanya melirikkan matanya ke arah Reza. Dan seketika Messy mengerti akan maksud dari Kakak sepupunya itu.
"Oh..., Kak Reza, ... kau sedang apa di sini?" tanya Messy.
Reza melebarkan senyuman manisnya kepada Messy, "Aku hanya menjenguknya, sekaligus akan ikut merawatnya di sini," jawab Reza.
Messy berdecak kecil, sambil melipat kedua tangannya di dadanya. "Kak Reza, sudahlah, kau tak perlu bersusah payah mengambil hati Kak Raina, kau bahkan tahu sendirikan? Kalau kak Raina masih mencintai mantan kekasihnya?" ucap Messy.
Adit yang mendengar perkataan Messy, ia seakan kesal. "Messy! Berbicaralah yang sopan!"
"Diamlah! jangan ikut campur," jawabnya.
Dion, yang masih duduk di sofa, ia segera berjalan menghampiri Messy. "Nona Messy, bisakah Anda berbicara yang lebih sopan. Tuan Reza di sini berniat baik, bukan untuk apa-apa. Memang apa salahnya kalau Tuan Reza berusaha untuk lebih dekat dengan kakak sepupumu itu hah?" tanya Dion dengan kesal.
__ADS_1
Messy, memutar kedua bola matanya, dengan sebal. "Kau juga, tak usah ikut campur!"
Dion menggelengkan kepalanya pelan, sambil menatap jijik ke arah Mesy. "Miris sekali, jika Adit benar-benar menikahi wanita angkuh sepertimu!"
"Hei! Kau tidak usah menyangkut-pautkan hubunganku dengan Kak Adit!"
Dion tak menghiraukan perkataan Messy, "Tuan Reza kau jagalah Raina, dan kau jangan terlalu mengambil hati akan ucapan atau perilaku Raina. Jika kau memang benar-benar padanya, bersabarlah. Aku pamit," tutur Dion. Reza menganggukkan kepalanya sekali. Sambil memberikan sedikit senyuman.
Dion berjalan, sambil sejenak menepuk sebelah bahu Adit. Kemudian segera berlalu meninggalkan mereka semua.
"Raina, kau istirahatlah dulu, redamkan dulu amarahmu," ucap Reza.
"Bagaimana aku akan meredam amarahku, kalau kau terus ada di sini!" sentak Raina, yang semakin kesal kepada Reza.
Reza menarik nafasnya, dan membuangnya pelan. "Baiklah, aku akan keluar dulu sebentar. Nanti aku akan kembali lagi," ucap Reza. Raina tak menghiraukannya, hingga lelaki itu keluar berlalu begitu saja, dengan perasaan yang cukup menyedihkan.
"Cepat, telepon nenek!" pinta Raina, kepada Messy. Messy mengiyakan, dan segera menelepon neneknya, melaporkan semua yang terjadi hari ini, termasuk memberitahu mengenai Bara.
Dari jauh, Adit terlihat sedang melamun. "Menikah dengan Messy? Huft... rasanya aku tidak akan kuat menghabiskan sisa hidupku bersama wanita toxic seperti dia," gumam Adit, sambil duduk di atas sofa. Menatap Messy, yang sedang asyik menelepon dengan neneknya.
***
Malam harinya, setelah makan di restoran, Fira dan Bara kembali pulang ke rumah Papa Hito. Dan sesampainya di rumah, Fira dan Bara segera berlalu menuju kamar mereka. Merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur.
Rasanya, tubuh Bara begitu lelah, dan ingin segera beristirahat. Begitu pun dengan Fira, yang merasa seharian ini begitu capek. Mereka duduk berselonjor di atas tempat tidur.
Tiba-tiba ponsel Bara berdering begitu nyaring. Ia segera meraih ponselnya yang terselip di saku celananya. Dan segera mengangkat panggilan masuk dari nomor yang tak dikenalnya.
"Iya, malam."
"Apakah benar ini dengan Tuan Bara?"
"Benar, ada apa ya?" tanya Bara.
"Saya dari pihak rumah sakit, ingin memberitahu kalau pasien yang bernama Nona Raina, sekarang keadaannya semakin memburuk, dia terus menjerit dan menyebut-nyebut nama Anda Tuan. Saya di perintahkan oleh neneknya, agar memberitahu Tuan," ucap lelaki itu, yang tak lain ialah dokter yang tadi pagi bertemu dengan Bara.
Bara berdecak kesal. "Baiklah, saya akan ke sana," ucap Bara, dengan kesal.
"Menyusahkan saja!" seru Bara, sambil menutup ponselnya.
"Kenapa Mas?" tanya Fira, penasaran.
Bara, sejenak memijat dahinya yang tak pusing itu. "A-aku harus kembali ke rumah sakit, barusan pihak rumah sakit menelponku, dan memberitahu, kalau keadaan Raina semakin memburuk," ucap Bara.
Fira sejenak terdiam, ia melihat kekhawatiran di raut wajah Bara. "Ya sudah kalau begitu, aku akan ikut denganmu," ucap Fira.
"Jangan!"
__ADS_1
Fira mengerutkan kedua alisnya. "Jangan? kenapa?"
"Bu-bukan, maksudku bukan begitu. Lebih baik sekarang kau beristirahat saja. Lagi pula ini sudah larut malam. Kau pasti lelah dari pagi belum beristirahat," ucap Bara.
Fira terdiam, kemudian menganggukkan kepalanya. "Sepertinya Mas Bara masih begitu mengkhawatirkan Raina," batin Fira.
"Kau tidak apa-apa kan? kalau aku tinggal sendirian di sini?" tanya Bara, seakan tak tega.
Fira menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, tidak apa-apa, sekarang keadaan Nona Raina, jauhlah sangat penting. Kau cepatlah pergi, dan jangan lupa untuk menghubungiku," ujar Fira. Bara menganggukkan kepalanya. Kemudian ia berdiri, mencium kening Fira, sebelum berlalu keluar.
***
Sementara itu di rumah sakit, di dalam ruangan itu terlihat, Raina, Neneknya dan Dokter yang merawatnya sedari awal.
"Nenek, kenapa Bara lama sekali?" rengek Raina, karena sedari tadi Bara belum muncul juga.
"Kau tenanglah sayang, sebentar lagi dia pasti akan datang," ucap Nenek.
"Pak dokter, untuk kali ini, kau harus bisa menahannya," ucap Nenek.
"Baik Bu."
"Nenek, apa semua ini akan berhasil? Bagaimana kalau istrinya itu ikut kembali kesini?" tanya Raina.
"Kau tenanglah, malam-malam seperti ini, dia pasti akan kemari tanpa di temani istrinya," jawab Nenek.
"Tapi bagaimana kalau Bara menolak untuk menjagaku dibsini?" tanya Raina kembali.
"Apa susahnya, kau tinggal bersandiwara saja seperti kemarin," ucap Nenek.
"Dan kau Pak dokter, kau harus membuatnya yakin, kalau Raina dalam kondisi buruk. Buat dia agar tetap menjaga cucu kesayangan saya ini," tegas Nenek, kepada Pak dokter.
Dokter itu hanya mengangguk, mengiyakan segala perintah wanita tua yang ada di hadapannya itu. Ia menurut karena dirinya sudah di suap dengan sejumlah uang yang tak sedikit.
Brakkk.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dengan lebar, bahkan terlihat hampir copot dari tempatnya. Pintu itu ditendang sekuat mungkin oleh seseorang yang kini sedang berdiri, tepat di jalan pintu.
Semua mata tertuju ke arah orang itu, dan betapa terkejutnya mereka semua, saat mengetahui siapa orang yang menendang pintu itu. Semua seakan tegang dan takut, melihat raut wajah yang tak ramah dari orang itu. Terutama Raina yang dibuat takut dan menarik baju neneknya, hendak bersembunyi di balik tubuh kecil neneknya itu.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan votenya ya sayang-sayangku😘
Love you❤️