Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Membeli


__ADS_3

"Aku boleh membeli apa saja yang aku mau?" Tiara ingin mencoba memancing Hans.


"Silahkan saja, kamu pikir aku miskin. Jangan menganggapku remeh, mau beli nanti apa saja yang kamu mau terutama pakaianmu, jangan buat aku malu jika aku membawamu pergi keluar rumah. Kamu akan sering ikut aku bertemu dengan beberapa klien," kata Hans.


"Kenapa harus aku? Kenapa tidak dengan dua istrimu sebelumnya? Bukannya mereka lebih lama bersama denganmu, aturan mereka lebih baik dan mengerti semuanya daripada aku," ucap Tiara.


"Kenapa harus bertanya? Aku tidak dak suka aku kamu banyak bertanya." Hans berjalan mendahului Tiara.


Tiara membuang nafas dengan kasar, ia lupa jika Hans bukan tipe pria yang suka menjawab pertanyaan, seharusnya ia tidak bertanya seperti itu, dan sekarang karena pertanyaannya itu membuat Hans merasa kesal.


"Mas kamu mau aku masakan setiap hari tidak? Kamu suka dengan masakanku kan." Cara kembali berjalan di samping Hans.


Hans tampak berpikir sejenak, ia jarang makan masakan rumahan dan saat memakan masakan dari Tiara dirinya sangat suka. Sepertinya tidak ada salahnya yang memberi kesempatan Tiara untuk menyiapkan makanan untuknya, walaupun ia memang sudah berlangganan di sebuah restoran yang akan setiap hari mengantarkan makanan ke rumahnya..


"Tidak masalah, tapi sekali aku merasakan ada yang tidak enak di masakanmu kamu harus bertanggung jawab," kata Hans.


Tiara mengangguk-anggukkan kepalanya, dirinya sangat percaya diri dengan kemampuannya dalam hal memasak.


"Siap aku akan bertanggung jawab," ucap nya.


Mereka berdua masuk ke dalam sebuah butik pakaian mewah yang terdapat di mall tersebut, Hans meminta agar Tiara segera memilih pakaiannya. Dirinya tidak suka terlalu lama menunggu orang belanja, lebih cepat terasa lebih baik. Sambil menunggu Tiara belanja Hans juga melihat-lihat beberapa barang yang menurutnya ia perlukan.


"Gila harganya mahal sekali, apa mungkin aku mengambil banyak pakaian di sini. Dari pada membeli pakaian di sini lebih baik aku mengambil nya di rumah," ucap Tiara.


Hans berjalan mendekati Tiara yang hanya diam menatap harga setiap pakaian yang ada, ia sangat malu jika Tiara terus melakukan hal itu.


"Ambil," ucap Hans sambil memberikan pakaian yang Tiara sentuh.

__ADS_1


"Tapi mas.."


"Ambi." Hans terus memberikan pakaian baru pada Tiara, sampai tangan Tiara tidak mampu menampung nya.


"Mas sudah banyak," ucap Tiara.


Hans yang sadar akan hal itu langsung membawa Tiara ke tempat pembayaran, ia sudah sangat malu dengan tingkah Tiara tadi.


Mereka hampir membawa 15 paperback dari tempat itu. Tangan Tiara sudah sangat penuh sedangkan Hans hanya membawa beberapa saja.


"Mas letak di mobil dulu," ucap Tiara.


"Jangan manja." Hans terus melangkah kan kakinya kedepan sampai mereka sampai di sebuah restoran Jepang.


"Aku lapar," ucap Hans.


Tiara hanya bisa diam melihat Hans memesan berbagai macam makanan, ia tidak ingin mendahului Hans agar Hans tidak kembali marah pada nya. Sebisa mungkin untuk sekarang ia tidak membuat Hans marah, jika sampai membuat Hans kembali marah sebuah hal bodoh yang pernah ia lakukan.


"Cepat pesan," ucap Hans.


"Iya mas." Setelah mendapatkan perintah dari Hans baru lah Tiara memesan makanan untuknya.


"Diman Abang mu sekarang," tanya Hans


"Dia sedang liburan ke luar negeri," jawab Tiara.


Hans menganggukkan kepala nya, ini menjadi kesempatan nya untuk mendorong perusahaan milik Lisa dan Evans untuk keluar dari saingannya.

__ADS_1


"Kenapa mas?"


Hans hanya diam, ia tidak akan menjawabnya karena hal ini adalah hal yang sangat penting untuk nya.


Tak lama makanan yang mereka pesan pun datang. Hans langsung memakannya, ia jadi ingat dengan makanan Jepang yang Tiara buat untuk nya. Rasanya masih lebat enak milik Tiara dari pada makanan yang ia makan sekarang.


"Tidak enak," ucap Hans.


Tiara menganggukkan kepala nya, menurutnya bukan tidak enak. Rasanya kurang enak, masih bisa di makan oleh nya yang sangat kelaparan.


"Kamu kelaparan," tanya Hans.


"Iya sejak pagi kan kita belum makan," jawab Tiara.


Hans lupa menyuruh wanita ini untuk makan, ia memang tidak biasa makan pagi, kalau Tiara mengikuti kebiasaan nya ia tak yaki lambung wanita ini bisa selamat.


"Lain kali makan. Jangan diam saja, aku tidak mau kamu sakit, kamu pasti akan sangat merepotkan ku," ucap Hans.


"Iya mas maaf ya."


Setelah selesai makan Tiara memohon pada Hans untuk mampir ke tempat perbelanjaan bahan bahan makanan, ia ingin menyetok bahan makanan di kulkas agar ia hisa langsung membuat makanan enak untuk sang suami.


Awalnya Hans tidak mau, belanja seperti ini menjatuhkan harga dirinya, tetapi pada akhirnya dengan keterpaksaan Hans mau melakukan nya. Ia mendapatkan imbalan makanan yang apa Tiara buat khusus untuk nya, dirinya yang sebelumnya memang belum kenyang langsung terbayang bayang makanan yang Tiara buat kemarin.


"Jangan lama lama," ucap Hans sambil memberikan sebuah kartu pada Tiara.


"Untuk apa," tanya Tiara

__ADS_1


"Membeli harga diri mu," jawab Hans.


__ADS_2