Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Berapa lama lagi?


__ADS_3

Kini Fira dan Bara tengah berada di puskesmas. Mereka datang ke sana di antar oleh Pak Dori. Sebelumnya Bara dan Fira menunggu terlebih dahulu untuk pengecekan USG. Dan kurang lebih mereka menunggu sekitar 30 menit, karena yang kontrol hanya beberapa orang saja, tidak seperti di rumah sakit yang mungkin harus menunggu berjam-jam lamanya.


Setelah mendapat panggilan, Fira dan Bara segera masuk ke ruang dokter, tepatnya, ruang akan dilakukannya USG. Fira berbaring di atas brankar hitam, yang ada di ruang itu. Sedangkan Bara, duduk di salah satu kursi yang ada di dekat meja dokter.


"Nyonya Fira ya," ucap seorang suster, yang tak lain ialah asisten dokter Andre. Fira menganggukkan kepalanya, dan tiba-tiba sang suster membuka sebagian baju Fira, hingga memperlihatkan bagian pusarnya.


Sontak Bara yang melihat hal itu, ia sedikit terkejut. "Maaf Sus, kenapa harus di buka seperti itu?" tanya Bara, langsung mendekati Fira. Berusaha menghalangi tubuh Fira, agar Dokter Andre yang ada di ruang itu tidak melihatnya.


Asisten dokter itu mengerutkan dahinya, "Ini memang prosedur USG Tuan," ucapnya.


"Tapi kenapa harus di buka seperti ini, di sini kan ada laki-laki lain." Melirik ke arah dokter Andre yang tengah sibuk, menghadap komputer USG.


Wanita itu sedikit terkekeh, mendengar ucapan Bara. "Tenang saja Tuan, ini tidak akan lama, hanya berlangsung beberapa menit saja," ucapnya, sambil mengoleskan suatu gel lotion diperut bagian bawah, Fira.


"Sudah siap dok," ucap wanita itu, kemudian ia segera keluar dari ruangan.


Dokter Andre pun segera menggeser kursi kerjanya, mendekati brankar. Kemudian ia hendak menempelkan Transducer, yang tak lain ialah alat bantuan USG. Namun tiba-tiba tangan Bara, menghentikannya.


"Tunggu, dokter mau mengapakan istri saya?" tanya Bara, memegang lengan sang dokter.


Dokter Andre pun menoleh menatap Bara cukup lama. "Memeriksanya," jawabnya dengan dingin. Sambil menarik tangannya dari genggaman Bara.


Dan ketika sang dokter hendak menempelkan tranducer itu di perut Fira, lagi-lagi Bara, menghentikannya.


"Dok apa tidak ada cara lain selain cara ini?" tanya Bara, yang masih tidak rela jika sang dokter harus memegang perut Fira. Sang dokter hanya mengerutkan dahinya.


"Ada ... USG transvaginal, mau?"


"Transvaginal? Vaginal ... itu ******?" Seketika Bara membelalakkan matanya. Dan dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Tunggu dan tenanglah Tuan, agar saya bisa menyelesaikan pekerjaan saya dengan baik," ucap sang dokter, karena sedikit merasa kesal.


"Pria ini, sungguh sangat posesif sekali," batin dokter Andre menggelengkan kepalanya.


Akhirnya mau tidak mau Bara pun membiarkan sang dokter untuk memeriksa Fira. Dokter Andre pun perlahan menempelkan alat tranducer itu di bagian panggul Fira, sambil menatap layar monitor. Untuk memeriksa kandungan Fira. Begitu pun Fira dan Bara yang fokus menatap layar monitor. Sambil memaju mundurkan tranducer itu, dokter Andre juga mengajukan beberapa pertanyaan kepada Fira.


"Nah ini dia janinnya, sudah mulai terlihat," ucap sang dokter. Sambil menunjukkan sebuah gumpalan bulat sebesar buah kelengkeng.


Fira seakan terharu melihat sang janin yang masih berupa gumpalan daging kecil, bahkan di monitor hanya terlihat sebagai lingkaran bulat yang cukup kecil.


"Dimana bayinya? Kenapa aku tidak bisa melihatnya," celetuk Bara, sambil memfokuskan pandangannya ke arah monitor.


Ia benar-benar tidak paham akan hal seperti ini. Dan ini mungkin adalah kali pertamanya dia mengetahui seputar USG. Bahkan sebelumnya, Bara tak mengetahui perihal seputar kehamilan. Dan mungkin selepas ini, ia harus belajar banyak mencari tahu mengenai masalah kehamilan.


"Mas, anak kita masih berupa janin, belum membentuk seperti seorang bayi, masih perlu waktu lama agar bayi kita terbentuk dengan sempurna," ucap Fira, Bara menoleh, dan menanyakan kebenaran itu kepada dokter Andre. Dan sang dokter pun mengiyakannya.


"Usia kehamilan Nyonya Fira, sudah memasuki usia 11 minggu, di harapkan untuk banyak istirahat, dan menjaga pola tidur dan makan," ucap Dokter Andre, sambil mengakhiri USG nya.


"Jadi, berapa lama lagi dok bayi kita akan lahir?" tanya Bara, Fira yang mendengar hanya terkekeh, akibat ke tidak tahuan suaminya itu.


"Anda harus menunggu bayinya lahir, sekitar 30 minggu lagi Tuan."


"Apa! 30 minggu? ... Kenapa lama sekali," ujarnya, seakan terkejut. Dokter Andre lagi-lagi menggelengkan kepalanya, melihat lelaki yang ada di hadapannya, seperti orang bodoh.

__ADS_1


***


Sementara itu Merry dan Selly kini tengah Asyik membuat tirai dari cangkang kerang yang Fira pungut sore kemarin. Sambil asyik mengobrol dan menikmati satu mangkuk buah segar yang sudah di potong-potong.


"Huhft, lama sekali Bara ini," gerutu Dion, yang tiba-tiba muncul di belakang mereka. Seketika Merry dan Selly mengalihkan pandangan mereka ke arah Dion.


"Bukankah mereka pergi dua jam yang lalu, apa kau sebegitunya, merindukan Tuan Bara," celetuk Merry.


"Hey! Siapa yang merindukannya, aku menanyakannya karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan!" seru Dion.


"Kalau begitu, apa susahnya kau tinggak telepon saja," usul Selly.


"Sudah! Tapi tidak di jawab." Dion berdecak.


Tak lama kemudian Bara dan Fira pun datang, tentunya bersama Pak Dori juga.


"Fira!" Teriak Merry dan Selly begitu heboh, saat sahabatnya itu mulai menghampiri.


"Fira, bagaimana hasilnya? Apa bayinya sudah terlihat?" tanya Merry bersemangat. Bahkan terlihat sekali ekspresi antusiasnya.


"Kau ini! Mana mungkin bayinya langsung terlihat, Fira kan baru saja hamil," celetuk Selly sambil memutar kedua bola matanya.


"Aku kan hanya bertanya! Kenapa jadi kau yang protes!" timpal Merry. Fira yang melihat kedua sahabatnya yang sedang beradu argumen itu, ia hanya menggelengkan kepalanya pelan. Begitu pun dengan Bara dan Dion, yang tak henti-hentinya melihat pertengkaran kecil di anatara kedua gadis aneh itu.


"Haih... Sudahlah, ayo kita masuk dulu ke dalam." Bara, menarik tangan Fira mengajaknya untuk segera masuk ke dalam villa. Dan di susul oleh Dion dan kedua sahabat Fira.


"Jadi bagaimana keadaannya Fir?" tanya Dion, yang duduk di salah satu kursi kayu yang ada di ruang tengah.


"Lalu dokter bilang apa? Bayinya laki-laki atau perempuan?" tanya Merry dengan heboh. Dan lagi-lagi, Selly yang menimpalinya.


"Kau ini! Kalau bodoh jangan sampai ke ubun-ubun, mana ada janin 11 minggu sudah terlihat jenis kelaminnya!"


"Kenapa malah kau yang menjawab pertanyaanku, aku kan, bertanya kepada Fira bukan kepadamu!" gerutu Merry.


"Lagi pula kau i–"


"Eh... sudah-sudah, bisa-bisa kepalaku pecah melihat adu mulut kalian berdua ini!" timpal Dion. Fira hanya terkekeh, melihat orang-orang di sekelilingnya yang terlihat seperti orang sensi.


***


Fira baru saja terbangun dari tidurnya, setelah makan siang bersama sahabatnya tadi, sepulang dari puskesmas, Fira merasakan kantuk yang cukup berat sehingga membuat dirinya tertidur pulas.


Dilihatnya jam di dinding sudah menunjukkan pukul 15.30 sore. Fira bergegas untuk mandi, dan solat ashar. Kemudian ia turun ke lantai bawah.


Disana sudah ada Dion, Merry dan Selly yang tengah asyik bermain game play station, yang disediakan oleh Pak Dori, di ruang TV.


Selly beradu game balap motor bersama Dion, sedangkan Merry ia hanya menjadi team hore, yang meriuhkan permainan ini.


Mata Fira menyapu ke seluruh penjuru ruangan, berharap menemukan keberadaan suaminya, namun sepertinya ia tak mendapatinya.


Fira pun bertanya kepada Dion dan kedua sahabatnya, Dion pun memberitahu, kalau Bara sedang keluar mencari makanan untuk Fira.


"Mencari makanan untukku?" gumam Fira. Dion menganggukkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Paling juga ke resto yang ada di pesisir pantai," sambung Dion, sambil terus fokus memainkan game.


Fira pun hendak keluar, untuk menyusul Bara. Namun, Merry memanggilnya.


"Fira, kau mau ke mana?" teriak Merry, yang ada di ruang TV.


"Aku akan menyusul Mas Bara," jawab Fira, sedikit berteriak, Kemudian segera berlalu, keluar dari villa.


^


Fira berjalan di atas pasir putih, yang sedikit mengotori kakinya. Semilir angin laut, cukup membuat pori-pori kulitnya mengkerut kedingingan. Deburan ombak laut yang indah pun dapat ia lihat. Namun sore ini, sepertinya cuacanya kurang mendukung, karena awan sore ini terlihat sedikit hitam dan mendung.


Fira masih berjalan, menuju salah satu rumah makan yang ada di pesisir pantai ini. Berharap ia bisa menemukan keberadaan suaminya.


Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang lelaki berkaus biru, yang tengah berdiri berbincang dengan seorang perempuan.


Dahi Fira mengerut, ia mencoba melihat dengan begitu jelas siapa wanita itu, dan benarkan itu adalah Bara.


"Apa benar itu Mas Bara? Tapi kalau itu Mas Bara, siapa wanita itu," gumam Fira, sedikit mencebikkan bibirnya. Memandangi punggung lelaki yang mirip dengan Bara.


Namun tiba-tiba, air hujan turun secara serentak, dan cukup deras, membuat dirinya harus berlari mencari tempat teduh. Fira pun berlari ke salah satu saung bambu yang jaraknya cukup dekat.


Dari saung ini, ia bisa melihat dengan jelas, bahwa lelaki itu ialah benar-benar Bara, dan wanita itu tak lain ialah Raina.


"Nona Raina?" gumam Fira melebarkan kedua matanya, dengan perasaan berdebar. Entah kenapa, tiba-tiba ia merasakan sesak didadanya, tatkala melihat sang suami yang tengah mengobrol dengan mantan kekasihnya itu.


Bahkan terlihat Bara hendak pergi meninggalkan Raina, namun Raina menahannya. Sehingga membuat keduanya, terkena rentikan air hujan.


"Raina, lepaskan!" seru Bara, menatap tajam ke arah tangan Raina, yang memegang lengannya.


"Tapi Bara." Kedua mata wanita ini, kini sudah tampak memerah dan berair, sekuat tenaga ia menahan agar air mata itu tak lolos dari kedua matanya.


"Raina!" seru Bara, menaikkan suaranya.


.


.


.


Berambung


Kemarin author itu bikin pantun, malah di sangka knalpot author rusak hadeh šŸ˜‚


Author gak update bukan masalah knalpot, tapi lagi ngejar target kerjaan di dunia nyata pemirsa šŸ˜…


Ya udah deh...


Jangan lupa, like komen dan vote


Karena hal itu sangat berharga bagi author.


Like, like, like.

__ADS_1


__ADS_2