Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Lamaran


__ADS_3

Pagi ini di kediaman rumah ayah Alex. Fira tengah Asyik melakukan video call bersama Bima, yang sudah dua bulan tinggal di Amsterdam, melanjutkan kuliah dari beasiswa yang diterimanya.


Bara yang membawa satu mangkuk buah potong segar, ia mendudukkan tubuhnya di samping istrinya itu dan ikut mengobrol juga dengan Bima. Menanyai kabar adik iparnya itu. Bara juga tentunya ikut membiayai biaya hidup adik iparnya itu selama di luar negeri.


Setelah selesai melakukan video call dengan Bima. Kini Fira dan Bara melanjutkan obrolan mereka mengenai rumah baru.


Karena sejak satu bulan yang lalu Fira dan Bara memutuskan untuk membeli rumah di daerah elite yang jaraknya tak jauh dari kantor Bara.


"Sayang, nanti kalau minggu depan kita sudah pindah rumah, aku bolehkan main ke kantormu?" tanya Fira, sambil menikmati potongan buah segar itu.


"Tidak boleh! Biar aku saja yang pulang menemuimu setiap jam istirahat kantor. Lagi pula kata dokter kamu gak boleh kecapek-an, apalagi sering bepergian seperti itu. Tidak boleh pokoknya." Bara mengelus rambut Fira dengan begitu gemas. Sementara Fira ia hanya bisa mencebikkan bibirnya.


Sebenarnya sudah dua bulan ini Fira dan Bara tinggal di rumah ayah Alex. Selain menemani ayah yang tinggal sendirian karena tidak ada Bima. Mereka juga memutuskan tinggal di sini, karena ada Tante Moly yang selalu menjaga dan menemani Fira di saat Alex dan Bara pergi bekerja. Sementara apartemen mereka, di biarkan begitu saja. Kadang Bara menyuruh Dion untuk menempati apartemennya itu, namun karena apartemen Bara jaraknya cukup jauh dari kantor, jadi Dion pun menolaknya.


***


Berhubung hari ini adalah hari libur kerja. Merry terlihat baru saja mendudukkan tubuhnya di atas kursi goyang yang ada di halaman belakang rumah tantenya.


Setelah capek membersihkan rumah sedari subuh, ia pun menikmati segelas jus sambil mendengarkan alunan musik dari Citra Scolastika - Every body new.


"Ah... melegakan sekali, jam delapan pagi pekerjaanku sudah selesai semua," gumam Merry, yang masih asyik bersantai di atas kursi goyang yang terbuat dari rotan.


Tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk di ponselnya, membuat musik yang tengah di dengarkannya menjadi berhenti.


"Dion?" gumam Merry, saat nama itu muncul di layar bagian atas ponselnya. Merry pun segera membuka pesan masuk dari Dion.


[Merry, apa kau ada di rumah? Papa dan Mamaku memaksaku untuk mengajak mereka ke rumahmu nanti sore, apa boleh? Seharusnya boleh, karena meskipun kau melarangku, orang tua ku akan tetap ke sana.] - Dion.


Sontak kedua mata Merry membulat, dan betapa terkejutnya ia saat membaca pesan itu, yang hampir saja bisa membuat jantungnya copot.


Merry pun segera membalas pesan singkat itu, dengan tangannya yang sedikit bergetar karena hatinya tiba-tiba terasa seperti terengat listrik. Yang membuat dirinya tak enak badan dan gundah hati.


"Aduh... aku harus menjawab apa?" gumamnya panik.


[Tapi Dion, untuk apa orang tuamu kemari?] - Merry.


Tak lama kemudian pesan balasan dari Dion, Merry dapati kembali.


[Melamarmu, jadi bersiaplah, dandan secantik mungkin, seperti saat ke kondangan minggu lalu.] - Dion.


"Ya Tuhan... apa ini! Kenapa semakin kesini permasalahannya semakin melebar. Argh... semua ini gara-gara Dion, kenapa juga Dia harus membohongi orang tuanya. Dan bodohnya lagi, kenapa juga aku mau terlibat dalam masalah lelaki itu! Argh... ya Tuhan bantu aku...." Merry menggerutu tidak jelas. Hatinya terasa semakin gundah, apalagi mengetahui bahwa kedatangan orang tua Dion adalah untuk melamarnya.


Merry pun segera menghampiri Paman dan Tantenya yang tengah asyik menonton TV sambil berselonjor mesra di atas sofa.


"Tante, Paman, ada sesuatu al yang mau akan bicarakan," ujar Merry begitu ia mendaratkan tubuhnya di sofa yang tak jauh dari Tantenya itu.


"Apa? ... Oh iya, Tante juga lupa, kemarin pagi Papanya Dion menelepon Paman, katanya hari ini mereka akan datang kemari. Nanti sore kamu bersiap saja ya," ucap Tantenya Merry begitu saja.


"Apa! Jadi tante tahu soal itu?" Merry membulatkan kedua matanya seolah tak percaya.


"Tunggu, sejak kapan orang tua Dion, punya nomor handphone Paman?"


"Waktu mereka pertama datang kemari, minggu lalu saat menjemputmu untuk pergi ke pernikahan itu," jawab sang Paman. Merry semakin tak percaya mendengarnya.


"Oh, ya apa yang mau kamu bicarakan tadi?" sambung Tante. Merry dengan cepat menggelengkan kepalanya. Dan segera berlari menuju kamarnya.


"Ya Tuhan, bagaimana ini, tolong aku, tolong... aku tidak mau semuanya menjadi seperti ini. Argh... Mami, Dedy... bantulah aku."


"Ah... iya, Mami dan Dedy. Aku harus segera menelepon mereka." Merry dengan cepat menggulir ponselnya untuk mencari kontak orang tuanya itu.

__ADS_1


Namun ia semakin terkejut, saat mendapati pesan singkat lewat Emo, yang khusus untuk sambungan luar negeri. 3 pesan Emo belum terbaca olehnya.


"Mami." Merry mengernyit, saat ia melihat ada tiga pesan dari Maminya. Ia pun segera membuka pesan itu.


[Merry apa pun keputusanmu Mama dan Dady di sini akan tetap mendukungmu.] - Mami.


[Semalam paman dan tantemu sudah menceritakan semuanya, jika memang benar ada lelaki yang ingin mempersuntingmu. Lihatlah dia dalam tiga hal. Apakah dia baik kepada kedua orang tuanya, apakah dia seseorang yang bertanggung jawab dan pekerja keras, dan lihatlah dia bagaimana dalam kesungguhannya dalam mendapatkanmu.] - Mami.


[Mama dan Dady bulan depan akan pulang untuk menemuimu sayang.] - Mami.


Merry pun mendengus pelan, ketika ia selesai membaca pesan Emo dari Mamanya itu.


"Apa harus dengan cara seperti ini? .... Aku dan Dion kan belum punya perasaan .... Ah ya ampun, kepalaku rasanya begitu sakit gara-gara memikirkan semua ini." Merry pun menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Hari libur yang ia harapkan bisa untuk bersantai dan menenangkan pikiran, nyatanya malah menjadi hari libur yang paling menegangkan baginya.


***


Sinar matahari hari ini terlihat bersembunyi di balik awan yang semakin tebal. Suasana jalanan begitu ramai, dengan cuaca yang cukup teduh dan tiupan angin yang menyegarkan.


Di supermarket, Fira dan Bara tengah sibuk memilih berbagai macam buah-buahan untuk stok persediaan di rumah. Dan tanpa sengaja mereka bertemu dengan Mamanya Dion, tentunya dengan Dion juga yang sedang sibuk memilih parcel buah.


"Dion, Tante," sapa Bara sambil mendorong troli miliknya mendekati mereka.


Mama Dion dan Dion pun menoleh ke arah Bara. "Eh, Nak Bara, sudah lama tidak bertemu," ujar Mama Dion yang dengan ramah menyapa Bara, sambil melirik juga ke arah Fira, yang berdiri di samping Bara.


"Wah sudah mau punya anak nih," ucapnya sambil mengelus perut Fira dengan begitu lembut. Fira hanya tersenyum mengiyakan.


"Lagi belanja bulanan ya Tante?" tanya Bara.


"Hah? Bukan, ini mau pergi ke rumah gadis."


"Rumah gadis?" Bara mengernyit heran.


"Ma, bukannya Mama mau lihat kue juga, Mama lihat-lihat saja kuenya, ini biar aku saja yang memilih," ucap Dion, berharap Mamanya akan segera pergi.


"Kamu ini, tahu apa soal beginian. Sudah biar Mama saja yang pilih buahnya."


"Mau pilih apa Tante?" tanya Fira.


"Ah iya, bisa bantu saya gak, buat milih parsel buah yang bagus untuk dibawa ke acara lamaran."


"Oh parsel buah buat lamaran, yang ini Tante bagus, terlihat lebih spesial dari model parsel yang lain." Fira menunjuk ke arah parsel buah, yang cukup besar dengan design serba gold dan silver.


Akhirnya Mama Dion pun memutuskan untuk membeli parsel buah dengan model yang ditunjukkan oleh Fira tadi.


"Hey, mau lamaran siapa?" bisik Bara kepada Dion. Dion sedikit kebingungan, dan memaksanya untuk berbohong.


"Ada kerabat yang mau lamaran, jadi Mama mempersiapkan semuanya," jawab Dion dengan tak enak hati telah berbohong.


Mereka pun kembali berpisah setelah Fira, meminta Bara untuk segera pulang karena dirinya tiba-tiba pusing.


"Untung saja, Bara tidak bertanya yang lain-lain lagi. Bahaya kalau mereka tahu aku akan melamar Merry. Lagi pula kenapa semuanya malah jadi begini sih!" batin Dion menggerutu, sambil setia mengekori Mamanya dari belakang yang masih sibuk membeli beberapa makanan untuk persiapan lamaran nanti.


***


Merry kini sudah selesai merias diri dengan balutan dres panjang berwarna mocca dengan butiran glitter yang menghias di bagian dadanya, dan polesan makeup natural yang membuat tampilannya terlihat jauh sangat cantik dan lebih dewasa.


"Merry... keluarga Dion sudah sampai, ayo segera keluar," ucap sang Tante yang sudah berdiri di belakangnya, melihat pantulan dirinya di cermin.


"Iya Tante, sebentar lagi Merry keluar," ucapnya. Sang Tante pun keluar dari kamar Merry terlebih dahulu.

__ADS_1


Dion sudah duduk di antara Mama dan Papanya, sambil mengobrol bersama Pamannya Merry untuk mencairkan suasana yang cukup canggung ini.


Sebelah lutut Dion terlihat bergetar, hingga menyita perhatian Mamanya. "Dion, tenanglah."


Papanya Dion pun ikut menoleh ke arah anaknya yang terlihat begitu nervouse dan grogi.


"Tidak perlu gugup seperti itu, lihatlah calon tunanganmu sudah datang," ujar sang Papa, membuat Dion mengedarkan pandangannya ke arah Merry, yang baru saja turun dari lantai atas.


Wanita itu berjalan dengan begitu anggun. Lagi-lagi membuat kedua mata Dion terkesiap dan kagum melihatnya.


"She is really beautifull," gumam Dion pelan.


Merry pun menyapa Papa dan Mamanya Dion, kemudian ia pun ikut mendudukkan tubuhnya di samping Pamannya.


Datanglah Tantenya Merry yang membawa beberapa minuman dan camilan yang akan disuguhkan.


Dion dan Merry sejenak beradu pandang. Merry menatap Dion dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Sementara Dion, lelaki itu menatap Merry dengan tatapan penuh kagum dan terpesona.


"Kenapa dia terus menatapku seperti itu, apa ada yang salah dengan pakaian atau makeup ku?" gumam Merry, merasa risih.


Tanpa berlama-lama, Papanya Dion mengutarakan maksud dan tujuan mereka kemari, yaitu ingin mempersunting Merry untuk jadi istri anaknya, sekaligus menjadi menantu di keluarganya.


Perasaan berdebar kian menjadi-jadi. Merry begitu grogi, ketika ia harus menjawab antara iya atau tidak. Karena Pamannya menyerahkan jawaban itu kepada Merry.


"Bagaimana Nak Merry?" tanya Papa Dion, menantikan jawaban dari bibir gadis berparas cantik itu.


"Ah... ya ampun, apa yang harus aku jawab? Jika aku menolaknya apa bisa mereka menerimanya. Tapi jika aku mengatakan iya, lantas bagaimana hubunganku dengan Dion ke depannya, kami kan hanya berpura-pura saja," gumam Merry dalam hati.


Dion pun yang menantikan jawaban dari Merry ia seakan tegang dan berdebar-debar, seolah menantikan pengumuman kelulusan saja.


"Jadi?" tanya Dion memberanikan diri.


Merry pun mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya pelan.


"Maaf, tidak," ucap Merry, seakan berat mengambil keputusan ini.


Semua rang begitu tercengang dan terkejut, mendengar jawaban dari Merry.


"Merry...." sang Tante hendak berbicara namun Merry kembali menyambung ucapannya.


"Maaf, tidak akan aku tolak," ucapnya malu, sambil menundukkan wajahnya.


"Jadi? lamarannya diterima?" tanya Papanya Dion. Merry pun menganggukkan kepalanya pelan. Sambil merutuki dirinya yang bisa-bisanya mengambil keputusan ini. Ah entahlah, apa ini keputusan yang benar atau salah, yang pasti jika di pikir-pikir, Dion sudah termasuk kriteria lelaki harapannya. Meskipun rasa cinta untuk Dion masih belum ada di hatinya.


Jawaban membahagiakan kini mereka dapati, senang bukan main, tiba-tiba sebuah desiran rasa di hati Dion, seolah meletuk-letuk, membuat hatinya sekan berbunga-bunga. Hal yang tak pernah ia sangka ternyata, wanita yang pernah mengambil ciuman pertamanya dulu, ternyata akan benar-benar jadi pasangannya.


.


.


.


Bersambung...


Ada beberapa chapter lagi ya, sebelum tamat.


Jangan lupa kasih like, komen dan votenya yang banyak biar author semakin semangat.


Dan jangan lupa ya mampir ke cerita author yang baru berjudul **MY ANNOYING WIFE

__ADS_1


Follow juga ig author @dela.delia25**


__ADS_2