
Keadaan masih terasa begitu kaku mencekam, semua sorot mata kini sedang tertuju padanya. Selly tak bisa mengambil keputusan lain selain ia memang harus meluruskan semuanya, mengatakan yang sebenarnya.
"Pak, dengarkan Selly dulu Pak," pinta Selly memohon.
Pak Setyo masih terdiam dengan menahan amarah di dadanya. Menatap Selly dengan tatapan yang begitu tajam, hingga membuat Selly diam membeku.
"Aku harus menghubungi Gerry," gumamnya dalam hati. Lalu ia pun meraih ponsel yang tersimpan di dalam tas kecil miliknya.
"Selly, sebenarnya apa yang membuatmu ingin membatalkan perjodohan ini Nak? Undangan sudah selesai di cetak, bahkan sebagian sudah Ibu sebarkan ke kerabat Bapakmu, kalau sampai batal, mau di taruh di mana muka kami Nak," ujar Ningsih selembut mungkin namun tetap, ia pun merasa sedikit kecewa mendengar permintaan anak tunggalnya itu.
***
Sementara itu, seorang lelaki, terlihat sedang sibuk memainkan dua ponsel canggih zaman sekarang. Lelaki itu tak lain ialah Gerry, ia memandang ponsel berwarna hitam di tangan kanannya sambil sesekali mengecek ponsel hitam satu lagi di tangan kirinya.
Tik, tok, tik, tok.
Suara detik jarum jam terdengar begitu nyaring di ruangan yang sepi ini. Ia memandang lurus ke arah jam dinding yang ada di depannya.
"Sudah seharian aku menunggu kabar dari dia. Hm ... apa aku kirim saja ya semua bukti di ponsel milik si Damas ini," ujar Gerry sambil membuka unlock ponsel milik Damas.
Meskipun ia sebelumnya kesulitan untuk membuka ponsel milik Damas karena terkunci oleh pin, namun, masalahnya bisa selesai begitu cepat ketika ia membawa ponsel itu ke salah satu temannya yang jago servis handphone dan jago hacker juga. Jadi, kalau hanya untuk membuka pin ponsel seperti itu, itu adalah hal yang mudah.
Tib-tiba, sebuah notifikasi pesan, masuk lewat ponsel milik Gerry sendiri.
"Selly," ucapnya pelan nyaris tak bersuara, ketika ia melihat ada satu pesan masuk dari kontak yang bernama Selly. Lalu dilihatnya pesan masuk itu.
[ G, A, Akira Back Retoran --- Selly.]
Gerry pun tersenyum penuh kemenangan. "Baiklah, atas perintahmu, akan ku kirim sekarang juga," ujarnya segera meraih ponsel milik Damas.
***
Sementara itu, suasana di ruang makan privat itu kini semakin tak terkondisikan, setelah beberapa kali berdebat dengan Damas, Selly akhirnya tak bisa diam lagi, ia mau tak mau harus mengutarakan semuanya.
"Pak, Bu, aku sudah jujur, kalau Mas Damas punya wanita lain Pak." Selly masih berusaha untuk membuat kedua orang tuanya itu percaya.
"Sudah cukup! Jangan berbicara yang tidak-tidak mengenai anak saya!" tegas Elin, emosinya seakan terpancing ketika wanita yang tadinya akan menjadi calon menantunya itu ternyata berani menuduh anaknya berselingkuh.
__ADS_1
"Tapi Tante, Selly mengatakan yang sebenarnya," ujar Selly menatap kesal.
"Mana buktinya, sedari tadi kau hanya omong kosong saja! Mana hah! Mana buktinya!" seru Elin tak terima.
"Kenapa Gerry belum mengirimkannya juga, aku harus bagaimana, keluargaku yang akan jadi taruhannya kalau sampai lelaki itu tak mengirimkan buktinya," batin Selly.
Selly pun kembali mengecek ponselnya. Berharap ada kode atau pesan dari Gerry, namun sepertinya tidak ada.
"Kau ini sungguh tidak sopan, orang tua ku sedang bertanya kepadamu, kenapa kau malah memainkan ponselmu!" seru Damas yang ikut geram sekaligus takut, ia benar-benar takut akan semuanya.
"Selly, kalau kau benar-benar membongkar semuanya, ku pastikan hidupmu kedepannya tidak akan tenang," bisik Damas penuh ancaman.
Tiba-tiba .... Tring, drttt, drttt, ting.
Masing-masing ponsel milik mereka mendapat notifikasi line masuk.
"Tante, lihatlah ponsel Tante. Ibu, Bapak dan juga Om, kalian lihatlah ponsel kalian masing-masing. Buka pesan yang ada di line." Selly berucap dengan sedikit gemetar, karena pada akhirnya Gerry mengirimkan buktinya, bahkan Gerry mengirimkan bukti screen shoot pesan antara Gerry dan Dinda. Tak lupa video yang waktu itu Mayang rekam juga ikut di kirim ke nomor mereka semua. Dan sialnya lagi, Gerry menggunakan nomor ponsel Damas untuk mengirim pesan itu.
"Apa yang kau lihat!" Damas merebut paksa ponsel milik Selly. Dan bertapa terkejutnya ia saat melihat pesan yang di kirim dari nomor ponselnya sendiri.
"Brengsek! Jadi dia menggunakan ponselku untuk melakukan semua ini," gerutu Damas dalam hati. Emosi Damas semakin bergejolak di dadanya. Ia semakin takut ... takut kalau Ayahnya akan mengamuk dan menyiksanya.
"Apa maksud semua ini hah?" Ayah Dirga menajamkan tatapannya kepada Damas. Ia tahu betul siapa wanita yang ada di dalam video itu.
"Kau masih berhubungan dengannya hah!" Langkah kakinya kini mendekati Damas, yang semakin ketakutan. Damas masih tak bergeming, ia sudah tertangkap basah. Eh, bukan basah lagi tapi sudah tertangkap kuyup.
"Ayah, a-aku bisa menjelaskan semuanya Yah," ujar Damas panik saat melihat tangan Ayahnya yang sudah mengepal erat, menggantung di udara.
Dan, plak ... dengan penuh emosi Dirga menampar Damas di hadapan semua orang. Sontak membuat Elin yang meliha tingkah suaminya itu, langsung mencoba menenangkannya. Begitu pun dengan Pak Setyo yang mencoba menjauhkan tubuh Dirga dari anak bungsunya itu.
"Berani-beraninya kau berhubungan dengan gadis tidak jelas itu!" Keningnya mengerut dengan rahang yang sudah mengeras, Dirga menatap anak bungsunya itu dengan tatapan penuh amarah.
Sebelumnya Dirga dan Elin sudah tahu akan hubungan Damas dengan Dinda, tapi mereka menolak hubungan anaknya itu karena Dinda yang tak jelas asal usul keluarganya.
Damas mengepalkan kedua tangannya dengan penuh emosi, kepalanya masih tertunduk, menatap lantai dengan tatapan penuh kebencian. Ia benar-benar dipermalukan di hadapan Selly dan juga keluarganya.
"Dasar anak tidak berguna!" Lagi-lagi Dirga mengeraskan suaranya. Setyo masih berusaha agar sahabatnya itu bisa menahan emosinya, jangan sampai hal yang tidak diinginkan terjadi.
__ADS_1
Lalu, Elin menunduk malu karena sebelumnya ia sudah memarahi dan menyentak Selly, karena ia percaya bahwa Damas tidak seperti apa yang dibicarakan oleh Selly, namun ternyata, kenyataannya Damas memang seperti itu.
"Tante, Om, maafkan Selly ... Selly tidak bermaksud membuat keadaan jadi seperti ini, tapi—"
"Berhenti berbicara!" Damas tiba-tiba menyambar dengan penuh emosi.
"Puas kau hah! Puas sudah mempermalukan aku di depan orang tuaku dan orang tuamu hah!" Damas berseru penuh emosi.
Dan ... plak ....
Sebuah tamparan keras tiba-tiba melayang begitu saja dari tangan Ningsih, tepat di sebelah pipi Damas, ia begitu tak terima ketika melihat anaknya dibentak-bentak oleh Damas, lelaki yang kurang ajar.
Sontak hal itu membuat Damas semakin terpancing emosinya. “Sialan, berani-beraninya dia menamparku!” umpatnya dalam hati.
"Dasar kurang ajar! Beraninya kamu membentak anak saya!" seru Ningsih.
Keadaan semakin runyam, karena kini bukan hanya Damas dan orang tuanya yang berdebat, tapi juga ... Ningsih dan Elin, yang sama-sama tak terima anaknya diperlakukan seperti itu.
“Anda ini, tidak sopan sekali! Berani-beraninya menampar anak saya!” seru Elin begitu geram.
“Anak Anda memang pantas mendapatkannya! Sudah berani berbohong, malah membentak-bentak anak saya pula!” timpal Ningsih yang tak kalah emosi.
Selly mencoba melerai semuanya, begitu pun dengan Pak Dirga yang mencoba menenangkan istrinya itu.
Tapi, tiba-tiba ....
Bruk ... Setyo jatuh, terkulai di atas lantai. Sontak membuat Selly dan Ningsih terkejut melihatnya.
"Bapak," pekik Selly membelalakkan kedua matanya.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Wah Pak Setyo kira-kira kenapa tuh?