Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - Bab 13


__ADS_3

"Tas itu .... Kenapa tas itu mirip sekali dengan tas yang aku pilihkan kemarin sama Mas Damas. Dan ... siapa Damas yang dimaksud oleh Nona Selly," batin Dinda menerka-nerka. Ia sedikit curiga, ketika melihat tas yang digunakan Selly, terlebih ketika Merry menyebutkan nama Damas.


Namun, ia masih bisa menyangkalnya, bahwa tas seperti itu memang terjual di pasaran. Namun, sedikit hal yang tak bisa ia sangkal adalah nama lelaki yang memberi Selly tas itu.


"Sell, jadi dokter kesayanganmu itu, gak bakalan jemput kamu nih?" tanya Dion memastikan. Selly pun kembali mengiyakannya.


"Aku nebeng sama kalian ya. Gak enak aku kalau minta Damas menjemputku ke sini," pinta Selly sambil menyengir kuda.


"Iya, nanti kita antar," timpal Merry.


"Dokter kesayangan? Namanya Damas?" batin Dinda kembali menebak. Tiba-tiba hatinya berubah seakan merasakan suatu hal yang tak normal. Antara cemas, waswas dan ragu.


Ingin rasanya Dinda bertanya siapa gerangan dokter kesayangan yang di ucapkan Dion. Dan siapa gerangan lelaki yang bernama Damas yang di maksudkan Selly. Apakah lelaki yang bernama Damas itu, adalah orang yang sama. Atau Damas beda orang.


Tapi, Dinda tak berani untuk menanyakan hal itu. Hingga pada akhirnya ia pun kembali disadarkan oleh Selly yang tengah menepuk bahunya.


"Kenapa bengong?" tanya Selly. Dinda mengerjapkan matanya.


"Hah? ... oh tidak apa-apa."


"Bay the way, makasih ya hadiahnya. Aku suka. Semoga kamu dan bayinya sehat selalu ya," ucap Selly sembari mengelus lembut perut Dinda yang membuncit itu.


Mereka bertiga pun berpamitan untuk segera pulang, karena waktu yang sudah menunjukkan pukul 20.20 malam.


"Apa aku harus mencari tahu, sebenarnya siapa calon istri Mas Damas?" batin Dinda melihat kepergian mereka.


"Tenanglah Dinda, bisa saja nama calon suaminya Selly itu hanya kebetulan sama saja. Pasti Damas pacarku dan Damas calon suami Nona Selly adalah orang yang berbeda. Iya, pasti berbeda," gumamnya.


"Tapi ... tas dark grey itu, kenapa bisa sama?" batinnya seakan tak tenang. "Ah, sudahlah lupakan saja. Lebih baik aku beberes saja," batinnya.


Siang itu Mayang terlihat sedang berada di tempat fotokopi. Seperti biasa ia datang ke sana untuk mengeprint tugas kuliahnya. Sekaligus ia juga meminta Abang tukang fotokopi untuk mencetak foto dirinya dengan Selly dan Andre, yang beberapa hari lalu itu.


Setelah selesai, ia pun melihat hasil cetakan foto yang berukuran selebar handphone itu. Bibirnya terangkat ke atas, menciptakan lengkungan senyuman yang begitu indah.


"Keren deh, this is the perfect love for my brother," gumamnya sambil memasukkan foto itu ke dalam dompetnya.


Namun, tanpa disadari ada seseorang di belakang Mayang, yang ternyata tak sengaja melihat foto itu.

__ADS_1


"Bukannya itu, Kak Selly sama dokter Andre ya," ucap Lisa dengan spontan.


Mayang yang mendengar suara itu, ia langsung berbalik, menoleh ke arah sumber suara, dan ia mendapati seorang wanita yang sepertinya pernah ia temui sebelumnya.


"Kamu?" gumam Lisa, begitu melihat Mayang.


"Apa orang yang di foto itu adalah Dr. Andre dan Kak Selly?" tanya Lisa begitu saja. Mayang pun mengangguk.


"Mereka menikah?" pekik Lisa, Mayang langsung menggelengkan kepalanya.


"Ti-tidak, bukan. Itu bukan foto pernikahan mereka. Eh iya, kok kamu tahu sama mereka?" tanya Mayang mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Mereka teman kakak ipar ku, jadi aku mengenalnya. Bukankah kita juga sebelumnya juga pernah bertemu?" ujar Lisa. Mayang membenarkannya sambil tersenyum malu.


"Ngampus di sini juga?" tanya Lisa Mayang mengangguk.


"Anak apa?"


"Akuntan," jawab Mayang.


"Oh ya, aku Lisa, kedokteran." Lisa menjulurkan tangannya dan mereka pun saling berjabat tangan, berkenalan kembali.


***


Di rumah sakit.


"Iya Bu, Ibu sama Bapak kapan mau ke sini?" tanya Selly, yang sedang duduk bersantai di atas kursi kerjanya, sambil telepon-an dengan orang tuanya.


"Dua hari lagi ibu sama bapak ke Jakarta, sekalian nunggu selesai pembersihan rumah kita yang dulu. Lagi pula rumah kita yang dulu sudah selesai di renovasi, nanti kamu gak usah nge-kost lagi ya, tempati aja rumah kita yang dulu," suara Bu Ningsih dari balik ponsel.


"Hm... baiklah. Aku juga kemarin baru selesai memesan WO bu, jadi biar nanti pernikahanku dengan mas Damas, gak terlalu ribet buat ngurusin-nya," ucap Selly.


"Baiklah, nanti kalau ibu dan bapak sudah di Jakarta, kita adakan pertemuan keluarga ya."


"Baiklah, kalau begitu. Ibu dan bapak jaga kesehatan ya," ucap Selly sebelum akhirnya ia mengakhiri obrolannya dengan orang tuanya itu.


Selly pun kembali merentangkan kedua tangannya ke atas, ia menggeliat. Seakan membenarkan tulang-tulang punggungnya yang terasa begitu kaku.

__ADS_1


"Udah jam 4 sore, Mas Damas udah beres belum ya?" gumam Selly hendak mengirim pesan kepada Damas, namun ia urungkan.


"Ah, lebih baik aku menemuinya saja langsung," gumam Selly, ia pun langsung merapikan meja kerjanya. dan bersiap untuk pergi ke ruang kerja Damas, yang berada di lantai dua.


Ting ... begitu suara lift terdengar, dengan pintu yang sudah terbuka. Selly pun segera keluar dari lift itu. Benturan suara sepatu pantofel yang beradu dengan lantai, terdengar cukup jelas. Melangkah, selangkah demi selangkah menyusuri lorong.


Dan tanpa di sengaja, Selly melihat seorang wanita yang sudah di pastikan ia begitu mengenalinya, baru saja keluar dari ruang kerja Damas.


Wanita itu keluar dengan memasang wajah ceria, seolah begitu bahagia. "Dinda?" batin Selly, ia mengerutkan dahinya, karena begitu heran.


Selly hendak memanggil nama Dinda, namun wanita itu keburu hilang, masuk ke dalam lift yang ada di ujung lorong sana.


"Kenapa dia bisa ada di ruang Mas Damas? Apa dia sakit jantung?" gumam Selly. Karena yang ia tahu, setiap orang yang masuk ke dalam ruang kerja Damas, mereka adalah pasien yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru.


"Hm, sudahlah... mungkin Nona Dinda sedang ada penyakit dalam," gumamnya. Kemudian ia pun segera masuk ke dalam ruang kerja Damas tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Kenapa kembali lagi? Aku kan sud---" Ucapan Damas terhenti, diiringi dengan mimik wajahnya yang terlihat seolah terkejut.


"Selly," ucap Damas begitu gugup.


"Tadi, kamu mau bicara apa?" tanya Selly menyelidik.


"Hah? Ti-tidak, aku tidak ingin berbicara apa-apa. Kau kemari kenapa tidak mengetuk pintunya dulu?" tanya Damas, tegang.


"Memangnya kenapa? Aku biasa juga kan jarang mengetuk pintu," ujar Selly.


"Apa barusan ada pasien lagi?" tanya Selly.


"Hah? T-tidak, tidak ada pasien, aku sudah selesai dari 15 menit yang lalu," jawab Damas, jujur tanpa memikirkan akan wanita yang tadi ia temui.


Bersambung...


Sekedar info, untuk kelanjutan dari cerita anak-anak Fira dan Bara akan author up malam ini ya...


Judul : Tubir Hati Cahya


Penulis : Delia Septiani

__ADS_1


Update setiap hari di : Noveltoon


Terima Kasih, mohon dukungannya ya mentemen 😊🙏


__ADS_2