Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Sulit Mengontrol Perasaan


__ADS_3

Kini Bara sudah sampai, tepat di halaman rumah Papa Hito. Bara turun terlebih dahulu dari mobilnya. Kemudian datanglah Lisa, yang menyambut riang kedatangan Fira dan Bara.


Bara membukakan pintu mobil untuk Fira. Saat Fira hendak turun, Bara menghentikannya.


"Tunggu, hidungmu itu kenapa?" tanya Bara, mengerutkan dahinya, melihat hidung Fira yang sedikit merah.


"Oh... ini, bukan apa-apa," jawab Fira, sambil menutupi hidungnya dengan kerudungnya yang menjuntai di bagian depan.


"Apa kau habis menangis?"


"Tidak, aku tidak menangis," jawab Fira.


"Siapa yang menangis?" tanya Lisa heboh, mendekati Bara, yang masih berdiri di pintu mobil.


"Kak Fira, apa kau yang menangis?" tanya Lisa, menggeser tempat berdiri Bara, agar bisa melihat Fira.


"Tidak Lisa, aku tidak menangis. Hidungku merah, karena tadi aku bermain bersama Bima."


"Bima?" tanya Lisa.


"Iya, Bima" ucap Fira.


Tiba-tiba kepala Bima, muncul di balik kursi mobil, di belakang Fira.


"Hai... Lisa," sapa Bima, tersenyum lebar.


Lisa menautkan kedua alisnya. "Oh ... hai," ucap Lisa, tersenyum paksa.


"Ya sudah, minggirlah, aku mau turun," pinta Fira, hendak turun dari mobil. Namun Bara masih menghalangi jalannya, tak ingin mundur. Sedangkan Lisa ia terlebih dahulu masuk ke lama rumah, karena tidak enak akan kehadiran Bima di situ.


"Mas, ayo masuk, jangan menghalangi jalanku," ucap Fira, sambil mendorong tubuh Bara, agar memberinya jalan.


Tiba-tiba.


Hap.


Bara menggendong Fira dalam pangkuannya, membanya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Bima.


^^^


Di sisi lain


Raina, memarkirkan mobilnya di luar halaman rumah Bara. Ia melihat Bara yang baru keluar dari mobilnya.


"Benar, itu Bara, tapi dimana istrinya?"


Kini matanya di fokuskan dengan seorang wanita yang baru keluar dari rumah, dengan wajah cerianya menyambut kedatangan Bara. Wanita itu tak lain ialah Lisa.


"Apa itu adiknya Bara?" gumam Raina, yang masih fokus mengawasi mereka dari jauh.


"Nona, kau sedang menunggu apa? kenapa tidak masuk ke dalam rumah itu saja?" tanya asisten Raina.

__ADS_1


"Diamlah, aku tidak akan bisa masuk ke rumah itu. Lagi pula orang-orang disana tidak ada yang mengenalku, kecuali Bara." Asistennya pun mengangguk.


"Kenapa lama sekali mereka berdiri di dekat mobil, kenapa belum pada masuk ke dalam rumah?"


Raina terus memfokuskan matanya, berharap bisa melihat wajah istri, dari mantan kekasihnya itu.


"Huh, lama sekali. Apa yang mereka lakukan disana?" tanyanya.


"Mungkin mereka ada masalah," jawab asistennya.


"Diamlah, aku tidak bertanya kepadamu!" ucap Raina, menajamkan matanya ke arah asistennya yang banyak bicara itu.


Dan saat Raina kembali menoleh, untuk mengetahui keberadaan istrinya Bara. Sayangnya dia harus melihat adegan yang tak di inginkannya.


"Sial! kenapa Bara malah menggendong istrinya?" gerutu Raina, sambil memukul kursi di depannya.


"Percuma saja mengikuti sampai sini, tapi tetap aku tidak bisa melihat wajah wanita itu!"


"Pak sopir, cepat kembali ke rumah Nenek," ucap Raina, dengan kesal. Pak sopir pun mengiyakan, dan kembali melajukan mobilnya, menjauhi halaman rumah keluarga Bara.


Dan dari jauh, saat Bima ingin turun dari Mobil, ia sekilas ia menatap, ke arah mobil berwarna silver, milik Raina, yang terparkir di luar halaman rumah.


"Hm... sepertinya ada penguntit," gumam Bima. Ia sudah mengetahui bahwa mobil itu mengikutinya, sejak perjalanan pulang dari restoran tadi.


***


"Mas, turunkan aku, aku bisa jalan!" Fira merengek, minta di turunkan. Namun Bara tak menurunkannya. Bahkan Wina, Lisa dan Bi Iyam, yang ada di ruang tengahpun, mereka melihat Bara yang memangku Fira. Dan mereka hanya saling menatap satu sama lain, kemudian tersenyum menahan tawa.


"Iya ... Senangnya mama melihat mereka semakin romantis seperti itu," ucap Wina tersenyum.


^^


"Mas, turunkan aku!" Kaki Fira meronta berayun-ayun.


Bara seakan tak memperdulikan siapa pun yang melihatnya. Entah apa yang merasukinya, tapi kali ini ia tidak memberi ampun kepada Fira. Dan langsung membawanya masuk ke dalam kamar mereka. Dan menjatuhkan tubuhnya secara pelan di atas tempat tidur.


"Mas! Kau ini apa-apaan sih!" gerutu Fira dengan kesal. Dan kembali bangun dari tidurnya.


"Kau yang apa-apaan!" seru Bara.


"Sudahlah, aku mau keluar menemui Bima."


"Aku tidak mengizinkanmu. Biarkan saja dia, di bawah ada Mama dan Lisa yang menemaninya."


"Mas, kau ini kenapa sih?"


"Kau marah, karena aku tidak mengajakmu makan siang?" tanya Fira. Namun Bara tetap diam dengan mimik wajahnya yang tak ramah.


"Ayo jawab! kenapa kau diam saja!"


Bara berjalan, mendekat ke arah Fira, menggiring tubuh Fira, hingga mentok di dinding kamar.

__ADS_1


"Mas, a-apa aku salah bicara?" tanya Fira gugup.


"Ada apa dengan Mas Bara, kenapa sikapnya jadi seperti ini?" batin Fira.


"Apa kau tahu? akhir-akhir ini apa yang ada di dalam pikiranku?" tanya Bara, menatap tajam ke arah Fira.


Fira menggelengkan kepalanya perlahan.


"Apa kau tahu? apa yang aku pikirkan saat ini?"


Fira kembali menggelengkan kepalanya.


Bara menarik sebelah lengan Fira, dan menempelkannya di dadanya, tepat di mana, detak jantungnya bisa terasa.


"Fira, seandainya kau tahu, akhir-akhir ini yang ada di pikiranku hanyalah nama kamu, wajahmu selalu melintas di bayanganku. Dan aku tidak bisa berhenti untuk terus mengingatmu," batin Bara.


"Seandainya aku bisa mengatakan itu semua, ... tapi kenapa bibirku ini sulit untuk mengucapkan semua itu," batin Bara, meronta ingin mengungkapkan yang sebenarnya, namun ia masih tak kuasa.


"Mas," panggil Fira.


"Fira, lain kali kalau kau pergi bersama Bima, kau harus memberitahuku, agar aku bisa ikut menemani kalian," ucap Bara, dengan nada lembut.


"Aku, tidak ingin ada orang lain yang menganggap kalian sepasang kekasih," tutur Bara.


"Tapi Mas, dia kan adikku," jawab Fira.


"Dia memang adikmu, tapi tetap aku tidak suka jika kau jalan berdua dengannya, ... lihatlah, Bima itu sudah dewasa, usia kalian bahkan tak jauh beda."


"Dan, ... kuharap ke depannya kau bisa selalu mengingatku, karena aku pun selalu memikirkanmu."


"Apa? Mas Bara, selalu memikirkanku?" batin Fira.


"Kau paham kan?" tanya Bara, Fira menganggukkan kepalanya.


Dan seketika, Bara memeluk erat Fira, menenggelamkan wajah cantik istrinya itu di dada bidangnya, dan memberikan banyak ciuman di pucuk kepala Fira, yang masih terbalut kerudung. Begitupun dengan Fira ia ikut membalas pelukan Bara, dengan memeluknya begitu erat.


"Kau bersikap seperti ini, aku semakin tak bisa mengontrol perasaanku Mas," batin Fira.


Bersambung.


Maaf ya 2 hari kemarin aku gak bisa up. Karena minggu ini dela lagi banyak aktivitas, sama lagi ngejar target dulu buat bulan Ramadhan, kalau gak ngejar minggu sekarang, takutnya minggu depan keburu ada halangan. Jadi nanti kalo ada halangan dela pasti fokusin buat upload tiap hari 😊


Dan terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu kelanjutan cerita Fira dan Bara ini. Semoga kalian tetap suka dengan cerita ini.


Jangan lupa like, komen dan Votenya ya, biar author makin lancar mikirin ide nya.


Percayalah, untuk menuangkan ide dalam bentuk tulisan itu tidaklah gampang. Dela juga kalo nulis bisa sampe 2-4 jam/chapternya. 😁


Udah ah... malah curhat wkwkwk.


Sampai bertemu di episode selanjutnya. 😘 love you...

__ADS_1


__ADS_2