
Dering ponsel di atas nakas, terdengar bergetar di iringi alunan musik tanda ada yang menelepon. Selly yang baru selesai menunaikan solat subuh, ia segera mengambil ponsel itu. Dan melihat sebuah nama yang tertera di layar ponselnya.
"Ibu?" gumam Selly, ia langsung menggeser ikon berwarna hijau yang ada di ponselnya, lalu mendekatkan benda pipih itu di telinga kirinya.
"Assalamualaikum Bu," ujar Selly, sambil mendudukkan tubuhnya di tepi kasur.
"Wa'alaikumussalam ... Sell, Ibu sama Bapak hari ini jadi berangkat ke Jakarta, kami baru mau cek out," ucap Bu Ningsih di sebrang sana.
"Baik bu, ibu sama bapak hati-hati ya. Oh ya, nanti ibu mau langsung ke rumah kita yang dulu?"
"Engga Sell, kata Bibimu kita di suruh buat menginap di apartemen barunya. Jadi, Ibu sama Bapak nanti langsung pergi ke apartemen Bibimu itu."
"Di mana apartemennya?"
"Ibu juga gak tahu, nanti Ibu kirimkan alamat apartemennya kalau sudah sampai. Ibu juga nanti dijemput sama anaknya Bibi," tutur Ningsih di sebrang sana.
"Baiklah bu, kabari saja kalau ibu sudah sampai," ucap Selly sebelum mereka menutup teleponnya.
***
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi. setelah selesai sarapan pagi bersama Nenek dan Mayang, Andre segera bersiap-siap untuk menemui Selly di kostan-nya.
Mayang yang tak ingin ketinggalan ia pun segera bersiap untuk ikut pergi bersama Abangnya itu menemui Selly.
"Nek, aku sama Ayang pergi dulu ya Nek. Nenek baik-baik di rumah, nanti siang kita pulang lagi kok," tutur Andre sebelum ia dan Mayang pergi meninggalkan Neneknya itu sendirian di apartemen.
Sesampainya di depan gedung kost milik Selly, Andre menyuruh Mayang untuk menelepon Selly terlebih dahulu.
Namun, Mayang menolak, ia lebih memilih untuk turun dan langsung bertanya kepada penjaga gedung kost itu.
"Abang mau ikut, atau tunggu di sini?" tanya Mayang ketika ia turun dari mobil.
Andre sejenak terdiam. "Em, ikut saja kala begitu," ujarnya kemudian mereka berdua pun segera pergi menuju gedung kost, yang cukup besar itu.
Mereka mengetuk gerbang kost itu, dan terlihat ada wanita paruh baya, yang badannya agak berisi, memakai daster rumahan, seperti kebanyakan ibu-ibu pakai.
"Maaf cari siapa ya?" tanya wanita itu ketika ia membuka pintu gerbang.
"Em, maaf Bu, di sini ada yang namanya Selly gak? Yang kerja di rumah sakit," ujar Mayang bertanya.
"Ada, tapi saya lihat tadi dia pergi sama pacarnya," jawab Ibu itu.
"Pergi?" Mayang mengernyitkan dahinya.
"Iya tadi pas saya tanya, katanya mau pergi belanja ke supermarket, mau menyambut kedatangan ibunya dari Jawa," ujar Ibu itu menjelaskan dengan detail.
"Oh, begitu, baiklah terima kasih Bu. Saya pamit pulang saja kalau begitu," ucap Mayang. Ibu itu pun mengangguk tersenyum, sebelum ia kembali menutup gerbang gedung kost itu.
Mereka berdua pun kembali masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Abang, terus bagaimana ini?" tanya Mayang khawatir.
"Em, kita pergi saja ke supermarket saja. Supermarket yang serba lengkap di dekat sini cuma ada Ramayana kan?" tanya Andre. Mayang mengangguk membenarkan. Dan Andre pun kembali melajukan mobilnya menuju supermarket yang di maksud.
***
Sementara itu Selly dan Damas kini tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan yang sering mereka kunjungi ketika berbelanja untuk kepentingan sehari-hari.
"Mas, kata Ibuku, besok kita mau adakan acara pertemuan keluarga lagi ya?" tanya Selly. Damas, yang berjalan 1 meter di belakang Selly sambil mendorong troli yang berisi belanjaan, ia mengiyakannya.
"Iya, mumpung Papa aku juga lagi ada di Jakarta. Oh iya, Mama kangen tuh sama kamu, udah satu bulan lebih gak ketemu," ujar Damas.
"Hehe, iya. Aku tuh, sebenarnya masih canggung kalo ngobrol sama Mama kamu, habisnya Mama kamu orangnya sopan dan alus banget kalau bicara."
"Ya... namanya juga turunan Solo, sopan dan selow," jawab Damas terkekeh.
Mereka pun kembali melanjutkan untuk memilih-milih berbagai macam kue kaleng yang berjajar di sana.
Namun, dering telepon milik Damas terasa bergetar di saku celananya. Damas pun segera meraih ponselnya itu. Dan terlihat di layar ponselnya ada panggilan masuk dari Gerry.
"Gerry? Ada apa dia meneleponku?" gumamnya pelan. Namun, Damas memilih untuk tidak menjawab panggilan itu. Ia pun kembali fokus untuk memilih kue bersama Selly.
"Kenapa gak dijawab?" tanya Selly, yang mengetahui kalau Damas meriject panggilan telepon tadi.
"Gak penting," jawabnya dengan cuek.
Namun, tak berapa lama, ponsel miliknya itu kembali berdering. Dan ternyata masih dari nomor yang sama, yaitu dari Gerry. Mau tak mau, Damas pun menerima panggilan itu, lalu sedikit melenggangkan jaraknya bersama Selly.
"Kau ingin tahu apa yang dilakukan Dinda sekarang ini?" suara Gerry di balik ponsel.
"Apa maksudmu? Bicaralah yang jelas," ujar Damas setengah berbisik, karena takut terdengar oleh Selly.
"Kalau kau tak ingin sesuatu terjadi pada Dinda dan janin yang ada di kandungannya, datanglah sekarang juga ke apartemennya."
"Hey, apa yang kau la—" Belum sempat Damas menyelesaikan ucapannya. Teleponnya tiba-tiba sudah terputus.
"Brengsek! Apa maksudnya ini," sungut Damas, mengumpat.
"Apa jangan-jangan Dinda mencoba untuk bunuh diri lagi?" pikirnya begitu panik. Hatinya tiba-tiba begitu tak tenang, wajahnya terlihat begitu tegang.
Selly yang berdiri tak jauh darinya pun menghampiri Damas. "Mas, apa kau baik-baik saja? Tadi ... telepon dari siapa?" tanya Selly heran, yang melihat Damas begitu tegang.
Damas tak menghiraukan pertanyaan Selly. "Selly, maafkan aku. Aku harus pergi sekarang, ada hal penting yang harus aku tangani," ujarnya, lalu pergi begitu saja meninggalkan Selly sendirian.
Selly hanya melongo, merasa aneh dengan sikap Damas barusan. Dan ia pun tak ingin berpikiran negatif.
"Hm, mungkin ada sesuatu hal penting yang terjadi padanya," gumamnya kembali melanjutkan aktivitas belanjanya.
^
__ADS_1
Sementara itu, di sisi lain, ada sepasang bola mata, yang ternyata sedari tadi terus mengawasi Selly. Pemilik bola mata itu, tak lain ialah Gerry. Diam-diam ia melancarkan aksinya. Dan perlahan ia mendekati Selly yang sekarang tengah berdiri di dekat rak yang berjajaran keju dan susu di sana.
Gerry memakai masker hitam yang menutupi mulut dan hidungnya, beserta hoodie berwarna maroon yang menutup tubuh serta sebagian kepalanya.
"Hai Nona," ujar Gerry begitu mendekati Selly. Karena merasa ada seseorang yang memanggilnya Selly pun menoleh ke arah lelaki berhoodie maroon itu.
"Iya, ada apa?" tanya Selly yang tak mengetahui siapa lelaki yang ada di hadapannya kini.
Lelaki itu menyodorkan satu kaleng ikan tuna, berukuran segar.
"Oh ya, cara mengetahui kalau ini dalamnya bagus atau busuk bagaimana ya?" tanya Gerry.
"Em, tinggal lihat saja tanggal expire-nya," jawab Selly. Sebenarnya ia merasa begitu aneh, dengan lelaki yang tak di kenalnya ini.
"Kalau tidak ada tanggal expire-nya, bagaimana cara mengetahui ini masih bagus atau sudah busuk?"
"Ya, Anda harus membuka kalengnya terlebih dahulu Tuan, baru Anda bisa tahu, isinya itu bagus atau busuk," jawab Selly.
"Baguslah kalau kau mengetahui caranya," ujar lelaki itu. Selly semakin mengernyit heran saat lelaki itu berbicara seakan tak nyambung.
"Aneh," gumam Selly. Ia hendak pergi meninggalkan lelaki yang menurutnya aneh itu. Namun, suara lelaki itu, tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Kamu tahu di mana dan apa yang sedang calon suamimu lakukan sekarang?" Gerry kembali melangkahkan kakinya mendekati Selly.
Selly hanya terdiam sambil menatap tajam kedua bola mata lelaki itu.
"Aku tahu, tiga minggu lagi, kau dan Damas akan segera menikah bukan? Tentunya, kau tak ingin bukan menikahi pria yang salah?"
"Apa maksud Anda berbicara seperti itu Tuan?" Selly seakan geram dengan lelaki itu.
"Tak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin kau mengetahui siapa Damas yang sebenarnya. Sebenarnya, kau mau menikahi Damas atau tidak itu adalah hakmu. Tapi, sebelum kalian berdua menyakiti perasaan wanita yang aku sayangi, aku ingin kau merasakan juga bagaimana sakitnya ketika ada rahasia besar yang tak kau ketahui," uja Gerry begitu jelas.
Selly semakin tak mengerti. Ia kebingungan. Dan hanya bengong mendengar ucapan lelaki yang tak dikenalnya itu.
"Datanglah sekarang juga ke alamat ini, jika kau tak ingin menyesal dengan pernikahanmu nanti." Gerry memberikan selembar kertas ke tangan Selly, lalu pergi begitu saja, hilang di balik rak-rak produk yang ada di sana.
Selly masih tak bergeming, ia masih tercengang dan bingung akan maksud dari perkataan lelaki tadi. Lalu matanya perlahan, membaca tulisan yang ada di kertas yang diberikan lelaki tadi.
Di kertas itu tertulis sebuah alamat gedung apartemen, lengkap dengan nomor unitnya, dan juga pin pintunya.
Bahkan di bagian bawahnya ada sebuah kalimat yang bertuliskan { Datanglah sekarang juga, atau kau akan menyesal.}
"Green Leave?" Selly mengernyit heran. Jelas ia mengingat kembali brosur apartemen yang waktu ia temukan di ruang kerja Damas waktu itu.
"Apa brosur waktu itu ada hubungannya dengan semua ini?" pikirnya. Dan tanpa berpikir lama pun, Selly memutuskan untuk pergi ke alamat yang ada di kertas itu. Dan meninggalkan troli belanjaannya begitu saja.
.
.
__ADS_1
.
Lanjut gak?