Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Makanan Bukan Ciuman


__ADS_3

"Baiklah, Sayang ayo kita pergi," ajak Bara, menarik lengan Fira, dan berdiri dari duduknya.


"Tapi Mas."


"Tapi apa?" tanya Bara, menatap kesal.


Fira, sedikit melirik ke arah Reza. Reza pun mengerti akan hal itu, ia menganggukkan kepalanya pelan kepada Fira.


"Tidak apa Fira, lagi pula, apa yang sudah kita bicarakan tadi, sudah cukup bagiku, terima kasih, dan maaf sudah mengganggu waktumu," ujar Reza, berdiri dari duduknya.


"Nah, dia sudah bilang tidak apa-apa. Sudah ayo ikut denganku," ujar Bara.


"Baiklah, Pak saya pergi dulu, Mery, Selly aku pulang duluan ya...," pamit Fira, segera berlalu dari sana.


Dion, masih bergeming di tempatnya, sejenak ia dan Reza saling menatap mata. Namun kembali membuang wajah ke sembarang arah.


"Mery, Selly, apa kalian bisa pulang sendiri," tanya Reza, yang berdiri di dekat meja Selly dan Merry, mereka pun mengiyakan.


Dion, hendak pergi namun ia mengurungkan langkah kakinya, saat mengetahui, perempuan yang sempat ia temui waktu itu.


"Hei, kau! Ternyata ada di sini juga," ujar Dion.


Merry, mengalihkan pandangannya ke arah Dion. Ia tak menghiraukan ucapan lelaki itu. Mery segera mengajak Selly, untuk pergi dari kafe ini.


"Pak, kita pulang duluan ya, terima kasih untuk traktirannya." Merry segera menarik lengan Selly, mengajaknya untuk segera pergi meninggalkan tempat ini.


"Hey, kau!" teriak Dion, yang melihat kepergian Merry dan Selly. Namun kedua wanita itu tak menghiraukannya.


***


Di dalam mobil di perjalanan, Fira menatap lurus ke depan, dengan wajahnya yang terlihat kesal. Sesekali Bara, melirik ke arah Fira.


"Fira...."


"Apa!"


"Kau kenapa diam saja dari tadi? Apa kau masih marah padaku?" tanya Bara dengan suara lembutnya. Fira tak bergeming, ia hanya diam tak menanggapi perkataan suaminya itu.


"Fira, sayang...."

__ADS_1


Fira berdecak, kini matanya menatap tajam ke arah Bara.


"Kenapa tadi kau melakukan hal itu!"


"Apa?" tanya Bara, seakan tak tahu.


"Kenapa kau datang, datang malah menciumku!"


"Oh... itu, ... kan sudah aku bilang tadi, ... kalau itu adalah hukuman untukmu," ucap Bara dengan santai.


"Hukuman macam apa itu! Memangnya aku salah apa? Kenapa aku harus mendapat hukuman!"


"Tahu salah sendiri? Kau ini! Kau pergi dan duduk mengobrol berdua dengan dosenmu itu, apa kau tak tahu kalau itu sebuah kesalahan? terlebih lagi kau sebelumnya tak memberitahuku terlebih dahulu. ... Jadi jangan salahkan aku, kalau aku menghukummu tadi," tutur Bara.


"Mas! ... Aku kan sudah menjelaskannya, lagi pula Pak Reza kan–"


"Sut... sudah! Jangan membahas masalah ini lagi," potong Bara, menghentikan ucapan Fira. Fira berdecak kesal. Ia mengalihkan pandangannya, ke sisi jendela. Dan menggerutu tak jelas.


Sepanjang jalan, Fira tak menoleh sedikit pun kepada Bara. Bara sedikit kesal akan tingkah istrinya itu, ia menepikan mobilnya ke bahu jalan.


"Kenapa dia menghentikan mobilnya?" batin Fira.


Bara mendengus kecil. "Baiklah, maafkan aku, aku janji tidak akan mengulamginya lagi," tutur Bara.


Fira hanya, menggerutu mengulang setiap perkataan yang baru saja bara lontarkan, dengan gaya nya yang meledek.


"Sayang." Bara meraih sebelah tangan Fira, dan menelungkupnya dengan kedua tangannya.


"Sayang, ... lihat aku," ucap Bara, mencoba meraih dagu Fira, agar menoleh kepadanya. Namun Fira menepisnya.


"Apa sih!" decak Fira, menoleh ke arah Bara.


"Sayang, kumohon maafin aku...." Bara menatap Fira, dengan memasang wajah sendunya.


"Baiklah, sekarang terserah padamu, kau mau apa pun akan aku turuti, tapi kumohon, ... maafkan aku ya," tutur Bara, memohon dengan wajahnya yang memelas. Rasanya baru kali ini Fira, melihat ekspresi dari wajah suaminya, yang memelas memohon padanya.


Fira seakan tak kuat menahan tawanya, ketika melihat ekspresi Bara, yang begitu menyedihkan, namun lucu di mata Fira.


"Em... apapun akan kau turuti?" tanya Fira, Bara mengangguk dengan cepat.

__ADS_1


"Seharusnya kau sendiri sudah tahu, apa yang aku inginkan," ucap Fira, memasang wajah angkuhnya, sambil tersenyum mesem.


Bara, terdiam, ia melepaskan genggamannya dari tangan Fira. Bara terlihat sedikit berpikir.


"Oh... aku tahu, apa yang kau inginkan," ucap Bara. Fira seketika menoleh.


"Baguslah," ucapnya tersenyum.


Dan cup, tiba-tiba Bara mencium bibir Fira, menahan tengkuk kepala Fira, dan melum*t habis, bibir manis istrinya itu. Fira memberontak, ingin melepaskan ciumannya, namun ia tak bisa.


"Mas!" ucapnya, selagi masih berciuman.


Bara, seketika melepaskan ciumannya. "Kenapa?" tanya Bara, heran.


"Kau ini! Kenapa malah menciumku lagi!" seru Fira, kesal.


"Bukankah ini, yang kau inginkan?" ucap Bara, melebarkan senyumannya.


"Kau ini! Mana ada, aku menginginkan hal ini! Kau sungguh tidak peka sekali!" gerutu Fira.


Bara, sedikit tertawa, melihat wajah menggemaskan istrinya yang sedang marah itu.


"Haha, ... baiklah, maafkan aku. Aku tahu, kau menginginkan makanan bukan Nanti aku akan memesankan banyak makanan lezat untukmu," tutur Bara. Namun Fira, masih diam, karena kesal.


Sejenak Bara menatap wajah istrinya, yang fokus melihat ke depan. Dan saking gemasnya, Bara mencubit pipi istrinya itu dengan gemas.


"Aw... kenapa kau malah mencubitku!"


"Salah siapa, memasang wajah menggemaskan seperti itu, jadinya membuat tanganku gatal, ingin mencubitmu," ucap Bara. Fira kembali memberi cubitan di lengan Bara, membuat Bara meringis kesakitan, karena cubitannya yang cukup kuat.


Bersambung....


Maaf ya tadinya mau double up kemarin, tapi gak tau kenapa, ini review nya lama banget. Semoga tetap suka yak.


Jangan lupa, bantu like, komen dan vote yang banyak.


Yang udah baca sampai episode ini, wajib komen pokonya. Kalo gak komen, harus komen pokonya.


Berteman di ig @dela_delia25 🥰

__ADS_1


__ADS_2