
Fira, Dion dan Bara, mereka duduk berkumpul di satu meja. Dengan beberapa kue dan camilan yang sudah di siapkan oleh Fira sebelumnya.
Mereka bertiga duduk mengobrol sambil sedikit bercanda. Terlebih sedari tadi Bara tak henti-hentinya mengejek Dion akan masalah wanita aneh yang menabraknya.
Fira baru sadar sejak tadi ia belum melihat ponselnya. Fira pergi ke ruang kerjanya dan mengambil tote bag miliknya. Kemudian ia meraih ponsel yang terselip di tasnya itu.
Fira kembali mendudukkan tubuhnya di dekat Bara. Sambil fokus melihat ke layar ponselnya.
Dilihatnya 7 panggilan tak terjawab dari Bima. "Ya ampun, aku lupa. Sedari tadi handphone ku di silent," ucap Fira, sambil mencoba kembali menghubungi nomor Bima.
"Kenapa?" tanya Bara, heran.
"Bima, menelepon sampai 7 kali, tapi tidak terjawab olehku," ucap Fira, sambil menunggu sambungan teleponnya. Tapi ternyata, nomor Bima tidak bisa di hubungi kembali oleh Fira.
"Kenapa tidak bisa terhubung sih...." Fira terlihat kesal, karna nomor ponsel Bima tidak aktif.
"Mas, kita ke rumah ayah yuk. Aku khawatir, takut terjadi apa-apa. Bima juga, gak bisa di hubungi," ucap Fira, seakan khawatir.
"Baiklah, ayo."
"Di, apa kau ingin ku antar terlebih dahulu?" tanya Bara, berdiri dari duduknya.
"Tidak, aku bisa pulang sendiri. Kalian pergi saja, lagi pula aku ini bukan anak kecil, tak perlu kau menghawatirkanku seperti itu," ujar Dion.
"Cih! Siapa yang mengkhawatirkanmu. Aku hanya sekedar bertanya saja," turur Bara. Dion hanya terkekeh.
"Haha, sudahlah. Cepatlah pergi, takut ada apa-apa dengan ayahnya Fira," ucap Dion. Bara mengangguk, ia dan Fira pun segera berlalu pergi. Namun Fira terlebih dahulu, menitipkan tokonya kepada Fenny.
Kini Fira dan Bara sudah berada di dalam mobil. Menuju rumah Ayah Alex.
Terlihat sekali kecemasan di wajah Fira. Bahkan ia meminta agar Bara lebih cepat untuk menjalankan mobilnya. Fira juga mencoba menelepon ke nomor telepon rumah. Namun tidak ada yang mengangkatnya. Begitu pun dengan nomor ponsel ayahnya, masih tidak bisa terhubung.
"Fira, tenanglah, Insya Allah ayah sama Bima baik-baik saja," tutur Bara, lembut sambil sesekali melirik ke arah Fira yang berada di sampingnya.
***
Kini mereka sudah sampai tepat di halaman parkir rumah Alex. Bara memarkirkan mobilnya, kemudian mereka berdua segera keluar dan berjalan menuju teras rumah.
Diketuknya pintu itu berulang kali oleh Fira, namun tidak ada sahutan. Terlebih pintunya di kunci. Fira mencoba mencari tahu lewat kaca jendela yang gordennya terbuka. Terlihat sekali keadaan rumah begitu sepi.
"Ayah...," teriak Fira, memanggil ayahnya. Namun tetap tidak ada sahutan. Bara mencoba berkeliling, ke area taman belakang, berharap disana ia menemukan mertuanya. Namun sial, ia pun tak menemuinya.
Bara kembali menghampiri Fira yang masih berdiri di depan teras.
"Fira, di belakang juga tidak ada siapa-siapa," ucap Bara.
"Ya Allah... ke mana orang-orang di rumah ini," gumam Fira, khawatir.
Tak lama kemudian, suara motor moge terdengar oleh Fira dan Bara. Suara motor itu tak lain ialah dari motor gede milik Bima.
"Itu Bima, sama Ayah," ucap Bara, mengalihkan pandangannya ke arah motor Bima, yang melaju ke halaman rumah.
Bima menghentikan motornya, dan Alex segera turun dari motor Bima, dengan membawa dua paper bag besar, berisi belanjaan.
"Ayah," panggil Fira, menghampiri ayahnya.
"Fira, Bara, kalian datang kemari?" tanya Alex, ia segera menyimpan belanjaannya di atas meja yang ada di teras.
Fira dan Bara, menyalami punggung tangan ayahnya dan sejenak memeluknya secara bergantian.
"Kakak," panggil Bima, menghampiri Fira dan Bara.
"Kamu ini, ke mana saja, kenapa nomor ponselmu sulit di hubungi hah!" seru Fira, yang merasa kesal kepada adiknya itu.
__ADS_1
"Oh... itu, ponsel ku mati, lagi di charge," ucap Bima, menyengir kuda.
"Sudah, sudah, ayo kita masuk," ajak Alex, membukakan pintu rumah.
Mereka semua pun masuk ke dalam rumah. Bima terlebih dahulu, menyimpan barang belanjaan itu ke dapur, kemudian ia segera membuatkan minuman untuk Ayah, Fira, Bara, dan dirinya.
Bima membawa minuman itu di atas nampan, kemudian menyajikannya di atas meja, di ruang TV.
"Ayah, apa Ayah dan Bima di sini baik-baik saja?" tanya Fira, yang duduk satu sofa bersama Bara,
"Ayah baik-baik saja, kenapa kamu terlihat cemas sekali? Ada apa...?" tanya Alex, dengan penuturan yang lembut.
"Iya, Kak Fira ada apa? Kenapa Kak Fira terlihat cemas sekali?" tanya Bima, menimpali.
"Tidak, tadi kakak hanya sedikit khawatir saja. Tapi syukurlah kalau Ayah dan Bima baik-baik saja," ucap Fira, tersenyum.
"Eh... tapi, kenapa tadi kau menelepon Kakak sampai tujuh kali? Ada apa?" tanya Fira pada Bima, dengan memasang tatapan tajam.
"Oh itu."
"A-aku, hanya ingin memberitahu Kakak kalau tadi Kak Bara ada di TV, aku dan Ayah, nonton loh.... Makanya aku coba menelepon Kakak untuk memberitahu, ... tapi ternyata Kakak tidak mengangkat telepon ku," ujar Bima, dengan jujur.
Bara tersenyum miring mendengar ucapan Bima. Ada sedikit perasaan senang dan gugup di hatinya. Masalahnya, ternyata Ayah mertuanya juga ikut menonton.
"Oh...." Fira membulatkan bibirnya.
"Kak Bara, ... ternyata Kak Bara orangnya romantis sekali, beruntung sekali Kak Fira punya suami kayak Kak Bara."
"Oh ya, Kak Bara, apa kau tahu? Kak Fira kalau di romantis in atau di kasih kejutan yang bikin hatinya meleleh, dia pasti bakalan nangis. Aku juga yakin, tadi siang pas Kak Fira nonton Kak Bara, pasti dia juga nangis tuh," ucap Bima dengan jujur.
Bara tersenyum miring sambil sejenak melirik ke arah Fira. "Benarkah?" tanya Bara kepada Bima.
Bima dengan semangat menganggukkan kepalanya, "Benar Kak, ... menangis saking bahagia. Gak bahagia gimana coba, Kak Bara ini kan lelaki pertama yang ngasih hal-hal romantis sama Kak Fira."
"Eh... Bima, jangan asal bicara! Lagi pula siapa yang menangis, hal seperti itu, tidak akan membuatku menangis," ucap Fira, menyangkal, tak terima dengan ucapan Bima.
"Halah... Kakak ini, mengelak saja," gerutu Bima.
"Sudah, sudah, kalian ini, kalau berjauhan kangen-kangenan, kalau deketan, sering berantem," ucap Alex, melerai semuanya.
"Fira, Bara, ... apa kalian tahu? Ayah sangat bahagia... sekali, mendengar kabar menggembirakan ini. Tak salah, ayah menjodohkanmu dengan Bara," tutur Alex, menampakkan cahaya kebahagiaan di wajahnya.
"Bara, terima kasih sudah mau menerima Fira dalam hidupmu, terima kasih. Ayah berharap kamu selalu bisa membahagiakan putri kecil ayah ini, dan tentunya Fira, kau juga harus bisa membahagiakan suamimu," tutur Alex, dengan wajah yang terlihat sangat begitu bahagia, bahkan sekarang sudah terlihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
Bara meraih sebelah lengan Fira, mengaitkan jari jemarinya dengan begitu lekat. Sejenak Fira menoleh ke arah Bara, yang menggenggam jari jemarinya dengan begitu kuat. Ia tersenyum. "Iya, Ayah, Insya Allah Bara akan selalu melakukan yang terbaik untuk Fira, dan semoga cinta di antara kami tetap bertambah setiap detik, setiap menit dan tak akan pudar di makan waktu," tutur Bara, tersenyum begitu tulus.
Ah... sungguh, Alex begitu senang mendengar penuturan langsung dari menantunya itu. Kini ia tak perlu mengkhawatirkan akan hal kebahagiaan pernikahan anaknya itu. Lega rasanya, mampu menyerahkan sang putri kecil, kepada seorang pangeran yang benar-benar akan menjaganya. Itu lah yang ia harapkan selama ini, meskipun dulu ia sempat takut akan masalah kebahagiaan Fira, namun setelah mengetahui semua ini, kini satu beban pikiran akan hal itu sudah hilang.
Tak hanya Alex, Bima pun ikut senang mendengar semua ini, meski awalnya ia sedikit meragukan soal Bara. Namun kali ini ia yakin, bahwa kakak perempuannya akan selalu hidup bahagia bersama suami yang begitu mencintainya.
Tak terasa, air mata lolos begitu saja dari kedua mata Fira. Sungguh ia di buat terharu, akan perkataan Bara. Sehingga membuat dirinya tak bisa menahan tangis bahagia ini.
"Fira, kamu menangis?" tanya Bara, yang melihat istrinya menundukkan kepalanya. Bahkan terlihat jelas, tetesan air mata itu terjatuh membasahi, rok yang di pakai oleh Fira.
"Sayang, kenapa kau menangis?" tanya Bara, mengangkat dagu Fira, dan mulai menghapus air mata di pipi istrinya itu dengan kedua ibu jarinya.
Fira tersenyum, menatap Bara. "Tidak, a-aku,"
"Tuh kan! Apa aku bilang, Kak Fira pasti menangis kalau mendapati momen seperti ini," potong Bima, dengan heboh.
Fira seketika menoleh sebal ke arah Bima. "Bima...!" rengek Fira.
"Haha, lihatlah hidung Kakak, sudah memerah seperti badut," tutur Bima, terkekeh, melihat hidung Fira yang sudah mulai memerah.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Fira, kepada Bara, bahkan ia terlihat mengerucutkan bibirnya.
"Tidak, kau tetap cantik kok," tutur Bara.
Alex, hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku putri kecil dengan jagoannya yang nakal itu. Sungguh, adik dan kakak itu, jika bersama pasti akan selalu membuat kebisingan. Namun hal itu lah yang sekarang sangat di rindukan oleh Alex.
***
Hari sudah malam, setelah selesai acara makan malam di rumah Alex, Fira dan Bara berpamitan untuk pulang. Alex, sempat menyuruh Fira dan Bara untuk menginap, namun Fira menolak, karena besok pagi ia harus pergi ke kampus untuk merevisi ulang skripsinya, sekaligus untuk daftar wisuda.
Kini Fira dan Bara, sudah berada di mobil, dalam perjalanan pulang. Sebelum sampai ke apartemennya, Fira dan Bara mampir terlebih dahulu ke supermarket, untuk membeli camilan dan minuman, karena sedari tadi Fira merengek ingin meminta senek bonibol.
Kini Fira dan Bara sudah sampai di apartemen. Mereka mendudukkan tubuh mereka di atas sofa empuk di ruang tengah. Fira di sibukkan memakan senek bonibol nya.
"Mas, coba in deh, ini senek nya enak," ucap Fira, menyodorkan senek bonibol itu ke dekat bibir Bara. Sebenarnya Bara malas sekali, jika harus mencicipi makanan anak kecil seperti itu. Namun jika ia menolak pun, ia sudah tahu, pasti Fira akan tetap memaksanya.
Bara terpaksa melahap senek bonibol itu. Ia mengunyahnya perlahan, sungguh ini bukan makanan seleranya. Bahkan lidahnya seakan menolak untuk menelap senek itu.
"Gimana? Enak kan?" tanya Fira bersemangat, Bara hanya menganggukkan kepalanya sambil memaksakan senyumnya.
3 bungkus senek bonibol, sudah di habiskan oleh Fira. Kini ia meraih satu botol minuman orange juice, yang ada di atas meja. Fira mencoba membukanya, namun ia kesusahan.
"Mas, apa kau bisa membukakan botol minum ini?" tanya Fira.
Bara yang terlihat begitu lelah, dan sudah memejamkan matanya, menyender di atas kursi. Ia membuka matanya. Sambil melihat ke arah botol minum yang di pegang oleh Fira, dengan begitu malas.
"Aku, bukan bonekamu... bisa kau suruh-suruh, dengan... seenak maumu...." Bara menyanyi.
"Tunggu, bukankah itu lagunya Kekeyi?" tanya Fira mengerutkan kedua alisnya.
Bara terkekeh. "Haha, memang," ucapnya, kemudian Bara segera meraih botol minum itu dari tangan Fira. Ia segera membukanya dan kembali memberikannya kepada Fira.
"Terima kasih Mas," ucap Fira, mengambil minuman itu dari tangan Bara. Dan segera meneguknya.
"Mas, apa kau haus?" tanya Fira, menyodorkan botol minum, yang isinya terlihat tinggal setengahnya lagi.
Bara tersenyum miring.
"Kenapa kau malah tersenyum seperti itu?" tanya Fira menautkan kedua alisnya. Ia kembali meminum orange juice itu, dan seketika Bara membungkam mulut Fira dengan mulutnya. Membuat Fira hampir tersedak, namun Bara mampu mengatasinya terlebih dahulu.
Mungkin, ini adalah cara terbaru Bara untuk minum. Sudah di pastikan hal ini akan berlangsung ke adegan seperti biasanya. Meskipun Bara sudah merasa lelah, tetapi kalau sudah urusan seperti ini, akan sangat mudah sekali baginya untuk bersemangat. Hingga pada akhirnya mereka berdua hanyut ke dalam nafsu birahi mereka bersama-sama di atas sofa.
.
.
.
Bersambung....
Maaf ya baru upload lagi hehe.
Episode kali ini harusnya di bagi dua, tapi aku jadiin satu episode aja deh, meskipun agak kepanjangan juga.
Jangan lupa dong kasih like dan komennya.
Vote juga yang banyak biar Dela semangat bikin ceritanya.
BTW akhir-akhir ini jarang upload karena emang lagi ada masalah nih sama tubuh sendiri 😂 do'a in ya, biar dela sehat dan gak kenapa-napa.
Gak mau tahu harus nge vote ah 😁😅 (haha maksa banget ya)
Maaf ya mbak Kekey dan sahabat, lagunya di nanyiin sama Mas Bara, abisnya terngiang-ngiang di telinga. Hehe....
__ADS_1