Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Tidak mau bertemu


__ADS_3

Hans mengganggukkan kepalanya saat mencoba kopi yang Tiara buat spesial untuk nya. Ternyata kopi itu terasa sangat enak, ia jadi tidak menyesal meminta cara untuk membuatkan kopi ini, kalau begini Hans jadi berpikir untuk menjadikan Tiara pembantunya di perusahaan ini. Bahasa halusnya seorang asisten pribadi, seperti yang Tiara katakan padi pada orang-orang di luar sana.


"Bagaimana mas kamu suka tidak?"


"Tidak buruk rasanya, sejauh ini kalau aku ingin meminum kopi biasanya aku harus memesannya di luar, kalau kamu bisa membuatnya sekarang kamu menjadi pembantu di perusahaan ku," ucap Hans.


Tiara menaikkan alisnya, bahasa pembantu cukup kasar untuknya. Harusnya Hans bisa menggunakan bahasa yang lebih baik lagi, apalagi ia istri Hans sendiri bukan orang lain, apa yang bisa diharapkan pada suaminya ini. Suaminya tidak berbuat kasar padanya saja sudah cukup untuknya.


Di tempat lain yang jauh di sana, Evans dengan Lisa sedang menikmati masa liburan mereka berdua. Keduanya begitu bahagia, karena bisa liburan dengan sangat bebas tanpa memikirkan perusahaan yang sedang mereka tinggalkan, mereka tinggalkan perusahaan sedang sangat stabil sekali keduanya yakin tidak akan ada masalah selama mereka liburan di sana.


"Sayang apakah kamu sudah siap untuk hamil? Kita sudah menikah cukup lama dan sepertinya sudah seharusnya kita mempunyai anak." Tiba-tiba Evans terpikirkan tentang anak setelah melihat satu pasangan bahagia bersama dengan anak kecil di tangan mereka.


"Aku sih belum siap, aku ingin dua atau tiga tahun setelah kita menikah barulah kita mempunyai anak. Kamu sudah sangat ingin mempunyai anaknya?"


"Sangat ingin sih tidak, tetapi kalau bisa kenapa tidak. Aku melihat satu pasangan bermain dengan anak mereka, aku jadi ingin sih karena melihat mereka," kata Evans.


"Apa Linda sudah hamil? Mana dengan kabar mereka berdua, Daniel juga tidak ada kabar," ucap Lisa.


"Mereka masih sedang sibuk, mengurus perpindahan itu tidak mudah sayang, dan aku dengar sih Linda sudah mulai merasakan tanda-tanda kehamilan. Tapi kata Daniel mereka belum mau memeriksakannya, Entah mengapa begitu aku juga tidak tahu," kata Evans.


"Sayang kamu serius ingin mempunyai anak? Nanti kalau aku mempunyai anak jadi tua, kamu tidak masalah kan kalau aku menjadi tua."


Evans mengerutkan Evans, mau punya anak atau tidak tua itu akan tetap datang. Mau cepat atau lambat manusia tidak akan bisa menghindarinya, semuanya berproses sesuai dengan jalan yang ditakdirkan.


"Kamu bagaimana sih, kalau alasannya takut tua ya tidak masuk akal dong. Mau punya anak atau tidak ya kamu akan tetap tua, tidak ada manusia yang selamanya mudah sayang."

__ADS_1


"Iya aku tahu itu, tetapi ah kamu tidak mengerti deh," ucap Lisa.


"Oke karena yang mengandung kamu aku tidak bisa memaksakannya, kamu siap silakan hamil kalau kamu belum siap ya sudah tidak masalah."


"Sayangku kamu seperti itu sih aku jadi tidak enak, ya sudah deh aku siap untuk hamil. Kalau aku hamil nanti kamu harus percaya kepada aku tidak macam-macam ya, apa saja sampai kamu tergoda dengan wanita lain, akan aku habisi wanita itu," ucap Lisa.


"Kok hanya wanita itu akunya tidak?"


"Kamu akan mendapatkan hukuman khusus dariku, Awas saja kamu berani macam-macam." Lisa memberikan tatapan setajam pisau dapur.


Evans tersenyum sambil memeluk di sana di samping, dirinya tidak akan melakukan hal bodoh itu. Menikah dengan Lisa saja sudah sangat cukup untuknya, sudah banyak hal yang ia dapatkan dari rumah tangga ini, dan ia begitu puas dan bahagia menikah dengan Lisa.


"Bagaimana dengan pernikahan adikmu sayang? Kamu kok tidak ada bertanya tentang dia sih, dia masih muda loh sayang masih 17 tahun seharusnya dia tidak menikah, kalaupun dia menikah seharusnya mendapatkan perhatian khusus. Ayah kamu saja begitu dan kamu malah tidak memberikan perhatian padanya, bagaimana mungkin dia bisa menghadapi semuanya sendiri."


"Kamu masih tanya lagi apa kamu harus menghubungi dia sekarang, ya harus sekarang dong sayang," kata Lisa.


Evans pun mengambil handphonenya, ia menghubungi sang adik yang sampai sekarang tidak ada kabar tentang pernikahannya. Ya walaupun baru satu hari mereka tidak bertemu, harusnya cara memberikan update padanya.


Tiara dengan Hans yang sedang dalam perjalanan terkejut dengan panggilan dari Evans. Hans meminta Tiara untuk tidak memberitahu dirinya ada di samping Tiara, ia belum siap untuk bertemu dengan Evans walaupun secara virtual. Masih ada problem antara dirinya dengan Evans yang tidak Tiara ketahui.


"Halo bang ada apa ya?"


"Bagaimana dengan pernikahan kamu? Kenapa dia luar negeri sih, dia seperti tidak bertanggung jawab dan tidak serius atas pernikahan kalian," ucap Evans.


"Baru satu hari bang, sabar dong aku juga sedang mengurus semuanya. Nanti kalau kami akan menikah aku akan memberikan kabar padamu, bahkan kamu adalah orang pertama yang akan aku berikan kabar," kata Tiara.

__ADS_1


"Ya sudah jangan lupa ya, apa saja sampai kamu melupakanku. Aku siapamu dan aku orang yang selalu mengkhawatir kamu," ucap Evans.


"Ya bang aku tutup dulu ya, aku sedang dalam perjalanan ini," kata Tiara.


"Hmmm matikan saja."


Panggilan telepon itu pun terputus.


"Kalian berdua tidak seperti kakak adik, adiknya tidak bisa berbicara lama-lama dengan abangnya dan abangnya tidak bisa memberikan perhatian lebih pada adiknya, emang kalian berdua itu terlihat aneh," kata Lisa.


"Begitulah hidup, tidak semuanya terlihat sesuai dengan apa yang kita inginkan," ucap Lisa.


Hans bernapas dengan legah Tiara telah mengatakan hal itu. Dirinya bukan takut pada Evans, ia hanya mempunyai problem yang belum dapat diselesaikan dan rencananya juga belum dapat dijalankan. Entah mengapa terasa sangat sulit bagi harus untuk menjalankan rencananya itu, padahal ia sudah mendapatkan Tiara yang seharusnya bisa langsung ia eksekusi.


"Kenapa sih tidak ingin berbicara dengan abangku," tanya Tiara.


"Apa pentingnya berbicara dengan abangmu, apa pentingnya sama sekali di hidupku jadi untuk apa aku melakukannya," jawab Hans.


"Kok kamu jadi marah seperti ini, kamu takut ya dengan abangku."


"Tidak ada sejarah takut di dalam hidupku, aku tidak takut pada siapapun. Dan kamu jangan asal menebak, kamu tidak tahu apa permasalahannya dan aku ingatkan sekali lagi jangan sampai tahu Abang mau kita menikah," ucap Hans.


"Aneh," batin Tiara.


Mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju sebuah mall untuk berbelanja, selain ingin membeli keperluan Hans mereka harus memilih keperluan Tiara yang tidak ada sama sekali di rumah. Hans enggan kembali ke rumah Tiara, karena Hans sangat malas bertemu dengan Herman pria yang gila dengan harta.

__ADS_1


__ADS_2