
"Jangan menyentuhku!" teriak Raina, yang masih terduduk di atas lantai, matanya memerah, luapan emosi di dalam dadanya seakan semakin memuncak. Apalagi saat Fira mencoba membantunya.
"Beraninya kau mendorong Fira!" seru Bara, tangannya mengepal, rahangnya mengeras, kesal dan marah karena melihat perilaku Raina yang di luar dugaan. Bara segera membantu Fira untuk berdiri.
"Benar-benar di luar ekspetasi ku. Aku tak menyangka secinta itu Raina kepada Bara," gumam Dion, yang masih duduk menyaksikan kejadian ini.
"Bara... aku mencintaimu," lirih Raina, dengan suara sesenggukan, dengan deraian air mata yang tak berhenti.
“Raina, apa kau sudah tidak waras! Jangan berperilaku seperti itu kepada istriku!” sentak Bara, sambil menggiring Fira agar duduk kembali di kursinya.
"Seharusnya dulu aku tidak menerima cintamu! Dan seharusnya kau sadar akan cintamu itu, yang hanya menjadi racun bagi hatimu. Bahkan kau rela berperilaku seperti ini, apa kau kehilangan harga diri mu hah!" tutur Bara.
"Aku tidak peduli..." teriak Raina, seperti orang yang sudah gila karena cinta, “Aku tidak peduli!”
Bara semakin tak bisa mengendalikan emosi Raina, ia takut kalau Raina akan melakukan hal yang tidak di inginkan kepada Fira.
"Fira, lebih baik kita pulang. Di sini keadaannya susah tidak aman," ajak Bara. Fira seakan enggan meninggalkan tempat ini, terlebih ia kasihan kepada Raina, yang sedari tadi memohon kepada Bara.
"Dion, kau uruslah dia," ucap Bara, hendak berlalu keluar dari ruangan ini. Namun lagi-lagi, Raina memeluk sebalah kaki Bara, yang hendak melangkah keluar itu.
"Bara... jangan tinggalkan aku..." lirihnya.
"Dion!" panggil Bara, sambil memejamkan matanya, merasa kesal dengan perilaku Raina.
Dion dengan cepat, menarik tubuh Raina, menjauhkannya dari Bara. Namun Raina terus meronta minta di lepaskan. Sedangkah Bara ia segera berjalan keluar sambil menggiring tubuh Fira, dalam rangkulannya.
"Mas, Nona Raina," ucap Fira, sambil terus menengok ke belakang, menatap ke arah pintu ruangan itu yang masih terbuka.
Kini Fira dan Bara, segera turun meniti tangga. Karena jika turun menggunakan lift, mereka harus menunggu nya cukup lama.
Dan di saat Fira dan Bara, sudah sampai di anak tangga terakhir di lantai satu, mereka mendengar suara Raina yang terus memanggil nama Bara.
Mereka mendongakkan kepala mereka melihat ke atas anak tangga. Dan benar, Raina sedang turun meniti tangga, ingin mengejar Bara, sambil terus memanggil nama Bara, dengan di ikuti Dion yang mengejar Raina dari belakangnya.
"Bara, tunggu aku Bara," suara Raina, terus memanggil, membuat sedikit kebisingan di restoran ini.
"Cepatlah kita pergi dari sini," ajak Bara, karena ia merasanya tidak nyaman dengan para pengunjung lain yang menatap ke arahnya.
__ADS_1
Raina semakin mempercepat langkah kakinya dan.
Brakkk. "Aaa...." Raina jatuh terguling dari tangga, karena keseleo akibat high hells yang di pakainya, menapaki tangga dengan tidak sempurna.
Semua pengunjung yang ada di lantai dasar, mereka menjerit saat melihat kejadian itu. Bahkan sebagian pengunjung wanita yang melihat kucuran darah keluar dari kepala Raina, mereka segera menghampiri dan mengerumuni tubuh Raina yang tergeletak di lantai.
"Raina!" teriak Dion, saat mengetahui sahabat masa kecil nya itu jatuh terguling. Begitu pun dengan Fira dan Bara, mereka membalikkan badan mereka dan segera menghampiri Raina yang sudah di kerumuni oleh orang bayak.
"Raina," ucap Bara, tak menyangka.
"Dion cepat bawa di ke rumah sakit," ucap Bara. Dion pun menganggukkan kepalanya. Dan segera mengangkat tubuh Raina, yang sudah bercucuran darah dari kepalanya.
Fira, Bara dan Dion, segera membawa Raina ke dalam mobil mereka. Raina di tidurkan di pangkuan Fira, di dalam mobil. Sedangkan Dion dan Bara, mereka duduk di kursi depan. Dion dengan cepat melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
"Mas, apa ada tisu?" tanya Fira yang khawatir melihat derasnya darah yang keluar dari kepala Raina. Bahkan kucuran dari darah itu, tak sedikit mengotori pakaian yang dikenakan Fira.
Bara, mencoba mencari tisu di dalam mobil Dion, namun ia tak mendapati apa pun.
"Tidak ada Fira," ucap Bara.
"Kalau begitu kita pergi membeli tisu dulu ke toko," usul Dion.
Tiba-tiba Fira merobek sebagian kerudung phasmina nya yang cukup panjang itu namun masih menutupi Kepala dan lehernya. Ia segera membersihkan darah yang mengotori sebagian mata dan wajah Raina, kemudian menahan kucuran darah yang keluar dari kepala Raina, menggunakan kain phasmina itu.
"Kak Dion, lebih cepatlah, jangan sampai Nona Raina, kehabisan banyak darah," pinta Fira, yang semakin cemas, akan keadaan Raina.
Dion pun menancapkan gas mobilnya lebih kencang, melaju dengan kecepatan maksimal.
Dan sesampainya di rumah sakit, Raina langsung dibawa ke ruang UGD menggunakan brankar. Dan segera ditangani oleh dokter.
Sementara itu, Dion, ia terlihat sibuk untuk mengurus semua administrasinya. Termasuk memesan ruang VVIP untuk Raina.
***
Kini Raina dibawa ke ruangan khusus, untuk ditangani oleh dokter. Dan memastikan bahwa keadaannya akan baik-baik saja.
Fira, Bara, dan Dion, duduk di luar ruangan itu, menunggu dokter yang menangani Raina, segera keluar. Mereka semua terlihat sangat cemas. Terlebih Dion yang terlihat tak tenang, dan terus mondar-mandir.
__ADS_1
"Mas, a-aku takut sesuatu akan terjadi pada Nona Raina," ucap Fira, sambil meremas pakaiannya, yang masih dilumuri oleh sedikit darah dari kepala Raina tadi.
"Kau tenanglah, semuanya akan baik-baik saja," ucap Bara, merangkul Fira, dan mencoba menenangkannya.
"*Nona Raina, seperti ini karena dia mengetahui hubunganku dengan Mas Bara. Semua ini salahku, seharusnya aku tidak hadir di anatara mereka. Terlebih aku dapat melihat cinta yang dalam dari Nona Raina untuk Mas Bara," batin Fira, seakan tak tenang. Ia merasa bahwa semua masalah ini terjadi akibat kehadiran dirinya.
"Apa yang harus aku lakukan, ya Allah... tolong selamatkanlah Nona Raina, jangan sampai hal buruk terjadi padanya," batin Fira, berdoa di dalam hati*.
Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan penanganan itu, di ikuti oleh dua orang suster yang juga sudah ikut menangani Raina di dalam. Mereka semua segera menghampiri dokter itu.
"Dok bagaimana keadaan teman saya?" tanya Dion, dengan cemas.
"Kalian semua tenang saja, teman kalian di dalam keadaannya baik-baik saja, darah yang keluar dari kepalanya, itu karena ada sedikit sobekan di kulit kepalanya. Dan untung saja, kalian dengan cepat membawanya kesini, kalau tidak, dia akan kekurangan darah. Jadi ... tenanglah, sekarang pasien sedang dalam masa istirahat." tutur dokter itu.
"Apa kita boleh melihatnya?" tanya Fira kepada dokter itu.
"Untuk sementara biarkan pasien beristirahat terlebih dahulu, sekarang kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap dulu. Nanti setelah empat jam, baru kalian boleh menjenguknya," tutur Dokter itu, mereka yang mendengar menganggukkan kepalanya, mengerti akan maksud dari dokter. Dokter dan dua suster yang ada di belakangnya itu pamit dan pergi meninggalkan mereka.
"Syukurlah, kalau Nona Raina tidak apa-apa," ucap Fira seakan lega.
"Fira, lebih baik kita pulang dulu," ajak Bara. Namun Fira menolaknya, ia tak ingin pergi sebelum memastikan Raina sadar dari istirahatnya.
"Fira, ... kau dan Bara pulanglah terlebih dahulu, Raina biar aku saja yang menunggunya, dan aku akan menghubungi neneknya Raina,” ucap Dion.
Bara membenarkannya, dan kembali membujuk Fira untuk pulang terlebih dahulu. Akhirnya Fira pun mengiyakan ajakan Bara untuk pulang terlebih dahulu, terlebih ia harus segera mengganti pakaiannya yang kotor dan kerudungnya yang sobek itu.
Bara dan Fira, berpamitan kepada Dion, dan mereka menjanjikan untuk kembali lagi nanti. Dion pun mengangguk, dan ikut mengantar Bara ke parkiran, dan memberikan kunci mobil milik Dion, agar di bawa oleh Bara. Sedangkan mobil Bara yang tertinggal di restoran tadi, ia menyuruh Mang Dadang untuk mengambilnya.
.
.
.
Bersambung...
Hari ini udah up 2 episode, boleh dong taburin poinnya buat author 😁.
__ADS_1
Terus dukung author dengan cara, like, komen dan vote. Atau mau kasih author koin juga boleh. Dengan senang hati dan bahagia author menerimanya 🥰😘.
Chalangheyo, semuanya ❤️ sampai bertemu di episode selanjutnya.