
Satu minggu setelah acara pertunangan, Dion dan Merry mereka berdua terlihat semakin akrab, terlebih Dion sekarang sepertinya sedang berusaha untuk membuka hati wanita yang telah jadi tunangannya itu.
"Ini," ujar Dion sambil menyerahkan dua lembar tiket nonton di atas meja kerja Merry.
"Apa ini?" tanya Merry seraya mengalihkan fokusnya.
"Tiket nonton, buat malam ini," jawab Dion sambil mengembangkan senyumannya.
"Tapi sekarang kan malam Rabu, kenapa gak malam Minggu aja nonton-nya?"
"Ya gak apa-apa, kalau kamu mau, nanti malam Minggu kita nonton lagi."
"Cie... suit, suit ... yang abis tunangan lengket banget sih, sekalian aja tiap malam nonton-nya, ha ha," ledek salah seorang teman kerja Merry yang meja kerjanya tak jauh dari Merry.
"Tuh kan. Udah ah, kamu keluar gih! Aku masih banyak kerjaan," gerutu Merry pada Dion dengan raut wajahnya yang memerah menahan malu.
"Tapi, jangan lupa ya nanti malam, aku jemput kamu, bye." Dion pun keluar dari ruang kerja Merry. Sementara tiga teman-teman Merry yang satu ruangan dengannya, kini tengah menggodanya, hingga membuat kedua pipi Merry memerah seperti buah tomat yang sudah matang, karena menahan malu sekaligus senang.
***
Sementara itu, sore ini Selly baru saja selesai dengan pekerjaannya, jam pulangnya pun sudah tiba. Di luar ruangan terlihat Damas yang sudah menunggunya.
"Sudah selesai?" tanya Damas begitu Selly keluar dari ruang administrasi. Selly pun mengangguk mengiyakan.
Lalu mereka berdua pun segera pulang, seperti biasa jika jadwal pulang mereka beriringan, Damas akan mengantarkan Selly pulang terlebih dahulu, meskipun jarak menuju kost-an Selly melewati apartemen tempat tinggalnya, tapi itu tak masalah bagi Damas.
Sambil fokus menyetir, Selly dan Damas kerap saling mengobrol, meskipun Selly masih merasa canggung, karena hingga saat ini, Selly masih belum bisa menerima Damas di hatinya.
"Loh, kok beda jalan?" tanya Selly, seakan khawatir.
"Kita ke resto, makan dulu ya," jawab Damas, Selly pun menghembuskan nafasnya merasa lega. Sebenarnya Selly termasuk orang yang parno-an ketika di bawa pergi berduaan oleh laki-laki lain, kecuali ayahnya sendiri.
Kini Selly dan Damas pun masuk ke salah satu restoran yang cukup unik dan terkenal bahwa restoran ini adalah restoran romantis, tempat berkumpulnya para pasangan. Dan benar saja, sore ini pun banyak para pengunjung yang datang, terutama pasangan remaja dan anak sekolah yang sepertinya lagi masa-masanya kasmaran.
Selly dan Andre pun mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi meja yang tersedia di sana, dan mereka berdua pun segera memesan makanan.
"Oh ya, apa ibumu sudah memutuskan tanggal pernikahan kita?" tanya Damas.
"Em ... sepertinya belum Mas, aku juga belum nelepon ibu lagi."
"Oh, baiklah." Damas menganggukkan kepalanya pelan.
"Mas ...." Selly hendak bertanya, namun ia terlihat merasa ragu, karena takut menyinggung perasaan Damas.
"Iya."
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" ucap Selly ragu-ragu. Damas pun mengangguk mempersilakannya.
"Maaf, kalau aku menyinggung perasaan kamu, tapi sebenarnya ... aku penasaran, kenapa kamu mau menerima perjodohan ini? Apa sebelumnya kamu pernah menolak perihal perjodohan antara orang tua kita ini?" tanya Selly. Damas pun sejenak terdiam sebelum ia menjawab.
"Em... bukankah orang tua kita ini sudah dekat sejak dulu, terlebih ayahku dan ayahmu kan memang bersahabat sejak mereka masih muda. Jadi perihal perjodohan ini, sama sekali aku tak menolaknya," jawabnya dengan santai.
"Em ... apa sebelumnya kamu punya pacar atau cewek yang lagi dekat gitu?"
Damas menarik nafasnya begitu dalam lalu menghembuskannya. "Pernah, tapi ... sebelum kita di jodohkan hubungan aku dan dia sudah berakhir," jawab Damas.
"Kenapa bertanya seperti itu? Apa sebelumnya kamu punya pacar juga?" tanya balik Damas.
Selly sejenak mengembangkan senyumannya, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa hanya penasaran saja ... dan aku pun tidak punya hubungan spesial dengan orang lain," jawabnya sedikit gugup.
Damas pun tersenyum, sebelah tangannya mencoba menyentuh tangan Selly yang menumpu di atas meja, namun Selly segera menarik tangannya, begitu Damas berhasil menyentuhnya.
"Kenapa?" tanya Damas, seakan tersinggung ketika Selly enggan di sentuh olehnya. Karena sudah beberapa kali Damas mencoba memegang tangan Selly, tapi Selly selalu berusaha menjauhkannya.
"Ma-maaf Mas, a-aku hanya merasa tidak nyaman saja," jawab Selly sambil menundukkan kepalanya. Damas pun sedikit terlihat kesal, ia hanya bisa mengulum lidah sambil membuang wajah ke sembarang arah.
__ADS_1
"Baiklah, tidak apa-apa," timpal Damas seolah berat hati.
***
Selesai memfotokopi beberapa makalah untuk tugas kuliahnya, Lisa pun segera berlalu menuju apotek yang ada di sebrang jalan, masih di sekitar kampusnya.
Ia membeli beberapa alat medis untuk praktik kuliahnya nanti. Lisa pun harus kembali lagi menyeberang jalanan, karena arus jalanan untuk pulang ada di sebrang sana.
"Huh, repot sekali sih kuliah kedokteran, mesti bolak balik ke fotokopi sama ke apotek terus," gerutunya kesal sambil menunggu kendaraan lewat untuk menyeberang.
"Sabar, nanti kalo udah lulus malah rebih repot," ucap seseorang dari belakang. Lisa pun otomatis menoleh ke arah sumber suara.
"Pak dokter," pekik Lisa sedikit terkejut.
"Pak dokter ngapain disini?" tanya Lisa spontan.
"Mau nyeberang," jawabnya dengan santai.
"Eh, maksud saya kenapa Pak dokter ada di sekitar kampus ini?"
"Em... ada perlu saja dengan dosen di sini," jawab Andre cuek, namun tiba-tiba. "Ayo nyebrang," ucap Andre, menengok kanan-kiri sambil menarik lengan Lisa.
Lisa sedikit tercengang, karena tanpa aba-aba apa pun dokter Andre sudah menarik lengannya. Ia membulatkan kedua bola matanya, melihat jari jemari Pak dokter yang memegang lengannya.
"Sudah," ucap Andre sambil melepaskan genggamannya. Lisa masih tercengang heran.
"Kamu pulang ke mana?" tanya Andre, Lisa masih terdiam tak menjawab.
"Hey, gadis kecil, kau mau pulang ke mana? Ke rumah orang tua mu, atau ke mana dulu?" tanya Andre sekali lagi. Lisa pun tersadar akan lamunannya.
"Hah? Ke-ke ... ke rumahmu." Seketika Andre mengernyit.
"Eh, maksudnya ke rumahku, rumah orang tuaku," sambungnya gugup.
"Masuklah, taksi pertama untukmu saja," ucap Andre sambil membukakan pintu taksi itu untuk Lisa. Lisa pun mengangguk dan segera masuk ke dalam taksi.
"Terima kasih Pak dokter," ucapnya sebelum ia menutup pintu mobil. Andre hanya mengangguk mengiyakan.
Karena hari sudah sore, Andre pun memutuskan untung langsung pulang juga. Sebenarnya ia ke kampus ini hanya untuk mengambil tugas kuliah seseorang, yang mungkin orang itu sering merepotkannya tapi juga disayanginya.
***
Malam pun tiba Merry dan Dion kini sedang berada di salah satu Mall besar di daerah Jakarta. selagi berjalan sambil mengitari jajanan yang ada di lantai utama, Merry memutuskan untuk membeli jajanan dulu. Karena jam menonton pun masih terbilang cukup lama.
Ketika Merry dan Dion sedang menunggu makanan yang mereka beli selesai di buat, dari belakang ada seseorang yang menepuk bahunya. Merry pun menoleh, dan ternyata ia mendapati Fira dan Bara, yang sepertinya baru selesai belanja.
"Cie... calon pengantin lagi ngedate nih," goda Fira sambil terkekeh. Seketika Dion pun menoleh ke belakang yang ternyata sudah ada Bara, tepat setengah meter di dekatnya.
"Ngeborong Bar?" tanya Dion, ketika melihat kedua tangan Bara yang menjinjing begitu banyak barang belanjaan.
"Abis beli apa, banyak banget?" tanya Merry.
"Beli keperluan buat my baby twins," jawab Fira tersenyum lebar sambil mengusap perutnya yang sudah membesar itu.
"Udah gak sabar nih, dari kemarin minta belanja terus," timpal Bara, sambil menggelengkan kepalanya. Karena ini bukanlah belanjaan pertamanya, melainkan sudah tiga hari ini Fira terus-terusan ingin belanja keperluan bayi-bayinya, belum dari online shop, belum barang yang mereka beli sendiri di toko, Fira dan Bara begitu antusias menyambut kelahiran dua Baby twins nya. Terlebih mereka hanya perlu menunggu dua bulanan lagi untuk menantikan kelahiran sang buah hati.
"Eh iya, mau ikut nonton gak? Ada film horor yang seru, masih baru. Aku sama Dion juga abis ini mau nonton," ujar Merry dengan semangat.
Fira pun begitu antusias mendengarnya dan ia pun meminta kepada Bara untuk nonton terlebih dahulu sebelum pulang. Namun Bara menolaknya.
"Sayang, kita di sini udah dua jam, aku gak mau kalo kamu sampek kecapek-an. Sekarang kita pulang aja ya, besok lagi nonton-nya," bujuk Bara, namun Fira tetap merengek ingin nonton bersama Merry dan Dion malam ini juga.
"Kau sih, main ajak-ajak segala," bisik Dion di dekat daun telinga Merry.
"Ya emangnya kenapa? Lagian nonton kan cuma duduk bukan lari-larian, jadi gak bakalan bikin capek," gerutu Merry berbisik pada Dion. Dion pun hanya menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Sayang, ayo... malam ini aja, anak-anak kita juga di dalam pasti mau nonton. Iya kan sayang?" tanya Fira pada perutnya sendiri.
"Jangan jadikan anak kita sebagai alasan kamu mau nonton. Lihatlah, Mama kalian ini, meng-kambing hitamkan kalian," ucap Bara, kepada perut Fira. Fira yang melihatnya malah terkekeh.
"Ya sudah, ayo!" ucap Bara sedikit kesal, namun bagaimana pun ia tetap tak bisa menolak permintaan istri tersayangnya itu.
Dan setelah selesai membeli makanan, Merry dan Dion pun menyusul Fira dan Bara yang tadi berpamitan untuk membeli tiket nonton.
Kini mereka semua sudah masuk ke ruang bioskop. Bara dan Fira kebagian di jajaran ke tiga paling depan, sementara Dion, ia memang sengaja memesan tempat duduk di jajaran paling ujung.
"Kenapa mesan kursinya di sini sih! Kenapa gak di tengah aja?" gerutu Merry.
"Ini kan film horor, kalo terlalu depan nanti kamu takut lagi," jawab Dion, mencari alasan. Padahal Dion berharap kalau duduk paling belakang, jika Merry ketakutan ketika melihat hantu di film, ia tidak akan sungkan untuk mencari kesempatan memeluknya.
Film pun mulai di putar, adegan-adegan jump scare-nya lumayan membuat para penonton merinding ketakutan. Sambil menikmati film, Fira sesekali bersembunyi di balik bahu Bara. Dan tak jarang Fira mengeratkan tangannya ke lengan Bara, yang sedikit membuat lengan Bara kesakitan. Namun, meskipun seperti itu, Bara tetap menyukai suasana seperti ini. Apalagi setelah sekian lama mereka tidak menonton dengan posisi romantis seperti ini, Bara sungguh menikmati momen ini.
Sementara itu, di bagian belakang. Dion masih berharap kalau Merry ketakutan melihat hantu di film, ia akan memeluknya, setidaknya bersembunyi di bahunya. Namun, ternyata ekspetasi-nya salah, Merry kalau ketakutan lebih memilih menutup matanya dengan telapak tangannya sendiri.
"Yah... bagaimana mau romantis, dianya aja cuek begitu," gerutu Dion dalam hati. Sejak film di putar, Dion tidak terlalu fokus menonton, ia lebih fokus memperhatikan Merry meskipun ia masih curi-curi pandang untuk melihatnya.
Dion pun memutuskan untuk menikmati pop corn saja, sambil meminum coca-cola. Dan ketika Dion hendak mengambil sebutir pop corn, tangannya bersamaan bersentuhan dengan tangan Merry, dan sejenak mereka berdua saling beradu pandang. Hingga membuat Dion, ter fokuskan akan bibir tipis Merry yang berwarna cherry itu.
Jantungnya terasa berdegup kencang, ingin rasanya ia bisa menyentuh bibir tipis berwarna cherry milik Merry itu, namun nyalinya terlalu menciut. Sementara Merry hanya menatap heran.
"Kenapa dia menatapku seperti itu, apa ada sesuatu yang salah di wajahku?" gumam Merry dalam hati sambil terus menatap kedua mata Dion.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Merry begitu pelan. Dion masih tak bergeming, tatapannya terasa semakin dalam. "Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Merry dengan memasang wajah polosnya yang menggemaskan.
"Iya," jawab Dion. Merry pun segera mengusap-usap wajahnya.
"Apa kau bisa menghilangkan itu di wajahku?" pinta Merry. Dion pun mengangguk, kini sebelah tangannya mulai meraba dengan lembut wajah Merry. Perlahan ibu jarinya bergeser mengusap lembut bawah bibir Merry.
Dion dengan susah menelan salivanya yang seakan tercekat di kerongkongan. Wajahnya mendekati wajah Merry, bahkan kini jarak wajah di antara mereka berdua hanya berkisar 5cm, saja.
Jantung Merry seketika memompa lebih cepat, perasaan hangat tiba-tiba mendesir di sekujur tubuhnya. Entah apa yang dirasakan wanita ini, tapi sentuhan lembut dari tangan Dion mampu membuat sekujur tubuhnya terasa kaku.
Dion semakin mendekatkan jarak wajah diantara mereka, dan ketika mata mereka berdua hampir tertutup, tiba-tiba suara mengejutkan terdengar dari audio film. Membuat Merry yang mendengar, terperanjat ketakutan, dan kali ini wanita itu menarik kerah baju Dion, dan membenamkan wajahnya di dada lelaki itu.
Seketika Dion membuka matanya, ciuman yang hendak dilakukannya ternyata gagal. Namun, itu tak mengecewakannya karena pada akhirnya, harapannya kali ini terwujud. Dion melipat kedua bibirnya, menahan senyum karena kini Merry sedang bersembunyi, membenamkan wajahnya di dada bidang miliknya. Tiba-tiba jantungnya kembali terasa bergendang begitu cepat.
Dan dengan pelan, Dion pun mengusap lembut kepala Merry, sambil terus tersenyum.
"Apa hantunya sudah menghilang?" tanya Merry, yang masih dengan posisi yang sama.
"Belum, hantunya sedang berkeliaran. Jangan dulu melihatnya, kau akan ketakutan," ujar Dion, membuat Merry semakin mengeratkan kaitan tangannya di kerah baju Dion.
Hingga lima menit berlalu, Merry pun kembali bertanya, akan hantu itu. Namun, Dion menjawabnya dengan berbohong. Kemudian Merry yang seakan curiga ia memberanikan diri untuk kembali melihat ke layar film, dan ternyata hantunya sudah tidak ada.
"Kau membohongiku! Dasar, mencari kesempatan saja!" gerutu Merry mengerucutkan bibirnya, sambil membenarkan poni rambutnya yang sedikit acak-acakan.
Dion hanya bisa tersenyum, menyengir kuda. Ada rasa senang yang tak bisa diungkapkan oleh mulutnya. Entahlah, apa mungkin ini pertanda bahwa hatinya sudah mulai terbuka untuk menerima keberadaan wanita yang kini ada di sampingnya itu. Yang jelas, kini Dion merasa begitu nyaman berada di dekat Merry.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukungan like, komen dan votenya.
Mampir juga di karya author yg berjudul MY ANNOYING WIFE sudah up, hingga bab ke 15
__ADS_1