
Seperti biasa pagi ini Selly kembali menjalani aktivitas hariannya yaitu bekerja sebagai staf administrasi di rumah sakit umum daerah. Meskipun ia sebenarnya agak malas untuk bekerja, tapi mau bagaimana lagi, ia harus tetap menjalankan tugasnya itu.
Siang harinya seperti biasa Selly akan ke kantin bersama kolega kerjanya untuk makan siang. Di sela-sela aktivitas makan siang salah satu temannya bertanya mengenai rumor tentang kegagalan pernikahan Selly.
"Sell, menurut desas-desus yang aku dengar, kamu dan Dr. Damas, gagal nikah ya ... apa benar?"
Selly yang tengah asyik menikmati sepiring siomay, ia tiba-tiba menghentikan aktivitas makannya itu. Diambilnya sebotol air mineral yang ada di atas meja, lalu ia meneguknya.
"Hm... kalian tahu itu dari siapa?" tanya Selly kepada kedua temannya itu.
"Em, kita dengar sepintas aja sih dari temannya Dr. Damas juga."
"Iya, kita cuma mau mastiin itu gosip benar apa enggak."
Selly pun menghela nafasnya begitu berat. "Ya... seperti yang kalian tahu, aku dengan dia memang batal nikah," jawab Selly sambil menundukkan kepalanya, dengan tangannya yang sibuk mengaduk-aduk siomay yang tinggal sedikit itu.
"Apa! Jadi beneran?"
"Kenapa bisa?"
Selly mendengus pelan. "Ya bisa aja, mungkin memang bukan jodoh."
Kedua temannya hanya bisa melongo mendengar jawab Selly. Mereka tidak menyangka bahwa temannya itu akan gagal menikah, padahal jadwal pernikahannya hanya tinggal 3 minggu lagi.
Dan sebenarnya mereka berdua masih kepo akan masalah apa yang membuat Selly dan Damas membatalkan pernikahannya. Namun, sepertinya mereka juga mengerti bahwa saat ini Selly sepertinya masih enggan untuk membahas masalah itu lebih dalam.
***
Sore pun tiba, jam kerja sudah selesai dan sudah waktunya untuk pulang. Selly tengah merapikan barang-barang dan dokumen penting yang ada di atas mejanya.
"Sell, kita duluan ya," ujar kedua teman Selly begitu mereka keluar meninggalkan ruang kerja itu. Selly hanya mengangguk tersenyum kepada kedua temannya itu.
Setelah selesai ia pun bergegas pergi meninggalkan ruang kerjanya, selagi berjalan menyusuri koridor rumah sakit, tiba-tiba ... di pertigaan lorong, ada seseorang yang menarik lengannya dan menyeretnya ke lorong sebelah kanan, jalan menuju ruang rawat inap anak kecil.
"Mas Damas," ujar Selly begitu kaget saat ia mengetahui orang yang menarik lengannya itu adalah Damas.
Selly langsung menepiskan lengannya dari genggaman tangan Damas, dan ia pun langsung menghentikan langkah kakinya.
"Lepaskan jangan berani-beraninya menyentuhku!"
"Selly, tunggu! Aku ingin berbicara sebentar denganmu." Damas kembali menarik lengan Selly, begitu Selly hendak pergi meninggalkannya.
Selly berdecak kesal, ia menoleh ke belakang, dengan tatapan matanya yang ia tujukan ke arah lengannya yang sedang dicengkeram erat oleh tangan Damas.
"Selly, please beri aku kesempatan, apa kau tega membiarkan keluarga kita dipermalukan oleh orang lain karena pernikahan kita gagal?" ujar Damas tanpa basa basi.
__ADS_1
"Malu?" Selly tersenyum sinis sambil membuang wajah. "Syukurlah kalau kau punya malu. Masalah pernikahan kita sudah jelas batal. Jika kau ingin melanjutkannya ya sudah lanjutkan saja."
"Benarkah?" Damas seolah tak percaya.
"Benar, tapi ... bukan aku mempelai wanitanya. Kau nikahi saja Nona Dinda, dia lebih membutuhkanmu dari pada aku." Selly pun kembali memutar badannya ingin cepat-cepat pergi. Namun, lagi-lagi Damas menghalanginya.
"Selly! Tunggu! Tak bisakah kita bicara baik-baik, aku benar-benar memohon padamu. Setidaknya tolong jangan biarkan keluarga kita dirundung rasa malu. Aku tahu, keluargamu juga tidak siap bukan akan kegagalan pernikahan kita ini? ... Atau kita buat perjanjian saja, bagaimana?"
"Perjanjian?" Selly mengerutkan dahinya heran.
"Iya perjanjian, kita menikah tapi hanya untuk beberapa bulan saja. Aku tidak akan menyentuhmu, dan kau juga bebas akan kehidupanmu. Ibarat kata, kita menikah, serumah tapi pisah kamar, lalu setelah 6 bulan kita bercerai. Setidaknya dengan cara itu, tidak akan terlalu membuat keluarga kita malu."
Selly semakin mengerutkan keningnya, ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pemikiran lelaki yang ada di hadapannya itu.
"Apa! Kau ini gila apa Mas!"
Damas merengut kesal saat Selly menyebutkan idenya itu ide gila.
"Tidak! ... Aku tidak mau melakukannya. Kau kira pernikahan itu sebuah permainan apa! ... Kau masih sehat kan Mas?"
"Selly, tapi ini untuk kebaikan keluarga kita, pikirkan orang tuamu juga. Apa kau sebegitu teganya membiarkan ibu dan bapakmu itu di ejek oleh kerabat-kerabatnya?" tanya Damas begitu kesal.
"Tak perlu kau pedulikan masalah keluargaku, kau pikirkan saja masalahmu itu. Dan berhentilah untuk membuat masalah baru!" Selly pun sudah tak tahan lagi, ia kembali melangkahkan kakinya dengan cepat, berlalu begitu saja meninggalkan Damas. Meskipun lelaki itu terus meneriaki namanya, tapi Selly tak memedulikannya.
"Sialan!" gerutu Damas. "Oke, kalau itu keputusan yang bakalan kamu ambil, lihatlah nanti, kau tidak akan pernah hidup dengan tenang Selly," gumam Damas sambil menatap punggung Selly yang semakin menjauh dari pandangannya dan menghilang di antara lorong koridor.
***
"Abang nunggu lama ya?" tanya Mayang begitu ia masuk ke dalam mobil.
"Lumayan ... kita mau ke mana dulu nih?" tanya Andre.
"Ke... butik dulu Bang, aku mau pesan gaun yang sama seperti si Salwa waktu itu." Andre pun melajukan mobilnya menuju butique yang waktu itu.
Setelah selesai membeli gaun dan beberapa perlengkapan dekorasi untuk ulang tahunnya nanti, Andre dan Mayang pun segera pulang ke apartemen mereka.
"Ah... aku tidak sabar untuk merayakan ulang tahunku nanti," ujar Mayang.
"Oh ya Abang, apa sebaiknya aku mengundang Kak Selly juga buat ikut bersama kita ke pantai nanti?"
"Tidak usah, tak enak juga mengajak dia berlibur sedangkan dia sedang banyak masalah sekarang," ujar Andre.
"Hm... ya sudah kalau begitu." Mayang pun kembali merapikan barang-barang belanjaan miliknya dan memindahkannya ke kamarnya. Setelah itu, Mayang kembali ke dapur untuk membantu neneknya memasak.
***
__ADS_1
Selly baru saja sampai di rumahnya, sudah dua hari ia tinggal kembali di rumahnya, karena bapaknya dua hari yang lalu sudah pulang dari rumah sakit. Dan keadaannya pun sudah sehat kembali.
"Assalamu’alaikum," ucap Selly begitu ia masuk ke dalam rumah.
Namun, suasana rumah terlihat begitu sepi, seperti tak ada orang. Selly pun berjalan menuju kamarnya. Namun, sebelum ia sampai di kamarnya, ia mendengar suara dua orang yang sepertinya sedang berdebat.
Suara itu terdengar dari arah kamar orang tuanya. Selly pun perlahan berjalan menuju kamar orang tuanya. Begitu ia sampai di depan pintu kamar orang tuanya, Selly tak berani untuk masuk. Dan dengan sengaja Selly pun memilih untuk mendengarkan perdebatan antara orang tuanya itu dari balik pintu.
"Sudahlah Bu, jangan jodoh-jodohin Selly lagi. Kasihan dia, baru juga gagal nikah masa iya Ibu mau langsung jodohin dia lagi," protes Pak Setyo begitu istrinya mengusulkan untuk kembali menjodohkan putri tunggalnya itu.
"Tapi Pak, Ibu gak siap kalau kita harus menanggung malu. Apalagi Ibu sudah heboh ceritain ke teman-teman arisan Ibu kalau anak kita sebentar lagi akan nikah. Bagaimana kalau sampai mereka tahu putri kita satu-satunya itu gagal nikah? Mereka pasti mengejek Ibu. Keluargamu juga Pak, pasti bakalan makin rendahin kita," keluh Ningsih.
"Bapak juga tahu, tapi kita juga gak bisa maksa Selly buat nikah cepat dengan orang yang baru ia kenal."
"Tapi Pak, kalau kita membatalkan semua ini bagaimana? Ibu sudah booking semua persiapannya mulai dari gedung, catering, pagar ayu, gamelan Jawa juga. Ibu stres mikirin ini semua Pak! Mana semua itu udah di bayar lagi! Kalau pun kita minta balik uang, paling 30 atau 40% doang yang dibalikin-nya."
"Sudah tenanglah dulu, masalah uang kita pikirkan lagi nanti."
"Tapi Pak, kalau gak dipikirkan dari sekarang nanti mau bagaimana?" Ningsih masih saja terus mengeluh, sedangkan Setyo ia sudah tak tahan mendengar ocehan istrinya yang lagi-lagi mempermasalahkan pernikahan anaknya itu.
"Bu! Sudah cukup! Ibu juga harus mikirin perasaan anak kita Bu! Kalau Selly sampai tahu kita berdebat terus seperti ini nanti dia juga yang akan sedih. Sudahlah, kalau nanti ada jodohnya juga ga bakalan ke mana!" seru Setyo, ia pun segera mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.
Sementara itu, di sisi lain, Selly diam tercengang mendengar perdebatan orang tuanya. Karena tak ingin ketahuan, Selly pun akhirnya segera masuk ke dalam kamarnya. Ia mengunci pintu kamarnya.
Dengan perasaan sedih dan frustrasi yang begitu mendalam di pikirannya.
"Ya Allah... aku harus bagaimana?" Selly melemaskan tubuhnya, duduk di atas lantai di balik pintu kamarnya, dengan kedua lututnya yang ia peluk.
"Apa perlu aku mencari calon suami yang mau menikah langsung denganku dalam beberapa hari ini?" gumam Selly. Ia benar-benar bingung dan frustrasi akan masalah yang sedang menimpanya sekarang ini.
Selagi melamun menatap kosong lurus ke depan. Pikirannya yang sedang berkecamuk memikirkan bagaimana cara ia mencari pasangan yang mau menikah dengannya dalam waktu dekat, tiba-tiba otaknya memberi ide cemerlang.
"Ah iya, apa aku harus mencari pasangan lewat aplikasi tinder ya? Eh, tapi... bagaimana kalau orangnya gak mau cepat-cepat nikah? Em... atau aku ikut kelas taaruf aja gitu ya?" pikirnya melamun.
"Astagfirullah Selly... apa yang kamu pikirkan, masa iya mau nikah dengan sembarang orang," pikirnya kembali.
"Argh... aku pusing Ya Allah... datangkanlah jodoh kepadaku secepatnya. Aku benar-benar bingung, seandainya ada orang yang menyukaiku dengan tulus, pasti sudah ku minta dia untuk menikahiku secepatnya."
Selly pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang sudah terasa tak nyaman itu.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Kalau suka jangan lupa beri vote, gift dan komen juga ya. Biar author makin semangat nulisnya.