Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
tahu bagaimana menghadapi Hans


__ADS_3

Malam hari nya, sesuai dengan apa yang Hans inginkan tadi siang, Tiara selesai membuat sate khas dirinya. Sate dengan versi yang berbeda tetapi memiliki rasa yang sangat enak, sebelum membuat makanan ini dia sudah mencari resep terbaik yang bisa digunakan, semua itu agar Hans semakin semangat makan masakannya.


Hans yang sejak tadi sudah tidak sabar memilih untuk turun ke dapur sebelum Tiara membawa makanan itu ke kamar, dirinya sudah sangat lapar dan tidak sabar merasakan makanan enak yang Tiara masak.


"Lah kamu sudah turun, baru aku ingin membawanya ke kamar," ucap Tiara yang melihat kedatangan sang suami.


Hans hanya duduk di kursi tempat biasanya ia makan, ya walaupun dirinya jarang makan di dapur ia mempunyai tempat khusus kalau sewaktu waktu ia ingin makan di dapur.


"Kok bentuknya berbeda, kenapa tidak ada tusuknya," ucap Hans.


"Pertama aku ingin membuat versi yang berbeda, kedua memang tidak ada tusuk sate di sini, pada aku keluar malam-malam lebih baik aku berinovasi saja. Kamu tenang saja rasanya pasti akan tetap enak," kata Tiara.


"Kalau rasanya tidak enak bagaimana? Kamu akan mendapatkan hukuman dariku." Hans mengambil sendok dan langsung mencobanya.


Dirinya kembali kagum dengan makanan yang Tiara masak, rasanya sangat luar biasa dan jauh lebih enak dari yang ia makan tadi.


"Mas kamu bisa bertemu dengan abangku tidak, tadi dia menghubungiku dan dia ingin segera bertemu denganmu," ucap Tiara.


Hans langsung menghentikan kegiatan makannya, dirinya belum bisa bertemu dengan Evans. Walaupun mereka berdua sudah menikah, bisa saja Evans menarik Tiara dari dirinya, Hans tidak mau itu terjadi, selain rencananya belum terlaksana dirinya juga sudah sangat bergantung pada wanita ini.


"Tidak bisa, nanti aku pikirkan cara bagaimana agar abangmu tidak bertanya tentang aku lagi, kenapa sih dia sibuk sekali. Adiknya mau nikah di banyak tingkah," ucap Hans sambil melanjutkan kegiatan makannya.

__ADS_1


"Rencana bagaimana sih mas, kamu hanya tinggal bertemu saja. Dia tidak akan marah kepada kamu, aku mohon mas bertemu dengan abangku ya," kata Tiara.


"Tidak bisa Tiara jangan membuatku emosi, kamu tidak tahu apa-apa ikuti saja apa yang aku katakan," ucap Hans dengan nada yang mulai meninggi.


Kalau seperti ini Tiara langsung diam seketika, ia tidak mau membuat Hans semakin meninggikan nadanya, kalau sudah seperti ini sebaiknya ia tidak membuat sesuatu yang semakin mancing emosi Hans.


Hans mengambil handphonenya dari kantong celana, ia menghubungi seseorang yang dapat membantunya agar Evans tidak terus meminta bertemu dengannya. Seorang itu adalah Ayah Tiara sendiri yaitu Herman, kebetulan Herman memang sudah mempunyai rencana agar Evans berhenti meminta ingin bertemu dengan suaminya Tiara.


"Bagus kalau begitu, segera lakukan itu agar dia berhenti bertanya tentang ku. Kalau sampai dia masih bertanya tentang ku kau sendiri yang akan bertanggung jawab," ucap Hans.


"Saya membutuhkan Tiara tuan, Tiara rencana saya tidak akan bisa berjalan dengan baik."


"Besok kami akan menemuimu," ucap Hans sambil mematikan sambungan telepon itu.


"Hai manusia aneh, kamu masih menganggap dia ayahmu. Dia saja menjualmu padaku bagaimana mungkin kamu masih bisa menganggap dia ayahmu," ucap Hans.


"Bagaimanapun dia, mau seperti apapun sifatnya dia tetap ayahku, walaupun aku marah padanya kesal padanya aku tidak pernah membencinya. Karena membenci seseorang juga bukan hal yang baik, dengan membenci seseorang masalah juga tidak dapat teratasi. Dan aku bahagia kok menikah dengan kamu, aku senang bisa bertemu dengan kamu, aku sangat bangga mempunyai suami seperti kamu," ucap Tiara.


Hans mengerutkan dahinya, belum apa-apa Tiara sudah berkata seperti itu. Semuanya ia rencanakan malah berbanding terbalik dengan apa yang terjadi, ia ingin Tiara merasa tersiksa di pernikahan mereka berdua, ia ingin Tiara tidak bahagia di pernikahannya, ia juga ingin Tiara membencinya. Tapi sekarang apa yang terjadi, semuanya berbanding kebalik.


Tiara mendekati Hans dan memeluknya dengan erat. "Walaupun kamu sangat seram dan gampang emosian kamu tetap suami terbaik."

__ADS_1


"Jangan asal memelukku seperti ini," ucap Hans.


"Memeluk sendiri juga, apa salahnya memeluk suami sendiri," kata Tiara.


"Aku sedang makan Jangan menggangguku nanti yang ada kamu yang aku makan."


"Mas kenapa tadi kamu tidak jadi, aku pikir kita akan melakukan di kamar mandi lagi," ucap Tiara.


"Oh jadi kamu ingin, katakan jika ingin."


"Tidak ah aku takut, kamu dengan istri-istri kamu saja deh. Jangan denganku," ucap Tiara.


"Kamu tuh aneh, seharusnya kamu senang aku selalu dekat denganmu. Mereka saja ingin aku selalu dekat dengan mereka, dan kamu malah memintaku untuk tidur dengan mereka," kata Hans.


"Ya kamu juga harus adil dong mas, kamu tahu aku tuh dimusuhin di sini. Mereka sangat membenciku karena mereka pikir aku merebut kamu dari mereka, padahal kamu sendiri yang tidak mau dekat dengan mereka, kalau dipikir-pikir mah itu kesalahan mereka sendiri dong. Kenapa suami mereka tidak mau dekat dengan mereka," ucap Tiara.


"Menurutmu kenapa aku tidak mau dekat dengan mereka? Padahal kalau lebih cantik dan seksi sudah pasti mereka jauh di atasmu," ucap Hans.


"Aku juga tidak tahu kenapa, yang kamu katakan itu juga benar. Mereka memiliki tubuh yang sangat sempurna, dada yang besar seperti yang kamu inginkan," kata Tiara.


"Apa itu saja cukup untukku?"

__ADS_1


"Aku rasa sih tidak, menurutku sebenarnya kamu itu perhatian dari mereka, mengapa aku merasa mereka hanya ingin uangmu tubuhmu bukan hatimu," ucap Tiara.


__ADS_2