Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - 37


__ADS_3

Pagi harinya Mayang tengah sibuk menyiapkan sarapan bersama neneknya. Andre baru saja keluar dari kamarnya, lalu menghampiri mereka di dapur.


Masih terlihat jelas kebimbangan di wajah Andre. Ia semalaman bahkan tidak bisa tidur, akibat terlalu memikirkan masalah kesalah pahaman itu.


"Abang ayo makan dulu, siang ini kita jadi pulang kan?" tanya Mayang sambil menyimpan dua piring nasi goreng di atas meja makan. Di susul oleh sang Nenek yang membawa satu piring bubur untuk dirinya sendiri.


Andre pun mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi yang melingkar di meja makan tersebut. Lalu mereka semua pun menyantap makanannya.


"Kenapa Abangku ini, sedari tadi terlihat sedikit aneh, bahkan tatapan matanya saja terlihat begitu sayu. Apa Bang Andre sedang ada masalah ya?" gumam Mayang dalam hati, sambil menatap Andre sekilas.


Andre terlihat tidak begitu berselera makan, ia hanya mengaduk-aduk nasi goreng yang ada di atas piring menggunakan sendok, dan hanya beberapa kali saja ia menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya.


"Ah... ya Allah... aku harus bagaimana?" batin Andre. "Masa iya aku menikah dengan Selly karena kesalah pahaman," batinnya lagi.


"Abang."


"Abang!"


"Abang... Andre...." Mayang memanggilnya sedikit berteriak, membuat lamunan Andre membuyar.


"Hah? Iya apa?" Terlihat sekali kalau Andre memang bengong dan tidak fokus.


"Abang kenapa sih! Lagi ada masalah ya?" tanya Mayang heran, sambil kembali menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Hm... iya," jawabnya.


"Ada apa Ndre? Sepertinya semalam sepulang dari apotek kamu terlihat cemas begitu?" tanya sang Nenek.


"Eh, tunggu ...." Mayang sedikit mencondongkan tubuhnya mendekati Andre, dilihatnya dengan begitu teliti wajah tampan Abangnya itu.


Lalu Mayang pun membulatkan kedua matanya lebar-lebar. "Abang! ... Abang abis berkelahi ya? Kok ada luka lebam di sudut bibir Abang. Ini juga, di pelipis Abang kok biru-biru gitu sih!" Mayang baru tersadar kalau sebenarnya memang ada yang tidak beres dengan Abangnya itu.


"Ya Allah mana, sini Nenek lihat." Neneknya pun mengamati wajah cucu tampannya itu dengan baik-baik.


"Ya Allah... Ndre... kamu berkelahi ya?" tanya Nenek tak percaya.


Andre yang tak bisa mengelak, ia pun menganggukkan kepalanya pelan, "iya Nek," jawabnya.

__ADS_1


"Astagfirullah Abang... kenapa Abang bisa berkelahi? Abang gelut sama siapa Bang? Kok bisa-bisanya sampai bikin luka di bibir Abang?" tanya Mayang begitu khawatir.


Andre hanya menghela nafas lalu menghembuskannya perlahan. "Hm... kalian habiskan dulu makannya, setelah itu  nanti kita bicara di ruang TV, ada yang mau aku bicarakan bersama Nenek dan kamu Ayang," ucap Andre, ia pun segera meneguk segelas air yang ada di dekatnya, lalu berlalu terlebih dahulu menuju ruang TV.


Mayang dan sang Nenek pun hanya saling menatap heran. "Ayo Nenek habiskan dulu makanannya, sepertinya terjadi sesuatu hal penting sama Bang Andre.


***


—Di vila mawar.—


"Pak, masalah semalam apa kita tak terlalu berlebihan sampai harus menikahkan Selly dengan lelaki itu?" tanya Ningsih yang sedang menata piring di atas meja makan.


"Iya juga sih, dipikir-pikir semalam Bapak terlalu terbawa emosi sampai tak bisa berpikir dengan jernih," jawab Setyo sambil menahan dagunya dengan kedua tangan di atas meja makan.


"Lalu bagaimana? Ibu jadi malu sama lelaki itu," tutur Ningsih. "Eh, tapi Pak, ini juga bisa jadi kesempatan bagus sih, biar anak kita gak gagal nikah, hanya ganti calon suaminya aja," ujar Ningsih mengulaskan sedikit senyuman di bibirnya.


Setyo terlihat sedang berpikir keras, ia menatap kosong lurus ke depan. "Hm... entahlah, Bapak belum bisa memutuskan apa-apa untuk masalah ini."


Tak lama kemudian Selly baru saja menuruni tangga, datang ke dapur menghampiri mereka, lalu ikut mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi yang ada di dekat meja makan.


Masih terlihat kecemasan dan khawatir di wajah Selly. Wanita itu benar-benar tak habis pikir akan keputusan Bapaknya semalam yang hampir membuat jantungnya copot.


Setelah beberapa menit menunduk, akhirnya Selly memberanikan diri untuk menatap Bapak dan Ibunya itu.


"Makanlah," ucap Ningsih menyodorkan sepiring makanan yang lengkap dengan nila goreng dan sambal serta sayur mentah kesukaan Selly.


Begitu pun dengan Setyo dan Ningsih mereka langsung melahap makanan yang ada di piring mereka masing-masing.


Sambil melahap makanannya, Selly sebenarnya sudah merasa tidak tahan ingin mengutarakan isi hatinya. Tapi ia tahu, ini adalah waktunya makan, tentu bukan momen pas untuk membahas masalah semalam.


Setelah selesai menghabiskan makanannya, Selly pun akhirnya membuka suara, memecah keheningan di antara mereka.


"Pak, Bu, Selly ingin berbicara masalah semalam," ujarnya memberanikan diri.


Setyo tiba-tiba menghentikan makannya, yang tersisa tinggal sedikit lagi, diikuti pua oleh Ningsih. Setelah selesai meneguk segelas air mineral. Setyo pun baru bisa membuka suara.


"Apa yang ingin dibahas?" tanyanya dengan ciri khas suaranya yang begitu besar dan nge-bas.

__ADS_1


"Aku tidak mau memaksakan dokter Andre untuk menikahiku. Dia tidak salah Pak, kejadian tadi malam hanya salah paham saja."


"Tapi bagaimana pun dia sudah berani menggendongmu, bahkan membawamu ke dalam kamar gelap-gelapan berduaan pula."


"Tapi Pak, aku tahu maksud Andre membawaku ke kamar itu hanya semata-mata ingin menolongku, melindungiku dari penjahat semalam itu."


Setyo sejenak terdiam, sebelum ia kembali bersuara. Ia menghela nafasnya dalam-dalam. "Lalu apa kamu siap, dengan gosip yang beredar nanti? Gosip yang bisa mencoreng nama baik keluarga kita? Sudah gagal menikah, kepergok berduaan dengan lelaki lain juga, apa kamu siap hah"


Selly menundukkan kepalanya, matanya sudah berkaca-kaca, genangan cairan bening di kedua kelopak matanya sekuat mungkin ia tahan, ia tak ingin memperlihatkan jatuhnya air mata di depan kedua orang tuanya.


"Tapi Pak... Selly juga tak ingin menikah karena terpaksa," jawab Selly yang masih menundukkan kepalanya.


"Bapak hanya ingin kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu alami."


"Tapi Pak, menikah juga membutuhkan cinta, setidaknya rasa saling suka."


"Aih... kau ini, kalau masalah cinta itu bisa menyusul," jawab Setyo.


"Tapi Pak, untuk siap menikah juga butuh ruang dan waktu, tak sekejap harus mau," ucap Selly dengan suara yang mulai tercekat di tenggorokan, seolah ada sesuatu yang berat menghalanginya untuk bersuara.


"Selly sayang... apa kau tidak kasihan kepada kedua orang tuamu ini Nak? Ibu tak mau kamu menjadi bahan gunjingan keluarga kita karena kegagalan pernikahanmu. Apalagi kalau kerabat kita mengetahui masalah tadi malam, bisa-bisa keluarga kita semakin direndahkan."


"Tapi Bu! Yang mengetahui masalah semalam kan hanya kita saja, tak ada orang lain yang tahu."


"Selly kamu tahu Nak, kabar buruk sekecil apa pun akan mudah tersebarnya di banding kabar kebaikan. Dinding saja bisa berbicara menyampaikan dari tiap rumah ke rumah. Kamu tidak tahu Nak, bagaimana pendengaran orang itu begitu tajam. Bisa saja semalam ada yang menguping perdebatan kita dan menjadikan hal itu sebagai bahan gibah untuk orang-orang, belum lagi tiap orang yang menyampaikannya tidak akan sama, ada yang mengurangi ada yang melebih-lebihkan," tutur Ningsih.


Selly yang sejak tadi merasa kesal dan kecewa akan kedua orang tuanya. Tanpa berpamitan ia pun langsung pergi keluar begitu saja, meninggalkan Ningsih dan Setyo yang masih setia duduk di kursi meja makan.


"Bagaimana ini Pak?" tanya Ningsih dengan wajahnya yang terlihat begitu cemas.


"Bapak juga tak tahu Bu," jawab Setyo sebelum akhirnya ia pergi berlalu menuju ruang tengah.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2