Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - Bab 1 (Selly&Andre)


__ADS_3

Jakarta.


Malam itu, tepat pukul 19.00 WIB, seorang gadis baru saja keluar dari rumah sakit tempat dirinya bekerja. Ia berjalan menuju jalan raya yang malam itu terlihat cukup sepi, bahkan hanya terdapat beberapa mobil saja yang lalu lalang di jalanan.


Selly Estheria, wanita cantik yang bekerja sebagai staf administrasi di rumah sakit umum. Hari-harinya ia fokuskan hanya untuk bekerja dan bekerja. Lelah, sumpek dan capek ia tanggung semua sendirian.


"Iya Bu, aku dan Mas Damas baik-baik saja. Ibu tak perlu mengkhawatirkan hubunganku dengannya," ucap Selly, yang sedang sibuk menelpon dengan Ibunya yang berada di Yogyakarta.


"Ya sudah, aku tutup dulu ya Bu teleponnya, aku ini baru mau pulang," ucapnya, kemudian ia segera mematikan ponselnya.


"Huft... menyebalkan sekali, apa-apa mesti saja Damas yang di bahas! Lagi pula itu lelaki kalau ada masalah kenapa sih selalu ngadu sama orang tuaku!" keluh Selly sambil memutar kepalanya yang terasa pegal, karena capek akibat bekerja lembur.


Sambil terus berjalan menyusuri trotoar, kini matanya di fokuskan kepada seorang wanita berambut pendek yang tengah berdiam menatap jalanan. Namun mata Selly terbelalak ketika wanita itu tiba-tiba melangkahkan kakinya ke tengah jalan raya, sedangkan dari arah kiri ada motor moge yang tengah melaju kencang.


Selly langsung berlari dan dengan cepat ia menarik lengan wanita itu.


Bruk .... terdengar suara jatuh.


Keduanya jatuh di sisi trotoar. Wanita berambut pendek itu terjatuh tepat menumpu tubuh Selly.


Keduanya pun terbangun dan terduduk di sisi trotoar. Dan tanpa di duga, wanita yang hendak bunuh diri itu, ia malah menangis sesenggukan.


"Hey Nona, apa kau baik-baik saja? Apa kau sadar, apa yang kau lakukan barusan itu bisa membahayakan nyawamu," ujar Selly sedikit emosi, sambil membersihkan lengan bajunya yang kotor terkena debu aspal.


Wanita itu tak menjawab, ia semakin mengeraskan suara tangisannya, sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Lalu wanita itu pun berbalik, dan tiba-tiba ia menyentak Selly. "Kenapa kau malah membantuku hah! Kenapa tak membiarkanku mati saja! Apa kau tahu, aku capek! Aku lelah dengan hidupku yang sengsara seperti ini! Aku ingin mati!" serunya sambil menangis sesenggukan.


Selly tercengang, ia sadar betul ternyata wanita yang ada dihadapannya ini, sepertinya sedang mengalami depresi berat. "Nona, tenanglah ...."


Selly mencoba menenangkan wanita itu, dan mengajaknya untuk pergi ke sebuah kafe yang ada di sana. Ada beberapa orang yang melihat kejadian mereka, tapi orang-orang itu seakan acuh dan hanya melihat tanpa membantu.


"Mari, kita duduk dulu di sini," ucap Selly yang memapah wanita itu. Wanita itu terlihat begitu lemas, dengan kantung matanya yang sembab dan lingkaran matanya yang sedikit menghitam, seperti kurang tidur.


Mereka pun mendudukkan diri di atas kursi di depan sebuah kafe. Selly memesan minuman hangat untuk dirinya dan untuk gadis itu.


Hening, tak ada obrolan dari keduanya.


***


"Nona, sepertinya kamu sedang hamil," ujar Selly membuka keheningan, sambil melihat perut wanita itu yang terlihat sedikit buncit.


Wanita itu pun sejenak menatap perutnya, yang berisi janin di dalam rahimnya itu. Tiba-tiba cairan bening dari kedua sudut mata wanita itu kembali membasahi kedua pipinya.


Selly semakin kebingungan karena kini wanita itu malah menangis kembali di hadapannya.


"Nona tenanglah," ucap Selly merasa iba dan bingung.


Seorang pelayan datang membawakan dua gelas minuman hangat untuk Selly dan wanita berambut pendek itu.


"Minumlah dulu, tenangkan dirimu," ucap Selly. Wanita itu pun mengangguk.


Wanita itu pun memberanikan diri untuk mantap wajah Selly. Tiba-tiba ada rasa penyesalan di dalam dirinya. "Maafkan saya Nona ... tadi saya sudah membentakmu," ucapnya.

__ADS_1


Selly pun mendongakkan wajahnya menatap wanita itu. "Tidak apa-apa, setiap orang pasti mempunyai masalahnya masing-masing, tapi mencelakai diri sendiri atau pun bunuh diri, itu bukanlah solusi yang baik untuk masalahmu," ujar Selly.


Wanita itu hanya terdiam menatap kosong minuman yang ada di depannya.


"Oh ya kau tinggal dimana? Apa ada orang yang ingin kau hubungi? Aku akan menghubunginya jika kau mau," tawar Selly.


Wanita itu pun menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Tak akan ada yang peduli kepadaku, sekalipun aku tak pulang, tidak akan ada yang mencari keberadaanku," ucapnya dengan suaranya yang parau.


Tib-tiba, "Aw... perutku!" Wanita itu mendesis kesakitan sambil memegangi perut bagian bawahnya.


"Nona, kau kenapa? ...." Selly terlihat panik, ia kebingungan.


"Tolong ... Tuan bisa tolong kami Tuan," ucap Selly kepada salah seorang lelaki yang baru saja keluar dari dalam kafe sendirian.


Lelaki itu pun mengangguk mengiyakan. Dan Selly pun meminta bantuan kepada lelaki itu, untuk mengantarkan dirinya dan wanita itu ke rumah sakit bersalin ibu dan anak.


***


Sesampainya di rumah sakit. Selly segera memapah wanita berambut pendek itu untuk masuk ke dalam rumah sakit. Sedangkan lelaki yang mengantarkan mereka, ia kembali pergi setelah selesai membantu mereka berdua.


Dan ketika mereka memasuki ruang pendaftaran, tak sengaja Andre melihat Selly.


"Selly, ada apa?" tanya Andre, salah satu dokter SPOG. Yang bertugas di rumah sakit itu.


"Pak dokter, tolong wanita ini, dia sedang hamil dan perutnya sakit," ucap Selly begitu cemas.


Dokter Andre pun mengajak mereka untuk masuk ke ruangannya, dan dengan cepat Selly membantu wanita itu untuk berbaring di brankar.


Andre segera memeriksa keadaan dari wanita itu. Dan ia pun melangsungkan pemeriksaan USG.


Selly pun menjawab. "Iya, tadi Nona ini terjatuh bersamaku," ucap Selly.


Seketika Andre mengernyit heran "Jatuh bersamamu?" tanya Andre yang seolah cemas. Selly mengangguk. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya. Selly kembali menganggukkan kepalanya.


"Aku baik-baik saja, lalu bagaimana dengan keadaan Nona ini?" Selly kembali mengalihkan pembicaraan.


Andre pun kembali menoleh ke arah wanita yang terbaring itu dan kembali melanjutkan pemeriksaannya, kemudian ia pun meresepkan beberapa obat untuk wanita itu.


"Untuk kehamilannya sekarang sudah memasuki tri semester ke dua, rasa sakit tadi itu adalah keram karena shock, untuk saat ini perbanyaklah istirahat, perhatikan juga pola makannya, jangan bergadang dan jangan terlalu banyak pikiran ya," tutur Andre menjelaskan.


Setelah itu, Selly pun kembali menghampiri wanita itu.


"Oh iya, kita belum berkenalan, aku Selly," ucapnya sambil mengulurkan tangan. Wanita itu pun menjabat tangan Selly .


"Aku Dinda," ucapnya sambil mengembangkan senyumannya.


Andre yang melihat mereka berdua seolah bingung. "Jadi kalian ini tidak saling mengenal?" tanya Andre. Selly dan Dinda pun menggelengkan kepalanya.


Andre hanya memanggut-manggutkan kepalanya, "aneh," gumamnya pelan.


"Em ... Nona Selly terima kasih sudah membantuku, maaf jadi merepotkanmu. Oh ya aku akan menelepon seseorang untuk menjemputku," ucap Dinda seraya turun dari brankar. Selly pun mengangguk mengiyakan.


“Tidak apa-apa, lain kali jangan seperti tadi lagi ya,” ucap Selly, sejenak mengusap sebelah bahu Dinda.

__ADS_1


Sebelum mereka keluar dari ruangan kerja Andre, Selly terlebih dahulu berpamitan untuk pulang.


"Aku juga sebenarnya mau pulang," ujar Andre.


"Oh, jadi tadi dokter itu sudah mau pulang ya?" tanya Selly. Andre mengangguk.


Dilihatnya jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 20.20 menit. "Oh iya, ternyata sudah lebih dari jadwal praktikmu, maaf ya kami merepotkan," ucap Selly.


"Tidak apa-apa, itu sudah menjadi tugasku," jawab Andre.


Lalu mereka semua pun berjalan keluar dari rumah sakit.


Dan tak lama kemudian seorang lelaki berjaket coklat, datang menghampiri mereka, lebih tepatnya datang untuk menghampiri Dinda.


"Dinda, apa kau baik-baik saja?" tanya lelaki itu, Dinda pun mengangguk.


"Nona Selly, Pak dokter, terima kasih atas bantuan kalian, saya pamit pulang dulu," ucap Dinda, seraya memeluk Sejenak.


"Baik, hati-hatilah, semoga kamu dan bayimu sehat terus ya," ucap Selly seraya mengembangkan senyuman manisnya.


"Oh ya apa kamu bekerja di rumah sakit umum yang tadi?" tanya Dinda kepada Selly. Selly mengangguk mengiyakan.


"Kenapa memangnya?"


"Apa besok kau bekerja kembali?"


"Em... tidak, besok jadwal aku untuk libur."


"Oh begitu ya, ya sudah semoga lain kali kita bisa bertemu kembali," ucap Dinda, kemudian ia dan lelaki itu pun segera pergi menuju parkiran.


Udara malam ini cukup begitu dingin, hingga membuat Selly, memeluk-kan kedua tangannya ke tubuhnya sendiri.


"Ayo, aku antar pulang," ajak Andre. Meskipun mereka sudah beberapa kali jalan satu mobil bersama, tapi entah kenapa Selly masih merasa canggung, terlebih ia tak ingin merepotkan lelaki yang bergelar dokter SPOG itu.


"Apa tidak merepotkanmu?"


"Tidak ... ayo."


Akhirnya mereka pun pulang bersama, Andre terlebih dahulu mengantarkan Selly ke kost-an-nya. Sebenarnya jarak yang harus Andre tempuh cukuplah jauh jika ia pulang melalui jalur kost-an Selly, tapi itu tidak menjadi masalah bagi Andre. Yang terpenting wanita yang selama ini ia kagumi itu bisa selamat sampai rumah dengan keadaan baik-baik saja.


.


.


.


Bersambung.


Pemeran Utama :


Selly, wanita cantik, berhijab yang hidupnya penuh aturan dari kedua orang tuanya.


Damas, lelaki yang dijodohkan dengan Selly.

__ADS_1


Andre, dokter muda tampan, yang mengagumi Selly sejak lama.


Mayang, adik dari dokter Andre, sekaligus teman baik Selly yang berambisi untuk menjadikan Selly sebagai kakak iparnya.


__ADS_2