Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - 9


__ADS_3

Siang itu, suasana di kantin rumah sakit cukuplah ramai, karena ada beberapa mahasiswa baru yang sedang dalam masa dinas di rumah sakit itu. Meja kantin yang biasanya terisi sedikit, sekarang lumayan penuh.


Selly memesan toge goreng kesukaannya, bersama salah satu kolega kerjanya. Sambil menyantap makanan mereka masing-masing, tiba-tiba Damas muncul yang entah dari mana, tiba-tiba sudah berdiri di samping meja mereka.


"Hai, boleh geser sedikit?" tanya Damas ke teman Selly yang duduk berseberangan. Wanita itu pun mengangguk dan menggeser tubuhnya, mempersilakan Damas agar bisa duduk berhadapan dengan Selly.


"Terima kasih," ucap Damas pada wanita itu, sambil mendaratkan tubuhnya di atas bangku kayu itu.


"Selly, apa kamu masih marah padaku?" tanya Damas begitu lembut. Selly masih terdiam tak menggubris perkataan kekasihnya itu.


"Selly, keja—"


"Tak perlu membahasnya lagi, aku sudah memaafkanmu," ujar Selly memotong ucapan Damas, sambil memasang wajah juteknya.


"Benarkah? Kau sudah memaafkanku?" tanya Damas berbinar-binar.


"Iya."


"Kalaupun bukan karena ibuku yang terus menerus meminta untuk memaafkanku, rasanya aku tak ingin bertemu denganmu lagi. Aku heran, ini lelaki kalo ada masalah pribadi kenapa mesti mengadu sama ibuku terus sih!" gerutunya dalam hati.


"Oh ya ini, aku bawakan kamu hadiah," ujar Damas sambil menyodorkan satu paper bag berisi tas Aig Ner berwarna dark grey.


"Menyogokku biar gak marah?" tanya Selly sambil menghentikan makannya.


"Bukan, aku memang ingin membelikanmu hadiah saja. Di pakai ya," ucap Damas.


Selly pun mengambil alih paper bag berwarna putih itu. Dan dilihatnya sling bag kesukaannya. Dari salah satu brand ternama yang lumayan elite.


"Hm, lumayan," gumam Selly, ketika mengeluarkan tas itu dari paper bag.


"Gimana suka?" tanya Damas mengembangkan senyumannya, Selly hanya mengangguk tanpa berekspresi sedikitpun.


"Terima kasih," ujarnya masih dengan nada bicara yang begitu dingin.


Setelah menerima hadiah dan menghabiskan makanannya, Selly segera mengajak rekan kerja yang menemaninya makan itu untuk kembali ke ruangan mereka.


Namun sebelum itu, Selly tak lupa berpamitan dulu kepada Damas. "Oh ya, nanti sore aku dan Merry akan pergi ke salah satu butique untuk memesan gaun pernikahan. Aku tahu kau hari ini bertugas sampai malam, jadi aku ke sana langsung bersama Merry," ujar Selly berdiri dari duduknya.


"Hm, baiklah kabari saja aku jika nanti kau sudah sampai di sana," ucap Damas, kemudian Selly pun segera berlalu pergi meninggalkan Damas di sana.


"Huh, sungguh menyebalkan. Kenapa harus secepat ini sih jadwal pernikahannya," gumam Selly seakan tak tenang. Karena tak terasa waktu menuju hari pernikahannya tinggal 5 minggu lagi.


***


"Mayang...." Teriak seorang wanita dari kejauhan, wanita itu terlihat sedang berlari di tengah kerumunan para mahasiswa yang baru saja keluar dari kelas, ia mengejar Mayang yang sedang berjalan di koridor kampus.


Mayang pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, ternyata Salwa, teman seangkatan namun beda fakultas dengannya, sedang berlari menghampirinya.


"Mayang, sore ini sibuk enggak?" tanya Salwa sambil bergelayut manja di sebelah lengan Mayang.

__ADS_1


"Enggak, kenapa emangnya?"


"Anter aku ke butique yuk, mau cari gaun buat pesta ulang tahunku minggu depan," ujarnya sambil mengembangkan senyuman di wajahnya, dengan penuh harap.


"Malas ah," jawab Mayang dengan cuek.


"Yah, Mayang... ayo temani aku dong, please...." Salwa terus bergelayut manja di sebelah lengan Mayang, layaknya seorang gadis kecil yang merengek ingin dibelikan mainan.


"Please, please, please... nanti aku traktir deh," bujuknya.


Namun Mayang masih tak peduli.


"Traktir sama nonton deh," tawarnya lagi. Namun Mayang masih tak menggubrisnya, ia masih fokus berjalan lurus ke depan.


"Ya udah deh, makan di kantin gratis satu minggu," tawarnya lagi. Seketika Mayang mengembangkan senyumannya.


"Beneran nih? Gratis satu minggu?" tanya Mayang memastikan. Salwa pun mengangguk mengiyakan.


"Baiklah, ayo, spesial hari ini teruntuk sahabatku yang tajir melintir ini, aku akan menemanimu ke mana pun kamu pergi," ujar Mayang. Mereka pun segera pergi menuju butique yang cukup terkenal di kota mereka.


***


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 15.00 sore, itu menandakan jam kantor sudah selesai dan waktunya untuk pulang. Sebelum pulang Merry terlebih dahulu berpamitan kepada Dion kekasihnya.


"Dion, nanti kalau kamu sudah selesai dengan pekerjaanmu, langsung jemput aku ke butique ya," pinta Merry kepada Dion. Dion menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Sesampainya di lobby, Merry langsung mempercepat langkahnya untuk menemui sahabatnya itu.


"Selly...." Merry langsung memeluk sahabatnya begitu erat. Seperti orang yang tidak bertemu bertahun-tahun.


"Merry, lepaskan! Kau ini, selalu saja seperti itu," ujar Selly, namun malah kembali memeluk sahabatnya itu dengan begitu erat.


"Udah lama banget kita gak ketemu," ucap Merry sambil melepaskan pelukannya.


"Perasaan baru sebulan kita gak ketemu," jawab Selly sambil bergandengan berjalan menuju luar.


"Tetap saja, aku rindu sama kalian, sama Fira dan kedua baby-nya juga," timpal Merry.


"Eh iya, gimana ya kabar Fira. Kita juga udah lama gak nengokin si kembar."


"Fira kayaknya sibuk ngurus si kembar, sampek-sampek belum punya waktu buat kumpul lagi bareng kita."


"Yah... pasti lah, kita juga kan emang masing-masing lagi sibuk ngurusin buat pernikahan kita masing-masing," jawab Selly, Merry pun membenarkannya.


Mereka terus berjalan ke jalan raya, mencegat taksi dan segera pergi menuju butique yang akan di tuju. Sepanjang perjalanan kedua wanita itu, tak ada henti-hentinya terus bercerita satu sama lain, mulai dari hal biasa sampai ribetnya mengurus pernikahan. Dan tak jarang mereka berdua juga membahas soal pasangan mereka masing-masing, siapa lagi kalau bukan Dion dan Damas.


Sesampainya di butique, mereka segera masuk. Ini adalah salah satu butique ternama di daerah Jakarta, karena pemilik boutiquenya sendiri adalah seorang desainer ternama lulusan dari Paris.


Seorang pelayan butique, yang terlihat masih muda menyambut ramah mereka berdua dengan begitu hangat. Dan mengantarkan mereka berdua ke ruangan yang di dalamnya sudah berjajar banyaknya gaun yang terpajang di patung.

__ADS_1


Lalu seorang pelayan baru, datang menghampiri mereka berniat untuk memperkenalkan design-design terbaru yang ada di butique itu.


Namun, sepertinya wanita itu tak asing lagi di mata Selly. Pelayan itu tak lain ialah Dinda, seseorang yang sempat ia tolong beberapa hari yang lalu.


"Nona Dinda," ucap Selly terheran-heran.


"Nona Selly," ucap Dinda tak menyangka.


Merry yang melihat mereka berdua seolah heran. "Kalian saling kenal?" tanya Merry.


Selly seketika menoleh ke arah sahabatnya yang sedang kebingungan itu. "Oh, iya, kita pernah bertemu beberapa hari yang lalu. Ternyata kamu bekerja di sini ya?" tanya Selly kembali mengarahkan pandangannya kepada Dinda, Dinda mengangguk tersenyum.


Dinda pun segera mengajak mereka untuk memilih model gaun yang diinginkan. Merry begitu heboh ketika


ia menemukan gaun impiannya terpajang di sana.


"Ya ampun, gaun ini ternyata bena-benar ada," ujar Selly mendekati gaun yang terpajang di patung. Dinda pun menjelaskan akan bahan, dan keunggulan dari gaun tersebut kepada Merry.


"Eh, Selly kamu udah dapat belum?" tanya Merry, Selly menggelengkan kepalanya, karena masih bingung gaun mana yang harus ia pilih karena begitu banyaknya pilihan gaun yang begitu bagus.


"Nona Selly mau menikah juga?" tanya Dinda. Selly mengangguk tersenyum malu.


"Kami mau menikah bersamaan Mbak, eh, gak bersamaan juga sih, beda seminggu," ujar Merry. Dinda pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu ia pun merekomendasikan gaun keluaran terbaru. dan menawari mereka berdua untuk memesan gaun dengan design sesuai keinginan mereka sendiri pun bisa.


Dinda pun membawa mereka berdua ke lantai atas, untuk langsung bertemu dengan desainer-nya sendiri.


Namun ketika mereka sampai di lantai atas. Selly cukup terperanjat saat menemukan Mayang yang berada di sana.


"Mayang," pekik Selly tak menyangka.


Begitu pun dengan Mayang yang cukup terkejut mendapati kehadiran Selly di sana.


"Kak Selly," ucap Mayang sambil melebarkan senyumannya.


Dan lagi-lagi Merry terheran, melihat mereka. "Kalian saling kenal juga?" tanya Merry. Selly mengiyakan.


"Dia Mayang, adiknya dokter Andre," jawab Selly.


Merry sejenak terdiam mengingat nama Dr. Andre. "Oh, Dr. Andre yang waktu itu nolongin kamu pas di villa?" tanya Merry heboh, lagi-lagi Selly mengiyakannya.


Merry dan Mayang pun saling berjabat tangan berkenalan. Kemudian seperti biasa, mereka basa-basi layaknya seorang wanita.


Dinda pun mengajak terlebih dahulu Merry dan Selly untuk masuk ke ruang desainer. Dan meninggalkan Mayang sendirian diruang tunggu itu.


"Wah, kesempatan bagus nih, Kak Selly ke sini gak sama dokter jahat itu. Aku akan menelepon Abangku, dan memberitahukan bahwa Kak Selly ada di sini," gumam Mayang, sambil merogoh tasnya mencari benda pipih serba guna kesayangannya itu. Dan ia pun segera menyambungkan ponselnya ke nomor ponsel Andre.


Bersambung...


Makasih yang masih setia nunggu cerita ini, author sayang kalian semuanya pokoknya ❤️

__ADS_1


__ADS_2