Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - Bab 22


__ADS_3

Setelah sampai di parkiran sebuah supermarket yang cukup ramai pengunjung pagi itu, Andre dan Mayang pun segera keluar dari dalam mobil.


Mereka segera berjalan menuju pintu masuk supermarket itu.


"Abang, kita mencari ke sebelah mana dulu?" tanya Mayang. Andre pun memilih untuk mencari ke bagian tempat buah-buahan. Namun, selama mereka berpencar di bagian itu, mereka tak dapat menemukan Selly.


Namun, kedua mata Mayang dikejutkan ketika melihat seorang lelaki yang memakai hoodie maroon, dengan masker hitam yang di tarik ke bawah dagunya, menampilkan jelas wajah lelaki itu, yang tak lain ialah Gerry.


Lelaki berhoodie maroon itu, nampak sedang memperhatikan seseorang. Sebelah tangan Mayang, menarik-narik lengan kemeja Andre.


"Apa?" tanya Andre bingung.


Mayang pun menunjuk ke suatu arah, yang tak lain ke arah lelaki berhoodie maroon itu.


"Abang, itu lelaki yang waktu itu mengambil videoku," ujar Mayang setengah berbisik. Namun, perhatian Andre justru bukan terpusat pada lelaki itu. Tapi pada sorot mata lelaki itu, yang mengarah keluar.


Andre mencoba mengikuti sorot mata lelaki itu, yang seperti sedang mengasi seseorang, dan betapa tercengangnya Andre begitu melihat dari jauh, ada Selly yang berjalan seperti buru-buru. Selly keluar meninggalkan supermarket itu. Dan di susul oleh lelaki berhoodie maroon itu dari belakangnya.


"Itu Selly Ay," ucap Andre, sambil menarik lengan Mayang membawanya untuk segera keluar dari supermarket itu.


Mereka berdua mencoba mengejar Selly, namun tidak keburu, karena ketika mereka keluar dari supermarket itu,, Selly sudah naik sebuah ojek pangkalan yang tak jauh dari sana.


"Cepat masuk mobil." Andre dan Mayang pun segera masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan supermarket itu.


***


Sesampainya di gedung apartemen yang di tuju, Selly segera turun dari ojek yang ditumpangnya itu, ia memberikan beberapa lembar uang kertas kepada tukang ojek itu. Lalu segera masuk ke dalam gedung apartemen.


Tak perlu waktu lama, lift pun sudah terbuka, tepat di lantai 7 yang ditujunya. Sambil menarik nafas bersiap untuk segala kemungkinan yang akan terjadi.


"Bismillah, semoga semua ini tidak ada apa-apa," gumamnya sambil melangkah keluar dari lift.


Ia menyusuri lorong apartemen yang terlihat sepi, hanya sedikit terdengar ada suara seorang wanita yang berteriak seperti sedang bertengkar.


Selly pun mencari nomor unit apartemen yang sesuai dengan apa yang tertulis di kertas yang ia pegang itu. Dan ketika ia berhasil menemukannya, ternyata dari dalam apartemen itu terdengar isakan tangis seorang wanita.


Dengan perasaan cemas dan takut, ia pun mulai menekan pin di pintu sesuai dengan pin yang tertulis di kertas yang ia pegang. Dan tanpa di duga ternyata ia berhasil membuka pintu apartemen itu. Selly pun perlahan membukanya.


Dan ....


Deg ....


Jantungnya seakan berhenti memompa aliran darah, begitu ia melihat Damas tengah memeluk tubuh seorang wanita yang belum ia ketahui siapa wanita itu.


Tangannya seolah bergetar, bibirnya membisu, kedua bola matanya pun memandang tanpa berkedip.


"Apa ini?"


Wanita itu, terlihat sedang menangis tersedu-sedu. Begitu pun Damas yang terlihat mencoba menenangkan wanita itu dengan ketulusan hatinya.

__ADS_1


"Kau tak pernah menginginkanku Mas, pergilah, dan nikahi wanita yang bernama Selly itu. Pergi ...." Isakan tangis wanita itu semakin memberat. Selly baru sadar akan suara yang sudah tak asing lagi di telinganya itu.


"Dinda?" ucap Selly pelan, nyaris tak bersuara.


"Menangislah, maafkan aku Dinda maafkan. Aku sangat mencintaimu," ucap Damas sambil mencium pucuk kepala Dinda.


"Jadi benar, wanita itu adalah Dinda? ... Lalu apa maksud dari semua ini?" Selly semakin tercengang, hatinya sedikit pilu begitu mendengar Damas yang dengan mudahnya mengucapkan kalimat cinta kepada wanita lain.


"Mas Damas," panggil Selly, dengan ujung suara yang tercekat seakan berat. Ia begitu tak percaya, atas apa yang baru saja ia lihat di depan matanya sendiri.


Sontak Dinda dan Damas saling menjauhkan tubuhnya, ketika mendengar suara yang tak asing di telinga mereka berdua.


Mereka begitu terkesiap saat mendapati Selly yang kini sudah berdiri di ambang pintu unit apartemennya.


"Selly," ucap Damas pelan seakan tak bertenaga.


"Mas ... apa ini?" Selly menatap mereka berdua secara bergantian dengan tatapan sendu. Hatinya seakan kalut, anatara kecewa, sakit hati, dan marah.


"S-Selly ... a-aku bisa menjelaskan semuanya," ucap Damas begitu gugup dan bergetar, mereka semua masih mematung di tempatnya masing-masing, begitu pun dengan Dinda yang diam mematung sambil menundukkan wajahnya yang masih basah karena air matanya yang terus mengalir tak berhenti.


"Tidak perlu Mas, aku sudah paham akan semuanya," ucap Selly tersenyum getir, sambil sejenak membuang tatapannya ke sembarang arah.


"Selly aku—"


"Diam! Jangan mendekat!" seru Selly, begitu Damas hendak menghampirinya. Damas pun mematung di tengah langkahnya. Pikirannya begitu kacau.


"Sialan, kenapa semuanya jadi begini," umpat Damas dalam hati.


"Dinda lihatlah ke arahku!" seru Selly. Perlahan Dinda pun mengangkat wajahnya, menatap ke arah Selly yang berjarak 5 meter ada di depannya.


Ada rasa kesal yang begitu merundung hatinya, begitu Selly melihat mimik wajah wanita yang ada di depannya kini. Namun sebisa mungkin Selly menahan amarahnya itu.


"Jawab sejujur-jujurnya ... apa Mas Damas adalah pacarmu yang tak bertanggung jawab itu?" tanya Selly, menatap sendu.


Dinda terdiam, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut wanita itu. Ia hanya mampu menganggukkan kepalanya dengan satu kali anggukan.


Selly pun langsung berbalik dan membuang wajah, merasa tak percaya. Ia menggigit ibu jarinya sejenak, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya pelan.


Selly pun berbalik kembali menghadap mereka berdua. Perlahan kakinya melangkah menghampiri mereka, dengan tatapan penuh amarah ia tunjukan kepada lelaki yang kini sudah ada di hadapannya.


"Mas ... selama ini aku selalu mengira, bahwa kau adalah lelaki yang beda dari lelaki lain di zaman sekarang, kau begitu nurut kepada orang tua. Aku selalu berpikir, bahwa selama ini Bapakku menyukaimu dan menginginkan kamu untuk menjadi mantunya itu karena kau adalah lelaki baik yang bertanggung jawab, yang bisa di percaya. Tapi, ternyata aku salah ... selama ini, aku salah menilaimu Mas," ujar Selly dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca.


"Selly, a-aku bisa menjelaskan semuanya, semua ini tidak se—“


"Tidak apa hah?" Selly memotong.


"Mas, kau tega membiarkan seorang gadis tak berdosa, harus sengsara seperti itu? Apa kau tahu Mas, aku juga wanita, aku bisa merasakan bagaimana jika aku yang berada di posisi Dinda. Kau tahu Dinda mengandung anakmu, tapi kenapa kau malah mau menikahiku Mas? Kenapa?" Selly menarik kerah baju Damas, dengan tangan yang sedikit bergetar karena menahan emosi.


Damas, merasa tidak suka, ketika Selly berbicara seperti itu padanya. Kedua matanya sejenak memejam. Lalu ketika ia kembali membuka matanya .... "Aku juga tidak menginginkan semua ini bodoh!" seru Damas, tepat di hadapan wajah Selly, dengan rangahnya yang mengeras, dan tatapannya yang seakan penuh dengan bola api. Selly begitu terkesiap melihat respons yang diberikan Damas padanya.

__ADS_1


Seketika Selly menjauhkan tangannya dari Damas, perlahan ia memundurkan langkah kakinya, karena baru kali ini ada seorang lelaki yang berani berteriak marah padanya. Dan jelas Selly tak menyukainya. Karena bagaimana  pun Selly tak pernah dibentak seperti itu oleh laki-laki.


"Se-Selly, maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu," ujar Damas menyesal, ia langsung menarik pergelangan tangan Selly. Namun, Selly langsung menepiskan tangannya itu.


"Jangan menyentuhku! Aku cukup tahu ... siapa kau sebenarnya Mas!" Dengan air mata yang mulai keluar berjatuhan dari kedua sudut matanya, Selly melepaskan cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya. Lalu ia melemparkannya tepat ke bagian dada Damas.


“Nikahi dia dan batalkan pernikahan kita, aku tahu dia dan janin yang ada di rahimnya lebih membutuhkanmu dibandingkan aku," ujar Selly menatap benci ke arah Damas.


Selly hendak pergi meninggalkan mereka, namun lengan Damas lebih dulu berhasil menarik kembali pergelangan tangan Selly.


Seketika tubuh Selly terguncang, dan menubruk tubuh kekar Damas. Kedua mata mereka saling mengunci bertatapan.


"Aku tidak akan melepaskanmu!" seru Damas memegang kedua pergelangan tangan Selly hingga membuat Selly meringis kesakitan.


"Mas, lepaskan ... sakit," ujarnya dengan air mata yang semakin deras membasahi pipinya.


Dinda yang tak tega melihat Selly kesakitan seperti itu, ia berusaha meminta Damas agar melepaskannya.


"Mas Damas, lepaskan dia, kau jangan menyakitinya. Jika kau marah, sakiti saja aku Mas." Dinda mencoba melepaskan genggaman tangan Damas di tangan Selly, namun ia kesulitan, karena sudah jelas dirinya tak lagi mempunyai tenaga lebih. Energinya sudah habis sejak tadi.


"Mas lepaskan!" teriak Dinda. Sontak membuat kedua mata Damas kini beralih menyorot tajam ke arah Dinda.


Dinda masih tak menyerah, ia masih berusaha menjauhkan Selly dari Damas. Namun, hal tak diduga pun terjadi.


"Diam! Atau kalian berdua yang akan aku sakiti!" teriak Damas penuh emosi. Matanya sekan memerah, rahangnya mengeras, tangannya semakin menggenggam erat kedua pergelangan angan Selly. Membuat Selly menjerit kesakitan.


"Mas, lepaskan Mas!" Selly sudah tak kuasa menahan rasa sakit di tangannya. Ia begitu tak percaya demi melihat sosok lelaki yang ada di hadapannya kini, seperti bukan Damas yang ia kenal. Damas seperti orang yang kerasukan, seolah dirinya sedang dikendalikan oleh setan.


"Damas Ardisatya Arga lepaskan dia!" teriak Dinda. Dan seketika Damas melepaskan sebelah tangannya begitu mendengar Dinda berani memanggil nama lengkapnya dengan begitu lancang.


Entah hal apa yang membuat Damas begitu emosi, namun ia tak menyukai siapa pun yang berani memanggil dirinya dengan sebutan lengkap, terlebih jika ada seseorang yang memanggil ujung namanya ‘Arga’.


"Beraninya kau!"


Bruk ....


Dinda tersungkur ke lantai cukup keras, ketika sebelah tangan Damas berhasil mendorong kuat tubuh wanita itu.


Dan tiba-tiba.


Bugh ....


Sebuah pukulan keras mendarat di sebelah pipi kanan Damas. Membuat tubuh Damas terguncang dan hampir jatuh, namun ia terlebih dahulu bisa menyeimbangkannya. Bahkan ia refleks melepaskan tangan Selly dari genggamannya.


“Sialan! Beraninya kau menyakiti wanita!" teriak seorang lelaki penuh emosi.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2