
Tak Lama, suara ketukan pintu kamar terdengar dengan begitu jelas. Di iringi suara wanita yang memanggil nama Fira dan Bara, berulang kali.
"Mas, Mama manggil," ucap Fira, hendak menjauhkan tubuhnya dari pelukan Bara. Namun Bara masih memeluknya, seakan tak ingin melepaskannya.
"Mas."
"Tunggu sebentar saja...." ucap Bara, kemudian ia merenggangkan tubuhnya dengan Fira. Dan cup, seketika Bara mencium bibir Fira, sekilas.
"Biar aku saja yang membukanya," ucap Bara, sambil menatap wajah Fira yang sudah bersemu kemerahan karena malu.
Bara pun segera pergi membukakan pintu kamarnya. Dan dilihatnya Mama Wina yang sudah berdiri di balik pintu.
"Ada apa Ma?" tanya Bara.
"Ayo cepatlah, ke bawah, dan kasih tahu Fira, kalau Ayahnya datang kemari," tutur Wina. Bara pun mengiyakan.
^
"Fira, ayo kita ke bawah, Ayah datang kemari," ajak Bara.
Fira begitu senang mendengar kalau ayahnya datang kemari. Ia dengan semangat mengiyakan ajakan Bara untuk segera turun ke bawah menemui ayahnya.
"Ayah...." panggil Fira, begitu riang. Berlari kecil menghampiri Ayahnya yang sedang duduk di sofa bersama Papa Hito, Lisa, Bima dan Mama Wina.
Fira segera mendudukkan tubuhnya di samping Alex, dan memeluk tubuh Alex serta mencium sebalah pipi sang ayahnya, seakan bermanja seperti anak kecil.
"Fira, kau ini, masih saja seperti ini," ucap Alex, tersenyum, sambil memegang sebelah pipi putrinya, yang sedang bersender di bahunya itu.
"Kau kan sudah menikah, kenapa masih bersikap seperti ini sama Ayah?" tanya Alex.
"Ayah... apa Ayah lupa, dulu Ayah kan pernah bilang, kalau aku ini selamanya akan jadi gadis kecil Ayah. Makanya tak apa kan jika aku masih bersikap seperti ini sama Ayah?" tutur Fira, dengan suara manjanya.
"Iya, iya,"
"Dengan Ayah saja kau bermanja seperti itu, kenapa denganku tidak?" timpal Bara, yang baru mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa yang tak jauh dari Fira.
Fira seketika melepaskan pelukannya dengan Alex, dan ikut menimpali perkataan suaminya itu. Hingga membuat semua orang yang ada di sana menggelengkan kepala dan sesekali tertawa mendengar setiap perkataan yang terlontar dan mulut Fira dan Bara secara bergantian. Sungguh momen saat ini sangatlah indah. Dua keluarga yang terlihat sangat harmonis dan bahagia.
***
Malam harinya, setelah selesai acara makan malam, Alex dan Bima berpamitan untuk pulang, mereka di antar oleh Mang Dadang. Fira juga sempat menawari ayahnya agar menginap di rumah mertuanya itu, namun Alex dan Bima menolak, karena merasa tidak enak. Terlebih besok Bima, akan pergi untuk melaksanakan tes online, yang di adakan kampusnya untuk seleksi beasiswa kuliah.
Tak lupa Fira memberikan beberapa bingkisan, yang di dalamnya adalah oleh-oleh yang sempat Fira bawa dari Amsterdam, dan di khususkan untuk ayah dan adiknya itu.
Setelah mengantarkan Ayah dan Bima ke depan pintu, dan melihat kepergian mereka. Fira dan Bara kembali masuk ke dalam rumah, berjalan bersama menuju kamar mereka.
Sehabis berwudu dan membersihkan wajah, Fira mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Sedangkan Bara, ia sedang berada di kamar mandi.
Fira merebahkan tubuhnya dengan bebas di atas tempat tidur, berguling ke sana kemari, karena matanya masih sulit untuk terpejam.
Dering ponsel Bara yang tersimpan di atas nakas, terdengar jelas di telinga Fira, hingga membuat wanita ini terbangun, dan segera meraih ponsel suaminya itu.
Dan lagi, lagi, Fira mendapati sebuah panggilan dari kontak dengan inisial R.
"Sebenarnya siapa sih orang ini? suka banget nelepon Mas Bara malam-malam begini," gerutu Fira, kesal karena merasa terganggu.
Fira menolak panggilan itu, dan menyimpan kembali ponsel Bara di tempat semula. Tak lama Bara keluar dari kamar mandi, sambil mengusap wajahnya dengan handuk kecil yang di pegangnya, ia segera menghampiri Fira, yang terlihat sedang duduk, dengan wajah terlihat cemberut.
"Hey, kau kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa kesal saja, malam-malam seperti ini, ponselmu sering mendapat panggilan dari si R itu," tutur Fira, dengan wajah yang masih terlihat kesal.
"Raina?" batin Bara.
"Apa kau mengangkat panggilannya?"
"Tidak, aku menolak panggilannya."
"Oh... baguslah," ucap Bara tersenyum, sambil melempar handuk kecilnya, ke salah satu sofa yang ada di kamarnya. Dan ia segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, bersama Fira.
Bara, menarik tubuh Fira, hingga terjatuh ke dalam pelukannya, dengan kepala Fira yang berbantalkan sebelah lengan Bara, sambil memeluk tubuh Bara, Fira masih memikirkan orang yang menelepon tadi.
"Mas."
"Hm...."
"Sebenarnya R itu siapa? kenapa dia sering meneleponmu malam-malam begini?"
"Dia bukan siapa-siapa, sudah tidurlah," jawab Bara.
__ADS_1
"Kalau bukan siapa-siapa kenapa dia sering menghubungimu? R itu kan wanita, kalau salah sambung tidak mungkin berulang kali kan?"
Bara menarik nafasnya, dan menghembuskannya perlahan. Ia menggeser tubuhnya agar berhadapan dengan Fira.
"Jika kau tahu, dia wanita dan kita saling mengenal apa kau akan cemburu?" tanya Bara.
Fira mengerutkan dahinya, "Cemburu? kenapa aku harus cemburu? aku tidak akan cemburu, lagi pula aku kan hanya bertanya saja," tutur Fira.
"Benarkah?" Fira menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah," ucap Bara dengan cuek.
"Mas, kau belum menjawab pertanyaanku! Apa kau benar-benar mengenal wanita yang menelepon mu itu?"
"Tentu saja aku mengenalnya," jawab Bara, dengan cuek.
Fira sejenak terdiam, "Kalau memang mereka saling mengenal, berarti mereka mempunyai hubungan, tapi sebagai apa? batin Fira.
"Mas."
"Apa?" tanya Bara, sambil memainkan rambut Fira.
"Kalau kau memang mengenalnya, berarti kau dan wanita itu mempunyai hubungan?"
Deg, seketika hati Bara seakan terkejut mendengar perkataan yang terlontar begitu saja dari mulut Fira.
"Kau ini jangan asal bicara! Aku tidak mempunyai hubungan dengannya lagi," tutur Bara.
"Lagi?"
"Berarti dulu kau memang mempunyai hubungan dengannya?" tanya Fira dengan raut wajah yang terlihat kecewa.
"Bu-bukan, ma-maksudku bukan seperti itu," ucap Bara terbata.
Fira seketika bangun, dan merubah posisinya untuk duduk di dekat Bara. Bara pun ikut terbangun, duduk bersila di atas tempat tidur.
"Lalu apa?" seru Fira.
"Fira, dengarkan aku dulu." Bara meraih kedua tangan Fira, dan menggenggamnya dengan erat.
"Berjanjilah terlebih dahulu, kalau kau mengetahui semua ini, kau tidak akan marah kepadaku," ucap Bara.
"Fira... aku mohon, kau berjanjilah dulu, kalau aku berbicara yang sebenarnya, setelah ini kau jangan marah atau merubah sikapmu kepadaku, ya...." tutur Bara, seakan penuh pengharapan.
Fira sejenak terdiam, kemudian menganggukkan kepalanya dua kali, "Baiklah, aku berjanji padamu," ucap Fira.
"Fira, apa dulu kau pernah mencintai seseorang?" tanya Bara.
Fira mengerutkan kedua alisnya, heran dengan pertanyaan yang di lontarkan Bara.
"Kenapa memangnya?"
"Jadi, ... dulu, sebelum aku menikah denganmu, aku pernah mencintai seorang wanita,” ucap Bara, pelan.
Deg, seketika hati Fira, merasa sesak mendengar penuturan dari Bara. Fira merasa ada sedikit rasa kecewa di dalam hatinya, namun entah kenapa ia bisa merasakan hal itu.
"Apa wanita itu yang tadi meneleponmu?" tanya Fira, dengan suara yang pelan.
Bara diam, tidak langsung menjawab pertanyaan Fira, dan tak lama, barulah Bara menganggukkan kepalanya pelan.
Fira seketika menarik nafasnya begitu dalam, mencoba tenang dengan situasi yang sedang ia hadapi kini.
"Jadi, sampai saat ini kau masih berhubungan dengannya?" tanya Fira, menatap lekat kedua bola mata Bara. Sedikit ada rasa takut di dalam hati Fira, jika ia harus mendengar jawaban iya dari suaminya itu.
Bara merasa tidak tega, menjawab pertanyaan ini, namun ia sudah membulatkan tekadnya untuk jujur kepada Fira. Terlebih ia semakin tak tega saat melihat kedua bola mata Fira yang mulai berkaca-kaca.
Bara menganggukkan kepalanya pelan, menandakan jawaban iya, untuk pertanyaan yang barusan Fira lontarkan.
"Fira, maafkan aku, aku tahu aku salah, tapi, aku sudah mengakhiri hubunganku dengannya satu bulan yang lalu," tutur Bara, sambil menggenggam erat kedua tangan Fira.
Fira menarik nafasnya begitu dalam. "Satu bulan yang lalu? baru di akhiri? pernikahan kita saja sudah berjalan empat bulan," batin Fira.
"Kau mengakhirinya satu bulan yang lalu Mas?" tanya Fira, sambil tersenyum getir, menahan rasa sesak yang semakin dalam di hatinya.
"Fira, ... Fira, aku tahu ini adalah sebuah kesalahan besar, tapi aku mohon, kau tetaplah bersamaku. Aku sudah meninggalkannya, dan aku memilih untuk bersamamu," ucap Bara, menatap lekat wajah Fira.
"Kenapa kau meninggalkannya? bukankah kau mencintainya? dan kenapa tidak dari dulu kau menikah saja dengannya? kenapa harus memilih perjodohan denganku?" pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulut Fira, dengan suara yang semakin memberat di akhir kalimat.
"Fira, hubunganku dengannya sangatlah rumit, dan tentunya keluargaku tidak akan merestui kami. Dan, untuk masalah cinta, perasaan itu bisa berubah seiring berjalannya waktu, terlebih aku sudah jarang berkomunikasi dengannya, dan perlahan rasa itu mulai pudar," ucap Bara.
__ADS_1
"Jadi kau menikahiku, karena kau merasa hubunganmu dengan wanita itu tidak bisa dilanjutkan?" tanya Fira. Bara menganggukkan kepalanya.
Fira tersenyum kecut, "Sudah kuduga, sampai selama ini pun dia tidak akan pernah mencintaiku. Bahkan mengakhiri hubungan dengan wanita itu pun baru satu bulan yang lalu," batin Fira.
"Fira," panggil Bara. Fira hanya diam, seakan melamun memikirkan sesuatu.
"Fira, apa kau baik-baik saja?" tanya Bara, memegang kedua pundak Fira. Seketika Fira mengerjapkan matanya.
"Fira, apa kau marah kepadaku?" tanya Bara, dengan memasang wajah sendunya.
"Mas, apa kau sadar? secara tidak langsung, kau sudah menzalimi pernikahan kita. Aku bahkan tidak menyangka, setelah menikah denganku kau masih berhubungan dengannya, meskipun pada akhirnya kau mengakhirinya," batin Fira, sambil menatap lekat kedua bola mata Bara.
"Fira, jangan diam seperti ini, maafkan aku Fira." Bara segera memeluk erat tubuh Fira, sambil melontarkan begitu banyak perkataan maaf kepada Fira. Namun Fira sama sekali tak membalas pelukan suaminya itu.
Matanya menatap langit-langit kamar, mencoba menahan bendungan air mata, yang dirasa akan roboh. Namun Fira berusaha sekuat mungkin agar, ia tak menjatuhkan air matanya itu.
"Fira, maafkan aku Fira," ucap Bara berulang kali. Namun karena ia masih tidak mendapat respons dari Fira, Bara melepaskan pelukannya. Dan segera menatap kedua bola mata Fira, yang sudah terdapat genangan air mata di pelupuk matanya.
"Fira, ... apa kau menangis?" tanya Bara pelan.
Fira segera membuang wajahnya ke sembarang arah. "Tidak, aku tidak menangis Mas," ucap Fira mencoba tersenyum untuk menyembunyikan kesedihannya.
"A-aku hanya terharu saja Mas, terima kasih, karena kau telah jujur kepadaku, dan aku sangat menghargai kejujuranmu itu," ucap Fira.
"Oh ya, tadi dia meneleponmu, mungkin ada hal penting yang ingin dia sampaikan. Kau cobalah untuk menghubunginya lagi, siapa tahu penting," ucap Fira dengan suara yang memberat, menyuruh Bara untuk menelepon wanita itu.
"Tidak Fira, sekarang tidak ada hal yang lebih penting selain dirimu. Aku mohon Fira, dukunglah aku, jangan kau menyuruhku untuk menghubunginya kembali," ucap Bara, memegang kedua lengan Fira, sambil mengatupkannya di dadanya.
Fira terdiam sejenak, dan menganggukkan kepalanya.
"Fira, aku berjanji akan segera mengakhiri semua ini. Dan nanti lusa kau mau ikut bersamaku kan, untuk menemui dia?" tanya Bara, memohon.
"Untuk apa? kenapa aku harus bertemu dengannya?"
"Aku sudah pernah bilang kepadamu, kalau aku akan memberitahu orang-orang, kalau kau ini adalah istriku, termasuk kepadanya. Jika aku tidak melakukan hal ini, dia pasti akan terus menghubungiku," ujar Bara. Fira menghela nafas, dan menganggukkan kepalanya dua kali.
"Terima kasih Fira, terima kasih," ucap Bara, sambil memeluk erat tubuh Fira.
Kini Fira mengajak Bara untuk segera beristirahat. Dan Bara pun mengiyakan. Fira berbaring membelakangi Bara, namun Bara menegurnya, dan menarik tubuh Fira agar berhadapan dengannya. Fira menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Dan Bara ia memeluk erat tubuh Fira, sambil memberinya banyak ciuman di puncak kepala Fira.
Bara merasa sedikit lega di dalam hatinya. Setelah sekian lama ia menyembunyikan hal ini, kini Bara sudah tenang, karena Fira sudah mengetahuinya, meskipun Dia belum memberitahu siapa sosok wanita yang pernah ia cintai itu.
Bara sejenak menatap wajah Fira, yang sudah terlelap. Ada kelegaan di hatinya setelah mengungkapkan semua hal itu, namun ia juga sedikit tak enak hati kepada Fira, ia tahu Fira akan sangat sedih mendengar semua ini. Tapi lebih baik kesedihan ini terjadi, daripada harus terus menerus menyimpan kebohongan, yang jika, semakin lama di biarkan, akan semakin rumit untuk di jelaskan.
"Tidurlah istriku, maafkan aku sudah membuatmu bersedih hati," ucap Bara pelan. Namun masih terdengar di telinga Fira. Tak lama Bara pun sudah hanyut, terlelap dalam tidurnya.
Sedangkan Fira, sedari tadi ia masih terjaga, meskipun matanya terpejam, tapi itu hanyalah kepura-puraan, agar Bara tak melihat kesedihan di matanya.
Fira membuka matanya dan menengok ke atas, memastikan Bara yang sudah tertidur.
"Sadar Fira... lihatlah, semua ini adalah pertanda bahwa Mas Bara tak pernah menaruh hati padamu Fir," batin Fira, menatap kosong, ke arah dada Bara.
Tak terasa setetes air, lolos dari matanya, jatuh melewati hidungnya dan melewat ke salah satu matanya lagi. hingga air mata itu jatuh menetes ke tangan Bara, yang menjadi bantalan kepala Fira.
Fira kembali merasakan sesak didadanya, sejenak Fira menghela nafas, dan membuangnya perlahan. Fira kembali mengingat perkataan Bara, dulu, saat Bara pernah mengungkapkan kalau dirinya tak pernah mengharapkan kehadiran Fira, dalam hidupnya.
Bahkan Fira mengingat kembali saat Bara, mewanti-wanti dirinya agar tidak jatuh cinta padanya.
Fira segera mengusap kedua matanya, dengan punggung telapak tangannya. Membersihkan sisa air mata yang menghalangi pandangannya.
"*Sepertinya aku harus membuang jauh-jauh perasaanku ini. Tak adil rasanya jika dalam rumah tangga ini hanya aku yang mencintai Mas Bara."
"Baiklah, Fira... kau harus bisa membuang perasaan ini, lupakan hal manis bersama Bara. Anggap saja semuanya tak pernah terjadi, dan kau harus menutup rapat-rapat pintu hatimu ini."
Ya... Aku pasti bisa!" batin Fira, mencoba menguatkan hatinya*.
.
.
.
Bersambung....
Udah baca sejauh ini, tapi belum pernah nge vote? Kau sungguh terlalu Markondah. 😂
Jangan nurutin si Markondah ya, author tahu ko, readers di sini orangnya baik-baik, rajin menabur poin untuk novel author.
Ya intinya jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya ya wkwkwk.
__ADS_1
Love you, sampai bertemu di episode selanjutnya.