Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Apa Pertanyaannya?


__ADS_3

"Menangislah, jika ini bisa membuatmu tenang." Nenek mengelus punggung Raina dengan begitu lembut.


Ia juga tak tega, melihat cucu kesayangannya itu harus bersedih kembali karena rasa sayangnya kepada Bara. Terlebih kejadian minggu lalu, yang di akibatkan oleh ide buruknya, membuat Bara semakin membenci cucunya.


"Raina, kau boleh mencintai seseorang, tapi pastikan kau melabuhkan hatimu kepada orang yang mencintaimu juga. Nenek tak ingin kau mencintai seseorang tanpa kau dapati balasan yang sama dari rasamu itu," tutur Nenek. Raina melepas pelukannya, ia segera menghapus air mata yang masih menggenangi pelupuk matanya, dengan kedua punggung tangannya.


"Nenek, aku akan menemui Reza," ucapnya, sambil beranjak pergi ke kamarnya.


"Bertemu Reza? Untuk apa?" gumam Nenek.


Raina keluar dari kamarnya, dengan membawa tas selempang kecilnya. Wajahnya masih terlihat seperti orang habis menangis, namun ia menutupinya dengan masker kain yang di gunakannya.


"Sayang, apa kau benar mau bertemu dengan Reza?" tanya Nenek, menghalangi langkah Raina.


Raina menganggukkan kepalanya pelan. "Iya Nek, ada hal penting yang harus aku bicarakan dengannya," ucap Raina. Membuat sang nenek tertegun tak percaya. Raina segera keluar, dari rumah neneknya. Ia membawa mobil sendiri, untuk menemui Reza di kampus. Karena ia tahu, jam segini, Reza pasti masih di kampus.


***


Setelah selesai wawancara, Bara bergegas pulang untuk menemui istrinya. Rasanya ia sudah tidak sabar, melihat ekspresi yang akan di tunjukan oleh Fira padanya.


Bara dan Dion sudah ada di dalam mobil, dalam perjalanan.


"Di, lebih baik aku akan mengantarkanmu pulang terlebih dahulu," ucap Bara, yang duduk di samping Dion, yang sedang fokus mengemudi.


"Em... tidak ah, aku ingin ikut bersamamu ke toko kue Fira," jawab Dion.


Bara mengerutkan dahinya, merasa curiga. "Untuk apa kau pergi ke toko Fira?"


Dion sedikit menoleh ke arah Bara, melirik wajah sahabatnya yang berubah seakan tak ramah.


"Menemui Fira lah," ucap Dion, memancing.


"Ehem!" dehem Bara, seakan tak suka.


"Haha... tenanglah, aku hanya ingin membeli kue di toko istrimu. Bukan berniat untuk menemuinya. Tapi...." ucap Dion, menggantung.


"Tapi apa!" seru Bara.


"Tapi... tak apa-apa jika bertemu dengannya juga," jawabnya terkekeh.


"Fira, Fira, kau benar-benar hebat, sudah bisa membuat sahabatku menjadi seorang yang protektif seperti ini," batin Dion.


***


Kini mereka sudah sampai di halaman parkir Zupa Cake. Dion segera memarkirkan mobil yang di kendarainya.


"Fira, kau jangan curang dong!" rengek Merry, saat wajahnya di coret oleh Fira. Fira hanya terkekeh melihat wajah sahabatnya sudah di penuhi dengan coretan lipstik berwarna pink dusty itu.


"Haha, Fira kemarikan, sekarang giliranku," ucap Selly, mengambil lipstik yang di pegang oleh Fira. Dan ketika Selly hendak mencoret wajah Merry, tiba-tiba pintu ruangan kerja Fira terbuka dengan sendirinya.


Mereka semua menengok ke arah pintu. Dilihatnya Bara yang sudah berdiri di ambang pintu. Hendak menghampiri Fira.


"Fira, suamimu," ucap Selly dan Merry bersamaan.


"Mas, kau kemari. Kenapa tidak bilang dulu?" tanya Fira, sedikit gugup.

__ADS_1


Bagaimana tidak gugup, ia masih mengingat dengan jelas setiap perkataan yang Bara ucapkan tadi di TV. Bahkan ia sendiri sejak tadi kebingungan jika harus bertemu dengan suaminya, harus berekspresi seperti apa.


"Sayang, apa yang kau lakukan dengan teman-temanmu?" tanya Bara, berdiri di dekat Fira.


Fira yang duduk di sofa, segera berdiri menghadap suaminya. "A-aku, sedang bermain tebak gambar bersama mereka," ucap Fira, melirik ke arah Merry dan Selly yang ada di dekatnya.


"Apa kau suka sekali, mencoret wajahmu seperti ini?" Bara mengusap lembut, pipi Fira yang di penuhi dengan coretan lipstik. Bara memegang kedua pipi Fira, sambil memperhatikan wajah cantik istrinya yang dipenuhi coretan berwarna pink.


"Mas, le-lepaskan tanganmu." Fira mencoba menjauhkan tangan Bara dari wajahnya.


"Kenapa? Apa karena teman-temanmu?" tanya Bara, sejenak melirik ke arah Merry dan Selly.


Merry dan Selly yang mendapat lirikan dari suami sahabatnya itu, mereka langsung menyengir kuda. Seakan mengerti apa yang harus mereka lakukan.


"Oh ya Fira, kita keluar dulu ya, ki-kita, mau membantu Mbak Siti aja di dapur," ucap Selly dan Merry bersamaan. Mereka segera meraih tote bag nya, dan berlalu keluar meninggalkan Fira dan Bara berduaan di dalam.


Dan saat Merry melangkahkan kaki nya keluar dari ruangan Fira, ia tak sengaja menabrak Bara, yang hendak melintas tepat di depan ruangan Fira.


"Aduh!" ucap Merry, memejamkan matanya. Karena menubruk, dada bidang Dion.


"Maaf, maaf, Tuan, teman saya tidak sengaja," ucap Selly, meminta maaf kepada Dion.


"Merry, kau ini, perhatikan langkahmu," bisik Selly kepada Merry.


Sejenak Dion, melihat kemejanya, yang terkena sedikit noda lipstik dari wajah Merry.


Merry membuka matanya, dan betapa terkejutnya ia saat kedua bola matanya, melihat langsung ke arah kemeja yang terkena noda lipstik akibatnya.


"Maaf, Tuan maaf," ucap Merry, sambil mengusap-usap dada Dion, dengan kedua tangannya. Namun seketika Selly menariknya.


Dion dan Merry sejenak beradu pandang. Dion mengerutkan dahinya, saat ia mengingat wajah dari wanita yang ada di hadapannya kini.


"Kau!" ucap Dion, menautkan kedua alisnya.


"Ah... ya ampun, mimpi apa aku semalam, bertemu dengan pria ini lagi," rutuk Merry dalam hati.


"Maaf Tuan, maaf. Selly ayo kita pergi," ajak Merry.


Selly sedikit kebingungan dengan tingkah laku sahabatnya ini.


"Tapi, Fira," gumam Selly.


"Fira, aku dan Selly pulang duluan ya... bye...." teriak Merry, sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan toko Zupa Cake.


Sementara itu Dion masih mematung di tempatnya, melihat kepergian dua wanita yang salah satunya ia kenali.


"Wanita itu kan...." gumamnya


^^^


"Mas, teman-temanku," ucap Fira, ingin beranjak pergi, saat mendengar teriakan Merry. Namun Bara menghalanginya.


"Sudah, biarkan mereka pergi. Lagi pula mereka sudah bersamamu dari tadi," ucap Bara, sambil mengusap lembut, membersihkan wajah Fira menggunakan kapas yang sudah di beri micellar water.


"Tapi, Mas," keluh Fira.

__ADS_1


"Eh... sudah."


"Oh ya, apa tadi siang kau menonton acara talk show itu?" tanya Bara.


Fira kembali mengingat akan hal itu. "Em.. iya," jawabnya mengangguk.


"Apa kau mendengarkan semua perkataanku?"


Fira kembali menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum semangat.


Ah, sepertinya kali ini Fira harus bersiap-siap, menerima pertanyaan yang akan di lontarkan oleh suaminya ini.


"Baguslah kalau begitu," ucap Bara, dengan wajah datarnya.


Fira mengerutkan dahinya, ia sedikit mengerucutkan bibirnya, heran. "Katanya mau bertanya," gerutu Fira.


"Bertanya? Bertanya apa?" tanya balik Bara, seperti orang kebingungan, yang tidak mengerti.


"Hm... sudahlah, lupakan," ucap Fira seakan malas.


Bara tersenyum, saat melihat wajah cemberut istrinya yang begitu menggemaskan itu. Dan seketika Bara, mencium Bibir Fira, yang terlihat sedikit mengerucut karena kesal.


Bara sedikit memberi gigitan kecil di bibir manis istrinya ini. Sehingga membuat Fira meringis, merasa sakit.


"Mas! Kau menggigitku!" seru Fira, melepaskan ciumannya.


Bara terkekeh, rasanya ia semakin gemas melihat ekspresi istrinya itu. "Kalau kau tak terima, silakan gigit aku kembali," ucap Bara, tersenyum mengejek.


"Itu sih, maumu!"


Bara menarik pinggul Fira, mendekatkannya dengan tubuhnya. Hingga kini tubuh Fira sudah ada di dalam dekapan Bara. Bahkan wajah mereka hanya berjarak sekitar 5cm saja.


"Dengarkan aku baik-baik," ucap Bara, menatap wajah Fira begitu dalam, dengan sebelah lengannya yang mengusap-usap lembut pipi Fira.


"Jawab pertanyaanku, dengan sejujur-jujurnya," tutur Bara.


Fira sudah bersiap mendengarkan pertanyaan yang akan di lontarkan suaminya itu, memasang kedua telinganya, agar bisa mendengar dengan jelas setiap perkataan yang akan di lontarkan suaminya.


Namun sebelum Bara bertanya, ia terlebih dahulu mengecup mesra bibir Fira. Yang menggodanya sedari tadi.


"Mas! Kau ini!"


"Ayo, katakan, apa pertanyaannya?" gerutu Fira.


"Kau ini, tidak sabaran sekali," tutur Bara, tersenyum manis memandang wajah Fira.


"Baiklah, dengarkan pertanyaan ini baik-baik, dan kau harus menjawabnya setepat mungkin. Kalau tidak, kau tahu sendiri akibatnya," ujar Bara, tersenyum miring.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2