
"Eh, Abang, cobain deh tuksedo putih itu, kayaknya cocok buat Abang. Bagus," ujarnya sambil menunjuk ke arah tuksedo putih yang terpajang di patung di dalam etalase kaca.
"Aih, kau ini. Abang ke sini buat jemput kamu, bukan buat mencoba tuksedo pengantin!"
"Abang, ayo... coba dulu. Sebentar saja, aku mau lihat!"
Mayang terus merayu Andre. Hingga akhirnya mau tak mau Andre pun menuruti kemauan adiknya itu.
Tak lama kemudian, Salwa kembali lagi setelah beberapa kali ia mencoba berbagai macam gaun.
"Ke mana Abang kamu?" tanya Salwa mendekati Mayang.
"Ada di ruang ganti, lagi mencoba tuksedo buat nikah," jawabnya.
"Tuksedo? Emang Abang kamu mau nikah?"
"Ya mau lah."
"Kapan?"
"Em, secepatnya do'a-kan saja," ucap Mayang tersenyum kikuk.
***
"Iya Nona, kalau begitu kalian bisa lihat dulu untuk model terbaru, atau mungkin dari segi bahan yang kalian inginkan, nanti biar Dinda yang mencatat semuanya," ucap desainer itu kepada Selly dan Merry.
Selly dan Merry pun menganggukkan kepalanya, setlah beberapa menit berkonsultasi dengan desainer itu. Dinda pun kembali mengajak mereka berdua untuk pergi ke ruang gaun.
"Silakan kalau kalian mau mencobanya terlebih dahulu, di sana ada ruang ganti khusus wanita," ucap Dinda menunjuk ke salah satu pintu tuangan di pojok kiri.
Merry pun meminta di turunkan sebuah gaun berwarna putih yang begitu mengembang bagaikan gaun seorang putri raja. Dinda pun menurunkan gaun itu dari patung dan memberikannya kepada Merry.
"Sell, kamu juga langsung nyoba aja kalau ada yang cocok," ucap Merry kemudian berlalu menuju ruang ganti.
"Kak Selly, mau coba juga?" tanya Mayang menghampiri. Selly mengiyakan sambil matanya terus mengitari gaun-gaun yang ada di sana.
"Kak Selly, coba deh gaun kebaya putih yang itu," tunjuk Mayang ke arah gaun kebaya berwarna putih. Lengkap dengan aksen manik-manik putih yang berkilauan.
Selly pun sejenak memandang gaun kebaya itu. Dan ia pun memutuskan untuk mencobanya.
***
Keadaan cukup sepi karena semua orang kini sedang berada di ruang ganti, kecuali Mayang dan Dinda yang masih ada di ruangan tersebut.
Dinda masih sibuk merapikan gaun yang terpajang di patung, sambil memeriksa keadaan gaun tersebut takut ada yang iject.
"Hm... sepertinya kesempatan bagus nih untukku bertanya-tanya kepada wanita itu," gumam Mayang sesekali melirik ke arah Dinda.
"Kalau sampai benar Dr. Damas itu yang menghamili wanita ini, aku harus bisa membongkar semuanya sebelum pernikahan Kak Selly dan dokter itu berlangsung."
__ADS_1
"Hai Kak, lagi hamil ya, sudah berapa bulan?" tanya Mayang mendekati, sambil berpura-pura melihat-lihat gaun yang ada di sekitarnya.
"Em, baru menginjak usia lima bulan," jawab Dinda begitu ramah.
"Oh, begitu. Kakak gak capek ya, sedang hamil tapi bekerja?" tanya Mayang lagi.
"Capek sih, tapi ya mau gimana lagi. Hidup sekarang susah, apa-apa butuh uang."
"Suami Kakak kerja?" tanya Mayang memancing obrolan.
Sejenak Dinda terdiam, ia menghela nafas begitu panjang lalu menghembuskannya perlahan. Wajahnya pun terlihat sedikit sendu.
"Saya ... gak punya suami," jawabnya pelan, dengan tatapan wajah yang seakan begitu sedih.
"Hah?" Mayang mencoba bereaksi senatural mungkin, seolah bingung.
"Saya hamil di luar nikah," sambungnya seakan berat.
"Oh begitu, maaf ya Kak saya gak bermaksud apa-apa," ujar Mayang seolah tak enak.
"Iya, gak apa-apa. Eh iya, ngomong-ngomong kita sebelumnya pernah ketemu ya?" tanya Dinda.
Mayang malah mengerutkan dahinya merasa bingung. "Benarkah?"
"Iya, kalau gak salah sudah beberapa bulan yang lalu, saya masih ingat waktu di lorong rumah sakit umum itu, kamu yang menghampiri saya ketika sayang sedang nangis," ucap Dinda membeberkan semuanya.
Sejenak Mayang terdiam, mencoba mengingat semuanya. Dan ia pun baru tersadar akan hal itu.
"Iya ... waktu itu saya pergi ke rumah sakit untuk menemui pacar saya, dan menceritakan tentang kehamilan saya," sambung Dinda.
"Tunggu, apa pacar Kakak seorang dokter?" tanya Mayang memastikan. Dinda mengangguk mengiyakan.
"Dokter itu bernama Damas?" Dinda langsung mengangguk sambil mengernyit heran.
"Kok, bisa tahu?" tanya Dinda terheran-heran.
"Benar berarti apa yang dikatakan Abangku, dokter itu benar-benar brengsek. Bisa-bisanya dia menghamili wanita lain dan tak mau bertanggung jawab," batin Mayang begitu geram.
"Em, soalnya pas Kakak pergi, dokter itu bertanya padaku dan mencari keberadaan Kakak," jawab Mayang jujur.
"Lalu, kenapa Kakak gak menikah saja sama pacar Kakak itu?" sambung Mayang bertanya.
"Sepertinya hanya mimpi, s bisa menikah dengannya. Lagi pula pacar saya sebentar lagi juga mau menikah, dia dijodohkan sama orang tuanya," ucap Dinda sambil menghela nafas begitu berat, seakan ada sesuatu yang menyesakkan dadanya.
"Loh kok gitu! Harusnya Kakak minta pertanggung jawaban dong, supaya pacar Kakak bisa nikahi Kakak," protes Mayang.
Dinda tersenyum getir mendengar perkataan Mayang.
"Sudahlah tidak apa, lagi pula dia berjanji akan tetap mengurus saya dan anak saya nanti," ucap Dinda seolah pasrah.
__ADS_1
Ketika Mayang hendak berbicara kembali, tiba-tib seseorang dari belakang menepuk pundaknya. Membuat Mayang menoleh dan mengernyit heran ketika melihat sesosok lelaki jangkung yang ada di belakangnya.
"Maaf, Nona, apakah kau pekerja di sini?" tanya Dion kepada Mayang. Mayang masih tak bergeming.
"Saya, Tuan, pelayan di sini. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dinda beralih menghampiri Dion dengan begitu ramah.
Dan tiba-tiba.
"Tuan Dion," ucap Andre yang baru saja keluar dari ruang ganti, dengan penampilannya yang begitu rapi mengenakan tuksedo putih layaknya seorang pengantin pria yang akan menikah.
"Pak dokter," ujar Dion menatap heran.
Mayang dan Dinda pun langsung menoleh ke belakang di mana Andre sudah berdiri 2 meter di dekat mereka.
"Wah... Abang, kau gagah sekali. Benar-benar tampan dan berwibawa," puji Mayang, begitu takjub melihat penampilan Abangnya itu.
"Oh, Anda Tuan Dion, calon suaminya Nona Merry kan?" tanya Dinda mengalihkan, begitu ia mengingat pesan Merry tadi sebelum ia masuk ke ruang ganti.
"Iya."
"Nona Merry sedang ada di ruang ganti Tuan, untuk mencoba gaun pengantinnya. Kalau begitu apa Tuan mau sekalian juga mencoba tuksedonya?" tawar Dinda. Dion pun mengangguk mengiyakan, lalu mengikuti Dinda untuk mengambil tuksedo yang sebelumnya sudah dipilihkan oleh Merry.
"Abang, Abang benar-benar gagah, tampan sekali," ujar Mayang begitu heboh.
"Benarkah? Apa aku segagah itu?" tanya Andre begitu percaya diri, sambil melihat pantulan dirinya di depan cermin besar yang memang terpajang di tembok.
"Iya, Abang, kau benar-benar terlihat jauh berbeda. Ayo kita foto dulu Abang," ucap Mayang sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam saku.
Dan tak lama kemudian Salwa dan Selly keluar dari ruang ganti. Salwa sudah selesai mengganti bajunya kembali memakai baju kasual yang ia pakai sebelumnya. Sedangkan Selly ia keluar memakai gaun kebaya berwarna putih, dengan rok gaun yang mengembang bak sang putri kerajaan. Dan dengan phasmina berwarna putih yang satu stel dengan gaun itu. Membuat tampilan Selly jauh lebih anggun, cantik dan benar-benar memukau.
Bahkan Andre dan Mayang pun seakan terpesona melihatnya.
"Mayang lihatlah, apa aku cocok memakai gaun kebaya ini?" tanya Selly memasang wajah cerianya.
Dan dengan semangat Mayang menganggukkan kepalanya. "Cocok, Kak Selly benar-benar jauh lebih cantik memakai gaun itu," ucap Mayang begitu antusias. Selly pun tersenyum malu mendengarnya, ia pun kembali fokus melihat pantulan dirinya di dalam cermin.
"Bang Andre, ini calon istrinya ya?" tanya Salwa dengan polosnya. Mayang yang mendengar ia langsung terkekeh.
Sementara Andre, ia langsung mengklarifikasinya.
"Ha ha, bukan. Dia, bukan calonku," jawab Andre merasa malu.
"Lah, terus tadi kata Mayang, Bang Andre mau nikah," ujar Salwa.
"Ya kalau nikah emang mau, cuman ... belum ada calonnya," ucapnya tersenyum kikuk.
"Tenang saja, jodoh gak akan ke mana kok," timpal Mayang, tersenyum penuh arti.
Tak lama kemudian Merry keluar dari ruang ganti. Penampilan Merry pun tak kalah anggun dan cantik dari Selly. Gaun yang bagian punggungnya sedikit terbuka, dengan lengan model princess, membuat wanita itu terlihat cantik, imut dan menggemaskan.
__ADS_1
"Wah, Merry... kau cantik sekali, uh... gemas, gemas, gemas," pekik Selly sambil menghampiri. Merry hanya tersenyum tersipu malu.
"Loh, Pak dokter lagi fiting baju buat nikah juga ya?" tanya Merry yang melihat penampilan Andre.