Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas
Perfect Marriage - Bab 16


__ADS_3

Sesampainya di apartemen, Damas langsung membuka pintu, dan masuk ke dalam. Ia dikejutkan, dengan sesosok wanita yang tengah duduk di ruang TV sendirian.


"Selly," panggil Damas, sontak embuat Selly yang tengah fokus menonton acara di TV, menoleh ke belakang.


"Mas, kamu sudah pulang?"


"Kamu ... dari kapan ada di sini?" tanya Damas seraya mendudukkan tubuhnya di samping Selly.


"Em, dari tadi. Aku nunggu kamu lama banget. Abis dari mana Mas?" tanya Selly seraya melihat penampilan Damas yang terlihat rapi mengenakan kemeja pendek berwarna biru. Jelas, Selly bisa menebak, kalau dugaannya tadi yang mengira Damas pergi ke gym jelas salah. Karena tak mungkin Damas pergi ke gym dengan pakaian formal seperti itu.


"Oh ... em, a-aku tadi ada urusan di luar bersama teman," jawabnya gugup.


"Teman? Urusan apa?" Selly mengernyit penasaran.


"Biasa teman minta bantuan. Eh, iya ini aku bawa makanan, tapi karena aku gak tahu kamu ada di sini, aku cuma bawa segini," ujar Damas segera mengalihkan pembicaraan. Dan segera mengeluarkan dua kotak makanan siap saji, dari restoran jepang beserta 1 gelas minumannya.


"Yah, padahal tadi aku bawa-in kamu bekal," ujar Selly seolah kecewa.


"Benarkah, mana?" tanya Damas sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Selly pun segera pergi ke meja makan untuk mengambil kotak makan yang ia bawa dari kostan-nya. Lalu segera membukannya dan menyodorkannya kepada Damas.


Damas pun dengan senang hati menerima makanan yang sudah di buatkan oleh Selly. Dan mereka pun makan bersama.


Di tengah aktivitas makan bersama, Selly dan Andre sesekali mengobrol, dan membicarakan perihal fiting baju kemarin sore.


"Apa kau yakin tidak ingin fiting baju di butique itu? Kalau tidak, apa alasannya kenapa kamu terlihat seperti tidak menyukai butique itu?" tanya Selly hati-hati, karena ia tak ingin kembali membangunkan api emosi dari diri Damas.


Damas pun sejenak menghentikan makannya. Dan memandang Selly begitu lekat. "Baiklah, maafkan sikapku kemarin, dan maslah fiting baju, aku akan menurutinya sesuai maumu," ujar Damas.


Senyuman kecil terkembang di wajah cantik Selly. Matanya berbinar ketika Damas yang sudah berubah pikiran, dan mau fiting baju bersamanya.


"Benarkah?" tanya Selly memastikan. Damas pun menganggukkan kepalanya.


"Tapi, aku ingin fiting baju sebelum jam 12 siang hari ini, jadi selesai makan, kita langsung pergi," sambung Damas. Selly mengiyakannya dengan begitu semangat.


Selesai makan, mereka berdua pun bergegas pergi ke butique. Sesampainya di sana, ternyata sudah ada Merry dan Dion yang sampai terlebih dahulu sejak 15 menit yang lalu. Mereka pun saling bertegur sapa satu sama lain.


"Oh ya Sell, gaun milikku bagus banget loh, tadi aku udah lihat sekilas," ujar Merry.


"Serius?" tanya Selly. Menganggukkan kepalanya, dan segera mengajak Selly untuk masuk ke ruang gaun untuk melihat hasil pesanannya.


Dan benar saja, sebuah gaun kebaya berwarna putih, beraksen-kan mutiara dan manik-manik yang indah sudah terpajang di patung.

__ADS_1


Selly begitu senang melihat gaun yang diinginkannya ternyata benar-benar di luar ekspetasi nya. Dan ini jauh lebih bagus dari yang ia bayangkan.


Dengan tak sabar Selly pun segera mencoba gaun itu, tentunya di bantu juga oleh salah satu pelayan yang ada di sana.  Sementara Damas, ia langsung memilih tuksedo  yang sudah tersedia. Dan ia pun mencobanya juga di ruang ganti.


Setelah itu mereka berdua keluar lagi, dan meminta tanggapannya kepada Merry dan Dion.


"Gimana, cocok gak?" tanya Selly, sambil berjalan bergandengan dengan Damas, menghampiri Merry dan Dion.


Merry dan Dion sejenak memperhatikan penampilan mereka dengan begitu jeli. Selly memang benar-benar terlihat begitu cantik dengan balutan gaun kebaya di tubuhnya. Namun, sepertinya ada yang kurang. Karena Damas yang menggunakan tuksedo hitam.


"Em...  bagus, hanya saja serasa ada yang agak gimana gitu," gumam Merry. Dion pun mengangguk membenarkan perkataan calon istrinya itu.


"Coba deh, Pak dokter pakai tuksedo putih, jadi biar lebih terlihat serasi gitu," ujar Merry memberi saran.


"Iya seperti waktu Dr. An--" Belum selesai Dion berbicara, Merry terlebih dahulu menginjak sebelah kaki kekasihnya itu dengan cukup kuat. Hingga membuat Dion meringis kesakitan.


"Aduh! Kau ini apa-apaan sih!" gerutu Dion menjauhkan kakinya dari injakan kaki Merry.


"Jangan asal bicara, di sini ada calon suaminya Selly, jangan sampai dia tahu masalah fiting baju kita minggu lalu dengan Dr. Andre," bisik Merry penuh penekanan.


Bibir Dion seketika membulat, sambil memanggut-manggutkan kepalanya, tanda ia mengerti.


"Kenapa?" tanya Damas heran.


Damas pun mencoba memilih-milih tuksedo putih yang menurutnya menarik. Tapi dari semua tuksedo putih yang ia lihat, tak ada satu tuksedo putih yang cocok dengannya. Mulai dari beda ukuran ataupun beda modelnya.


Akhirnya mau tidak mau, Damas tetap pada pilihan pertamanya yang memakai tuksedo hitam yang sekarang masih melekat di tubuhnya, karena masih mencobanya.


"Gimana?" tanya Selly menghampiri Damas.


"Gak ada yang cocok, lagi pula aku lebih suka tuksedo yang hitam ini, terlihat lebih gaga dan berwibawa saja," ujar Damas.


Selly menganggukkan kepalanya dua kali. "Baiklah, tidak apa-apa, yang penting Mas Damas nyaman saja pakainya," ucap Selly seraya mengembangkan senyumannya.


^


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.20 siang. Damas, sudah resah karena takut bertemu dengan Dinda yang katanya akan datang jam 12 siang nanti.


Setelah melakukan pembayaran, dan sedikit mengobrol dengan Merry, Selly pun berpamitan untuk pulang terlebih dahulu, karena Damas yang sedari tadi terus memintanya untuk segera pulang.


"Baiklah, hati-hati ya, next kita ketemu lagi, untuk membicarakan tema pernikahan dengan WO kita," ucap Merry kepada Selly. Selly pun mengiyakannya.

__ADS_1


Namun, ketika Damas sedang menunggu Selly turun ke lantai satu, ternyata, tanpa di duga, Dinda sudah ada sejak 10 menit yang lalu di ruang tunggu lantai satu, Dinda tengah disibukkan memasang gaun di salah satu patung yang ada di sana. Sehingga, saat Damas turun sendiri ke ruang tunggu lantai satu,  Dinda seakan terkejut melihat kehadiran Damas di situ.


"Mas Damas," panggil Dinda dengan senyuman yang terkembang di wajah cantiknya.


"Sial kenapa dia sudah ada di sini!" gerutu Damas dalam hati.


Damas menajamkan kedua matanya, menatap ke arah Dinda. Ia seolah tak ingin dikenali oleh Dinda. Matanya mengawasi ke sekitar, takut ada orang dikenal yang melihat mereka berdua.


"Mas, apa kau kemari mencariku?" tanya Dinda menghampiri, masih dengan senyum semangat di wajahnya.


Namun, seketika Damas menarik lengan Dinda dan membawanya ke salah satu ruang di dekat ruang jas.


"Hey bisa tidak jaga sikapmu itu!" seru Damas, pelan namun penuh penekanan.


"Memangnya kenapa Mas?" tanya Dinda, masih bingung tidak mengerti.


"Aku kemari bukanlah untuk mencarimu, aku kemari karena ...."


Hening ....


"Karena apa Mas?" Kini kedua bola mata Dinda, menatap penuh selidik kedua manik mata pacarnya itu.


"A-aku kemari untuk fiting baju pengantin," jawabnya pelan.


Deg ... tiba-tiba sesuatu yang menyesakkan dada, kembali Dinda rasakan. Sebisa mungkin ia bertahan, agar tak menampilkan ekspresi sedih di wajahnya.


"Oh ... begitu," ujar Dinda tersenyum getir.


"Aku juga heran, kenapa bisa-bisanya dia memesan baju pengantin di sini," gerutu Damas. Dinda masih terdiam, tak berkutik sedikit pun.


"Tenanglah Dinda, tenang, jangan menangis, jangan," gumamnya dalam hati.


"Apa calonmu juga datang kemari Mas?" tanya Dinda. Damas mengangguk pelan.


“Ya Tuhan.” Dinda memejamkan kedua matanya, mencoba mengatur nafas. Agar sebisa mungkin ia bisa tegar jika nanti ia harus bertemu langsung dengan calon istri dari lelaki yang telah menghamilinya.


"Apa aku bisa bertemu dengannya?” tanya Dinda, dengan ujung suara yang tercekat, seolah semakin berat.


Sebelum Damas menjawab, tiba-tiba ... terdengar suara seorang wanita yang memanggil namanya.


Mereka berdua pun segera menoleh ke arah sumber suara, dan terlihat ketegangan di wajah Damas, ketika melihat siapa sosok yang memanggil namanya itu.

__ADS_1


"Selly," gumam Damas, membulatkan kedua matanya.


__ADS_2