Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Kau Bara Bukan Dion


__ADS_3

Kini Bara dan Fira sudah sampai di rumah Papa Hito. Mereka masuk ke dalam rumah. Dan betapa terkejutnya Lisa saat melihat penampilan Fira yang acak-acakan.


"Kak Fira. Kakak kenapa?" tanya Lisa khawatir, ia segera berjalan menghampiri Fira.


"Oh... i-ini–"


"Kenapa baju kakak ada darahnya? Darah apa ini kak?" tanya Lisa, memotong ucapan Fira.


Wina dan Hito yang mendengar kebisingan di ruang depan, membuat mereka penasaran dan segera pergi untuk memastikan semuanya.


Dan betapa terkejutnya Wina saat melihat penampilan menantunya itu, terlebih ia terkejut saat melihat darah di baju Fira.


"Fira sayang, kau kenapa? Kenapa ada darah di bajumu, dan ini kenapa kerudungmu robek seperti ini?" tanya Wina, cemas.


"A-aku tidak apa-apa Ma, ini tadi aku dan Mas Bara habis menolong Raina," ucap Fira jujur.


"Raina? siapa Raina?" tanya Hito, ia juga cemas melihat keadaan menantunya seperti itu.


"Di-dia teman ku Pa," jawab Fira, gugup.


"Sebenarnya kalian ini habis dari mana? malam-malam begini baru pulang," ujar Hito.


"Ma, Pa, aku dan Fira habis dari restoran, dan tadi teman kita mengalami kecelakaan, makanya aku dan Fira membawanya ke rumah sakit," tutur Bara menjelaskan.


"Ya sudah kalau begitu, kalian bersihkan dulu tubuh kalian," ucap Wina. Fira dan Bara mengangguk, dan mereka segera berlalu menuju kamar.


Fira masuk terlebih dahulu ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Bara ia duduk di tepi ranjang sambil memikirkan kembali kejadian tadi.


Tiba-tiba Bara mengingat kembali bagaimana perilaku Raina kepada Fira tadi saat mengamuk.


"Wanita itu sudah tidak waras. Kenapa dia bisa segila ini mencintaiku, ... argh..." Bara mengacak rambutnya seakan frustrasi.


"Aku tahu dia tidak akan diam untuk memenuhi keinginannya. Untuk ke depannya aku harus lebih berhati-hati dalam mengawasi Fira. Aku tidak ingin hal buruk menimpa Fira," ucapnya.


Tak lama kemudian, Fira keluar dari kamar mandi, dengan berbalut kan handuk putih yang menutupi sebagian tubuhnya. Ia berjalan menuju lemari, untuk mengambil pakaiannya. Dan kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai pakaian.


Setelah selesai Fira keluar, dan menghampiri Bara, yang sedang duduk melamun di tepi ranjang.


"Mas, apa kau baik-baik saja?" tanya Fira, mendudukkan tubuhnya di samping Bara.


Bara menganggukkan kepalanya pelan, dan memberi senyumannya kepada Fira.


"Cepatlah mandi, kita harus bersiap-siap untuk kembali ke rumah sakit," ucap Fira. Bara pun mengiyakan dan segera berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


***


Bara dan Fira, keluar dari kamar, bersiap untuk pergi kembali ke rumah sakit. Namun saat di ruang tengah, Wina dan Hito, yang melihat mereka berdua seakan pergi, mereka mencegatnya.


"Bara, Fira, kalian mau ke mana lagi?" tanya Hito, yang kini sedang berjalan menghampiri mereka.


Bara dan Fira menghentikan langkahnya. "Kami mau pergi ke rumah sakit Pa, untuk memastikan keadaan Raina," jawab Bara.


"Ini sudah terlalu malam, lihatlah, sudah jam 12 malam, kalian mau keluar lagi? Kalian tidak di beri izin untuk keluar dari rumah ini!" tegas Hito.


"Tapi Pa,"


"Tidak ada tapi-tapian! Cepat kembali ke kamar kalian, dan tidurlah. Besok pagi kalian baru boleh keluar. Kasihan istrimu, jangan biarkan Fira kelelahan ataupun sakit," ucap Hito penuh penekanan.

__ADS_1


Bara pun akhirnya menuruti kemauan Papanya, terlebih dia juga sebenarnya kasihan kepada Fira, takut kelelahan. Akhirnya mereka pun kembali ke kamar mereka.


"Mas, coba kau telepon Kak Dion, beritahu dia kalau kita tidak bisa ke sana," usul Fira. Bara pun segera meraih ponsel yang ada di saku celananya, untuk menelepon Dion.


"Hallo Di," ucap Bara.


"Iya kenapa?" suara Dion dibalik ponsel.


"Apa Raina sudah sadar? Aku dan Fira tidak bisa kembali ke sana, karena sudah larut malam, dan Papa juga melarang kami untuk keluar rumah lagi," tutur Bara.


"Raina masih belum sadar, mungkin satu atau dua jam lagi. Kau dan Fira tenanglah, nanti kalau Raina sudah sadar, aku akan menghubungi kalian kembali," ujar Dion, di sebrang sana.


"Baiklah kalau begitu. Oh ya apa kau sudah menghubungi pihak keluarga Raina?"


"Tentu, di sini ada neneknya Raina dan aku yang menjaga Raina. Kalian tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja."


"Baiklah kalau begitu, terima kasih," ucap Bara, sambil mengakhiri teleponnya.


"Bagaimana Mas? Apa Non Raina sudah sadar?" tanya Fira dengan cemas.


"Dia masih belum sadar, tapi kau tenang saja, disana ada Dion dan neneknya Raina yang berjaga. Sekarang lebih baik kita istirahat saja," ucap Bara, sambil mengusap lembut puncak kepala Fira.


Fira menganggukkan kepalanya, ia segera melepas kerudungnya, dan berganti pakaian ke kamar mandi.


Setelah selesai berganti pakaian, Fira segera naik ke tempat tidur, menyenderkan badannya di bahu ranjang, bersebelahan dengan Bara.


"Kemarilah," ucap Bara, sambil merengkuh bahu Fira, agar dia bersandar dibahunya.


"Mas," panggil Fira dengan lembut.


"Jika terjadi sesuatu pada Nona Raina, apa kau akan ikut bertanggung jawab?" tanya Fira, menengadahkan kepalanya ke atas, menatap wajah suaminya.


"Em... Insya Allah, tidak akan terjadi sesuatu padanya."


"Tapi Mas, aku ... aku merasa tidak tenang. Semua kejadian ini terjadi gara-gara aku Mas, Nona Raina seperti itu, karena dia mengejar kita Mas," lirih Fira, seakan takut.


Bara, menarik badannya, dan kini ia duduk berhadapan dengan Fira, sambil memegang kedua bahu Fira.


"Fira... semua ini terjadi atas kehendak Illahi, kau jangan menyalahkan dirimu seperti ini. Lagi pula kita semua tidak ada yang tahu, kalau kejadiannya akan berakhir seperti ini," tutur Bara mencoba menenangkan Fira. Bara kemudian merengkuh tubuh Fira, menariknya dalam dekapan pelukannya, memberinya usapan lembut di punggung dan kepala Fira, sambil mencium kening Fira begitu lama. Kemudian Bara segera mengajak Fira untuk beristirahat, karena waktu yang sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari.


***


Di rumah sakit.


Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Dion yang masih terjaga semalaman, ia masih belum mendapatkan tanda-tanda pergerakan dari Raina.


Neneknya yang semalaman lelah karena menangis, ia sekarang tertidur di atas sofa yang ada di ruangan ini.


"Hey wanita centil, bangunlah! Kau sudah lama sekali tertidur. Lihatlah nenek kesayanganmu, dia kelelahan karena menangisimu semalaman," gumam Dion, yang duduk di dekat Raina, sambil memegang sebelah lengan Raina, yang terpasang selang infusan.


Sejak kecil, Dion sering memanggil Raina dengan sebutan wanita centil, jika dia sedang kesal atau marahan dengan Raina. Dan ini, untuk pertama kalinya Dion kembali memanggil Raina dengan sebutan itu, setelah 6 tahun tak pernah akrab dengannya lagi.


Tiba-tiba jari telunjuk Raina, yang di pegang oleh Dion, mulai bergerak, terangkat pelan ke atas. Dion yang sudah mengetahui ada pergerakan dari Raina, ia segera pergi keluar ruangan untuk memanggil dokter.


Seorang dokter lelaki pun datang bersama seorang suster di belakangnya. Mereka segera masuk untuk memeriksa keadaan Raina.


"Bara...." lirih Raina, begitu pelan.

__ADS_1


"Bagaimana dok?" tanya Dion.


"Dia sudah mulai sadar, tapi tadi saya mendengar dia menyebutkan nama Bara, siapa dia?" tanya dokter itu.


"Di-dia mantan kekasihnya," ucap Dion, memberitahu.


"Alangkah baiknya, jika Bara nanti ikut menjaganya di sini, karna itu akan sangat berpengaruh untuk kesehatan pasien. Dan untuk sementara ini, jangan biarkan dia stres atau tertekan. Karena itu akan mempengaruhi sakit di kepalanya," tutur dokter itu menjelaskan. Dion menganggukkan kepalanya. Dokter dan suster itu pun segera pergi meninggalkan ruangan.


Dion melirik ke arah Raina, ia berjalan mendekati Raina. Dan mendudukkan tubuhnya di atas kursi, yang terdapat di samping tempat Raina berbaring.


"Raina," panggil Dion pelan.


Raina mencoba membuka matanya, saat mendengar suara yang samar-samar memanggil namanya.


Seberkas cahaya dari lampu ruangan, masuk menyilaui matanya, hingga membuat ia berkali-kali membuka dan memejamkan matanya, karena masih belum kuat.


Dan kini mata Raina sudah mulai terbuka, menyesuaikan dengan cahaya ruangan. Dan segera mencari keberadaan seseorang yang ada tadi memanggilnya.


"Bara...." lirih Raina, saat ia melihat sesosok lelaku yang duduk di dekatnya.


"Bara...." ucapnya tersenyum.


"Raina... kau sudah sadar?" tanya Dion, yang di sangka Bara oleh Raina.


"Aku tahu kau tidak akan meninggalkanku," lirih Raina dengan suara lemah, yang tidak terlalu jelas.


"Raina, ini aku Dion, bukan Bara," ucap Dion.


"Kau Bara, ... kekasihku. Bukan Dion," ucapnya sangat pelan.


Dion menarik nafasnya begitu dalam, dan menghembuskannya perlahan.


"Sudahlah, kau lebih baik beristirahat lagi, kau belum pulih sepenuhnya," ucap Dion. Raina tersenyum, mencoba menganggukkan kepalanya. Lalu ia mengangkat tangannya pelan. Memberi kode kepada Dion, agar ia memegang lengannya. Dan Dion pun melakukannya. Ia menggenggam lengan Raina, yang kini berada di atas perutnya. Sambil mengusap-usap lembut kepala Raina, agar wanita ini kembali tertidur. Dan rasa kantuk pun mulai menyerang kepada Dion, hingga ia pun ikut tertidur di samping Raina, dengan posisinya yang duduk di atas kursi, dan kepalanya, yang bersandar di atas pembaringan Raina.


.


.


.


Bersambung


Hai semuanya, kembali lagi di episode lanjutan cerita Pernikahan di Atas Kertas.


Jangan lupa untuk menabur poin dan koinnya ya. Dukung terus author dengan cara like, komen, vote & share cerita ini di sosial media kalian.


Berteman dengan author di ig yuk.


Follow @dela_delia25


Vote sebanyak-banyaknya biar sore ini author upload lagi yak.


Yang udah baca sejauh ini, tapi gak pernah nge vote, kau sungguh terlalu Esmerlanda. πŸ˜‚


Jangan pelit vote kayak, si Esmerlanda ya. Kalian kan baik, tidak sombong dan rajin menabur vote di novel author, hehe.


Love you semuanya... 😍😘

__ADS_1


__ADS_2