Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Wanita di Depan Pintu


__ADS_3

Pagi harinya, setelah selesai sarapan pagi, Bara segera pergi ke kantornya, ia berangkat lebih awal dari jam biasanya, karena pagi ini ada suatu proyek yang harus di kerjakannya.


Sementara Fira, pagi ini ia terlihat sangat bermalas-malasan, rasanya ia ingin sekali, tidur seharian hari ini, padahal pekerjaan di toko sedang banyak, terlebih minggu ini tokonya kebanjiran orderan. Tapi mau tak mau, Fira harus pergi ke toko untuk mengecek semua pesanan dan menjurnal keuangan pekan ini.


"Bim, anterin Kakak ke toko yuk," ajak Fira. Bima yang tengah fokus membaca koran, ia segera mengiyakan ajakan Kakaknya itu, dan berlalu ke kamar untuk bersiap dan mengambil kunci motornya.


"Ayah ... Fira dan Bima berangkat dulu ya," pamit Fira dan Bima. Alex mengiyakan, ia juga tengah asyik menikmati secangkir kopi, sebelum berangkat bekerja.


Kini Fira dan Bima pun pergi ke toko kue, menggunakan motor moge milik Bima. Dan ketika di tengah jalan, tiba-tiba Fira menyuruh Bima untuk menepikan motornya, ke pinggir jalan.


"Ada apa?" tanya Bima, menoleh sambil membuka kaca helmnya.


"Tunggu dulu di sini, Kakak mau beli bubur itu," ucap Fira, menunjuk ke arah tukang bubur yang sedang mangkal di depan masjid, di pinggir jalan. Ia pun segera turun dari motor, dan berlalu pergi ke tukang bubur.


"Bubur untuk siapa?" gumam Bima, heran.


Tak lama kemudian, Fira kembali dengan membawa satu kotak bubur, di dalam keresek.


"Sudah, ayo!" Fira naik kembali ke atas motor.


"Itu bubur buat siapa Kak?" tanya Bima, sambil menghidupkan mesin motornya.


"Buat Kakak lah. Kamu mau?"


"Buat Kakak? Bukankah tadi Kakak sudah sarapan nasi goreng?"


"Memang, tapi Kakak masih lapar, hehe," ucap Fira, melebarkan senyumannya.


"Ya Allah Kak, memang gak takut gendut?"

__ADS_1


"Sembarangan!" Fira menepuk helm Bima, dengan kesal. "Kamu ngatain Kakak gendut!"


"Siapa yang ngatain! Bima tadi cuma nanya!"


"Nanya, nanya! Tadi kamu tuh ngatain Kakak gendut!" gerutu Fira, seakan kesal.


Bima hanya menggelengkan kepalanya. "Engga, Kakak salah dengar kali. Kak Fira gak gendut kok, cantik langsing, bagus!" ucapnya, terpaksa karena tak ingin melanjutkan perdebatan yang tak akan ada ujungnya. Bima pun segera melajukan motornya, menuju toko kue kakaknya.


Sesampainya di sana, Fira sedikit terkejut akan kehadiran Merry dan Selly, yang sepagi ini sudah ada di tokonya.


"Selly, Merry," ucap Fira, seraya turun dari motor, ia segera melepas helmnya, lalu memberikannya kepada Bima.


"Kalian, ada apa kemari sepagi ini?" tanya Fira heran.


"Ya ampun Fira... apa kamu lupa, sekarang kan hari penyerahan revisi," ucap Selly, mengingatkan.


"Benarkah? Ah ya ampun, kenapa aku bisa lupa" Fira menepuk jidatnya. Ia segera masuk ke dalam tokonya, dan pergi ke ruang kerja pribadinya, di ikuti oleh Selly dan Merry yang membuntutinya dari belakang.


"Tidak ada," gumamnya.


"Apa? Kau mencari apa Fir?" tanya Merry.


"Em... kalian tunggu di sini ya, aku akan pergi ke apartemen ku dulu," ucap Fira.


"Ini, kalian boleh memakan bubur ini kalau mau," sambungnya sebelum benar-benar pergi.


"Wah... kebetulan aku belum sarapan," ucap Merry dengan semangat, ia pun berteriak mengucapkan terima kasih kepada Fira, sebelum ia benar-benar menyantap bubur itu, sedangkan Selly ia hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat sahabatnya yang melahap bubur seperti orang kelaparan.


"Bima, ayo anter Kakak ke apartemen," ucap Fira, segera menarik Bima, yang tengah duduk santai menikmati sepotong cheese cake, yang sempat ia minta di dapur.

__ADS_1


"Kenapa buru-buru?" tanya Bima, dengan suara tak jelas, karena mulutnya di penuhi dengan chsee cake yang baru di makannya.


"Sudah cepat, ayo, nanti kesiangan," ucap Fira segera memakai helmnya. Begitu pun dengan Bima yang tengah bersiap, dan segera menghidupkan mesin motornya.


***


Kini Bima dan Fira sudah sampai di apartemen, Fira terlihat sangat terburu-buru, hingga ia lupa melepaskan helm di kepalanya. Ia pun berbalik ketika melihat pantulan dirinya di kaca lobby.


Fira segera melepas helmnya, kemudian memberikannya kepada Bima, yang baru saja selesai memarkirkan motornya.


"Ayo, cepat ikuti Kakak." Fira berjalan terlebih dahulu memasuki gedung apartemen, di ikuti oleh Bima yang ada dua meter di belakang Fira. Mereka berdua pun segera menaiki lift, menuju lantai yang di tuju.


Ting, suara lift terbuka, Bima dan Fira segera keluar dari Lift, ini untuk pertama kalinya, Bima mengunjungi apartemen milik kakaknya itu. Karena selama ini, kalau ada pertemuan keluarga pasti berkumpul di rumah Papa Hito.


Fira berjalan menuju unitnya, dan ia sedikit di kejutkan dengan kehadiran seorang wanita yang tengah, berdiri tepat menghadap pintu ruang apartemennya.


Wanita itu terlihat, seolah menunggu pintu itu di buka. Ia juga memencet bel beberapa kali. Fira semakin mendekat, dan terus mendekat sampai ia sedikit tercengang, karena wanita yang tengah berdiri di depan pintu apartemennya itu tak lain ialah Raina.


"Raina," ucap Fira pelan. Raina seketika menoleh, ke arah sumber suara yang menyebutkan namanya.


"Fira," ucap Raina, pelan. Kini mereka berdua saling beradu pandang, menatap dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


"K-kau, sedang apa?" tanya Fira


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa like, komen dan votenya 🥰


__ADS_2