
"Tadi Abang dan kakak ipar ku datang ke sini. Aku tidak tau jika mereka berdua ada di sini juga, beruntung nya kamu sedang tidak bersama dengan ku."
"Hahaha burung ku bekerja dengan sangat baik, kalau tidak karena dia sudah pasti aku akan bertemu dengan Abang mu, aku tidak mau bertemu dengan pria itu," ucap Hans.
Tiara menaikkan satu alisnya, sampai sekarang ia masih tidak mengerti kenapa suaminya tidak ingin bertemu dengan abangnya. Tiara rasa pasti akan ada sebuah masalah yang tidak ia ketahui di antara mereka, berharap masalah itu cepat selesaikan ia bisa segera mempertemukan mereka berdua. Kalau seperti ini terus-menerus rasanya sangat tidak enak, dirinya tidak bisa bebas berjalan dengan Hans, mereka tinggal di suatu kota yang sama dan sudah pasti presentasi untuk bertemu lebih besar.
"Kamu kenapa diam? Jangan pikirkan kenapa aku tidak mau bertemu dengan Abang, yang jelas memang ada masalah di antara aku dan dia. Kalau sampai kami berdua bertemu dan dia tahu aku menikah denganmu, kamu akan tidak bisa berteman denganku lagi, apa kamu mau itu jadi," tanya Hans.
"Tidak mungkin aku mau tidak bertemu dengan orang lagi, sebisa mungkin aku menutupi kamu dari dia. Apapun masalah yang ada di antara kalian berdua aku berharap kalian dapat menyelesaikannya dengan cepat, aku ingin kita bisa hidup bahagia bersama-sama," jawab Tiara sambil mengusap tangan suami.
"Semoga saja itu bukan hanya harapan mu," kata Tiara.
Sementara itu dalam perjalanan pulang ke Lisa semakin curiga jika ada yang sedang disembunyikan oleh Tiara, suaminya ini terlalu percaya pada adiknya. Dari gerak-gerik Tiara sejak pertama kali membawa pasangannya ke rumah, sudah membuat Lisa sangat curiga, sekarang ditambah dengan ketidaksengajaan ia bertemu dengan Tiara membuat Lisa semakin curiga dengan Tiara.
"Kenapa kamu jadi diam? Setelah kekenyangan baru diam." Evans menaikkan satu alisnya, jarang sekali lisa menjadi kalem seperti ini.
"Kalau aku jadi kalem seperti ini, sudah pasti sedang ada yang aku pikirkan," ucap Lisa.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan? Bukannya perusahaan sudah baik-baik saja, dan dua orang yang di rumahmu itu sudah tidak membuat masalah, tidak ada yang perlu kamu pikirkan bukan," kata Evans.
"Sayang kamu begitu percaya pada adik mu, aku masih curiga jika dia menyembunyikan sesuatu dari mu, dari gerak-geriknya saja aku tidak dapat melihatnya." Lisa sedikit menatap ke arah Evans.
Evans membalas tatapan dan Lisa. "Emangnya apa sih yang kamu curigakan, aku sangat percaya padanya karena dia memang tidak pernah membuat masalah," ucap Evans.
"Fokus ke depan kamu lagi nyetir, aku curiga akan pasangannya, bisa jadi dia sudah menikah atau malah menikah dengan orang yang berbeda yang dibawa dia ke rumah waktu itu," kata Lisa.
"Apa mungkin bisa seperti itu? Selama ini dia tidak pernah membuat masalah deh. Kalau dia melakukan hal itu bukan itu sudah sangat keterlaluan," ucap Evans.
Evans tampak berpikir sejenak, sepertinya apa yang Lisa katakan itu bisa jadi benar.
"Kalau memang dia di manfaatkan oleh ayah ku aku tidak akan memaafkan ayah ku. Kamu benar dia masih sangat muda dan gampang sekali disetir oleh seseorang," ucap Evans.
"Sekarang tugas kamu sebagai Abang kamu harus mencari tahu siapa yang menyetir Tiara saat ini, sedikit dulu orang tua kamu dia sangat tidak dapat dipercaya, kemudian minta Tiara untuk membawa calon suaminya ke rumah kalau Tiara mempunyai banyak alasan, bilang saja pada dia kamu menyembunyikan sesuatu dari Abang mu," kata Lisa.
"Terima kasih sudah perhatian pada adikku, kamu ke ipar yang baik," ucap Evans.
__ADS_1
"Hahaha aku tidak mempunyai adik seperti dia, sudah menganggap dia adikku dan memang seharusnya aku menjadi kakak ipar yang baik dan perhatian padanya," kata Lisa sambil mengusap wajah Evans.
Tiara dengan Hans sudah kembali ke kantor setelah makan siang bersama. Hans akan melanjutkan pekerjaannya sedangkan Tiara memutuskan untuk istirahat di ruangan pribadi milik suaminya, habis makan memang paling enak rebahan sambil bermain handphone. Apalagi yang tidak mempunyai tugas apa-apa, jika tidak seperti ini ia akan merasa bosan menunggu suaminya bekerja.
"Tiara keluar dulu, tolong buatkan klienku kopi," ucap Hans sambil berjalan mendekati Tiara.
"Sayang kenapa harus aku, kan aku hanya bisa membuat kopi untuk kamu. Aku takut membuat kopi untuk pria lain," kata Tiara.
"Kenapa takut? Dia tidak akan memakanmu dia sudah tua juga," ucap Hans.
"Sayang justru yang tua itu sangat menakutkan, takutnya dia suka padaku dan dia melakukan segala cara biar dia bisa mengambil aku dari kamu, kalau itu terjadi kamu akan sendiri dong, jangan terlalu percaya pada orang lain sayang," ujar Tiara, ini hanya alasan Tiara karena ia malas sekali bergerak dari atas tempat tidur. Dirinya sudah begitu nyaman berada di tempat ini, lagi pula suaminya ada-ada saja malah meminta istrinya sendiri membuatkan kopi untuk kliennya.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau, aku tahu tanya alasan kamu saja. Nanti aku meminta orang luar yang membuat nya. Sekarang letakkan handphone kamu dan istirahat, nanti malam kamu harus bekerja dengan keras," ucap Hans.
"Siap bos." Tiara senyum sambil memberikan hormat pada suaminya.
Hans kembali keluar dari ruangan itu, ia langsung meminta orang lain membuat kopi patuh kelainan dirinya juga. Apa yang Tiara katakan tadi juga benar, seharusnya tidak ikhlas kopi spesial buatan Tiara juga diminum oleh orang lain. Seharusnya kopi itu hanya boleh diminum oleh dirinya.
__ADS_1